Kesenian Tayuban berkembang pesat di daerah Tulungagung. Kesenian ini tampil dalam perayaan 1 Suro 1951 Saka yang diperingati setiap tahunnya oleh masyarakat Pathok, Kradinan Pagerwojo. Masyarakat Pathok menyebut perayaan 1 Suro sebagai bodho Suro. Dari semua Upacara, peringatan satu Suro dipandang sebagai hari paling sakral oleh masyarakat Jawa (Purwadi, 2005:3). Kesenian tayuban mendarah daging dalam kebiasaan masyarakat sampai masuk dalam perayaan sakral ini, karena kebanyakan masyarakat Kradinan mencintai tayuban.

Bulan Suro sebenarnya diperingati di berbagai wilayah Tulungagung, tetapi jarang sekali atau bahkan tidak ada yang memasukkan kesenian tayuban dalam rangkaian acara. Bila ada yang memeriahkan kebanyakan kesenian lain seperti sholawatan, jaranan dan wayang. Bahkan desa-desa tetangga tidak ingin meninggalkan moment ini sembari mendatangi rumah-rumah saat bodho Suro. Di bulan Suro tidak ada hari yang baik untuk menggelar hajatan. Langka sekali pagelaran ini ditampilkan di bulan Suro karena perayaan-perayaan masyarakat Jawa masih mengandalkan nogodino untuk memilih hari baiknya. Islam yang taat tidak mempermasalahkan nogodino, tetapi lebih menyoal tayuban.

Islam yang taat tidak menyukai kesenian ini dengan argumentasi mengundang kemaksiatan. Ortodoksi Islam yang paling getol menghilangkan kesenian ini dari bumi Jawa. Muhammadiyah selalu di garda depan untuk menentang tayuban dan pada dasawarsa 1950-an mereka telah berhasil menghapuskan tarian ini dari kota-kota besar maupun kecil di Jawa (Ricklef, 2012:393). Tetapi faktanya tayuban masih eksis di daerah pedesaan dan semakin diminati kalangan abangan dan priyayi dari Orde Baru sampai sekarang.

Perlu kita ketahui kesenian tayuban sudah mengalami pergeseran pada saat rezim Orde Baru. Dengan kata lain tayuban kini menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari tarian tayuban pada masa lampau yang sekarang digantikan kebosanan demobilisasi nalar, raga dan jiwa kecuali demi kebutuhan pembangunan ekonomi dan kontrol sosial yang diinginkan oleh Orde Baru (Ricklef, 2012:395). Kesenian ini sering dihubungan dengan perbuatan kemaksiatan, minum-minuman berakhohol, dengan begitu ada perombakan pada kesenian ini di zaman Orde Baru dengan menghadirkan versi yang bersih dari steorotif negatif. Walaupun sudah ada pergeseran, Islam yang taat masih tidak menyukai kesenian ini, tetapi bagi kalangan abangan dan priyayi kesenian ini masih eksis.

Kalangan abangan dan priyayi menghadirkan tayuban dalam acara perayaan pernikahan, ulang tahun, sunatan dan perayaan masyarakat Jawa lainnya. Pada umumnya tayuban, yang terlalu mahal bagi kalangan abangan dan terlalu kasar bagi kebanyakan priyayi, makin menghilang (Geertz, 2013:433). Kebanyakan Priyayi yang menyelenggarakan kesenian ini, karena tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pagelarannya. Tetapi Abangan juga menyelenggarakan kesenian ini dengan sistem patungan. Sistem ini menggunakan iuran pecinta tayuban satu lingkungan. Menurut sebagian orang Jawa, utamanya abangan dan priyayi, tayuban mengandung kekuatan magis.

Masyarakat Jawa sebagian kecil masih percaya bahwa kesenian ini bersinggungan dengan kekuatan di luar diri manusia. Abangan, kebatinan dan beragam gagasan serta praktik yang berhubungan dengannya secara erat terlibat di dalam berbagai bentuk kesenian yang ada di dalam masyarakat Jawa, sebab kesenian-kesenian tersebut sering kali mereka gunakan untuk mengundang kekuatan Supernatural (Ricklef, 2012:624). Gending-gending Jawa sebagai media untuk mengundang kekuatan roh-roh ghaib.

Irama gending dapat memabukkan orang yang mendengarnya,dengan syarat ia mengerti ketukan iramanya. Suara gending berasal dari musik karawitan yang terdiri dari satu rancak (satu rancak ada 12 macam). Penabuh alat musik karawitan disebut dengan pradonggo. Tetapi alat musik Jawa sekarang ini berkolaborasi dengan musik modern seperti drum dan piano untuk/ memanjakan penonton. Selain itu, penari tayuban mengandalkan irama gending saat menari.

Dalam penelitiannya Geertz, penari perempuan di dalam tayuban disebut dengan kledek, kadang-kadang disebut dengan tandak (Geertz, 2012:426). Kledek tampil dalam pagelaran tayuban siang sampai sore atau bahkan sampai malam. Penari perempuan dalam pagelaran tayuban juga dinamakan waranggono. Kata waranggana (bahasa jawa-kawi) berasal dari kata wara yang berarti perempuan dan anggana artinya sendirian (Bayadhy, 2015:169). Berarti waranggono perempuan sendirian yang berada di tengah-tengah para penabuh gamelan yang keseluruhannya laki-laki. Biasanya istilah waranggono ini merujuk pada sinden dalam pagelaran wayang, tetapi mendapat perluasan juga dalam Pagelaran tayuban.

Kledek didampingi Pramugari, yang bertugas membawa dan mengarahkan sangkur (selendang). Pramugari punya kuasa penuh menunjuk siapa yang nantinya menari dengan Kledek. Pramugari melakukan prosesi tarian dengan membawa selendang dalam wadah yang diiringi dengan nyayian dari kledek. Utamanya pramugari menunjuk sesuai dengan stratifikasi sosial yang ada dimasyarakat, mulai dari pejabat pemerintahan sampai ke tingkat masyarakat biasa. Tarian dari masing-masing penari tayuban sama dan bertempo.

Penari tayuban laki-laki biasanya disebut dengan wayang tayub. Orang yang sudah lama menekuni tayuban dinamakan wayang lawas, sedangkan yang baru masuk dalam komunitas dinamakan wayang anyar. Wayang lawas begitu dihormati dan dimintai saran oleh wayang anyar bila ingin mengadakan tayuban. Kledek berada di tengah-tengah dan diperebutkan dua wayang tayub sambil mengalungkan sangkur yang diberikan oleh Pramugari. Acuan ritme tarian pada lagu-lagu nyang dinyanyikan kledek. Terakhir sangkur dikalungkan ke leher kledek sebagai simbol berakhirnya tarian satu putaran. Ini akan berlangsung beberapa putaran sampai wayang tayub tidak ada lagi yang maju.

Sambil menunggu giliran pemberian sangkur dari Pramugari, wayang tayub biasanya ngobrol melingkar sambil menikmati minuman beralkhohol yang sudah disediakan, kadang-kadang ditambahkan cemilan ringan dan buah. Aturan yang dipakai, minuman disediakan satu gelas kaca bergilir sesuai urutan tempat duduk. Ini berlanjut sampai persediaan minuman habis. Mengingat sifat orang Jawa pada umumnya, yang luar biasa tenangnya, tayuban tampaknya bukan merupakan peristiwa yang biasa (Geertz, 2012:433). Dalam perayaan resmi hanya tayuban yang secara terang-terangan minum-minuman berakhohol dalam tempat terbuka.

Kebiasaan masyarakat yang terjadi, lingkaran yang dibuat wayang tayub sesuai dengan kemampuan secara ekonomi. Wayang tayub yang mampu dikumpulkan dengan orang yang mampu, begitu juga sebaliknya. Di sini jelas ada perbedaan, wayang tayub akan melihat ia akan duduk di bagian mana. Ini bertujuan untuk menyelamatkan wayang tayub yang ekonominya kurang karena nantinya berapa habisnya keseluruhan minuman dipukul rata saat membayarnya.

Kebutuhan akan Biaya tayuban ditanggung sesuai hajat yang digelar, tergantung acaranya individual atau bersama. Dalam buku yang berjudul The Politics of Regional in Indonesia ada tulisan Hefner tentang “where have all the abangan gone?”. Orang-orang desa datang dengan membawa amplop yang berisi uang. “Villagers accumulated the capital to sponsor sunch events through a system of ritual savings and loan known as sumbangan (jav. Contributions)” (Hefner, 2011:80). Sumbangan digunakan secara total membantu kebutuhan panggung dan sound sistem, tidak ada yang lain.

Di lain tempat sistem sumbangan dikaitkan dengan hajatan yang digelar bersama. Wayang tayub yang datang harus membawa uang sesuai dengan yang dibawa wayang tayub yang punya hajat. Seorang wayang tayub tidak pernah hidupnya melupakan bila wayang tayub lain tidak mengembalikan uang yang ditabungnya. Sistem ini dikenal dengan mbecek atau lebih modern lagi arisan. Semakin wayang tayub rajin mbecek bisa dipastikan tamu yang datang juga banyak.

Tayuban menggambarkan stratifikasi sosial antar wayang tayub di kalangan abangan dan priyayi. Kesenian ini tidak disentuh Islam yang taat bila masih ada unsur kemaksiatannya. Tetapi selain itu, Irama gending khas yang dicari wayang tayub karena gending-gending pengiring kesenian ini dapat memabukkan seseorang pecinta tayuban.


*Penulis adalah Mahasiswa IAIN Tulungagung dan Peneliti di Institute for Javanese Islam Research (IJIR)