“... penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman” Jakarta 18 Februari 1980.

(Surat Kepercayaan Gelanggang)


Sebuah Refleksi

Kehidupan kesenian dan gejolak ideology politik tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dalam konteks kehidupan sosial masyarakat di Indonesia, mempunyai maksud bahwa dalam kehidupan berkebudayaan ada sebuah peran kesenian dalam masyarakat yang kita menyebut pelakunya sebagai seorang seniman yang berusaha untuk merespon semua gejolak politik dan sosial di masyarakat dalam kehidupan bernegara, mereka menggunakan bahasa “seni” sebagai upaya untuk menyamarkan agitasi pemahaman persoalan politik sehingga mampu mempropagandakannya kepada masyarakat untuk lebih berani berfikir tentang hak dan rasa keadilan sosial. 

Kesenian menjadi sebuah sarana yang ampuh karena media yang digunakan adalah sebuah manifestasi dari sebuah metafora yang tidak langsung bersuara secara frontal kepada Negara, kesenian mampu membuat sebuah kemasan retorika yang “menggembirakan” secara visual maupun verbal ketika berargumentasi.

Melihat periode dalam sejarah Indonesia periode 1950-1965 dalam pemerintahan demokrasi terpimpin ketika konflik ataupun persaingan ideology dalam sebuah negara mulai bersaing ada banyak pertentangan ataupun persaingan dari partai politik yang membuat sebuah lembaga kebudayaan yang beranggotakan para seniman atau budayawan didalamnya, salah satunya adalah Lekra, atau lembaga kebudayaan rakyat yang berafiliasi dengan PKI sebagai sebuah lembaga kebudayaan yang menjadi garis depan dalam perjuangan garis partai yang mengangkat isu realisme sosialis, kerakyatan dan anti imperialisme.

Lekra adalah sebuah organisasi kebudayaan yang mempunyai keanggotaan cukup banyak, mengingat bahwa jumlah massa dari partai komunis Indonesia yang berada di urutan keempat dalam pemilu 1955, yang notabene anggota lekra adalah yang juga berasal dari banyak komunitas kesenian seni tradisi yang ada didaerah-daerah, PKI bersama Lekra mendapatkan perhatian istimewa disamping bung Karno yang kemudian menjadi sebuah partai yang paling besar dalam memberikan dukungan politik kepada presiden soekarno, walaupun akhirnya juga menghilang seiring dengan peristiwa gerakan 30 September 1965 karena dianggap segala sesuatu yang berafiliasi dengan partai komunis Indonesia harus dilenyapkan pada pemerintahan setelahnya.

Ketika pemerintahan mulai berganti kedalam periodesasi pemerintahan orde baru, segala macam persaingan ideology politik mulai menghilang seiring sejalan dengan konsepsi ideology pemerintahan orde baru yang konsisten mengangkat Pancasila sebagai sebagai ideology dasar Negara, selain kepada tujuan rencana program pembangunan nasional yang menitik beratkan pada pembangunan pada system ekonomi.

Akhirnya stabilitas nasional menjadi syarat utama dalam pembangunan, segala hal yang mengganggu stabilitas Negara harus diberikan sanksi yang tegas yang dalam hal ini ABRI menjadi salah satu alat Negara yang kuat berfungsi untuk mengamankan stabilitas Negara, segala macam kritikan kepada pemerintah yang dianggap mengganggu stabilitas Negara pun juga dibungkam sehingga terciptalah sebuah suasana pemerintahan otoriter birokratis yang jauh dari kata demokrasi pancasila yang menjunjung tinggi nilai agama, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Dalam situasi seperti ini kesenian tampaknya juga yang akhirnya mampu memberikan suaranya terhadap system keotoriteran orde baru.

Sebuah momemtum ditahun 1980an ketika stabilitas nasional juga diseragamkan dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, demikian juga dalam lingkup lingkungan pendidikan dari instansi sekolah negeri, hampir disetiap sekolah negeri memberlakukan system peraturan semua siswa untuk memakai satu “pakaian” bersekolah yang sama.

Konsekwensi logis dari peraturan ini adalah bagi siswa perempuan yang sehari-hari memakai jilbab tentu juga harus diwajibkan untuk tidak memakai jilbab dalam seragamnya, sedangkan aturan pemerintah memberlakukan standarisasi pakaian seragam yang “tidak berjilbab” untuk pergi ke sekolah, apabila tidak mematuhi peraturan ini tentu konsekwensinya adalah dikeluarkan dari sekolah tersebut, sehingga aturan tersebut pun secara tidak langsung juga diterapkan dihampir semua instansi maupun industry kerja.

Seorang seniman sekaligus budayawan Emha Ainun Najib atau yang sering disapa cak nun membuat sebuah pertunjukan drama atau teater dengan judul “Lautan Jilbab” yang dipentaskan di Yogyakarta sebagai respons atas kebijakan pemerintah tersebut, kurang lebih ada 5000 orang yang menonton dari semua durasi pertunjukan, jumlah yag tentu sangat besar dalam sejarah penonton teater di Yogyakarta dalam satu kali judul pementasan dan imbas dari pertunjukan tersebut akhirnya pemerintah orde baru pun mulai merubah kebijakannya yang akhirnya diikuti oleh instansi swasta yang lain terkait dengan penyeragaman dalam berpakaian. 

Agaknya kesenian bisa menjadi sebuah sarana komunikasi yang mampu menyampaikan pesan dan kritiknya kepada pemerintah secara halus, karena beberapa wilayah kesenian yang dalam hal ini dilakukan oleh sebuah komunitas ataupun individu seniman dalam decade tahun 80an berusaha menyuarakan kritik sosialnya kepada pemerintahan represif orde baru hingga menjelang turunnya tahta kekuasaan orde baru pada tahun 1998.

Suara kritis dalam bahasa kesenian yang mampu menjadi sebuah agitasi politik untuk penyadaran kepada masyarakat pun selalu ada mengiringi setiap perubahan era pemerintahan yang baru pasca beberapa periode setelah gerakan reformasi tahun 1998 adalah menyoal sebuah isu yang menyangkut persoalan tentang lingkungan hidup.

Ada 2 persoalan yang pada kurun waktu 2016 hingga sekarang tahun 2017 menjadi perhatian masyarakat baik dalam sosial media ataupun secara langsung yaitu menyangkut tentang konflik petani dalam pembangunan pabrik semen dipegunungan kendeng yang berhadapan dengan salah satu aset badan usaha milik Negara dan regulasi izin yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi beserta persoalan reklamasi teluk benoa di Bali yang sama persis berhadapan dengan kebijakan pemerintah provinsi yang dalam hal ini diwakili oleh gubernur.

Yang menarik dalam semua persoalan konflik ini adalah turut berpartisipasinya sejumlah aktivis lingkungan hidup dan seniman dalam menyuarakan hak-hak para petani ataupun nelayan, kita mengenal sebuah band music yang cukup popular bernama Superman Is Dead yang bermukim di Bali dan Band Marjinal Taring Babi yang bermukim di Jakarta.

Keduanya adalah salah satu dari contoh musisi ataupun seniman yang beraliran music Punk Rock yang memcoba memberikan kontribusinya atas ketenaran yang mereka punya untuk juga menyuarakan keberpihakannya mereka atas nama keadilan sosial dalam masyarakat, lewat lirik lagu dan musik yang mereka bawakan mereka berusaha melakukan penyadaran kepada masyarakat bahwa gerakan dan aktivisme yang mereka lakukan juga mendapatkan dukungan dari semua lapisan masyarakat dan profesi.


Moral sosial dalam Pancasila

Keberadaan pancasila sebagai sebuah ideology Negara di Indonesia harusnya bisa menjadi sebuah acuan untuk supaya semua lapisan masyarakat apapun profesinya untuk bisa menjadikan itu sebagai sebuah pedoman dalam menerapkan keadilan sosial kepada semua lapisan masyarakat, paling tidak kita bisa melihat 3 sila yang dilanggar oleh Negara terkait dengan penerapannya kepada masyarakat, yaitu sila kedua yang berarti “Kemausiaan yang adil dan beradab, sila ketiga yang berarti “Persatuan Indonesia”, dan sila kelima yang berarti “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Sila kedua tentunya mengandung maksud bahwa dalam kehidupan kenegaraan pun harus senantiasa dilandasi oleh moral kemanusiaan baik dalam semua aspek kehidupan Negara, politik, sosial, budaya, dan kehidupan beragama beserta nilai kemanusiaan yang adil yang mengandung suatu makna bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab harus berkodrat adil dan tidak saling semena-mena, sedangkan makna dari persatuan Indonesia dalam sila ketiga juga bisa dipahami sebagai sebuah rasa nasionalisme yang bermoral Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan.

Dan yang paling menegaskan dalam kehidupan sosial masyarakat baik dalam semua golongan ataupun profesi adalah dalam sila kelima yang terkandung nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama (keadilan sosial) yang didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan kemanusiaan yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, bangsa dan negaranya serta hubungan manusia dengan Tuhannya

Seniman sebagai sebuah profesi dalam kehidupan bermasyarakat agaknya bisa mencerminkan sebuah sisi kehidupan masyarakat yang berbudaya yang mencoba ikut berkontribusi dalam pembangunan moral dan sosial masyarakat, karena dengan sikap masyarakat yang mengenal apa itu arti dari sebuah kebudayaan akhirnya akan menjadi tolok ukur seberapa tinggikah adab dan moralitas sebuah bangsa.