Kesenangan merupakan tujuan hidup setiap manusia, manusia rela berkorban hingga kehilangan 'dirinya' demi mendapatkan keinginannya dan hal itu sejajar dengan garis kesenangan. Manusia selalu mencari kesenangan di luar dirinya yang pada hakikatnya kesenangan yang sebenarnya adalah berada di dalam dirinya.


Di dalam pencariannya manusia dihadapkan dua kemungkinan yaitu kegagalan dan keberhasilan, selain itu mereka selalu berpegang teguh pada idealisme-idealismenya walaupun mereka sering terlempar dalam kubangan faktisitas-faktisitas. jika gagal mereka menderita, dan jika berhasil mereka senang, setelah senang mereka akan merasa bosan dan mencari kesenangan yang lain. Hal itu terus berulang selama hidupnya.


Hidup sejatinya bukan hanya tentang kesenangan yang didapat, karena puncak dari kesenangan yang didapat adalah kebosanan. Tetapi ketika mereka mabuk dengan kesenangan yang berada di luar dari dirinya baik itu tentang pencapaian, pengakuan, ataupun materi mereka akan menganggap bahwa itu adalah kekal, mereka hanya beranggapan bahwa badai pasti berlalu tanpa menyadari bahwa cerah juga akan berlalu.


Begitu juga dengan penderitaan, ketika manusia kembali ke dalam penderitaannya lagi mereka menganggap bahwa tuhan tidak adil dan menganggap dunianya hancur. Mereka sebenarnya tau bahwa kesenangan adalah sementara, tetapi karena mabuk mereka lupa, bukankah itu adalah hal konyol. Mari kita berpikir ke dalam dan mendalam, coba tanyakan pada diri sendiri untuk apa semua kesenangan itu ?


Ya, semua tau bahwa tidak ada manusia yang mengharapkan penderitaan dalam hidupnya yang diharapkan adalah kesenangan-kesenangan, Sayangnya mereka hanya menganggap bahwa penderitaan adalah hal yang sangat buruk menimpa kehidupannya. Tapi apakah demikian, apakah penderitaan selalu hal buruk ? Atau kesenangan selalu hal baik?.


Seseorang merasa dirinya menderita karena yang mereka tampilkan dalam pikirannya tentang kesenangan-kesenangan yang pernah mereka alami dan membandingkan dengan situasi dirinya sekarang pada saat semuanya hilang. Begitu juga sebaliknya, tanpa mereka sadari penderitaan adalah sebuah jalan menuju kesenangan yang begitu nikmat. Sebuah kesenangan akan terasa nikmat apabila manusia telah melewati sebuah penderitaan karena mereka puas telah berhasil melewati badai. 


Penderitaan dan kesenangan adalah kaki manusia untuk menopang perjalanan, di mana manusia berjalan menuju ke tempat yang seharusnya yaitu kembali ke Tuhannya. Mereka selalu bergantian agar perjalanan manusia selalu seimbang. ketika kesenangan berada di depan penderitaan akan mengikuti, begitu juga sebaliknya. 

Inilah sebuah mekanisme pola yang terstruktur pada kehidupan dipisahkan oleh garis tipis kesadaran, mereka sebenarnya sama tetapi berlawanan yang membedakan adalah ruang dan waktu, ketika mereka terjadi bersamaan maka sama saja dengan manusia telah sampai pada tempat yang 'seharusnya' itu.


Pada saat berjalan, yang menentukan arah ke mana kaki akan melangkah bukanlah kaki itu sendiri tetapi hati dan akal. Hati dan akal yang seharusnya mengendalikan ke mana kaki akan melangkah, apabila hanya mengandalkan kaki, maka kaki akan berjalan dengan tanpa arah dan tujuan yang tidak pasti.


Begitu juga dengan kesenangan dan penderitaan, apabila manusia hanya selalu mabuk dengan kesenangan atau meratapi penderitaan, maka mereka hanya berdiam diri atau mati. Selama manusia masih hidup kedua hal tersebut sangat wajar untuk selalu dilalui, di mana ada kesenangan pasti ada penderitaan, tetapi apakah manusia harus menyikapi itu sesuatu hal yang serius terus menerus.

Bukankah mereka selalu lalai ketika kesenangan yang terus menerus dirasakan, begitu juga ketika mereka selalu merasa hancur apabila penderitaan datang. Kedua hal tersebut selalu bergantian dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Tetapi pada dasarnya kedua hal tersebut mekanismenya selalu sama.


Kesenangan sebagai simbol rasa semangat untuk manusia agar tetap berjalan di kehidupannya, dan penderitaan sebagai rambu peringatan apabila manusia telah benar-benar mabuk dengan kesenangan dan lupa akan kebuasan pada saat di atas. Mereka tidak bisa ditinggalkan salah satunya, karena kaki manusia akan terpincang dalam perjalanannya baik itu tentang kesenangan yang terus menerus atau penderitaan yang terus menerus. Lalu bagaimana solusi dalam menghadapi kehidupan yang tidak pasti ini ?


Ketidakpastian hidup adalah sebuah lelucon lelucon yang tidak harus selalu ditanggapi dengan serius, begitu lucunya apabila manusia menanggapi sebuah lelucon dengan keseriusan dan begitu ruginya mereka dalam hal itu. Dunia selalu memberikan cerita jenaka dengan alur yang tidak pasti, tetapi mereka selalu menganggapnya bahwa itu adalah hal yang serius.


Kembali kepada hati dan akal yang harus menyadari bahwa kesenangan dan penderitaan merupakan hal biasa dilewati setiap manusia dalam kehidupannya. Sadar bahwa kesenangan yang akan berlalu tidak harus ditanggapi dengan begitu serius, mencoba biasa saja dalam menghadapi kesenangan merupakan hal terpenting, dari situ kesadaran kesadaran akan tumbuh. Karena manusia sering berlebihan dalam menanggapi sebuah kesenangan hal itu juga akan terjadi pada penderitaan.


Pada dasarnya manusia tidak boleh berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Begitu juga dengan kesenangan, ya karena kesenangan ini yang sering membuat mereka menjadi manusia yang lemah karena apa yang mereka inginkan selalu ada, ketika semua hilang, manusia akan menderita karena kebiasaan yang selalu ada itu sudah tidak ada lagi, manusia menjadi selalu tergantung pada  kesenangan di luar dirinya bukan di dalam dirinya.


Apabila dalam kesenangannya manusia sadar dan mampu menganggap hal itu adalah hal yang biasa saja, secara tidak langsung mereka akan 'bersiap' juga dan menyadari bahwa penderitaan akan menunggu di depannya. Biasa saja ketika di atas juga akan biasa saja ketika di bawah, karena "kesenangan adalah ujian dan penderitaan adalah hasil dari ujian"