9 bulan lalu · 778 view · 9 min baca menit baca · Agama 65535_76960.jpg
Der Wanderer über dem Nebelmeer, Caspar David Friedrich (c. 1818)

Kesemestaan Tuhan dan Persaudaraan Manusia

“Kedamaian akan rusak ketika suatu kaum atau agama mulai mengklaim bahwa Tuhan hanya milik mereka seorang.” Demikianlah salah satu isi pidato Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah, yang diutarakannya saat menutup Jalsah Salanah UK 2018. Pada pertemuan tahunan Muslim Ahmadi di Britania Raya yang dihadiri oleh 38.510 orang dari 115 negara tersebut, ia juga menuturkan bahwa kata kunci bagi terciptanya kedamaian di dunia yang tengah dipenuhi dengan berbagai konflik ini adalah cinta dan simpati terhadap sesama manusia.

Secara naluri, memang, manusia adalah makhluk pecinta. Bahkan, cinta dan tenggang rasa yang tertanam dalam hati manusia bagi sesamanya telah menjadi suatu ibarat yang mencirikan kemanusiaan seseorang. Sa‘di, melalui syair Farsi “Bani Adam”-nya yang legendaris dalam Gulistan, menegaskan bahwa ia yang tak bersimpati pada penderitaan sesamanya tidaklah layak disebut sebagai manusia.

Lebih lanjut, dalam bukunya yang berjudul Human Nature in Light of Psychopathology (1963), Kurt Goldstein menerangkan bahwa cinta merupakan salah satu bentuk aktualisasi diri manusia yang paling tinggi kala ia telah menyadari hubungan yang seimbang antara perilaku mengalah dan perilaku mendobrak. Kenyataan inilah yang menjadi alasan, menurutnya, mengapa setiap individu merupakan agen primer dalam organisasi sosial.

Kesadaran manusia akan pentingnya makna cinta memberinya sense of belonging yang amat krusial bagi dirinya. Selepas dari asuhan ibunya yang senantiasa memomongnya dengan kasih sayang, manusia dewasa membutuhkan orang-orang yang berkenan menerimanya dengan tangan terbuka sehingga kemesraan yang dulu pernah dirasakannya tetap dapat ia nikmati (Bowlby, 1969). 


Dengan adanya sentimen tersebut, ia memperoleh motivasi yang kuat, fundamental, serta sangat meresap untuk menjalani kehidupannya (Baumeister & Leary, 1995). Malahan, seperti diutarakan Az-Zamakhsyari dalam Athwaq adz-Dzahab, ia kini mulai memanggil setiap orang dengan panggilan, “Ya ibna abi wa ummi,” yakni, “Wahai putra ayah dan bundaku,” karena ia telah benar-benar menjiwai bahwa manusia pada dasarnya adalah satu keluarga.

Dalam pandangan Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, kenyataan di atas memiliki kaitan yang erat dengan tujuan yang untuknya manusia diciptakan. Dalam kitab Karamat ash-Shadiqin (1893) yang ditulisnya dalam bahasa Arab yang sastrawi, ia mengutarakan bahwa manusia diciptakan untuk berakhlak dengan akhlak-akhlak Tuhan. 

Ketika Tuhan merupakan wujud yang menjadi sumber dari segala pancaran kecintaan, kedermawanan, dan kebajikan yang murni, Dia mengamanatkan manusia untuk menyerap dan memantulkan nilai-nilai tersebut kepada sesama makhluk-Nya tanpa membeda-bedakan seorangpun. Dengan demikian, kedamaian ilahi dapat tercipta di muka bumi ini sebagaimana telah terlaksana sejak sedia kala dalam Kerajaan Samawi-Nya.

Agresi Yang Terseleksi

Hanya saja, di samping fitrah kecintaannya, proses evolusi Homo sapiens yang berlangsung selama jutaan tahun juga turut menyeleksi secara positif sifat agresif dalam diri manusia. “Struggle for existence”, tutur De Waal lewat artikelnya dalam Aggression and Peacefulness in Humans and Other Primates (1992), yang dijalani manusia selama proses tersebut menuntutnya untuk selalu menjadi yang terdepan dan tersukses dalam mendapatkan makanan, mempertahankan diri dari penyakit, menarik lawan jenis, serta merawat keturunan. 

Orang-orang yang lebih lemah dalam kompetisi ini akan gugur dan tereliminasi, baik secara langsung, seperti melalui perkelahian dan peperangan, maupun secara tidak langsung yang lebih umum, semisal dengan berjangkitnya malanutrisi dan penyakit.

Mary Clark, dalam In Search of Human Nature (2002), menyebutkan bahwa agresi merupakan bentuk komunikasi ekstrem yang dipergunakan manusia ketika kondisi sosial yang diperlukan demi kesintasannya tidak terpenuhi. 

Menurut Archer & Coyne (2005), faktor yang memicu munculnya perilaku agresif tersebut adalah perebutan terhadap sumber daya yang terbuka. Ketika suatu sumber daya semakin diminati, persaingan untuk mendapatkan aksesnya pun kian menjadi-jadi. Akibatnya, agresivitas manusia, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung, terseleksi menjadi lebih tajam lagi.

Tuhan, Religiosentrisme, Modernitas, dan Cinta Yang Hilang

Setiap orang yang beragama di seluruh dunia menyepakati bahwa Tuhan adalah sumber daya dari segala sumber daya dalam kehidupan manusia. Dengan meyakini wujud Tuhan secara sempurna, seperti disabdakan Mirza Ghulam Ahmad dalam Nasim-e-Da‘wat (1903), manusia akan meraih keselamatan dalam hidupnya dari akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh kesalahan perilakunya. 

Studi yang dilakukan Pichon et al. (2007) membuktikan hal ini secara sederhana. Mereka mewartakan bahwa seseorang akan lebih memilih untuk beramal baik alih-alih berbuat curang hanya dengan berpemikiran, “Tuhan tengah melihat Aku.” Dengan kata lain, ia ingin selamat dari kemalangan hidup yang diakibatkan oleh keburukannya sendiri.

Untuk meraih keyakinan yang paripurna terhadap sosok Tuhan, manusia memeluk suatu agama. Dengan menganut agama, ucap Mirza Ghulam Ahmad dalam Surma Chasm-e-Arya (1886), manusia akan merasakan kehadiran Tuhan, baik secara langsung lewat percakapan dengan-Nya maupun secara tidak langsung melalui perantaraan rahmat dan kasih sayang-Nya. 

Namun, menariknya, Preston et al. (2010) melaporkan bahwa, ketika berbicara tentang agama, seseorang justru akan mengaktifkan perhatian moralnya untuk melindungi kepentingan in-group-nya. Selain itu, berdasarkan perwartaan Saroglou et al. (2009), memikirkan tentang agama juga dapat meningkatkan ketundukan terhadap ototoritas untuk membalas dendam, terutama bagi orang-orang yang submisif.

Mengapa kenyataan yang saling bertolak-belakang ini sampai terjadi? Jawabannya tidak lain terletak pada religiosentrisme yang dikemukakan Mirza Masroor Ahmad serta fenomena agresi dan struggle for existence di atas, ditambah lagi kini dengan sentuhan modernitas. 

Dahulu, sebelum sarana komunikasi, informasi, dan transportasi mengalami kemajuan yang pesat seperti sekarang, orang-orang yang beragama meyakini bahwa Tuhan hanya menganugerahkan risalah-Nya kepada kaum mereka seorang. Dengan kata lain, agama dan kepercayaan merekalah yang menjadi satu-satunya akses menuju Tuhan.

Seiring dengan berkembangnya zaman, kontak antara pemeluk agama yang berlainan pun semakin terbuka dan intensif. Dari sini, mereka mengetahui bahwa bukan hanya mereka yang mendakwahkan eksklusivitas dalam mengakses Tuhan, penganut agama-agama yang lain ternyata juga mengaku hal yang sama. 

Lebih parahnya, ajaran agama yang selama ini mereka junjung tinggi sebagai akses tunggal dan mutlak menuju Tuhan difatwakan sesat dan menyimpang. Alhasil, mereka menjadi marah hingga mengagresi penganut agama lain demi mempertahankan eksistensi diri serta agama yang mereka anut.


Jadi, keakuan umat beragama inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa rasa cinta terhadap sesama teramat sulit kini untuk dicari dan dinikmati. Perilaku mengalah dan menghormati telah didominasi oleh prasangka dan kebencian. 

Ke arah mana pun mata kita menghadap, yang hampir selalu terlihat hanyalah konflik dan pertikaian, seolah-olah kesadaran akan sense of belonging dan persaudaraan telah lenyap dari sanubari manusia. Dengan demikian, tidaklah salah bila kita katakan bahwa ketakutan Sa’di akan hilangnya nama manusia telah tergenapi pada masa ini.

Adil, Ihsan, dan Ita’i Dzi-l’Qurba

Untuk menghadirkan kembali cinta dan kedamaian, jelas, usaha yang konkret perlu dilakukan. Menurut Mirza Ghulam Ahmad dalam Islami Ushul Ki Filasafi (1896), ada tiga cara bertahap yang dapat diimplementasikan untuk mengembalikan roh persaudaraan manusiawi ke muka bumi. Cara-cara tersebut secara berurutan adalah adil, ihsan, dan ita’i dzil-qurba.

Yang dimaksud dengan adil adalah bahwa seseorang menempatkan segala sesuatu tepat pada takarannya dan bahwa ia memperlakukan orang lain sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.

Dalam konteks ini, Mirza Ghulam Ahmad menulis lebih lanjut dalam Piagham-e-Sulh (1908) bahwa tahapan pertama untuk menciptakan kedamaian di dunia adalah mengakui bahwa Tuhan tidak pernah mendiskriminasi satu pun orang atau bangsa di dunia. 

Segenap potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang Arya, kedua-duanya juga dianugerahkan bagi orang-orang Arab, Syria, Tiongkok, Jepang, Eropa, Amerika, dan para penduduk dari belahan dunia lainnya.

Bumi yang Tuhan ciptakan menyediakan sebuah lantai bersama bagi semua bangsa yang bermukim di atasnya. Matahari, bulan, dan bintang-bintang-Nya pun dijadikan-Nya bermanfaat bagi setiap orang. Demikian juga, semuanya memperoleh faedah dari unsur-unsur ciptaan-Nya, seperti air, tanah, udara, dan api, serta dari produk-produk lain yang lahir dari kuasa-Nya, semisal biji, buah, dan agen-agen penyembuhan.

Saat seseorang merenungi kesemestaan pribadi Tuhan ini, ia akan mengarifi bahwa semua manusia pada hakikatnya adalah sama terlepas dari segenap perbedaan keagamaan yang ada. Kesamaan tersebut akan menyisihkan prasangka buruknya terhadap para pemeluk agama lain sekaligus memacu dirinya untuk mengasihi mereka sesuai dengan bagaimana ia ingin dikasihi.

Kemudian, tahapan kedua adalah ihsan. Yang dimaksud dengannya adalah bahwa seseorang berbuat baik kepada orang lain melebihi kebaikan yang diberikan orang tersebut kepadanya. Ihsan dapat juga berarti bahwa seseorang beramal baik kepada orang lain tanpa diminta.

Dalam kaitannya dengan ini, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan dengan rinci dalam Tuhfah Qaishariyyah (1897) bahwa agama-agama di dunia yang tetap eksis setelah melewati bentangan waktu yang sangat panjang dan diikuti oleh jutaan orang pastilah bermula dari nabi-nabi yang diutus Tuhan. Agama-agama tersebut niscaya benar pada asalnya. Apakah ajaran-ajaran aslinya berubah di kemudian hari adalah cerita lain. 

Jadi, seorang Muslim, misalnya, haruslah menghormati tokoh Yesus dari Kristen, Sri Krishna dari Hindu, Siddhartha Gautama dari Buddha, dan Konfusius dari Kong Hu Cu sebagai nabi-nabi yang datang dari Tuhan. Dengan kata lain, orang-orang Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu sejatinya merupakan saudara-saudaranya dalam kenabian meskipun dari kenabian yang berbeda.

Bila seorang Muslim menghayati dan memperagakan prinsip yang mendasar ini, mereka kini tidak hanya akan menunggu secara pasif, ia justru akan aktif menebar kebaikan bagi saudara-saudara kenabiannya itu. Taktala saudara-saudaranya terkesima dengan tindakannya tersebut lalu meresponnya dengan kebaikan juga, ia akan membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang lebih baik lagi.

Terakhir, tahap yang menjadi puncak dari segala tahapan adalah ita’i dzi-l’qurba. Maksudnya adalah bahwa seseorang menyayangi setiap orang tanpa terkecuali layaknya mereka adalah kerabatnya sendiri. Dengan kata lain, semua orang di muka bumi telah menjadi keluarganya.

Seseorang yang telah mencapai tahapan ini tidak akan lagi membeda-bedakan orang lain. Bahkan, Mirza Ghulam Ahmad mengatakan dalam Kisyti Nuh (1902) bahwa orang tersebut akan mencintai dan menyayangi orang lain laksana seorang ibu yang mencintai dan menyayangi buah hatinya dengan tanpa pamrih. 

Artinya adalah bahwa kecintaan terhadap sesama telah meresap dan mendarah daging dalam dirinya seolah-olah ia adalah cinta dan cinta itu tak lain adalah ia sendiri. Dengan begitu, seruan, “Ya ibna abi wa ummi,” akan senantiasa terdengar dari lisannya karena lisannya telah menjadi media bagi cinta untuk bersuara.

Penutup

Suatu masyarakat, negara, ataupun dunia yang terdiri atas orang-orang semacam itu tidak diragukan lagi akan menjadi masyarakat, negara, dan dunia yang damai. Akan tetapi, pertanyaannya adalah, bagaimana cara menumbuhkan persona dengan karakter demikian di tengah-tengah kebencian yang mendominasi? 

Untuk menjawab hal ini, pernyataan Gregory Bateson dalam Steps to An Ecology of Mind (1973) berikut perlu dicamkan, yakni bahwa setiap individu manusia pada dasarnya merupakan sebuah sumber energi. Artinya, tugas tersebut pertama-tama berpulang pada diri kita masing-masing karena tiap orang di antara kita memiliki kekuatan yang sama sebagai satu pribadi manusia.

Selanjutnya, tindakan yang perlu kita terapkan adalah mengembangkan keberanian untuk melepaskan diri dari kebencian yang telah “menorma” di lingkungan kita. Mengutip kata-kata Kenelm Burridge dalam Someone, No One: An Essay on Individuality (1979), seseorang harus berubah dari social someone menjadi social no one untuk berhasil menemukan keberaniannya sebagai satu individu yang kokoh.

Begitu kita sukses mengokohkan diri sebagai pribadi yang tegak di atas suluk kecintaan, dalam hal ini berarti bahwa kita telah melewati ketiga tahapan yang disebutkan oleh Mirza Ghulam Ahmad di atas, kita dengan seketika akan menjadi figur yang eksentrik sehingga orang-orang akan mulai melihat kita. 

Ketika mereka telah melihat kita dengan saksama, mereka akan mulai mengikuti kita dalam menapaki ketiga tahapan untuk menumbuhkan cinta tadi sebagai suatu panggilan hati nurani.

Apabila fenomena ini telah menyemesta dan melingkupi semua, suatu masyarakat, negara, dan dunia yang penuh kedamaian akan terbentuk di mana kita menjadi pemimpinnya. Dengan demikian, kita telah berhasil menggenapi tujuan hidup kita sebagai manusia untuk menyerap serta memantulkan kecintaan dan kedamaian ilahi kepada semua.

Artikel Terkait