Di tahun 2019 istilah kesehatan mental pertama kali saya baca lewat media. Saya tidak ingat persis membaca di mana, dan siapa yang membagikan link tersebut. Yang saya ingat hanya tulisan tersebut begitu membekas dalam diri saya. Saya terasa hanyut dengan kalimat yang ditulis, saya merasa berada pada kondisi yang ditulis oleh sang penulis, seolah dia sedang menuliskan apa yang saya rasakan dan saya alami saat itu.

Rasa kecewa, frustrasi, marah, benci, tidak menghargai diri sendiri, kehilangan empati, bahkan tidak tau harus bagaimana, tingkat sensitivitas sangat tinggi. Itulah yang saya rasakan campur aduk tidak karuan. Lantas saya berpikir apakah yang saya alami juga pernah dialami orang lain, dan bagaimana orang lain keluar dari masalah tersebut. 

Hal tersebut membuat saya mencari tau lebih banyak lagi mengenai isu kesehatan mental, dari googling beberapa artikel di internet, membuka youtube sampai membaca beberapa buku. Dan yang terakhir adalah langkah yang begitu membuat saya terbuka akan sesuatu hal baru yaitu betapa kesehatan mental adalah hal baru yang begitu penting.


Buku yang pertama kali saya baca adalah "I want to die but i want to eat teokpokki" dalam buku tersebut obrolan antara penulis dan psikiater membuka cakrawala baru bagi saya pribadi. Ternyata selama ini saya kurang begitu berempati terhadap diri sendiri dan orang lain. Ketika ada seorang teman yang sedang putus cinta dan dia sedang membutuhkan dukungan dari saya, kadang saya malah mengatainya lemah dll.

Padahal dalam kondisi tersebut seorang teman benar-benar sedang dalam kondisi mental yang down harusnya saya bisa memberikan dukungan yang lebih, nyatanya malah semakin menjatuhkan, dari membaca buku tersebut saya sadar bahwa kadang kita juga bisa menjadi penyebab seseorang terserang kesehatan mentalnya. 

Ternyata sikap kita terhadap diri sendiri juga kadang menjadikan kita pada lingkaran yang menjerumuskan kita pada masalah kesehatan mental, apa itu? empati terhadap diri sendiri.

Buku kedua yang saya baca juga tak kalah memberikan pengetahuan baru bagi saya yaitu "Loving the Wounded Soul" pada buku tersebut istilah baru dan pengalaman penulis menghadapi kesehatan mental memberikan kesan yang sangat dalam bagi saya terkait pentingnya menyebarkan isu kesehatan mental bagi orang lain. 

Selama ini kita sering abai bahwa orang yang sedang berada pada tekanan batin kadang disepelekan dibandingkan dengan orang yang sedang mengalami sakit fisik padahal sakit fisik bisa ditangani dengan cepat, tapi sakit batin justru kadang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sembuh.

Dari pengalaman saya membaca beberapa artikel, menonton youtube, dan membaca beberapa buku tentang isu kesehatan mental, saya mendapatkan beberapa manfaat yang begitu bisa saya rasakan.

1. Menjadi lebih memahami diri sendiri.

Masalah kesehatan mental erat kaitanya dengan diri sendiri, pada kondisi dimana kita harus menyelesaikan segala beban hidup yang menghampiri kita kalau diri kita tidak didukung mental yang kuat, iman yang kuat itu juga akan membuat diri kita rentan terkena kesehatan mental. 

Paling tidak saya menjadi lebih menghargai diri sendiri baik kekurangan dan juga kelebihan yang saya miliki, kalau bukan diri kita yang menghargai kita lalu siapa lagi. 

Kalau kita sudah menghargai diri sendiri paling tidak, tidak akan goyah dengan perbandingan yang dibuat oleh orang lain terhadap kita. Paling tidak itu yang saya rasakan, betapa menghargai diri sendiri amatlah penting.

2. Menghargai orang lain yang sedang dalam kondisi down.

Setelah membaca buku, saya sudah tidak berani lagi menjustifikasi seorang teman yang sedang dalam kondisi terpuruk dengan ungkapan yang membuatnya semakin terpuruk. 

Saya sadar betul pada kondisi tersebut karena saya pernah mengalaminya, ketika membutuhkan dukungan dari seorang teman tapi apa yang diharapkan justru di luar dari kehendak kita maka perasaan saya menjadi sangat kacau, dari situlah saya memahami bahwa tidak seharusnya saya berbuat demikian pada teman yang sedang dalam kondisi terpuruk oleh masalah apapun. 

Saya bersyukur disadarkan oleh buku bacaan yang membuat saya bisa lebih berempati kepada orang lain, dan sudah saya terapkan sebisa dan semampu saya kepada beberapa teman yang sedang dalam kondisi kurang sehat mentalnya, untuk saya beri motivasi.

3. Lebih sering mendiskusikan masalah isu kesehatan mental di Organisasi.

Saya aktif di sebuah organisasi masyarakat, dalam organisasi tersebut posisi saya cukup diperhitungkan. Dengan modal itu dalam setiap kesempatan saya beberapa kali menyampaikan pentingnya isu kesehatan mental untuk dipahami bersama. 

Bahwa kesehatan mental bisa menyerang siapa saja, bahwa kesehatan mental butuh penanganan yang lebih dibandingkan orang yang sakit secara fisik. Di luar dugaan isu kesehatan mental yang saya sampaikan yang awalnya begitu asing di telinga mereka kini dianggap penting, karena mereka menyadari pernah mengalami pada fase tersebut.

Hanya saja beberapa orang bisa keluar dari masalah tersebut dengan mudah, nah beberapa orang yang katakanlah tidak semudah itu keluar dari masalah kesehatan mental inilah yang menjadi pembahasan saya bersama teman-teman di organisasi, kita sepakat bahwa isu kesehatan mental adalah isu asing yang kini sangat penting.

Beberapa manfaat yang sudah saya rasakan dan dapatkan dari isu kesehatan mental yang saya sebutkan di atas benar-benar membawa cakrawala baru dalam hidup saya. Saya begitu tertarik membaca buku-buku mengenai kesehatan mental, untuk nantinya bisa didiskusikan bersama teman-teman. Juga untuk mengedukasi lebih banyak lagi kepada masyarakat luas tentang pentingnya kesehatan mental. 

Saya juga menjadi lebih mengikuti buku-buku terbitan baru yang membahas kesehatan mental, pengen baca buku-buku tersebut tapi apalah daya, harus nabung dulu, bahkan buku "i want to die....2" belum bisa terbeli, padahal itu buku yang begitu berpengaruh untuk saya di awal dalam menyadari betapa pentingnya kesehatan mental, saya berharap di Giveaway kali ini saya bisa mendapatkan buku-buku tersebut. 

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, tulisan ini sebagai ikhtiar saya untuk mendapatkan ilmu baru dari buku yang semoga menjadi rezeki saya tersebut


Terimakasih

Muhammad Imam Faruq

Twitter @faruq_13