Kalau boleh dipetakan, tantangan kita setelah Covid-19 akan lebih bertumpu pada masalah kesehatan dan keamanan data digital (data privasi). Dua tantangan khas dari kemajuan dunia abad 21. 

Abad 21 sangat kental dengan dua revolusi kembar, yakni revolusi bioteknologi di bidang kesehatan dan revolusi digital di bidang teknologi. Dua revolusi itu merupakan dampak dari kemajuan bioteknologi (biotech) dan Artificial Inteligence (AI).

Masalah kesehatan akan sangat mendesak karena berkaitan dengan keselamatan seseorang (survivalitas). Sementara keamanan data privasi juga mendesak karena berkaitan dengan data pribadi seseorang. Keamanan data privasi juga lebih berkaitan dengan hak otonom yang dimiliki tiap orang untuk mengakses dan memperoleh informasi dari perangkat digital yang dimiliki. 

Meskipun terkesan punya keterdesakan yang berbeda, sebenarnya kedua masalah ini saling berkaitan. Kesehatan merupakan representasi dari kemajuan bioteknologi di bidang kesehatan dan sedangkan keamanan data privasi adalah representasi kemajuan teknologi informasi sangat berkaitan.

Kerja-kerja kesehatan akan terhubung dan mengalami kemajuan berkat data-data yang disuplai oleh teknologi. Mulai dari suhu tubuh, derajat kebersihan, kerja hormonal, emosi/perasaan, dan beragam kerja biologis lainnya. Sebaliknya, keamanan data privasi berkaitan dengan suplai informasi kesehatan ke para penggunanya.

Dalam 21 Lessons for 21 Century (2018), Yuval Noah Harari memilah pilihan mendesak manusia hari ini. Menurutnya, jika disuruh memilih mana yang lebih penting di antara kesehatan dan data privasi, maka tentu orang akan memilih kesehatan. Alasannya adalah keselamatan. Data privasi soal kedua karena hanya berkaitan dengan rahasia dan kepentingan identitas seseorang. 

Sekilas pilihan itu terlihat mudah. Tapi sesungguhnya pilihan manusia atas kesehatan pada akhirnya memaksa mereka juga mengorbankan data pribadinya sekaligus.

Pemeriksaan kesehatan yang mengandalkan rekam medis dari suhu tubuh, emosi, peredaran darah, kerja adrenalin dan berbagai kerja-kerja biologis lainnya pada akhirnya berhasil merekam dan menerjemahkan perilaku politik, afiliasi politik, data privasi, dan emosi manusia akan sesuatu. Bahkan paling mungkin, data-data kesehatan itu bisa menjadi komoditas baru bagi sejumlah perusahan bisnis, mesin pencari, lembaga pemerintah, maupun para politisi yang berkepentingan. 

Di sektor bisnis, mereka membutuhkan data-data itu untuk mengevaluasi kerugian dan suplai pasar perusahaannya di mata konsumen. Di bidang politik, data-data itu diterjemahkan untuk membaca perilaku memilih dan afiliasi politik seseorang pada partai politik serta reaksinya terhadap kebijakan pemerintah. Bahkan untuk mengidentifikasi kencenderungannya untuk memilih dan melawan politisi tertentu.

Terkait ini, secara detail Harari (2018) menjelaskannya bahwa bagaimanapun emosi dan pikiran serta reaksi kita adalah hasil kerja biologis. Rasa takut, gembira, senang dan marah, bekerja persis seperti suhu, tubuh, dan beragam biologis lainnya dalam tubuh. 

Kerja-kerja biologis itu sebenarnya mengandung makna tertentu di dunia nyata dalam bentuk emosi dan perilaku. Sehingga, mudah saja bagi algoritma yang bekerja lewat berbagai mesin pendeteksi kesehatan untuk merekamnya.

Kebutuhan manusia pada kesehatan tak bisa dipisahkan dari kesediaannya untuk mengorbankan data privasi yang dimiliki. Ini adalah pemakluman sangat dilematis bagi manusia abad-21. 

Apalagi jika rekam medis dari data-data kesehatan itu saling terhubung antar institusi. Misalnya data-data kemudian terhubung dengan rumah sakit, sekolah atau kampus, bank, kantor atau perusahaan tempat bekerja, lembaga pemerintah, bahkan terintegrasi dengan telepon seluler yang kita genggam. 

Data-data kesehatan itu akan menyuplai informasi ke berbagai institusi tersebut tentang kondisi kesehatan kita dana apa yang sedang kita alami saat ini. Sehingga dengan alasan apa pun, institusi-institusi tersebut akan cepat bertindak terhadap diri kita.

Lewat notifikasi di handphone, kampus atau sekolah akan secara langsung memaksamu untuk ke rumah sakit. Kamu disuruh tidak boleh bersekolah karena diberitahu oleh otoritas kesehatan bahwa suhu tubuhmu sedang tidak normal, atau kondisi kesehatanmu sedang tak baik. 

Informasi yang sama mungkin akan diberikan juga ke perusahaan tempat bekerja. Kantor atau perusahaan untuk menyuruhmu segera ke rumah sakit dan tidak diliburkan untuk tidak bekerja untuk sementara. Bank akan memilih untuk tidak melayanimu jika perintah kesehatan itu tak dilakukan. 

Jika perintah-perintah dari algoritma kesehatan itu diabaikan, kamu akan ditolak oleh kampus, kantor atau perusahaan. Alasannya kamu tidak sehat dan mengabaikan kebijakan negara. 

Seluruh kerja-kerjamu pada akhirnya terpantau dengan sangat baik oleh algoritma. Persis di titik ini, keamanan data privasimu menjadi sangat rawan. Apalagi jika data-data privasi dikomodifikasikan sedemikian rupa bagi kepentingan pihak ketiga.

Sekilas ini terkesan menarik bagi mereka yang ingin diperlakukan seperti mesin. Apalagi para pemuja revolusi digital. Mereka akan beranggapan maju jika bekerja dalam kontrol, perintah dan pantauan. 

Padahal, jika itu terjadi kita sebenarnya sedang kehilangan otoritas atas diri kita. Kita gagal memahami diri kita sebagai manusia dibanding algoritma-algoritma itu memahami diri kita. 

Harari (2018) menyebut situasi ini sebagai jenis otoritarianisme baru, yaitu otoritarianisme digital. Kendali atas diri kita sepenuhnya ditentukan oleh otoritas dan lalu lintas data yang sebenarnya mungkin lebih dikuasai oleh sekelompok kecil elite. 

Sekelompok kecil elite ini sangat mungkin mengontrol data-data dari sejumlah besar masa sapiens yang tak berguna (Harari, 2018). Fenomena Skandal Cambridge Analytic yang melibatkan Facebook sebagai pemasok data pribadi
ke pihak ketiga di Pemilu Amerika Serikat adalah contoh konkretnya.

Sebenarnya tidak ada masalah jika data-data kesehatan yang merekam kondisi kesehatan seseorang digunakan untuk keperluan kesehatan. Taruhlah demi kesembuhan dan pelayanan kesehatan. 

Namun, yang jadi persoalan adalah jika data-data kesehatan itu kemudian disalah-gunakan. Baik dengan menjualnya kepada perusahaan bisnis, pemerintah maupun politisi. Perilaku kita dalam aktivitas keseharian pun menjadi terbatasi oleh kerja-kerja algoritma itu. Bahkan yang disayangkan kemudian adalah ekspresi dan kebebasan berpendapat kita tereduksi.

Kita seperti dipaksa untuk hidup dalam era totaliter dimana kontrol tidak dilakukan lewat senjata dan nuklir, melainkan lewat lalu lintas data. Alhasil semua orang semacam dipaksa tunduk patuh dan berserah diri pada otoritas yang menguasai data-data itu. Ini mungkin menjadi era paling terbuka, sekaligus paling otoriter dimana kepentingan dan maksud kepentingan kita diterjemahkan oleh pihak lain.

Beberapa tesis lama yang diusung Daniel Bell dalam The Coming Post-Industrial (1973) tentang bergesernya masyarakat berbasis material ke masyarakat berbasis non-material yang menguasai pengetahuan dan informasi bisa menjadi prasyarat kita untuk memahami kerja-kerja data di masa sekarang. Pada bagian lain yang persis, alarm ini juga diingatkan oleh sejarawan Alvin Toffler dalam The Third Wave (1980). 

Menurutnya jika gelombang pertama masyarakat kita ditandai oleh berlakunya era agraris, gelombang kedua ditandai era industrialisasi, maka gelombang ketiga ditandai oleh kemajuan teknologi informasi. Pertarungan kita sedang berada di gelombang ketiga ini. Di mana bangun mulai tidur hingga bangun tidur kita tak menjadi cemas karena jauh dari handphone dan televisi. Sesaknya kemajuan teknologi pada akhirnya membawa kita pada ruang kepung algoritma.

Merespons dua tesis utama itu, Harari (2018) kemudian memetakan dengan baik model penguasaan dan perebutan data. Menurutnya, pada masyarakat agraris manusia telah berlomba untuk merebut tanah. Kelas masyarakat yang tercipta kemudian adalah kelas petani dan penguasa tanah/feodal. 

Pada masyarakat industri-modern, yang diperebutkan justru mesin dan alat produksi. Disini kelas masyarakat proletar dan kapitalis terbentuk. Pasca dua tahap sejarah itu, masyarakat kita kemudian memasuki era perebutan data. Data menjadi mengganti penentu bagi penguasaan mesin produksi, dan sejumlah sumber daya lain. Jika hendak menguasai tanah, sumber daya dan alat produksi, maka syaratnya menguasai data.

Perebutan data ini pada akhirnya menciptakan sekelompok kecil penguasa data yang memiliki akses, dan sejumlah besar sapiens tak berguna yang tergantung dan terkontrol oleh otoritas pengendali data. 

Mereka berebut data untuk saling mengontrol peluang dan kepentingan orang lain demi memetakan kembali kepentingan ekonomi, politik dan diskursus yang hendak dibentuknya. Seluruh narasi dan justifikasi pada akhirnya ditentukan oleh diskusi dan kepentingan pemilik otoritas data ini.

Data-data pantauan kesehatan pasca Covid-19 bisa mengarah ke situasi ini. Jika saja tak dipantau dengan baik. Apalagi tantangan kesehatan kita di era bioteknologi ini menjadi tak terlihat. 

Dalam bentuk virus dan sejumlah penyakit lain yang membutuhkan experiment empiris dan rekam medik yang valid. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi jika, kita lalai dalam mengontrol data pribadi. Apalagi di era krisis macam begini, semua orang menjadi mendesak dan tak punya alternatif lain untuk sejenak berpikir tentang dampak jangka panjang.

Alasan keamanan abad-21 bermetamorfosa --meminjam Foucault (1975)--menjadi panoptikon  baru yang mengontrol manusia dari menara penjara. Orang-orang terpenjara oleh kecerdasan yang diciptakannya sendiri. 

Data-data dan algoritma adalah hasil karya yang pada akhrinya akan lebih baik dalam memahami  keinginan manusia. Orang-orang abad-21 akan berinteraksi dalam demarkasi keamanan data sekaligus tuntutan untuk survive ditengah pandemic yang menyerang secara tak terlihat. 

Bahkan pantauan itu tidak saja diberikan oleh kerja-kerja algoritma. Perubahan-perubahan itu pada akhirnya menciptakan manusia yang menjadi pemantau bagi dirinya sendiri. (Chul Han, 2017). Manusia dipantau oleh hasrat,  tubuhnya, dan psikis dirinya sendiri. Kondisi dimana seseorang merasa cemas dan tertantang saat mendeteksi kehendak psikologis dirinya. 

Metamorfosa ini menjadikan manusia menjadi pengontrol atas hasrat yang tidak dibentuk oleh dirinya, melainkan disediakan oleh lingkungan luar, seperti pasar, arus modal, trend dan kerja-kerja kapital lain. Orang berlomba-lomba memenuhi tuntutan dirinya lewat kontrol yang diberikan oleh hasratnya sendiri.

Data telah menjadi kontrol, perebutan sekaligus kebutuhan. Namun, kita tak bisa menolak kerja data, sama halnya kita tak bisa menolak kontrol dan kebutuhan kita
atas data. Kita mungkin bisa memaklumi kerja data sebagai penyedia layanan dan  pendongkrak kualitas hidup manusia. 

Namun pada saat yang sama, kita juga harus punya otoritas untuk mengontrol data diri kita agar tak dimanipulasi demi kepentingan pihak ketiga tanpa sepengatahuan kita. Caranya ?. Kemajuan teknologi yang diciptakan harus dikontrol lebih ketat oleh kebebasan ekspresi dan mengeluarkan pendapat. Syarat memperjuangkan penetinhgan privasi adalah kebebasan. 

Selain kesadaran, kebebasan adalah kekuatan penting di era perebutan data. Kebebasan akan memberi ilham bagi kita untuk memahami diri dan kepentingan kita lebih baik dari pada algoritma. Kita bisa bebas dan berhak untuk menolak atau menyetujui akses atas data privasi kita.