Sebagai orang tua, memiliki anak merupakan suatu anugerah yang telah didambakan. Saat mereka merencanakan akan memiliki anak, maka mereka wajib menghadapi konsekuensi yang akan dihadapi pada masa mendatang. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan, memberi bimbingan, dan mampu membagi waktu kebersamaan dengan anaknya.

Orang tua biasanya akan mencoba semaksimal mungkin untuk membuat bahagia anaknya. Akan tetapi, apakah semua orang tua telah menerapkan hal tersebut? Apa anak mereka tetap merasakan kebahagiaan? Atau mungkin memendamnya dalam keheningan yang mendalam?

Orang tua dalam pemenuhan tanggung jawab ini biasanya akan melakukan suatu pekerjaan, sehingga kebutuhan dalam keluarga akan tercukupi. Akan tetapi, dalam pemenuhan kebutuhan itu terkadang anak menjadi korban yang tidak mereka sadari.

Setiap orang berhak atas kebahagiaan, begitu juga dengan anak yang membutuhkan kebahagiaan dengan perhatian yang diberikan orang tua mereka. Seorang anak akan merasa bahagia dan senang apabila diperhatikan dan diberi kasih sayang oleh orang tua mereka.

Tuntutan finansial dalam kehidupan membuat beberapa orang tua terpaksa menitipkan anak mereka kepada orang lain. Hal ini mampu membuat seorang anak merasakan kehilangan sebagian kasih sayang yang diberikan orang tua mereka.

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, ada beberapa anak yang dapat menyatakan langsung kesedihannya dan ada yang memilih memendam kesedihan yang mereka rasakan. Karakter anak ini harus diketahui dan diperhatikan oleh setiap orang tua.

Terdapat suatu kisah di mana seorang anak yang harus menghadapi kesepian dalam diam, sebagai bentuk tekanan yang tidak dapat disampaikan oleh anak tersebut. Akibatnya, ini dapat memperburuk suasana hati dan psikologis anak tersebut untuk ke depannya.

Kisah dimulai dari seorang anak yang harus menghadapi kenyataan di mana kedua orang tuanya harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebagai anak kecil yang haus akan perhatian, anak itu melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian kedua orang tuanya. Kejadian nakal tidak luput dalam usahanya.

Anak ini terus menerus mencari perhatian sampai di mana salah satu orang tua anak ini kehabisan kesabaran, orang tua ini mengambil gagang sapu dan memukul gagang itu pada tubuh anaknya. Sebagai seorang anak yang menerima perlakuan tersebut tentu akan menangis.

Anak ini terus menangis dengan omelan yang terus diberikan dalam setiap tangisannya. Sampai di mana orang tua yang satunya bangkit dan ikut memarahi anak ini agar tidak mudah menangis untuk ke depannya. Anak itu akhirnya menurut untuk mengakhiri tangisannya dan memilih diam.

Waktu berjalan terus berlalu dengan seorang anak yang tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup. Anak ini tidak tahu harus bercerita kepada siapa, orang tua mereka sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan yang layak. Sampai akhirnya anak ini dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tertutup.

Saat bertemu dengan tetangganya, tetangga ini bertanya kepada orang tua anak ini, "Mengapa anak itu menjadi pendiam?” Orang tua anak ini hanya menjawab, “Sifatnya memang begitu.” Apa yang dilakukan anak itu setelah mendengar perkataan orang tuanya? Ya, tentu saja anak itu akan tetap diam.

Tekanan di sekitar anak ini membuat dirinya merasakan sesak pada dadanya. Anak ini akan menangis meskipun hanya ketika orang tuanya tidak berada di sekitarnya. Anak ini akan menangis keras dalam kesunyian sampai mata anak ini lelah dan mulai terlelap.

Masa pertumbuhan anak ini dilalui dengan perasaan yang sama, perasaan hampa di mana ia tidak tahu harus berekspresi dan bersikap seperti apa. Pada detik inipun orang tua anak ini tidak menyadari kesalahan besar yang telah mereka ciptakan.

Kebahagiaan anak ini telah direnggut meskipun tidak ada yang menyadarinya. Pertumbuhan anak ini jauh dari kata “pantas” di mana seharusnya anak ini tumbuh dengan sifat ceria dan periang. Siapa dalang dari semua ini? Apakah orang tua anak ini? Atau keadaan yang menuntut untuk terpenuhi?

Apapun alasan dari direnggutnya kebahagiaan anak ini. Namun, yang pasti anak ini mengalami trauma psikis. Trauma ini akibat dari guncangan dan perilaku menyakitkan dari orang tuanya, di mana orang tua mereka tidak menyadari akibat dari perbuatan yang telah mereka lakukan selama ini.

Efek yang timbul dari trauma ini dapat mengakibatkan anak kesulitan menemukan jati dirinya, menolak perhatian dari orang lain, hatinya menjadi hampa dan mati rasa. Efek yang terburuk dari trauma ini juga dapat mengakibatkan seorang anak kehilangan nyawanya.

Oleh karena itu, hal yang seharusnya orang tua lakukan agar tidak terjadi kejadian di atas yaitu dengan meluangkan waktu meskipun sesibuk mungkin, sehingga anak akan merasa nyaman dan terbuka untuk menceritakan perasaan yang dirasakan.

Bagi seluruh orang tua dan calon orang tua, diharapkan untuk mempelajari terlebih dahulu tata cara untuk menjadi orang tua yang baik demi kesehatan mental dan fisik pada buah hati tercinta. Sehingga tidak ada lagi kisah anak yang mengalami trauma, seperti kisah di atas.