Sebentar lagi Natal akan dirayakan di seluruh dunia. Euforia Natal begitu dirasakan, khususnya di negara-negara Eropa, Amerika, dan juga beberapa benua yang memiliki tradisi Kristen yang turun-temurun. 

Tapi uniknya, Natal juga dirasakan oleh negara-negara yang memiliki jumlah penduduk Kristen minoritas termasuk Indonesia. 

Malah momen ini dijadikan komoditas bisnis bagi para pengembang pengembang mall yang ada di Indonesia. 

Terlepas dari polemik-polemik yang ada mengenai penolakan atribut Natal di sini, kita Indonesia juga sedang merayakannya. Akan tetapi, Natal saat ini sudah berbeda jauh dengan sejarah berdirinya Natal. Natal yang pertama dirayakan adalah Natal yang dirayakan di dalam kesederhanaan.

Saat ini, kita merayakan Natal sebagai kelahiran Yesus Kristus dan momen mencari untung dari bisnis-bisnis retail sampai grosir. Namun sekitar 2000 tahun yang lalu, Natal itu dirayakan di tengah-tengah pembantaian anak-anak kecil oleh Raja bernama Herodes. Mencekam.

Di dalam acara Natal, kita memperingati kelahiran Yesus Kristus yang tercatat di dalam Alkitab dan sejarah sekitar 2000 tahun yang lalu. Tidak ada sinterklas sama sekali di dalam tradisi Natal yang diturunkan dari Alkitab.

Kalau bicara dari sejarah kondisi politik saat itu, ekonomi saat itu, dan pemerintahan saat itu, seharusnya Yesus Kristus tidak lahir di zaman yang penuh dengan polemik itu. Mengapa? Karena pada saat itu sedang ada zaman kegelapan menyelimuti dunia ini. Namun di dalam kegelapan itulah harapan dan Sang Terang hadir. 

Sejarawan pun mencatat bahwa pada era Yesus Kristus dilahirkan, ada pembantaian massal anak-anak laki-laki, khususnya dari Herodes kepada kaum Yahudi. Hal ini senada dengan yang dituliskan di dalam Alkitab.

Kondisi politik saat itu juga sangat menekan orang-orang Israel. Pemerintah pada saat itu benar-benar melakukan ke kegiatan diskriminatif.

Anak laki-laki yang di bawah usia 2 tahun harus dibunuh karena mereka akan menjadi penerus nubuat dari Tuhan sejak zaman perjanjian Lama. Di dalam perjanjian Lama, mesias dijanjikan lahir di sekitaran Israel. 

Herodes yang ketakutan kekuasaannya diambil, kemudian meminta seluruh pasukannya untuk mencari anak laki-laki, untuk disembelih. Kok iri sama anak-anak? 

Namun karena tuntunan malaikat, Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus keluar ke Betlehem.

Di bawah di dalam ketidaktahuan akan bagaimana nasib mereka bertiga pada saat itu. Pada saat itu sedang dirayakan paskah, maka seluruh tempat sudah tidak tersedia lagi untuk menjadi tempat melahirkan Yesus.

Akhirnya mereka menemukan kandang hewan, Maria melahirkan dan meletakkan bayi Yesus di atas palungan.

Apa itu palungan? Palungan adalah tempat makan dari hewan-hewan ternak yang disediakan oleh para penggembala. Dan janji perjanjian lama pada akhirnya digenapi di dalam kelahiran Yesus Kristus.

Dari sini kita melihat bahwa jalan Tuhan tidak pernah bersalah. Ketetapan Tuhan untuk menghadirkan Mesias harus terjadi dan harus digenapi di dalam sejarah. Kristus Yesus, anak Daud lahir. 

Dan Dia disambut oleh orang majus dari Timur yang tercatat berjumlah 3 orang. Masing-masing dari mereka membawa emas, mur, dan kemenyan. 

Emas melambangkan raja, mur melambangkan nabi, dan kemenyan menandakan imam.

Dari sini kita belajar bahwa upaya apa pun di dalam menentang Tuhan tidak akan membawa kita ke mana-mana. Yang ada malahan makin kebenaran ditekan, makin kebenaran muncul. 

Sifat kebenaran itu unik karena ia memiliki sebuah ciri khas, yaitu ketidakmungkinan untuk dipersalahkan. Kebenaran itu mustahil untuk dipersalahkan.

Hanya ada dua respons manusia di dalam melihat kebenaran. Pertama menerimanya; kedua, membantahnya. Orang bijak mengkritisi kebenaran kemudian menerimanya. Orang kerdil melihat kebenaran kemudian menolaknya.

Apakah dengan menolak kebenaran, kebenaran itu akan menjadi salah? Tentu tidak. Apakah dengan menerima kebenaran, kebenaran itu akan bertambah benar? Ya tidak juga.

Intinya, kebenaran itu bersifat self contained. Ia bisa menopang dirinya sendiri tanpa harus disetujui ataupun ditolak oleh objek penerima kebenaran.

Maka di dalam momen Natal ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat bahwa sang kebenaran itu datang dan tidak terbantahkan pengaruh-pengaruhnya bagi dunia sampai saat ini.

Sang terang yang datang itu tidak bisa ditolak oleh penilaian, baik objektif maupun subjektif dari manusia. Karena kebenaran tersebut adalah kepenuhan yang mandiri. Tidak tergantung oleh apa pun yang ada di sekitarnya.

Manusia yang merupakan penerima kebenaran, maka respons kita seharusnya adalah membagikan terang dari kebenaran itu kepada dunia ini. Sang damai itu sudah datang sekarang. Sang damai itu sudah tinggal di setiap diri orang-orang percaya. 

Yesus yang lahir di dalam palungan itu sudah menjadi satu benchmark di dalam sejarah.

Semoga artikel ini bisa membuat kita semua menyadari bahwa Natal yang sesungguhnya bukanlah sekadar tukar kado belanja murah dan promo yang menggiurkan. Karena esensi dari natal yang sesungguhnya adalah kelahiran Kristus di dalam kesederhanaan dan kesempurnaan yang dinyatakan di dalam tekanan.

Selamat memasuki momen Natal. Kiranya kita semua bisa mendapatkan kedamaian karena sang damai itu sendirilah yang sudah turun.