Filsuf
2 tahun lalu · 651 view · 9 menit baca · Cerpen guardian_knight.jpg
Foto: images5.alphacoders.com

Kesatria Penjaga

Sisi Lain Ayah Sang Dewi

Seperti kakak, aku mengagumi ayah nyaris dalam segala hal. Dan seperti kakak, aku juga mengimitasi ayah dalam sisi-sisi tertentu dari kepribadiannya yang saling bertolak belakang. Atau mungkin kata “mengimitasi” itu kurang tepat. Aku dan kakak menerima dua sisi kepribadian ayah sebagai warisan genetis. Sebuah kutukan, mungkin.

Ayah adalah pribadi yang sarat kontradiksi. Kecenderungan untuk menganalisa dan mengkalkulasi, mementingkan logika dan fakta dalam berargumentasi, menampilkan ayah sebagai sosok pribadi yang rasional. Ku kira inilah watak Ayah yang dominan, atau setidaknya ingin ia tampilkan di permukaan. Kakakku, Sang Dewi, mengambil banyak hal dari watak rasional ayah.

Di sisi lain, ayah tidak melulu rasional. Ayah sangat peka dengan kondisi orang lain, bahkan terkadang hingga terbawa perasaan. Watak emosional ini sepertinya tidak terlalu ayah sukai, hingga ia cenderung menyembunyikannya di bawah sadar. Namun sekali gejala emosi ini tampil ke permukaan, ayah menjadi pribadi yang lebih empatik, teman berbagi bagi jiwa-jiwa yang gundah dan kesepian. Dari ayah, aku menerima watak yang irasional.

Tidak seperti kakak yang menikmati waktu bersama ayah untuk mendiskusikan topik-topik “berat”, aku dan ayah justru banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Bermain video game, menonton film aksi laga, menikmati musik, dan sesekali main "berantem-beranteman"—“BBM-an”, dalam istilah kami. Bahkan topik-topik yang “serius” pun, kalau ada, kami bincangkan sebagai lelucon yang tak jarang satir.

Entah kebetulan atau takdir alam, tampaknya kontradiksi dua watak ayah ini terwariskan melalui nama yang ayah pilihkan untuk memanggil kami. Jika nama panggil kakak berasosiasi dengan Dewi Kebijaksanaan, makna dari nama panggilku sangat manusiawi: “Sumber Keceriaan”. Mungkin, bagi kakak kebijaksanaan adalah hal yang membingungkan. Tapi bagiku, kebijaksanaan mustilah “kebijaksanaan yang menyenangkan”, a joyful wisdom.

“Kebijaksanaan yang menyenangkan”—setidaknya aku pernah berpikir demikian. Hingga pada suatu sore menjelang Maghrib, secara tak sengaja ku temukan bunda menangis dalam kamar. Sendirian, tidak ada ayah di kamar itu. Sejak mereka kembali dari mengantar eyang putri ke stasiun sore tadi, ayah tidak segera naik ke lantai atas bersama bunda.

Bunda langsung menyeka air matanya begitu melihatku. Dengan suara yang terdengar agak serak, dia bertanya, “Ade, kamu mau menjadi sahabat Bunda?”

Aku sejenak tertegun menduga apa gerangan yang baru saja terjadi. Bunda yang biasa tampak tangguh kali ini terlihat rapuh. “Iya, Bunda. Tentu saja,” jawabku. “Tapi kenapa Bunda bertanya seperti itu?”

“Bunda dan Ayah, mungkin, tidak akan tinggal bersama lagi,” bunda menjawab.

“Maksud Bunda?”

“Bunda dan Ayah akan segera berpisah. Artinya nanti akan tinggal Ade seorang laki-laki di keluarga kita. Bunda ingin Ade menjadi sahabat Bunda, sekaligus pengganti Ayah. Ade harus menjadi Ksatria Penjaga yang selalu melindungi Bunda dan Kakak dari siapapun atau apapun yang dapat merusak kebahagiaan keluarga kita.”

Seketika sunyi datang seiring langit yang tampak mulai gelap di balik jendela kamar. Aku hanya diam, mencoba menahan sesak dalam ruang dada yang dinding-dindingnya terasa saling menghimpit. Mataku mulai lembab bersama rintik gerimis. Sampai adzan Maghrib dari masjid luar kompleks perumahan kami berkumandang, memecah lamunanku tentang hari-hari tanpa ayah dan tanpa kebijaksanaannya yang menyenangkan.    

*****

Aku tak tahu apakah kakak sudah mendengar kabar tentang masalah orang tua kami. Aku sebetulnya sangat ingin menyampaikan kepada kakak isi pembicaraanku dengan bunda. Tapi aku memilih tak melakukannya. Pertama, karena bunda melarang aku menyampaikan isi pembicaraan kami pada ayah dan kakak. Kedua, karena aku tak ingin melihat kakak kecewa dan sedih, karena orang yang sangat ia kagumi tak sesempurna seperti yang ia bayangkan.

Meski demikian, perlahan sepertinya kakak mulai menyadari masalah ini. Suatu sore setelah tiba di rumah sepulang dari sekolah, kakak mengungkapkan kegelisahannya.

“De, Bunda belakangan kok selalu tidur di kamar kita, ya? Apakah kamu tidak menyadari hal ini?”

“Iya sih. Tapi, bukannya Kakak senang kalau Ayah atau Bunda menemani kita tidur, atau paling tidak menemani sampai kita tertidur?”

“Agak aneh saja. Bunda ‘kan biasanya paling malas tidur di kamar kita. Ini sudah lebih dari seminggu Bunda meninggalkan Ayah tidur sendirian di kamar.”

“Mungkin karena ‘kegerahan’, Kak, jadi Bunda ingin tidur di kamar yang ada penyejuk udaranya. Hehehe...”

“Sepertinya bukan itu alasannya. Apakah kamu ingat waktu kita makan malam kemarin? Sunyi sekali. Ayah dan Bunda masing-masing memang berbicara pada kita, tapi mereka tidak saling menyapa. O iya. Apakah kamu tidak ingat dua minggu yang lalu Ayah dan Bunda sempat bertengkar?”

Kakak mulai merasakan keganjilan-keganjilan dalam hubungan orang tua kami. Andai bunda tak melarang, mungkin aku sudah bercerita masalah ayah pada kakak. Meskipun, aku tahu, cerita itu akan membuat kakak sangat sedih. Aku pikir, kalau kakak harus tahu, biarlah ayah yang menyampaikan masalah ini pada kakak. Toh, kakak adalah “anak tersayang ayah”—seperti makna dari nama belakang kakak yang ayah berikan padanya.

Meski begitu, aku juga sebetulnya menyimpan banyak tanya. Kenapa bunda harus menceritakan masalahnya dengan ayah kepadaku? Apakah masalah bunda dengan ayah adalah hal yang seharusnya ku dengar? Jika memang demikian, kenapa bukan kakak, tetapi aku, anak bungsu keluarga ini, yang belum lagi naik kelas 5 SD?

Mungkin bunda berpikir tidak ada gunanya bercerita pada kakak. Dengan wataknya yang cenderung rasional seperti ayah, mungkin kakak malah akan menyudutkan bunda ketimbang menyalahkan ayah. Itulah mungkin kenapa bunda memilih aku sebagai sahabatnya, untuk mendengarkan segala kesedihannya terkait perilaku ayah, untuk membangkitkan keceriaannya kembali.

Bunda benar. Aku memang lebih peka terhadap perasaan orang lain dibandingkan kakak. Aku begitu terbawa emosi ketika mengetahui bagaimana ayah menyakiti hati bunda terlalu dalam. Aku berempati, bersimpati bahkan dengan ikut terhanyut dalam kesedihan bunda, menangis bersamanya. Tetapi mungkin bunda melupakan satu hal. Aku lebih meratapi nasibku sendiri ketimbang nasib bunda.

Aku menyayangi ayah, tidak kalah besar dibandingkankan rasa sayang kakak pada ayah. Aku larut dalam kesedihanku sendiri membayangkan kelak ayah tak lagi menemaniku bermain dan belajar. Ayah, jika kau meninggalkanku, siapa yang akan menemaniku meneriakkan Numb—lagu Linkin Park—ketika aku, mungkin juga ayah, merasa apapun yang kita lakukan selalu (dianggap) salah. “Every step that I take is another mistake to you!”.    

*****

“Apakah Ade tahu bahwa ayah tidak percaya Tuhan, seorang ateis?” Demikian salah satu pertanyaan bunda dalam perbincangan kami sore itu. Aku menggeleng tanda tak tahu. Yang aku tahu, ayah bekerja di organisasi yang aktif membela hak-hak kelompok minoritas, khususnya minoritas agama seperti Ahmadiyah dan Syiah. Malah aku dan kakak beberapa kali ikut ngobrol bersama mereka. Orang-orang yang menyenangkan.

Seolah bisa membaca pikiranku, bunda melanjutkan. “Tak masalah bagi Bunda jika Ayah membela kelompok-kelompok yang oleh kebanyakan Muslim disebut aliran sesat. Bunda juga mencoba mengerti ketika kemarin Ayah ikut mendukung kampanye LGBT, meskipun banyak teman Bunda bertanya apakah ayah seorang Muslim yang baik. Bunda mencoba toleran kepada ayah selama ini.”

“Lalu, kenapa Bunda berpikir bahwa ayah adalah seorang ateis? Bukankah kelompok-kelompok yang dibela oleh Ayah adalah orang-orang beragama? Bukankah ayah mendukung kebebasan setiap orang untuk beragama sesuai keyakinannya?”

“Ya, itu juga membuat Bunda bingung. Tetapi, dalam kenyataannya, Ayah berulang kali menunjukkan sikap yang menunjukkan ketakpercayaannya pada Tuhan, kebenciannya pada agama, khususnya Islam. Sangat mengherankan memang mengingat ayahmu dibesarkan oleh keluarga yang sangat religius dan ahli agama. Ayahmu bahkan mengenyam kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Islam.”

Sebetulnya, kebingungan Bunda juga aku rasakan. Ayah bukan saja fasih membaca Alquran, tetapi juga memahami hukum agama, tata tertib ibadah, dan bahkan masalah-masalah ketuhanan yang rumit, yang sering ku dengar ketika ayah berdiskusi dengan kakak.

Membingungkan, karena meskipun sangat memahami agama, Ayah tidak melaksanakan shalat dan puasa untuk waktu yang sangat lama. Baru belakangan ini Ayah sesekali mau menjadi imam salat, itu pun setelah Bunda yang kini berjilbab berulang kali membujuknya.

Ayah memang tak pernah bilang kepadaku bahwa ia adalah seorang ateis, meskipun aku pernah bertanya kepada Ayah tentang apa itu ateisme. Ketika itu ayah menjawab bahwa kata “Tuhan” yang kita gunakan adalah kiasan untuk menyederhanakan hal-hal rumit yang terjadi di alam semesta.

Sebagian orang tidak puas dengan kiasan itu dan menganggap “Tuhan” lebih dari sekadar kata, beberapa yang lain tetap memperlakukan kata itu sebagai kiasan. Ateis adalah orang yang tidak percaya penjelasan-penjelasan agama tentang eksistensi Tuhan.

Ketika itu aku tidak berusaha mengejar lebih jauh penjelasan ayah. Diskusi dengan topik seperti ini mungkin menyenangkan bagi kakak, tetapi tidak bagiku. Lagi pula, untuk apa kita mendiskusikan sesuatu yang tidak bisa dipastikan melalui indera. Banyak hal yang lebih penting untuk didiskusikan. Tunggu dulu. Bahkan aku pun terdengar seperti ayah ketika mengatakan untuk apa kita mendiskusikan hal-hal yang tidak bisa dipastikan melalui indera.

Tetapi, harus aku akui bahwa kadang sikap dan ucapan Ayah membuatku berpikir bahwa ayah adalah seorang ateis. Misalnya, ketika suatu kali aku ingin mengetahui pendapat ayah tentang kisah Ibrahim dan anaknya, Ismail. Jujur saja, di antara kisah-kisah para rasul, cerita tentang pengorbanan Ismail oleh Ibrahim benar-benar sangat menggangguku. Bagaimana aku memahami hal yang baik dari kisah ayah dan anak ini? Apakah ayahku seorang Ibrahim?  

“Ayah, kalau Allah memerintahkan Ayah untuk menyembelih Ade seperti Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, apakah Ayah akan melakukan perintah itu?”

Jawaban Ayah sungguh di luar dugaanku. “Ayah tidak akan melakukannya. Dan jika Allah memaksa Ayah melakukan tindakan tidak waras seperti itu, Ayah akan melawan perintah Allah itu bahkan jika karena itu Ayah harus mati.”

Mimik wajah ayah serius ketika menjawab pertanyaanku. Dan aku merasa aman mendengarnya. Seperti kakak, aku semakin mengagumi ayah. Bahkan mungkin setengah memujanya laksana malaikat tanpa cela—bahkan jika ayah sungguh-sungguh seorang ateis. Untuk apa kita percaya pada Tuhan jika karena kepercayaan itu kita justru menumpahkan darah orang lain tanpa dibebani rasa bersalah?

Tetapi kini kekagumanku pada ayah jauh berkurang jika bukan hilang sama sekali. Ayah, sang pembela kebebasan, telah kebablasan dengan kebebasannya. Apa yang ayah lakukan telah menyakiti perasaan bunda terlalu dalam, juga menyakiti aku—dan mungkin kakak—yang selama ini terlanjur membanggakannya. Ayah telah berbuat kesalahan besar pada keluarga ini. Aku bahkan tak tahu apakah kelak aku bisa memaafkan ayah.

*****

“Karena tak percaya Tuhan sungguh-sungguh ada, Ayahmu merasa bisa melakukan apa saja yang dia inginkan,” kata Bunda melanjutkan perbincangan kami. “Sebetulnya sudah lama Bunda merasa gelisah dengan pandangan Ayah tentang kebebasan. Hanya saja, Bunda mencoba memahami apapun yang Ayah lakukan, karena Bunda merasakan cinta Ayah yang sangat besar pada Bunda.”

“Ade belum mengerti maksud Bunda.”

“Kebebasan telah membawa Ayahmu ke alam liar. Ia tak dapat lagi membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Dia menciptakan dunianya sendiri di luar keluarga kecil kita, menemukan kebahagiaan dengan aturan mainnya sendiri. Ayah juga tidak mencintai Bunda lagi seperti dulu. Dia lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya— juga bersama perempuan itu!”

Ada kemarahan yang meluap ketika bunda mengucapkan kata “perempuan itu”. Belum lagi ku pahami sepenuhnya ke mana arah pembicaraan ini, bunda mengejutkan aku dengan menunjukkan sebuah foto di hand phone Xperia milik ayah yang sudah tidak digunakan. Ayah melakukan selfie di sebuah kafe, bersama seorang perempuan tak berjilbab—cantik dan tampaknya lebih muda dari ayah. Wajah mereka tampak bahagia sekali di foto itu.

Aku mencoba menahan diri untuk tidak berburuk sangka pada ayah. Aku tahu ayah memiliki banyak kenalan baik laki-laki maupun perempuan terkait pekerjaannya, termasuk mahasiswa dan orang-orang yang lebih muda dari ayah. Tapi bunda menunjukkan kepadaku lebih banyak lagi, bukti-bukti yang tak bisa ku sangkal betapapun tak ingin ku percayai: percakapan mesra antara ayah dan perempuan itu di Whatsapp.

Aku tak kuasa menahan kecewa. Aku marah dan sedih, menangis sambil memeluk bunda yang berusaha tabah sejak awal hingga menyelesaikan kisahnya. Secara spontan terbersit di pikiranku bahwa ayah akan meninggalkan kami untuk hidup bersama perempuan ini. Tak pernah ku kira ayah adalah orang yang sangat jahat. Pengkhianat keluarga!

“Ade, Bunda?” Tiba-tiba suara ayah terdengar bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Ayah tidak sadar skandalnya dengan perempuan itu sudah kami ketahui. Aku tak mau melihat wajah ayah, si pengkhianat. Sambil menahan tangis, aku langsung pergi kembali ke kamar aku dan kakak. Membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam.

“Ade, kamu kenapa?” Kakak yang sedang membaca sebuah buku bertanya. Aku tak menjawab. Suara pertengkaran tak lama terdengar dari kamar sebelah. Aku tak sanggup lagi menahan tangis. Kakak berhenti bertanya. Mungkin dia mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Aku lempar tubuhku ke atas kasur dan berusaha menyembunyikan wajahku di balik bantal, menangis sejadi-jadinya.