Entah mengapa, sampai sekarang saya belum pernah bisa menggunakan pemandu arah jalan seperti google map atau aplikasi penunjuk arah yang tersedia gratis dalam telepon pintar. Jadi, jika saya ketemu jalan baru di tempat yang asing, saya seringkali kesasar.

Ditambah lagi, saya malas bertanya-tanya pas kesasar. Wis pokoknya ngikutin feeling, nanti mesti ketemu jalan besar, terus lanjut perjalanan. Jika siang, kira-kira arah menuju kemana bisa melihat posisi matahari atau kompas ala Jawa yang petujuk arah jarumnya N semua; Ngalor, Ngidul, Ngetan, Ngulon.



...setelah saya yakin mereka adalah makhluk yang menginjak tanah.

Pernah saya coba menggunakan aplikasi petunjuk arah pas lebaran, dari Jakarta singgah di kota Kediri, lalu berlanjut ke arah kota Blitar. Waktu itu malam hari, dari Kediri kendaraan diarahkan menuju ke Tulung Agung. Lalu bertemu suatu pertigaan di jalan raya, saya diminta menuju ke kiri.

Kemudian kami, saya sekeluarga dalam satu kendaraan, memasuki suatu perkampungan yang pertama kali kondisi jalanannya beraspal. Terus berubah menjadi jalanan macadam. Lama-lama menyempit berjalan di jalan tanah, terus berliku-liku kayak masuk ke barongan, hutan bambu, yang gelap gulita kayak sedang berada di tengah hutan.

Ternyata, saya sebagai pengemudi kendaraan di arahkan masuk jalan pintas melewati jalanan berliku sekitar di lereng gunung Kelud. Pas malam-malam pula. Seru!

Saya pun patuh mengikuti petunjuk arah terus dalam kegelapan hutan, tiba-tiba bertemu satu tanjakan, lalu ketika jalannya menurun, tampak ada beberapa orang pria muda sedang berjaga-jaga.

Baru saya bertanya pada salah satu dari mereka, setelah saya yakin mereka adalah makhluk yang menginjak tanah.

“Mas ini jalan ke arah mBlitar?” Tanya saya dari balik jendela kaca kendaraan yang terbuka.

“Iya Pak, njenengan teruus aja nanti ada sungai, terus nyebrang sudah masuk mBlitar.” Jawab satu anak muda tanpa memandang saya tapi tangannya menunjuk-nunjuk arah ke depan, demi memberi penjelasan gamblang.

Suwon yo, Mas” Jawab saya singkat sekaligus lega karena segera terbebas dari suasana gelap gulita jalan pintas liwat lereng gunung Kelud.

Saya pun lanjut menuruti saran anak muda itu ke depan sekitar 20-an meter. Benar ada sungai. Tapi tanpa jembatan. Saya lalu membunyikan klakson “Thin!” 

Anak muda yang tadi di belakang lari ke arah saya.

“Lho mas, ini kali kok gak ada jembatannya?” Saya bertanya lagi dari jendela kaca kendaraan yang terbuka.

“Oh niku kaline cethek kok Pak.” Anak muda itu lari ke kali, berdiri di atas air yang mengalir, menunjukkan bahwa sungainya dangkal. Saya lihat telapak kaki anak muda itu terendam semata kaki.

Benar, sungainya sangat dangkal meski lebar. Saya pun lanjut jalan, berhenti sebentar dekat anak muda berdiri.

“Mas, buat beli rokok ya.” Saya beri salam tempel berisi sejumlah uang, sebagai tanda terima kasih.

“Saya nggak ngrokok e Pak...” Jawab si anak muda sambil tersenyum menerima uang.

“Ya buat nanti andok Bakso lak wis...” Jawab saya bernada kebapakan.

“Nggeh!” Tukas si anak muda sambil tetap tersenyum. Mungkin membayangkan tak berapa lama semangkok Bakso hangat terhidang di hadapannya, buah kebaikannya membantu orang yang membutuhkan.

Dari kejadian melewati jalan pintas lereng gunung Kelud dimalam hari itu, sampai sekarang saya kapok, masih belum mau gunakan aplikasi petunjuk arah. Lagi pula, kesasar jika dinikmati asyik juga kok. Karena sering ketemu dengan hal-hal yang tak terduga.



Bersih belum tentu enak. Nggak bersih belum tentu tak enak. Itu rumus...

Seperti siang hari ini, karena males bertanya dan gaptek tentang aplikasi petunjuk arah gratisan di telepon pintar, saya pun kesasar muter-muter di daerah Cikarang.

Sejak keluar dari pintu tol Cikarang, saya keblasuk sampai bertemu sekelompok patung kuda-kuda putih yang tengah berpose sedang mengangkat kaki. Sempat saya lirik apakah kuda-kuda itu jantan apa betina, ternyata semua jantan. Soalnya, itu-nya si kuda begitu jelas terlihat, meski rada tersembunyi.

Dalam hati saya bilang; “yang bikin patung kok detail ya? Sempet-sempetnya bikin penanda kudanya jantan apa betina.”

Terus saja saya melanjutkan perjalanan, yang semakin kesasar setelah ketemu mall lalu perempatan, lalu belok kanan. Sejak masuk perempatan ini, saya pun mulai gunakan feeling mencari-cari arah yang tepat.

Waktu pun telah menunjukkan lewat jam makan siang. Kesasar pula. Feeling penunjuk jalan berputar rada keras karena banyak pertigaan dan perempatan. Karena putaran feeling pencari arah berputar terlalu kencang, rasa lapar pun semakin mendera.

Tadinya feeling mencari jalan yang benar, berubah menjadi feeling mencari jalan menuju pos pereda lapar. Was wes was wes saya keluar masuk tikungan, belok kanan. Eh... tau-tau masuk jalan suatu perumahan.

Masuk jalan perumahan kecepatan kudu pelan-pelan. Pas lagi enak-enak pelan. Entah kenapa mata melirik ke kanan lalu menatap suatu tulisan yang terbaca; ‘Sedia Pangsit Cwimie Malang’.

‘Ciiit..’ bunyi rem kendaraan yang saya kendarai samar terdengar berdecit. Demi membaca tulisan itu, ya saya berhenti lah. Kan orang yang lagi kesasar, juga perlu sejenak bersandar.

Saya masuk ke dalam sebuah rumah yang ditata apik dan bersih sebagai rumah makan. Aroma khas Cwimie langsung menerpa. Saya tau persis ini aroma otentik khas Cwimie Malang.

Seperti biasa, saya pesan masakan sambil melihat-lihat dapur dan uji coba kondisi toilet kamar mandi. Bersih kok kamar mandinya. Berarti mengolah masakannya juga bersih. Tinggal diuji coba, hasil olahan Cwimie khas Malangnya enak apa nggak.

Bersih belum tentu enak. Nggak bersih belum tentu tak enak. Itu rumus olahan masakan baik level rumah makan atau kedai pinggir jalan. Saya amati juga, di sekitar rumah makan ini nggak ada kucing berkeliaran. Masuk akal, mana ada kucing doyan mie?

Suasana dalam rumah makan Cwimie Malang Oma Cikarang menampilkan aneka foto tentang kota Malang.

Dekorasi rumah makan tertata apik, minimalis, berhias foto-foto yang mencoba mengenalkan para tamu tentang kota Malang. Meja dan kursi tempat menikmati hidangan juga berkualitas meja dan kursi yang beneran. Bukan jenis meja yang ikutan miring pas kedua siku menopang. Atau jenis kursi yang pas diduduki ada sensasi terasa mleyot-mleyot.

Tampak sebagai aksesori rumah makan berupa satu unit motor Honda C-50 terawat, yang melegenda sebagai motor andalan sejak kisaran tahun 1950 s/d. 1960-an.



Lhep! Demikian suara dalam hati yang menyertakan sesuap Cwimie.

Semangkok pangsit Cwimie pun datang disajikan. Bersanding semangkok kecil berisi dua pentol bakso berkuah. Sekali lagi saya hirup uap yang keluar dari mangkok yang tersaji. Betul! Ini aroma khas 100% Cwimie Malang.

Ada sensasi campuran kuah acar mentimun yang juga berimpit disudut pinggir di samping tumpukan mie sama abon ayam dan tamburan bawang merah goreng.

Semangkok Cwimie yang disajikan tertutup dua keping pangsit goreng.

Dua keping pangsit, mengambil posisi tengkurap di atas tumpukan mie, seolah memberi pesan bagi penikmatnya begini; “Bukain aku doong... Ciluuk Baa!...”

Saya ikuti pesan itu, saya buka posisi kedua krupuk pangsit. Benar! Aroma khas pangsit Cwimie sontak terasa lebih menghujam. Saya pun mulai mencari-cari, memastikan kelengkapan Cwimie yang tersaji, selayaknya Cwimie khas yang disajikan di kota Malang.

  • Saos warna merah menyala khas pendamping bakso Malang? Ada!
  • Sendok sama garpu dan sumpit? Ada!
  • Saos sambel sama sambel buat bakso? Ada!
  • Acar lombok ijo? Tet! Toot!Nggak ada.

Kayaknya, acar lombok ijo masih belum populer menjadi pelengkap sajian Cwimie, di luar kota Malang. Tak mengapa, saya lalu menuang sedikit kuah bakso pendamping Cwimie. Terus saya aduk sebentar biar abon ayamnya bercampur, terus saya coba ini olahan Cwimie khas Malang ala Cikarang.

Apabila di kota Malang terdapat tiga sajian olahan pangsit Cwimie apakah basah, yang berarti semangkok Cwimie langsung ditambah kuah, atau kering yang berarti semangkok Cwimie tanpa kuah, atau Nyemek yang berarti semangkok Cwimie dalam kondisi sedikit berkuah, antara basah dan kering.

Sementara di luar kota Malang, pangsit Cwimie dihidangkan bersanding dengan kuah, apakah berisi Bakso atau tidak. Juga jarang yang tersaji semangkok kecil kuah isi siomay basah.

Pangsit Cwimie yang terhidang lengkap bersama semangkok kecil isi Bakso berkuah.

Lhep! Demikian suara dalam hati yang menyertakan sesuap Cwimie.

Wih! Asli ini cita rasa Cwimie Malang. Otentik! Mengajak angan seolah sedang berada di kota Malang. Saya coba campur dengan saos tomat yang merah menyala khas pendamping bakso Malang.

Aduh Mbok! Tambah, angan melayang seolah sedang duduk di tengah-tengah alun-alun bundar kota Malang.

Lak maleh teles kabeh, duduk pas air mancur?” Angan saya bertanya.

“Yo babah no talah.” Tukas saya dalam hati, menjawab kata hati saya sendiri. Saya biarkan angan bertualang keliling kota Malang, demi menikmati semangkok Cwimie Malang yang bener-bener bercita rasa selayaknya olahan kampung halaman.

Kali ini tiada kata ampun, tandas tanpa sejuntai mie pun yang tersisa. Termasuk slada air segar yang menjadi sayur pendamping Cwimie olahan ala rumah makan. Jika Cwimie ala gerobak pinggir jalan atau keliling, biasanya pakai sawi. Dua-duanya sama-sama layak dinikmati.

Seneng banget ketemu Cwimie cita rasa orisinil, saya pun memesan lagi, buat oleh-oleh orang-orang tercinta di rumah, sama buat jaga-jaga kalo pas kepingin lagi, tengah malam nanti. Buat supper istilah kerennya.

Memang ada benarnya, hidangan Cwimie khas Malang, di luar kota Malang, penggemarnya ya orang-orang dari wilayah Malang. Semacam hidangan Klangenan, yang apabila terhidang di kampung orang, tak terlalu menjadi masakan populer bagi banyak orang.

Di luar kota Malang, maka popularitas Cwimie Malang masih jauh dari Bakso atau seringkali disebut Bakwan Malang. Tapi, apapun lah, saya menikmati perjalanan kesasar ini karena menemukan masakan favorit tambatan hati, yakni pangsit Cwimie.

Perjalanan saya pun berlanjut, kali ini saya tak mau kesasar lagi. Soalnya tadi saya sudah nanya-nanya sama Mbak-mbak pramusaji arah jalan yang saya cari. Ndak papa, kan saya nanya arah jalan pas lagi nggak mengemudi.