Kehidupan berbahasa dalam bermasyarakat merupakan satu kunci untuk memperbaiki atau meluruskan tata cara berkomunikasi. Dewasa ini, tidak sedikit orang menggunakan bahasa secara bebas tanpa didasari oleh pertimbangan-pertimbangan moral, nilai, maupun agama.

Akibat kebebasan tanpa nilai itu, lahir berbagai pertentangan dan perselisihan di kalangan masyarakat. Salah satu contoh, demo mahasiswa sebagai komunitas intelektual, kini seringkali diiringi oleh kata-kata hujatan yang jauh dari etika kesantunan.

Demikian juga, dalam konteks pergaulan sehari-hari, kini tidak sedikit kaum remaja Indonesia yang tampak seolah tidak mengenal etika kesantunan yang semestinya ia tunjukan sebagai hasil dari pendidikan di keluarga, sekolah dan masyarakat. Kondisi demikian menjadikan terkikisnya karakter bangsa Indonesia yang sejatinya dikenal dengan bangsa berkarakter santun.

Kesantunan bersifat relatif di dalam masyarakat. Ujaran tertentu bisa dikatakan santun di dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, akan tetapi di kelompok masyarakat lain bisa dikatakan tidak santun.

Kesantunan merupakan fenomena kultural, sehingga apa yang dianggap santun oleh suatu kultur mungkin tidak demikian halnya dengan kultur yang lain. Tujuan kesantunan, termasuk kesantunan berbahasa, adalah membuat suasana berinteraksi menyenangkan, tidak mengancam muka dan efektif.

Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan.

Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunakannya suatu bahasa dalam berkomunikasi.

Apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya.

Kesantunan berbahasa dapat dilakukan dengan cara pelaku tutur mematuhi prinsip sopan santun berbahasa yang berlaku di masyarakat pemakai bahasa itu. Jadi, diharapkan pelaku tutur dalam bertutur dengan mitra tuturnya untuk tidak mengabaikan prinsip sopan santun. Hal ini untuk menjaga hubungan baik dengan mitra tuturnya.

Kesantunan dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan bahasa dengan kebudayaan adalah bahasa merupakan bagian dari kebudayaan. Sebaliknya, ada juga yang berpandangan bahwa bahasa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, cara berpikir manusia, dan masyarakat penuturnya.

Kesantunan merupakan implikasi dari kecerdasan linguistik, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan interpresonal. Dalam kesantunan berbahasa kecerdasan linguistik ditandai dengan kemampuan seseorang untuk memilih tuturan yang sesuai dengan tujuan wicara serta upaya untuk menjaga muka (face-threatning), baik muka sendiri maupun muka mitra tutur. Kecerdasan seseorang dalam bidang linguistik akan mengantarkannya kepada kesuksesan berinteraksi dengan orang lain.

Kecerdasan memahami orang lain (kecerdasan intrapersonal) juga menjadi indikator tingginya seseorang dalam berbahasa yang santun. Kemampuan dan kemauan yang baik untuk memahami orang lain menjadi dasar bagi dirinya untuk berusaha selalu berbahasa yang santun agar hubungan dengan orang lain terjaga.

Kecerdasan untuk memahami diri sendiri (kecerdasan interpresonal) akan berimplikasi pada sikap rendah hati, jujur, selalu menghormati orang lain, peduli/ perhatian, suka menolong, ramah, dan sifat-sifat baik lainnya. 

Dalam bertutur, orang yang memiliki kecerdasan interpersonal akan memilih strategi kesantunan untuk menghindarkan diri dari konflik dan pandangan buruk orang lain terhadap dirinya.

Fenomena kesantunan sebagai bentuk kecerdasan menemukan bukti bahwa berlaku santun erat kaitannya dengan kecerdasan majemuk yang dimiliki seseorang, bukan kecerdasan kognitif sebagaimana selama ini diduga banyak orang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan langsung antara tingginya kecerdasan kognitif dengan berlaku santun. Seseorang yang secara akademis pintar tidak selalu dapat berbicara dengan santun. Tingginya nilai akademis yang diperoleh seseorang tidak menyebabkan ia secara otomatis dapat selalu berbicara santun.

Karena kesantunan merupakan bentuk kecerdasan, maka perolehannya harus melalui pendidikan, baik pada institusi formal maupun non-formal. Kita perlu selalu menggunakan bahasa yang santun sebagai perwujudan dari identitas pribadi yang baik.

Keterampilan seseorang dalam berbahasa yang santun bukan bersifat naluriah atau bergantung pada budaya semata melainkan harus dicapai melalui pembelajaran. Berbahasa yang santun merupakan bagian dari delapan kompetensi intelektual di dalam otak, yang harus dipahami oleh para pendidik dan orang tua untuk mengantar siswa atau anaknya menjadi pribadi yang sukses.

Berdasarkan pandangan itu maka orang tua dan guru tidak perlu memaksanakan anak/siswa untuk mencapai nilai tertinggi dalam bidang ajar tertentu. Siswa yang memiliki nilai yang tinggi di kelas belum tentu sukses dalam hidupnya. Sebaliknya, siswa yang nilai pelajarannya biasa-biasa saja atau bahkan rendah belum tentu gagal dalam hidupnya.

Guru perlu menanamkan keyakinan kepada para muridnya bahwa kecerdasan otak yang tidak disertai kecerdasan pribadi justru mungkin menjadi sebab kegagalanya dalam hidup. Pada sisi lain dari pandangan ini, perlu ditanamkan bahwa “proses” lebih penting dari “hasil”.

Maka, kegiatan belajar harus dilaksanakan dengan pendekatan proses, dan bukan dengan pendekatan hasil. Bersikap santun dalam bertutur perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak dan para siswa. Santun berbahasa hendaknya menjadi bagian integral dalam seluruh kegiatan belajar.