Penulis
2 bulan lalu · 7512 view · 3 menit baca · Politik 22210_95176.jpg
CNN Indonesia

Kesamaan Anies dan Ahok

Dua tahun setelah terpilih sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok dihadapkan pada pilihan sulit.

Saat itu, ia masih kader Gerindra dan menjadi Cagub atas jasa partai tersebut. Namun dalam pilpres 2014, Ahok tidak mendukung Prabowo-Hatta. Sebagaimana kita ketahui bersama, Ahok akhirnya out dari Gerindra.

Soal sikap Ahok tersebut, kini Anies Baswedan melakukan hal serupa. Anies Baswedan tidak mendukung Prabowo maupun mantan 'bos'-nya, Jokowi. Kesamaan ini serasa bagaikan sial yang harus diterima Prabowo. Kita belum tahu apakah hasil pilpres akan sama. Yang pasti, sikap Anies merugikan Prabowo.

Bandingkan dengan kepala daerah yang didukung PDIP. Rata-rata dengan tegas menyatakan mendukung pasangan calon Jokowi-Ma'ruf. Sikap netral Anies memang tidak menguntungkan Prabowo-Sandi. Sebaliknya, malah menguntungkan Jokowi-Ma'ruf. 

Beda dengan Ridwal Kamil yang jelas mendukung Jokowi-Ma'ruf di Jawa Barat. Sebagai kepala daerah terpilih, Ridwan Kamil pasti memiliki pemilih loyal. Bahkan bukan hanya di Jawa Barat, namanya sudah sejajar dengan tokoh nasional. 

Kembali soal Anies dan Ahok. Kesamaan sikap keduanya pasti memiliki misi tersendiri. Mereka punya hitungan politik mengapa tidak mendukung Prabowo meski didukung saat pilkada. Anies Baswedan bisa dikatakan kandidat capres selanjutnya sehingga ia tak ingin gegabah.

Kalangan elite politik sejauh ini tidak alergi dengan Anies. Asumsinya, bila Prabowo-Sandi menang, maka peluang Anies di 2024 bisa tertutup. Adalah Sandiaga Uno yang selanjutnya akan melanjutkan, mengganti Prabowo dalam pilpres mendatang.

Peta politik itu yang barangkali dibaca Anies sehingga nantinya ia akan menjadi lawan Sandiaga Uno. Dalam politik, hal itu sah dan wajar. Begitu pula dengan sikap Anies yang tak mendukung Prabowo-Sandi maupun Jokowi-Ma'ruf. 


Harapan Anies, siapa pun pemenang pilpres 2019, ia harus tampil pada pilpres selanjutnya.

Anies memang cerdas. Ia tak ingin berpihak sambil menghitung peluang. 

Kesamaan Anies dan Ahok dalam berpolitik sudah kelihatan ketika Anies berpindah kubu pasca diberhentikan Jokowi dari kabinet. Anies beruntung karena Prabowo mau menerimanya. Padahal, dalam pilpres 2014, Anies begitu garang menghajar Prabowo.

Sekali lagi, dalam politik, yang begitu wajar dan halal. Saling tikung dan tikam dalam politik ibarat ritual. 

Tanpa yang begitu-begitu, bukan politik namanya. Itulah mengapa kita yang awam gak perlu marahan karena beda dukungan. Capres bukan nabi yang mendapat amanat langsung dari tuhan.

Politisi di sekitar capres juga bukan seperti para sahabat nabi. Mereka memiliki syahwat politik masing-masing. Begitu pula dengan Anies dan Ahok yang tidak mendukung Prabowo-Sandi meski didukung saat pilkada. 

Kalau Anda pernah saksikan video Ngabalin saat Pilpres 2014, dan bandingkan ia dengan sekarang, barangkali Anda bakal tertawa.

Itulah indahnya politik. Hari ini berpelukan, besok saling 'pukul'. Hari ini saling caci maki, besok saling memuji. 

Lihatlah bagaimana Ahok dan Ma'ruf Amin kini berada di kubu yang sama. Padahal Ahok sempat menyerang Ma'ruf Amin. Seorang menteri malah meminta maaf atas ucapan Ahok dengan mendatangi Ma'ruf Amin.


Makanya saya kadang tertawa sambil guling-guling menyaksikan para pendukung capres di media sosial. Mereka lupa bahwa Jokowi dan Prabowo pernah satu kubu di Pilkada DKI Jakarta. 

Kita terlalu murah memuji dan mencaci, hingga kita melupakan fakta-fakta di masa lalu. Jadi, sikap Anies hari ini bukanlah hal baru dalam politik.

Siapa dapat menjamin bila Jokowi menang di kemudian hari dan Anies kembali jadi menteri? Siapa yang bisa jamin di kemudian hari bahwa Ahok kembali dalam pelukan Prabowo-Sandi?

Politik itu dinamis. Kedinamisan itulah yang membuat kita dilarang fanatik.

Lihatlah bagaimana pendukung Ahok yang sempat berencana menjadi golput karena Jokowi memilih Ma'ruf Amin. Mereka menganggap Ma'ruf Amin memiliki andil atas ditangkapnya Ahok. Sikap mereka yang fanatik buta seolah melupakan realitas politik.

Para tifosi Anies sebaiknya jangan begitu. Karena hal yang sama bisa dilakukan Anies. Peluang menjadi capres selanjutnya tidak akan dibuang dengan sia-sia. 

Selain tidak memiliki masalah hukum, Anies memiliki segalanya sebagai capres kecuali partai politik. Konflik wagub pengganti Sandiaga Uno menjadi fakta kekinian.

Tolak tarik kepentingan begitu terasa. Gerindra tak ingin melepaskan begitu saja karena kursi capres dan cawapres belum tentu diraih. Sementara PKS merasa berhak karena mitra sejati di pilkada dan pilpres. Itu gambaran jelas betapa politik sangat dinamis.

Anies dan Ahok paham akan hal itu. Mereka berperilaku berdasarkan hitungan politik. Kedinamisan sikap mereka disesuaikan dengan dinamisnya politik. Dalam hal ini, Ahok dan Anies memiliki kesamaan. Terjawab sudah mengapa Anies seperti tidak peduli dengan Pilpres 2019.


Anies dan Ahok memiliki pemahaman yang sama akan politik. Terutama Anies yang tanpa harus menjadi kader partai politik sukses berpolitik. Hal ini yang membedakan Anies dari politisi nasional lainnya. 

Nantinya, bila terpilih sebagai presiden, Anies menjadi satu-satunya presiden yang bukan kader parpol mana pun. Jadi saat ini, sikap Anies tak jauh beda dengan Ahok.

Artikel Terkait