1 bulan lalu · 370 view · 3 min baca · Politik 47244_88176.jpg

Kesamaan Ahok dan Anies

Siapa yang bilang bahwa Ahok dan Anies itu berbeda? Tidak. Mereka ini sama. Ada banyak sekali persamaan yang mereka miliki. Kita melihat setidaknya lebih dari 10 persamaan yang dimiliki oleh kedua orang ini.

Daripada kita bertanya-tanya dan penasaran dengan apa yang menjadi persamaannya, kita persingkat saja langsung dengan beberapa penjelasan di bawah ini. Simak dengan baik.

Pertama, mereka sama-sama memiliki pendukung militan. Mereka sama-sama didukung oleh pendukung yang unik. Ahok didukung oleh pendukung militan yang menyebut diri mereka sebagai Ahoker.

Demikian juga Anies yang didukung oleh kelompok yang disebut HTI. Ini fakta, bukan sekadar opini. Pendukung Ahok adalah pendukung yang mempertontonkan loyalitasnya. Bayangkan saja, ketika Pak Basuki dipenjara,

Pak Basuki ini dibela oleh para pendukungnya yang sampai malam. Bahkan ada kejadian bahwa emak-emak pun sampai tersiram water cannon. Sedangkan pendukung Anies adalah orang yang ada di aksi 21 dan 22 Mei.

Mereka didukung Anies juga bahkan. Ketika mereka terluka, mereka diberikan fasilitas gratis. Luar biasa sekali, bukan? Sama-sama punya pendukung loyal.

Kedua, mereka sama-sama terkenal di media. Media sosial begitu sering mengucapkan nama mereka berdua. Meski Ahok masih di atas jauh Anies secara trending, setidaknya mereka ini sama-sama adalah media darling. Sama-sama diberitakan dengan heboh.


Pak Basuki ini dibicarakan karena sepak terjangnya di DKI yang benar-benar mantap. Mengurus Jakarta menjadi sebuah pencapaian yang paling baik. Apalagi bukan hanya mengurus Jakarta, melainkan meningkatkan derajat alias tingkat kepuasan rakyat Jakarta sampai ke angka nyaris 80%.

Sedangkan yang menggantikannya juga dibicarakan karena sepak terjangnya di DKI yang benar-benar sulit dilihat. Tidak ada kepastian, maka orang mulai bertanya-tanya di media sosial, mengapa orang ini bisa jadi pemimpin? Ya tidak peduli responsnya, yang pasti sama-sama mereka dilirik oleh media, bukan?

Ketiga, mereka sama-sama membangun Jakarta. Jakarta di tangan mereka harus diakui menjadi maju dan meningkat. Peningkatan dan kemajuan bisa kita rasakan di era kedua orang ini. Uniknya, selain kemajuan, ada juga kemunduran yang mereka sama-sama kerjakan. Jadi sebenarnya mereka sama saja.

Pak Ahok ini mempertontonkan sebuah kemajuan di Jakarta, dengan mengurangi titik banjir. Kemacetan juga diurai dengan membangun Simpang Susun Semanggi dan beberapa jalur singkat untuk Trans Jakarta.

Kemajuan era Jakarta terasa dengan pesat. Peningkatan perekonomian rakyat pun tinggi. Tapi di era Ahok juga ada penurunan. Penurunan jumlah pengangguran dan penurunan kemiskinan. Penurunan yang bagus tentunya.

Kekurangan lainnya adalah para anggota DPR-D dipangkas biaya kunjungan kerja dan studinya. Jadi tidak ada yang dapat lobster untuk makan siang. Ada juga kemajuan lainnya di era Pak Basuki. Pak Bauski memajukan harga diri warga miskin dengan memberikan KJP dan KJS.

Sedangkan penggantinya ini juga mempertontonkan kemajuan. Kemajuan daerah bantaran pun terjadi. Tempat yang dimajukan daerah bantaran sungainya untuk rumah terjadi di era orang ini. Maju juga, bukan?

Kemudian ada juga peningkatan di kota Jakarta yang dibangun oleh bapak ini. Peningkatan titik banjir di Jakarta. Bagaimana pun juga, itu tetaplah sebuah peningkatan, bukan? Di eranya juga ada kemunduran. Kemunduran dalam berdemokrasi yang dikerjakan oleh pendukungnya.

Keempat, mereka sama-sama memiliki sikap terhadap reklamasi. Mereka bersikap dengan sama. Sama-sama mendukung reklamasi. Pak Ahok mendukung reklamasi untuk kemajuan rakyat Jakarta, khususnya para nelayan, dengan kontribusi 15%. Sedangkan penggantinya juga mendukung reklamasi, setelah sebelum-sebelumnya ditolak terlebih dahulu. Sama, kan, reaksinya?

Kelima, mereka sama-sama pernah mendapatkan perlakuan dari Jokowi. Perlakuan dari Presiden Jokowi dirasakan oleh kedua orang ini. Pak Ahok pernah diberikan penghargaan kepada Pak Jokowi dalam memajukan kota.

Joko Widodo pernah menjadi pemimpin Jakarta sedangkan Pak Ahok jadi wakilnya. Sedangkan penggantinya, pernah dipecat oleh Pak Jokowi.


Ada beberapa tambahan yang perlu penulis tekankan dalam artikel ini. Penulis merasa bahwa ada beberapa kesalahan dan kecerobohan para warga, khususnya netizen, dalam memperlihatkan ketidaksukaan mereka kepada antara Pak Basuki ataupun Pak Anies.

Tolong para pembaca untuk tidak ikut-ikutan menyebut orang, khususnya yang kalian kurang sukai, dengan sebutan dan julukan yang aneh dan yang tidak jelas. Misalnya Ahok dijuluki dengan sebutan yang tidak pantas.

Rasanya saya tidak perlu menyebutkan. Mengapa? Karena tidak etis kalau menyebut Ahok dijuluki raja gusur, gubernur reklamasi, gubernur podo wae, dan seterusnya. Julukan kepada Pak Basuki ini bombastis.

Sedangkan julukan kepada Pak Anies ini bikin kita tertawa terpingkal-pingkal sampai perut penulis menjadi six pack. Makanya, daripada jadikan semua warga Jakarta six packs, ya jangan sebut juga Anies sebagai gabener, Wan Abud, Wan Gardu, dan sebagainya. Rasanya itu adalah hal yang tidak terlalu baik untuk disebutkan. Loh?

Sumber referensi:

Quora, Apa Persamaan Antara Ahok dengan Anies Baswedan?

Artikel Terkait