Mengawali artikel ini, saya akan kemukakan sebuah narasi tentang kesalehan 212 yang bermacam-macam bentuknya. 

Sikap dan pandangan agamis serta jenis kesalehan mereka bisa saja terlihat dalam perilaku keagamaannya ataupun karena predikat agama (Islam) yang ada di kartu-kartu identitas atau dokumen resminya. Kesalehan juga bisa jadi karena aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial keagamaan, termasuk tahlilan, atau bahkan acara reuni 212 yang berjilid-jilid itu. 

Saleh lainnya bisa juga karena penampilan keagamaannya, seperti jenggot panjang, peci putih, dan sarung atau aksesori lainnya yang tidak pernah lepas dan dibawa kemana-mana untuk menjaga derajat kesalehannya.

Semua di atas akan diuji dengan terselenggaranya Djakarta Warehouse Project (DWP) 2019 yqng ke-11  di Jakarta. Ini merupakan festival ajojing muda-mudi dalam suguhan tari dan musik ajeb-ajeb atau musik dansa elektronik. Populernya biasa disebut dengan genre Electronik Dance Music (EDM).

Perhelatan akbar ini merupakan festival terbesar di Asia Tenggara. Acara yang dimulai pada hari ini, Jumat, 12 Desember 2019, di JIEXPO Kemayoran tersebut akan berlangsung hingga 15 Desember 2019.  

DWP 2019 dengan khas penampilan gahar para peramu diska-diska elektronik atau DJ papan atas, seperti: Martin Garrix, Zedd, Blasterjaxx, Coone, Jeffrey Sutorius, Dash Berlin, Markus Schulz, dan Yellow Claw, siap menggebrak DWP 2019.

Genre EDC memang sarat dengan berbagai musik elektronik perkusif yang biasa digeber untuk kelab-kelab malam dan festival-festival. Ciri khasnya pastilah energik dan hot yang bisa membuat siapa saja keringatan berjingkrak-jingkrak. 

Menariknya ya di sini, ketika EDM menunjukkan kemampuan meramu musik langsung di tempat acara tanpa adanya simulasi ataupun rekayasa lainnya. 

Djakarta Warehouse Project (DWP) yang ke-11 ini juga didukung beberapa nama besar industri musik dunia lainnya, yaitu:  22 Bullets, Devara, Ghastly, LTN, Mark Sixma, Jordan Suckley, Moksi, Rayray, Sihk, Wiwek. Aydra, Evan Virgan, Get Looze, Hai, Hathoris, Jams Hybrd, Pixiee, Ride, Stan, Trilions dan Zippy.

Perhelatan pesta adrenalin muda-mudi ini sempat mendapat penolakan dari sejumlah ormas seperti Gerakan Pemuda Islam (GPI) yang telah menggelar aksi di depan Balai Kota pada hari Kamis kemarin, 12 Desember 2019.

Mereka mengaku menolak DWP lantaran menilai acara tersebut maksiat dan bejat yang dipenuhi dengan seks bebas serta minum-minuman beralkohol lainnya. Gerakan Pemuda Islam (GPI) yang merupakan salah satu unsur dan motor pendukung  Reuni 212, juga merupakan pendukung Gubernur Anies Baswedan yang saleh itu. 

Mereka juga dengan terang-terangan menganggap dukungannya, Anies, itu buta dan tuli. Sehingga dia tidak tahu kalau ada DWP. Atau dengan kata lain membiarkan adanya kemaksiatan yang terang-terangan di Ibu Kota Jakarta. Ini jelas melanggar kesalehan ala 212 yang siap sedia dan bergerak cepat kalau melihat kemaksiatan. 

Bagi Pemprov DKI sendiri, acara tersebut justru menggiurkan. DWP tahun-tahun sebelumnya telah menyumbang pendapatan asli daerah dari sektor pajak saat dihelat di Jakarta pada 2017. Pemasukan yang disumbangkan oleh DWP pun mencapai Rp 10 miliar, wow.

Perimbangan Pemprov lainnya adalah dali segi efek gentar (deterrent effect) dari DWP yang tenar itu. Mereka membutuhkan sebuah event kelas dunia untuk menarik minat wisatawan mengunjungi Ibu Kota. Sehingga, nantinya Jakarta dapat menjadi destinasi unggulan dunia dengan pangsa pasar unggulan DWP selanjutnya yang juga berjilid-jilid itu.

Bagaimana dengan kisah-kisah kesalehan Anies Baswedan yang hadir pada acara Reuni 212 bersama pendukungnya, termasuk GPI yang demo tersebut?

Bagaimana pula kesalehannya yang banyak menarik perhatian berbagai pihak itu, di mana Anies menjadi salah satu atau bahkan mungkin satu-satunya pejabat saleh di tingkat nasional yang ikut hadir dalam acara tersebut?

Bagaimana pula kisah sambutan kesalehan Anies yang menekankan pentingnya “keadilan” yang menurutnya menjadi kunci persatuan Indonesia? Mungkin ini yang dimaksud dengan adil: saleh yes, maksiat boleh jalan terus asal duit mengalir masuk kas daerah

Kehadiran dan kesalehan Anies di 212 juga dimaknai sebagai cara sang gubernur untuk tetap menjalin hubungan politik dengan kelompok alumni 212 yang saleh-saleh itu.

Kini, apakah uji kesalehan Anies ala 212 dengan perhelatan DMP 2019 itu akan tetap menjaga momentum hubungan politik dengan212? Apakah kesalehan 212 yang berjilid-jilid tersebut juga mampu mengimbangi kemaksiatan DMP yang berjilid-jilid pula itu?

Di saat hadir dalam acara yang digelar 2 Desember 2019 lalu itu, Anies mencuri perhatian masyarakat. Apalagi ia datang lengkap dengan mengenakan pakaian dinasnya sebagai gubernur. Hmmm, “there is no gambling like politics” (Benjamin Disraeli). 

Anies duduk di panggung utama bersama para tokoh-tokoh saleh dari FPI dan Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) seperti Sobri Lubis, Slamet Maarif, Yusuf Martak, dan Haikal Hassan untuk menjaga kadar kesalehannya. 

Ada bendera merah putih dan bendera kalimat tauhid yang secara bersamaan dikibarkan peserta Reuni 212. Selain itu, terdapat pula bendera Palestina, identitas organisasi, dan perkumpulan 212 yang mungkin sebagai standar kesalehan bagi mereka yang harus ditampilkan ke publik untuk menjaga kadarnya.

Bagaimana, Pak Anies? Berat, kan, menjaga kesalehan? Tuwaakk beeer !!!!