Saya pikir menjadi Kiai hanya cukup paham agama dan rajin ibadah, ternyata tidak. Begitulah kira-kira realitas  yang saya rasakan di kampung halaman, saat membersamai Kiai. Justru lebih dari itu, Kiai tidak hanya cukup saleh spritual, namun juga harus saleh digital. Sebab dikarenakan perkembangan zaman yang menuntut itu, ditambah lagi zamannya sudah masuk era 4.0.

Sewaktu-waktu, saya menghadiri kegiatan rutinan selawatan (berzanjih/dhiba'an) di kampung dan kebetulan Kiai memimpin rutinitas tersebut. Seremonial keagamaan  berjalan penuh khidmat, sebagaimana orang-orang yang mencari kesalehan spritual. 

Selesai rutinan, biasanya kami cerita-cerita, walau sekedar bicara soal isu terkini atau berita yang sedang hangat diperbincangkan, contoh, Anis Baswedan sebagai Bakal Calon Presiden (Bacapres) 2024. Tak lama Kiai begitu responsif memberikan komentar, ia mengatakan bahwa Anis sebagai Bacapres akan mewakili suara Islam pada perhelatan Pipres 2024 mendatang. 

Tak tahan rasanya akan pernyataan Kiai, saya memberanikan diri bertanya dari mana sumber informasinya? Jawaban Kiai penuh yakin, bahwa ia mendapatkannya dari Grub Facebook. Menurutnya ada seseorang mengatakan demikian dalam postingannya. Saya hanya tersenyum dan sedikit cemas. Bayangkan, Kiai yang dijadikan patokan, lalu mengatakan demikian, yang informasinya belum jelas kebenarannya. Celakanya, itu dianggap benar oleh para majelis selawat. 

Disamping itu, Kiai tersebut sebenarnya cukup lama pegang Handphone , cuma belum lama aja buat akun Facebook-nya. Dari situlah muasalnya Kiai punya anggapan bahwa informasi dari Facebook adalah suatu informasi yang falid dan benar. Dalam hati saya berkata "kacau-kacau kalau begini,".

Literasi Digital Penting Bagi Kiai

Meski begitu, saya tidak mengatakan Kiai di kampung  tidak paham perkembangan digital, sebab  sebagian telah mengerti wawasan tentang literasi digital dan itu tidak dapat dipungkiri. 

Adapun maksud dari tulisan ini sebenarnya ditujukan terhadap Kiai yang tidak paham blass apa itu literasi digital. Sebab kalau sudah bicara Kiai, legitimasi perkataannya sangat kuat di kampung saya. Kekhawatirannya ialah, saat ia mengimfomasikan sesuatu yang masih abu-abu  akan kebenarannya, tapi masyarakat kemudian menerjemahkan sebagai suatu kebenaran. 

Jika sudah terjadi peristiwa  semacam itu, kan kacau betul, masyarakat bisa tersesat berjemaah. Nah berangkat dari kegelisahan inilah saya pikir, perlu kiranya Kiai turut serta dalam kegiatan yang bisa mengantarkan  untuk lebih cakap digital. Agar ia bisa paham bahwa berita di Facebook itu tidak semuanya mengandung kebenaran, karena bisa jadi itu hanya berupa asumsi atau bahkan fitnah. 

Ditambah lagi Facebook memang sarang Hoaxs, laporan Reuters Institute dan University of Oxford, mengungkapkan hoax terbanyak  tersebar di Facebook yakni 28%, sedangkan 15% beredar melalui whatsapp, 7% lewat berita dengan pencarian di google dan terkhir paling sendikit di youtube dan Twitter hanya 6%. Riset tersebut berdasarkan Kuesioner yang menjaring 92.732 responden di 46 negara.

Nah kenapa kemudian literasi digital dianggap penting bagi Kiai ? Ia karena beberapa alasan diatas. Seperti masyarakat di desa saya, untuk saat ini masih lebih mengutamakan mendengar pendapat Kiai tentang isu-isu yang sedang aktual, daripada mendengar seorang pakar dibidangnya. Mirisnya informasi tersebut kebanyakan diambil dari Facebook, berupa potongan video ataupun postingan personal. 

Setidaknya, bagi saya literasi digital ini mengarah pada dua hal. Pertama, pentingnya Memfilter informasi, agar terhindar dari Informasi hoax. Intinya kalau pinjam perkataan Prof. Nadirsyah Husein (Gus Nadirs) informasi itu, saring dulu sebelum sharing. Kedua, memahami sisi dari positif dan negatifnya sosial media, sebab ia ibarat pisau bermata dua. Bisa saja mendatangkan manfaat, sebaliknya ia bisa membunuh penggunanya.

Dua orientasi itu saya pikir cukup, untuk langkah awal sebagai landasan untuk lebih cakap digital. 

Dakwah Kiai di Ruang Digital

Bagi saya kemajuan digital menjadi ruang bebas (Sosial media) bagi siapapun, termasuk Kiai. Tapi kebebasan itu harus ada batas berupa norma dan etika, yakni dengan memahami manfaat dan mudharatnya. Artinya alim (berilmu) agama saja tidak cukup untuk bersosial media, sebagaimana kompetensi di bidangnya seorang Kiai. 

Jadi ada korelasi antara kompetensi Kiai dan literasi digital di dalam menjamah jagat maya. Artinya apabila ia hendak menjadikan sosial media sebagai sarana dakwah, maka dipandang perlu memerhatikan apa-apa yang menjadikan batasan dan ruang gerak di sosmed tersebut. 

Dari itu setidaknya ada dua poin penting untuk perlu diperhatikan. Pertama, ia harus mampu menyaring sesuatu yang akan menjadi konsumsi publik, agar tak menuai kontroversi. Sebab tak ayal pula, pernyataan Kiai menjadi bahan perdebatan, bahkan bisa berujung pada konflik dan saling fitnah antar golongan. 

Kedua, memperhatikan objek jemaah jagat maya yang menjadi pengkomsumsi dakwahnya, misal bisa dibuat grub tersendiri bagi pengikutnya, kalau di Facebook bisa buat grub tersendiri. Hal ini bentuk antisipasi menuai kontroversi. Ia walaupun sebenarnya sah-sah saja dakwahnya di share dan diakses secara bebas, asalkan isi kontennya layak dikonsumsi publik, layaknya di sini tidak mengandung perpecahan dan sentimen antar golongan. 

Jika kedua elemen tersebut bisa diakomodir dan korelasikan dengan baik. Maka Saya kira niat baik untuk berdakwah di jagat maya bisa membawa manfaat yang lebih luas, serta bisa jauh dari ancaman fitnah dan sikap kontroversi. 

Wallahu A'lam