“Orang Kristen, kan, cuma sekali seminggu beribadah, jadi bisa, dong, gerejanya berbagi saja dengan orang Kristen yang lain?” Begitu banyak pemikiran non-Kristen yang tidak memahami dinamika cara beribadah orang Kristen.

Hal ini sama dengan cara pandang orang Barat yang mengatakan, “Muslim, kalau sembahyang, kok mesti sampai luar masjid, nutupin jalan, banjirin lapangan, dan lain-lain? Mau pamer, ya?” Demikian beberapa suara mereka.

Karena orang Barat yang kebanyakan berlatar belakang Kristen memakai cara pandang Kristen dalam beribadah, yaitu tidak tergantung waktu yang tetap. Kapan saja dan hari apa saja bisa.

Muslim sembahyang lima kali sehari dengan pembagian waktu yang tepat. Khusus untuk salat Jumat, umat Islam, khususnya lelaki, harus salat di masjid. Salat Jumat itu harus dilaksanakan pada saat itu saja. Tidak bisa dilakukan dua atau tiga jam berikutnya.

Hal itu yang dilihat oleh sebagian orang Barat agak mengganggu karena ada muslim yang melakukan salat Jumat di jalan raya. Mungkin karena tidak punya masjid di kota itu; atau masjidnya ada, tapi daya tampungnya kecil dibanding jumlah umat.

Muslim di Indonesia pun memandang Kristen beribadah seperti cara mereka beribadah. Kenapa mesti banyak gereja sedangkan jemaatnya, misalnya, tidak terlalu banyak? Kan, bisa gabung dengan gereja lain yang sudah ada? Tapi umat Kristen berbeda dengan umat Islam dalam cara beribadah.

Semua Kristen memang memakai Alkitab yang sama dan banyak lagu-lagunya pun sama, tapi tata ibadah dan bahasa yang dipakai banyak yang berbeda. Kalau dibilang Kristen itu terpecah-pecah, bisa benar bila dilihat dari bahasa dan tata ibadahnya. Tapi bila dilihat dari Alkitab yang dipakai dan ajaran yang diimani, semua sama saja.

Mungkin ada baiknya saya menyinggung sedikit sejarah Kristen. Kristen artinya adalah pengikut Yesus Kristus. Awalnya, Kristen itu satu, yaitu Katolik. Sekitar abad pertengahan, kekuasaan gereja Katolik menjadi terlalu besar.

Pemimpin gereja dapat mengintervensi kerajaan. Paus dan Kardinal selalu menjadi tokoh yang dimintai pendapat oleh Raja atau Ratu, tentang segala hal mengenai pemerintahan. Lama-kelamaan, mereka menjadi sangat berkuasa dan rakus akan materi.

Beberapa tokoh gereja tidak setuju dengan tindakan rekan-rekannya yang menyimpang dari ajaran Yesus. Muncullah beberapa tokoh yang berani melayangkan protes terhadap Sri Paus. Gerakan pemrotes ini terkenal dengan sebutan Reformasi Protestan yang meminta ada reformasi di tubuh gereja.

Oh iya, saya mungkin harus menjelaskan arti gereja supaya yang non-Kristen memahaminya. Gereja itu bukan fisik atau gedung, tapi persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus, dan Yesus adalah kepala gereja. Ada lagu yang sejak dari sekolah minggu sudah kami hafal mati, yang berbunyi:

Aku gereja, kamu gereja, kita sama-sama gereja.
Dan pengikut Kristus di seluruh dunia, kita sama-sama gereja.
Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya
Bukalah pintunya, lihat di dalamnya, gereja adalah orangnya.

Aku yakin orang Kristen, khususnya yang Protestan yang membaca lirik lagu di atas, tanpa sadar akan menyanyi sambil membacanya. Itulah sebabnya saya sering menuliskan gedung gereja yang merujuk pada rumah ibadah Kristen.

Reformasi Protestan diprakarsai oleh beberapa umat Katolik Eropa Barat yang menentang hal-hal, seperti perilaku amoral Paus dan beberapa pemimpin tinggi gereja, penyalahgunaan sakramen suci, penjualan surat pengakuan dosa, dan ketamakan terhadap materi yang menurut para reformator adalah bukti kerusakan sistemik hierarki gereja.

Ada tiga tokoh reformasi yang sangat terkenal, yaitu Martin Luther dari German, John Calvin dari Prancis, dan Ulrich Zwingli dari Swiss. Sebenarnya ada beberapa tokoh lain yang sebelumnya telah melancarkan protes, tapi mereka tetap di dalam struktur gereja Katolik. Sedangkan tiga tokoh di atas keluar dari Katolik dan mendirikan Gereja Protestan.

Setelah periode perpecahan itu, tentu saja gereja Katolik juga memperbaiki diri, sehingga sekarang tidak ada lagi penjualan surat pengakuan dosa, misalnya. Gereja Katolik saat ini berbeda dengan zaman sebelum reformasi.

Gereja Protestan berkembang sangat pesat dan membuat nama sesuai dengan aliran mereka. Dari sanalah muncul anggapan bahwa Kristen itu tidak satu, tapi ratusan atau mungkin ribuan denominasi.

Betul saja anggapan itu. Sebutlah di Indonesia, masing-masing suku mempunyai gereja tradisional yang saat beribadah dan alkitabnya memakai bahasa daerah tersebut. Contohnya orang Batak, merasa lebih sreg bila beribadah dengan Bahasa Batak. Makanya mereka memilih HKBP. Orang Jawa yang merasa lebih sreg dengan Bahasa Jawa saat beribadah memilih GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan).

Kalau sekiranya di daerah tempat tinggalnya tidak ada gereja daerah yang diinginkan, maka mereka akan memilih gereja yang mendekati dengan tata ibadah di geraja awalnya. Dalam hal ini, GPIB bisa menjadi pilihan yang umum di jemaat Protestan.

Ada lagi denominasi Pentakosta yang terdiri dari banyak sub denominasi. Jadi yang saya perhatikan, umat Kristen biasanya beribadah di gereja yang sesuai baginya. Ini masalah rasa, Bung! Itulah sebabnya banyak gereja berdiri sesuai dengan kebutuhan jemaat.

Padahal sebenarnya isi khotbah dan lagu-lagunya kurang lebih sama. Saya yang jemaat GPIB tidak akan merasa terlalu asing bila beribadah di GKI umpamanya. Tapi akan bingung bila beribadah di gereja Toraja, karena tidak tahu bahasanya.

Nah, anggapan bahwa orang Kristen hanya beribadah seminggu sekali itu tidak benar sama sekali.

Saat dulu pernah aktif di sebuah GBI, saya hampir setiap hari ke gereja. Ikut kelas pendalaman Alkitab hari Senin, ikut Doa Puasa hari Selasa, ikut latihan paduan suara hari Rabu, rapat pemuda hari Kamis, dan banyak acara. Semua acara itu pasti dimulai dengan ibadah atau paling tidak berdoa.

Jadi, kebutuhan orang Kristen terhadap wadah berkumpul seperti gedung gereja menjadi sangat krusial karena nyaris setiap hari ada kegiatan di gedung gereja.

Di dalam satu organisasi gereja, biasanya ada banyak persekutuan, seperti Sekolah Minggu, Taruna, Remaja, Pemuda, Dewasa Muda, kaum Bapak, Kaum wanita, Lansia, dan lain-lain. Masing-masing persekutuan itu punya jadwal ibadah sendiri atau latihan koor/paduan suara selain hari Minggu.

Ada lagi kelas katekisasi bagi yang ingin sidi dan yang ingin menjadi Kristen. Karena untuk menjadi Kristen harus belajar tentang iman Kristen dan Alkitab sekitar satu tahun. Ada kelas pra-nikah. Semua kegiatan ini biasanya dilakukan di kompleks gedung gereja atau ruangan-ruangan di samping gedung utama.

Saya ingin menjelaskan ini supaya non-Kristen yang merasa bahwa Kristen itu boros gedung gereja memahami dinamika peribadatan Kristen. Penjelasan ini juga menyambung tulisan saya sebelumnya, Kebebasan Beragama Hanya Isapan Jempol, bahwa betapa pentingnya gedung Gereja bagi orang Kristen.

Juga, gereja selalu mendata jemaatnya. Umat yang sudah terdaftar biasanya beribadah di gereja di mana dia terdaftar. Koreksi saya bila salah, masjid biasanya tidak punya daftar jemaat selengkap gereja. Atau ada? Maaf kalau saya salah.

Biasanya muslim mengomentari cara ibadah Kristen berdasarkan persepsi Islam. Demikian sebaliknya, non-muslim (terutama di Barat) mengomentari cara beribadah Islam berdasarkan persepsi cara beribadah Kristen.

Bila jumlah jemaat sudah melebihi kapasitas gedung gereja, ibadah dapat dilakukan beberapa kali. Sedangkan muslim, bila jemaat melebihi kapasitas masjid, maka mereka harus beribadah di luar bahkan di badan jalan, karena salat Jumat tidak bisa dilakukan beberapa kali sehari.

Dari tulisan ini, saya berharap kita bisa saling memahami kebutuhan spiritual sesama dan tidak memaksakan orang lain harus sama dengan kita. Karena kita memang berbeda, dan perbedaan itu seharusnya indah.