Pertengahan tahun 2000an adalah masa kejayaan ponsel pabrikan Kanada ini. Di Indonesia sendiri, "Beri Hitam" mulai dikenal saat internet dan media sosial tengah tumbuh dengan cepat.

Anda tentu masih ingat saat di mana setiap pengguna Blackberry saling meminta pin satu sama lain. Di sanalah era kejayaan, saat pin BBM ibarat fulus yang terus diminta.

Saya sendiri juga pengguna Blackberry. Sekitar tahun 2011 saya membeli BB Pearl sebagai ponsel pintar pertama saya. Dan dari situlah saya juga mulai mengenal asyiknya chit-chat lewat BBM.

Blackberry sangat digdaya kala itu. Ponsel symbian pabrikan Nokia yang menjadi primadona seperti hilang daya tarik dan kecantikannya, apalagi ponsel-ponsel berbasis Java.

Sayangnya ponsel "asli" pabrikan Blackberry sudah tiada. Perusahaan memutuskan untuk tidak lagi membuat ponsel pintar untuk kelangsungan usahanya. Dan sebagai pengganti, Blackberry akan fokus pada pengembangan piranti lunak.

Bukan tanpa sebab, pendapatan dan keuntungan yang terus menurun dicatatkan. Kuartal demi kuartal persentase cenderung stagnan bahkan masuk jurang kerugian.

Dari data IDC, pangsa pasar ponsel Blackberry tercatat sangat kecil. Hanya sekitar 3 persen padahal saat masa kejayaannya brand ini pernah mencatat pangsa pasar terbesar sebesar 43 persen di seluruh dunia.

Angka ini terus merosot tajam. Bayangkan saja sudah pangsa pasarnya hanya 3 persen di dunia, terus menurun pula. Dan terbukti, pada awal September lalu dari data IDC, Blackberry tidak diperhitungkan dalam peta persaingan. Blackberry sudah tidak dianggap lagi sebagai ancaman, bahkan dia dibuang dan disepelekan.

Wajar sebetulnya dan bukan kabar yang juga mengejutkan. Meski kemudian meluncurkan BB Priv dengan basis sistem Android, hasilnya tetap nihil. Tidak ada perkembangan dan terus melorot.

Sebenarnya untuk saya pribadi, Blackberry adalah salah satu ponsel yang jadi favorit saya. Apalagi dengan keyboard fisik full qwerty semakin memudahkan mengetik pesan dan naskah.

Tapi justru inilah yang menjadi awal penyebab kehancurannya. Ada beberapa hal yang menurut saya menyebabkan raksasa ini tumbang.

Pertama, Blackberry terlambat membaca kebutuhan pasar. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Blackberry bisa unggul karena salah satu faktornya adalah keberadaan keyboard fisik yang memudahkan. Sayangnya Blackberry tidak cekatan dalam memperkirakan masa depan. Apalagi saat Google meluncurkan sistem operasi Android yang kemudian bersaing dengan Apple.

Ponsel Android dan Apple muncul dalam bentuk berbeda, menghilangkan keyboard fisik untuk memaksimalkan fungsi layar sentuh yang diusung. Hasilnya, ponsel bentukan seperti ini langsung menjadi favorit bahkan sampai sekarang.

Blackberry kemudian meluncurkan Z10 untuk bersaing dengan Android dan iOS, sayang sudah terlambat untuk masuk dalam gelanggang persaingan. Ditambah lagi dengan harga Z10 yang mahal dan dukungan aplikasi yang minim, ponsel ini kurang dapat minat pasar.

Kedua, Blackberry terlambat membaca persaingan pasar. Saat BB masih menjadi pemuncak pasar ponsel pintar dunia, ia seakan menyepelekan kemunculan Android yang kala itu masih berada dalam tahap beta. Kemudian tidak lama muncul Android Cupcake yang masih sedikit diadopsi oleh brand ponsel dunia.

Tidak ada antisipasi sama sekali dari Blackberry saat melihat potensi Android yang tumbuh dengan cukup cepat saat itu. Hampir tidak ada antisipasi, Blackberry bertahan dengan sistem operasinya yang minim aplikasi dukungan dan cenderung monoton.

Ketiga, jemawa akan sistem keamanannya yang nomor satu. Saya akui, Blackberry memang memiliki sistem keamanan yang yahud. Bahkan hanya Blackberry yang memiliki lisensi keamanan dari National Security Agency (NSA) dan hanya ponsel Blackberry yang boleh digunakan oleh Presiden Amerika.

Blackberry membuat sistem keamanan ini sebagai inti dari bisnis mereka. Terlalu jemawa dan tidak melihat ke belakang saat sistem keamanan iOS dan Android terus memperkecil jarak dengannya.

Dan pada akhirnya, Android dan iOS bisa membuat sistem keamanan yang serupa dengan BB. Dengan enkripsi yang jauh lebih rumit dari sebelumnya.

Karena BB membuat sistem keamanan sebagai inti dari bisnis yang mereka jalankan, saat Android dan iOS bisa mengejar, mereka kemudian kelabakan. Dan pada akhirnya Blackberry menemui senjakalanya.

Kini Blackberry membuat bentuk bisnis baru dengan fokus pada pengembangan piranti lunak dan menjaul lisensi nama. Dan saat diumumkan, saham Blackberry langsung meningkat 4 persen dari posisi awal. Mungkin investor pun melihat bahwa BB lebih tepat jika melangkahkan kakinya dalam bisnis piranti lunak. Pasalnya software kembangan dari BB memang sangat diperhitungkan. 

Semoga tidak ada senjakala ke dua buat Blackberry.