Aktivis
2 bulan lalu · 137 view · 4 menit baca · Pendidikan 74407_52619.jpg

Kesakitan Audrey dan Keadilan untuk Pelaku

Kejadian biasa-biasa saja tak akan sanggup membakar dinding-dinding jagat maya dengan mengulutkan api kemarahan para pengguna media sosial. 

Kali ini tentang Audrey, remaja berusia 14 tahun dan masih duduk di bangku SMP di Kota Pontianak. Audrey mengalami perlakuan yang tak berperikemanusiaan dari 12 orang siswi SMA. Di sini saya memilih untuk tidak akan menyebutkan mengulang-ulang luka yang dialami adik kita, Audrey.

Tagar Justice for Audrey memenuhi seluruh tubuh berbagai platform media sosial. Semua orang menyerukan keadilan untuk Audrey, mengambil bagian atau bahkan keutuhan rasa yang sama persis dialami Audrey; bahwa damai bukanlah keadilan. 

Sampai-sampai sesosok Mahfud MD pun turut mengecam, "Tidak ada damai atau maaf." Pengacara ternama, Hotman Paris, pun menyatakan siap memberikan bantuan ke Audrey.

Dari keseruluhan fakta, respons timbal balik antara netizen dan pelaku, respons dari pelaku yang mengatakan "netizen jangan sok suci" yang paling membuat saya geram sekaligus ternganga melihat mereka begitu sangat percaya diri. 


Tadinya saya langsung mau mengecam sekeras mungkin tindakan biadab itu. Tetapi karena ada permintaan "jangan sok suci" dari para pelaku, maka saya menunda apa yang tadinya kuat ingin saya lakukan; cuma menunda, bukan membatalkan. 

Saya mulai dengan bertanya pada diri saya sendiri, "Apakah saya sok suci? Bagaimana jika pelakunya itu adalah merupakan keluarga saya, hukuman macam apa supaya adil?"

Saya memilih awalan itu, mengambil posisi subjektif pada pelaku. Tentu saja ini tidak akan benar-benar sama seperti yang dirasakan oleh keluarga asli pelaku; yang mungkin saja merasa marah, malu, berdosa, dan jijik bercampur jadi satu di dalam diri dan mata pada saat memandang raut wajah anak-anak nakal itu. 

Tetapi, bagi saya, ini cukup adil ketimbang saya menempatkan diri secara lazim; sebagai bagian subjektif korban dengan membayangkan bahwa seandainya kejadian itu menimpa saudara perempuan saya sebagai korban. Karena bagi saya, untuk memperjuangkan keadilan Audrey tak hanya didorong oleh sugesti-sugesti diri semacam itu, tetapi cukup dengan membenci keteledoran dan merasa bertanggung jawab atas terciptanya dunia kebaikan tanpa balas dendam. 

Saya sangat membenci kekerasan dalam bentuk apa pun. Dan saya tahu sekarang, Audrey tengah mengalami tekanan psikis yang luar biasa.

Siapa pun yang menginginkan keadilan untuk Audrey sama artinya meminta terciptanya tatanan yang bermoral. Permintaan seperti ini mengisyaratkan kepada kita untuk memikirkan bagaimana caranya menciptakan manusia-manusia yang baik, toleran, dan bermartabat dalam hidup kesetaraan dan persaudaraan, termasuk dengan 12 bocah bengis ini.

Banyak hal bisa kita salahkan atas kejadian ini; mulai dari sikap dan cara orang tua dalam mendidik anak-anaknya; cara anak memilih teman dan lingkungan pergaulannya, model dan penerapan pendidikan formal; penyiaran film di saluran TV utama yang masih banyak dan secara terang-terangan mengandung peristiwa semacam ini; pem-bully-an, persaingan yang angkuh, perkelahian antara remaja, sikap tak menghargai orang tua, dan lain-lain.


Juga sikap para elite kita yang kerap kali menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan kekerasan fisik lewat kaki-tangan aparat di setiap perundingan dengan warga biasa berjung pada keputusan yang tak bulat. Semua ini jelas berpengaruh pada alam bawah sadar kita.

Sepanjang tahun 2018, KPPA (Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak) melaporkan ada 117 yang sudah menjadi korban. Angka korban kekerasan anak mungkin sudah melebihi laporan itu, yang pastinya korbannya bukan sedikit. Insiden ini berakar pada kondisi yang benar-benar kompleks. 

Kendati begitu, setiap dari kita yang menginginkan tatanan ideal tercipta tetap harus memilih di mana dan dari mana ide-ide masing-masing yang kita punya disalurkan dan mulia bergerak menciptakan tatanan yang diinginkan. Saya memilih memulainya bukan dari rumah, tetapi dari sekolah. Karena dari situlah seorang anak belajar berbaur bersama anak-anak lain yang rentang usianya terbilang sama atau tak jauh berjarak.

Setiap dari kita sejak lahir telah diberikan bermacam-macam potensi oleh Tuhan, termasuk berpotensi melakukan salah. Atas dasar itulah seluruh orang tua di dunia ini memilih sibuk bekerja supaya bisa mengirim anak-anak mereka ke sekolah. 

Para orangtua percaya, di tempat itulah anak-anak mereka kelak bisa menjadi baik dan berguna untuk orang lain. Sekolah pun dibentuk berasaskan itu; mengasah potensi baik di dalam diri manusia bisa hidup dengan baik dan bisa mencegah potensi yang buruk di dalam diri termanifestasi. 

Oleh sebab itu, dalam kasus Audrey ini, saya meminta Kepala Sekolah di mana para pelaku bersekolah untuk mengeluarkan para pelaku dari sekolah. Pihak sekolah juga harus ikut bertanggung jawab; Kepala Sekolah dan Wali Kelas para pelaku di sekolah harus memberikan gaji mereka (masing-masing selama tiga bulan) untuk digunakan membeli buku-buku pendidikan moral dan disumbangkan secara gratis kepada siswa-siswa di mana tempat Audrey dan juga para pelaku bersekolah. 

Sedangkan untuk orang tua para pelaku diwajibkan menanggung seluruh biaya penyembuhan Audrey hingga pulih. Para Pemerintah Daerah setempat pun jangan malu menyambangi keluarga Audrey untuk mengatakan, "Ini semua atas kesalahan kami karena tak mampu memberikan pendidikan karakter yang baik ke dalam diri setiap murid. Kami akan menanggung seluruh biaya sekolah Audrey hingga lulus dari bangku SMA."


Seluruh perempuan yang menyayangi dirinya akan mengecam karena merasakan kesakitan luar biasa; tetapi seluruh laki-laki yang menghormati perempuan sejati akan merasa dan melakukan lebih dari itu. 

Terakhir yang ingin saya mau bilang adalah saya tidak menginginkan seluruh pelaku kekerasan di dunia ini dibunuh atau dipotong tangannya; dan bahwa keadilan adalah benar-benar bukan hal yang gampang dirumuskan bahkan didistribusikan.

Artikel Terkait