Design n IT Support
4 hari lalu · 135 view · 3 menit baca · Lingkungan 33888_32183.jpg
Sukari, petani binaan Program DMPA PT Bumi Andalas Permai - APP Sinar Mas (Dok. Pribadi)

Kesadaran Tidak Membakar Juga Butuh Proses

Sukari hanya seorang petani biasa. Transmigran asal pulau Jawa yang menetap di Desa Srijaya Baru, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatra Selatan. Untuk mencukupi kebutuhan anak dan istrinya, sehari-hari Sukari menanam padi, jagung atau nanas.

Selain masih kesulitan mendapatkan air bersih, masalah yang ia hadapi adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan dalam pengelolaan lahan gambut tanpa bakar (PLTB). Selama ini, ia dan petani lainnya hanya menggunakan metode tebas bakar, sebuah tradisi turun-temurun. Kebiasaan hampir semua petani seperti di desa-desa lainnya.

Pemahamannya dengan kalender musim pun masih rendah. Ditambah pengaruh perubahan iklim terhadap cuaca ekstrem. Akibatnya, musim kemarau dan musim hujan kini sudah tidak dapat diprediksi lagi. “Terkadang alam memang belum berpihak dengan kami-kami yang di sini,” ujar Sukari dengan senyum getirnya. 

Harapannya besar akan kondisi lahan yang ideal, yang sepanjang musimnya ia bisa mendapatkan hasil panen yang lebih baik. Sebuah impian yang sangat sederhana untuk seorang petani kecil seperti Sukari. Itu semua karena posisi ketinggian lahan pertaniannya lebih rendah dibandingkan desa-desa lain sekitarnya.

Kehadiran sekat kanal masih sangat ditunggu oleh Sukari, semua dengan harapan di musim kemarau lahan garapannya tidak kekeringan dan di musim hujan tidak terlalu basah. 

Saat desa lain dalam kesulitan air, lahan di desa ini justru masih terendam air. Kedalaman airnya bahkan bisa mencapai 30 cm dan pada musim hujan, lahan kami bisa terendam lebih dalam lagi, begitu ungkapnya.

Harapan Baru

Waktu terus berlalu hingga pada 2017 secercah harapan muncul di depan matanya. Saat Desa Srijaya Baru termasuk dalam Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), yang dibina oleh PT Bumi Andalas Permai (BAP), mitra pemasok bahan baku untuk PT OKI Pulp & Paper Mills, APP Sinar Mas.

Sebuah bentuk program kemitraan dalam pemberdayaan perekonomian masyarakat, yang menggandeng kelompok petani di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Program yang juga bertujuan membantu Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan dalam melindungi lahan hutan, terutama dari bahaya kebakaran.

Program ini memberikan banyak pengetahuan tentang pola pertanian yang efektif di lahan basah seperti yang dikelola oleh Sukari. Bersama petani lainnya, Sukari mendapatkan banyak pemahaman dan pengalaman baru. Selama ini pengetahuan bercocok tanam didapatkan hanya berdasarkan pengalaman coba-coba, bukan dengan metode yang berstruktur.

Selain mendapatkan transfer teknologi pertanian yang ramah lingkungan, para petani juga mendapat bantuan berupa bibit seperti padi dan jagung. Harga pupuk dan racun hama berkualitas menjadi lebih terjangkau setelah terbentuknya koperasi. Kehadirannya disambut sangat baik oleh petani. Kemandirian mulai terbangun dan rantai utang kepada tengkulak yang telah menjerat mereka selama ini perlahan terputus.

Sedikit demi sedikit Kelompok Maju Tani Distrik Air Sugihan mulai merasakan manfaat dari program pemberdayaan ini.

Terlihat dari berkurangnya petani yang melakukan pengelolaan lahan gambut dengan membakar saat membuka lahan pertanian baru. Meskipun masih ada beberapa oknum yang masih melakukan cara ini karena dianggap lebih efisien, baik dari sisi waktu, biaya dan tenaga yang dikeluarkan.

"Dulu ada yang iseng-iseng bahkan ada yang sengaja melemparkan bara bekas puntung rokok ke tumpukan sisa bekas panen yang belum dibersihkan,” ujar Sukari. Karena biaya yang dibutuhkan saat membuka lahan tidak murah. Butuh tenaga ekstra dan waktu yang lebih lama.

Banyak anggota kelompok tani yang sadar, bahwa kebiasaan tebas bakar sangatlah berbahaya dengan kondisi alam saat ini. Di sisi lain menegur para oknum yang melakukan kebiasaan tebas bakar ini justru menimbulkan konflik baru. 

Berbagai penolakan masih tetap muncul di antara sesama mereka, yang masih menjadi pekerjaan rumah besar untuk kelompok tani yang ada.

Namun karena kesadaran demi kemanusiaan untuk menjaga lingkungan yang berkelanjutan, kelompok tani ini terus berkomitmen untuk menjalankannya. Pemanfaatan rumput dan semak belukar sisa panen padi atau jagung, yang diolah menjadi pupuk kompos organik adalah salah satu bentuk usahanya.

Selain memperbaiki struktur tanah yang rusak dan membuatnya menjadi gembur, penggunaan pupuk ini ternyata membuat tanaman lebih kuat. Tahan terhadap cuaca ekstrem dan hama penyakit. Jauh lebih baik jika dibandingkan penggunaan pupuk kimia serta lebih cepat memberikan hasil.

Pupuk kompos organik ini juga bisa menambah penghasilan sementara buat para petani sendiri. Mengisi sela waktu sambil menunggu waktu panen tiba. Lagi-lagi kendala baru muncul. Keberlanjutan dalam pemasaran produk pupuk kompos ini terhambat karena pangsa pasar masih belum begitu jelas buat petani.

Menggapai sebuah mimpi seperti yang Sukari inginkan memang tidak mudah. Tidak semudah membalik telapak tangan. Rintangan dan hambatan akan datang silih berganti, baik dari luar ataupun dari diri sendiri. Begitu juga kebiasaan dan perilaku yang buruk tidak akan hilang dengan sendirinya tanpa mau belajar. 

Semuanya juga butuh proses dan bisa terjadi karena manusia juga bisa berubah.