Setiap dari kita di bumi ini pasti memiliki ketergantungan pada sesuatu. Sebagian besar penduduk dunia telah bergantung pada teknologi. Sebagai misal, peristiwa mati listrik dan baterai ponsel yang habis. Kita akan mengumpat, khawatir dan kehilangan kendali atas diri sendiri. Kita jadi tak terbiasa dengan gelap dan tersiksa dengan ketidakhadiran teknologi. Kejadian tersebut menegaskan bahwa kita, sebagai manusia, telah menyatu dengan teknologi, bahkan tak bisa hidup tanpanya.

Teknologi membuat hidup jadi lebih mudah. Tak tahu lokasi sebuah tempat? Ada peta digital. Ingin menerjemahkan sebuah kalimat dari bahasa yang satu ke bahasa yang lainnya? Ada situs penerjemahan. 

Mau menggali informasi dalam sebuah tulisan panjang dengan cepat? Ada text mining. Tanpa sadar, betapa banyak kepentingan dalam hidup manusia telah dikendalikan teknologi dengan perkembangan mutakhirnya: Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan.

Stephen Hawking telah mewanti-wanti umat manusia agar berhati-hati dengan Kecerdasan Buatan; “Komputer bisa, secara teori, meniru kecerdasan manusia, dan melampaui itu.” Kekhawatiran itu ia sampaikan dalam konferensi Web Summit Technology yang diadakan di Lisbon, Portugal pada tahun 2017 lalu. Kita memang tak pernah bisa tahu sejauh mana Kecerdasan Buatan akan berkembang. Segala kemungkinan di depan mata sangat banyak sehingga sulit untuk diprediksi.

Saat membuat Kecerdasan Buatan, manusia sadar bahwa ia mampu menciptakan entitas-entitas yang setara dan bahkan melebihi dirinya, ekspresi dari energi manusia. Maka, ia harus menghadapi secara serius kemungkinan bahwa sifat-sifat seperti pikiran manusia bisa diciptakan dalam bentuk non-manusia. Kecerdasan Buatan membuktikannya.

Jika beratus-ratus bahkan ribuan tahun yang lalu manusia hanya memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya dan dunia, kini ia bisa membuat salinan dari pikirannya sendiri, bukan tidak mungkin manusia akan membuat salinan dunianya. Kecerdasan buatan digunakan dengan pesat di hampir semua bidang, berkembang cepat dan diTuhankan banyak orang. Kondisi dunia pun jadi bergeser. Kini, manusia menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dengan apa yang dihadapi para pendahulunya.

Hawking menambahkan, “Kesuksesan dalam menciptakan Kecerdasan Buatan yang efektif, bisa menjadi peristiwa terbesar dalam sejarah peradaban kita atau yang terburuk. Kita tidak tahu. Jadi, kita tidak dapat mengetahui apakah kita akan dibantu oleh Kecerdasan Buatan secara tak terbatas, atau diabaikan, disisihkan, dan bahkan dihancurkan olehnya.”

Transisi besar terjadi di dunia, di mana perbedaan antara manusia dan mesin, hidup dan mati, organik dan non-organik, dekat dan jauh, alami dan buatan, terlihat jelas meski sebenarnya tidak terjelaskan. Begitu juga dengan Kecerdasan Buatan, segala kerancuan bisa terjadi, kekacauan pun muncul dan berkemungkinan menghancurkan kehidupan manusia. Bisa jadi suatu saat nanti, robot dengan kecerdasan buatan yang canggih sama persis dengan manusia. Saking miripnya, kita harus membedah organ tubuhnya terlebih dahulu agar bisa tahu.

Tak sampai di situ, Hawking juga berkata, “Saya khawatir Kecerdasan Buatan bisa menggantikan manusia seluruhnya. Jika orang merancang virus komputer, seseorang akan merancang Kecerdasan Buatan yang memperbaiki dan menjawab hal itu. Ini akan menjadi bentuk kehidupan baru yang lebih baik dari manusia.”

Dalam hemat Hawking, Kecerdasan Buatan bukan saja memudahkan kehidupan manusia saat ini. Di masa depan, pada suatu saat nanti, bisa saja Kecerdasan Buatan menguasai dunia. Dalam film-film sains fiksi Hollywood, kita melihat masa depan begitu kompleks: robot-robot dan manusia beradu, saling berebut tempat tinggal di bumi. Ada robot yang manusiawi, ada pula manusia yang kerobot-robotan. Jauh sebelum kita meramal masa depan, kita harus mengerti apa yang sedang terjadi di masa sekarang dan bagaimana seharusnya bersikap.

Kita bisa belajar dari para filsuf terdahulu, berefleksi tentang diri kita sendiri saat menghadapi dunia ini: apakah hidup kita masih mempunyai makna dengan hadirnya Kecerdasan Buatan? Kalau masih ada, makna apa dan makna yang bagaimana?

Dulu, Plato mengajarkan tentang ide sebab dunianya belum secanggih sekarang. Atau, Immanuel Kant yang bermimpi tentang perdamaian abadi dan sang ateis yang konsekuen, Jean-Paul Sartre mampu memaknai kehidupan dengan caranya sendiri. Mereka menghadapi dunia, mencoba memahaminya dan mengambil sikap sesuai dengan apa yang mereka yakini. Energi yang begitu besar membuat mereka menaklukkan dunia dengan pikirannya. Dengan sadar, dunia dihadapi tanpa keraguan.

Dunia di masa mereka berbeda dengan saat ini. Kepentingan manusia mengubah dunia dengan sangat cepat. Apa yang kita hadapi kini bukan hanya alam dan ruang serta waktu. Ada satu hal yang mendesak, memaksa kita untuk segera bersikap sebelum terlambat: keberadaan Kecerdasan Buatan. Apakah kita menerima begitu saja, pelan-pelan, kehidupan manusia mungkin akan sepenuhnya dikendalikan Kecerdasan Buatan?

Menyoal Kecerdasan Buatan, maka kita dihadapkan pada dua pilihan besar: menyatu bersamanya, atau mengontrolnya? Saat ini, tidak bisa tidak, kita kadung bergantung pada teknologi. Tapi, kita selalu bisa memilih dalam setiap situasi, mau turut berjalan atau ikut berjuang di sisi yang mana: Transhumanisme; menyatu dengan teknologi untuk kualitas hidup yang lebih baik, atau Posthumanisme; mengontrol teknologi sesuai dengan kebutuhan hidup kita?

Untuk saat ini, pilihan kedualah yang paling memungkinkan. Cara kita memandang dunia harus dengan kebaruan, melampaui apa yang pernah dipikirkan para pendahulu dengan tanpa mengikis sisi kemanusiaan kita. Manusia tetaplah manusia dan teknologi tetaplah teknologi. Tanpa penyatuan, kita masih bisa saling berdampingan dan membantu dalam menjalani kehidupan.

Ada dua hal yang mesti digarisbawahi tentang Posthumanisme. Pertama, Posthumanisme adalah akhir dari suatu periode perkembangan sosial yang dikenal sebagai humanisme, dan dalam pengertian ini Posthumanisme berarti setelah humanisme. Sebab kini, kehidupan tak hanya tentang dunia dan manusia. Ada tiga hal yang saling berhadapan: manusia, dunia dan teknologi. Kedua, merujuk pada fakta bahwa pandangan tradisional kita tentang apa yang membentuk makhluk manusia saat ini sedang mengalami transformasi yang sangat besar karena kehadiran teknologi, kita tidak bisa lagi berpikir tentang dunia dengan cara sama yang pernah kita pakai. Ketiga, konvergensi umum biologi dan teknologi pada titik di mana keduanya semakin tak dapat dibedakan, terlihat namun tak dapat terjelaskan.

Di mata kita, dunia nampak seperti realitas yang stabil, tersusun dari benda-benda yang tetap. Setelah adanya Kecerdasan Buatan, kini kita sadar, dunia berubah menjadi sebuah kemungkinan-kemungkinan yang mengalami perubahan terus-menerus dan bergantung pada pengamat dan persepsinya. 

Ketidakpastian pun menjadi akrab. Ada ketidakpastian tentang apa yang sedang terjadi pada lingkungan, tentang kemajuan ilmiah, dan tentang ke mana teknologi akan mengarahkan kita. Alam semesta memang selalu lebih kompleks ketimbang kemampuan kita untuk memahami.

Hawking menulis dalam Riwayat Sang Kala (A Brief History of Time): “Bagaimanapun, jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap, maka ia pada akhirnya harus bisa dipahami dalam prinsip yang luas oleh semua orang, bukan hanya oleh sedikit ilmuwan. Lalu kita semua, para filsuf, ilmuwan dan orang-orang awam bisa ikut andil dalam membahas pertanyaan tentang mengapa kita dan alam semesta eksis. Jika kita menemukan jawabannya, maka ia akan menjadi kemenangan puncak dari akal manusia--karena kita kemudian akan mengetahui pikiran Tuhan.”

Apa yang manusia pikirkan tentang bumi, dunia, alam semesta, hanya menghasilkan kemungkinan-kemungkinan semata. Teori-teori yang diciptakan, bahkan sekelas Hawking sekalipun, merasa tidak akan pernah menemukan jawaban mengapa kita dan dunia ada. Kemungkinan-kemungkinan itu terbuka, menyilakan siapa saja yang ingin percaya, sekadar mau tahu atau bahkan menolaknya.

Kita berada dalam kondisi Posthuman. Kondisi Posthuman bukan tentang ‘Akhir dari Manusia’ tapi tentang akhir dari jagat raya yang ‘terpusat pada manusia (human)’. Kondisi Posthuman adalah tentang evolusi kehidupan, sebuah proses yang tidak terbatas pada genetika, tapi semua eksistensi budaya dan teknologi. Posthumanisme adalah tentang bagaimana kita hidup, bagaimana kita mengatur eksploitasi kita atas lingkungan, hewan, teknologi dan yang lainnya.

Kecerdasan Buatan adalah sebuah kemungkinan dalam kondisi Posthuman. Kita punya kesadaran untuk bisa memutuskan, manusia punya energi yang tak terbatas. Pengakuan bahwa tak seorang pun dari kita yang sebenarnya berbeda dari yang lain, akan sangat memengaruhi cara kita memperlakukan semua yang lain, spesies yang berbeda dan lingkungan, juga Kecerdasan Buatan.

Kecerdasan Buatan diciptakan manusia dengan sadar, dan kesadaran manusia jauh melampaui penciptaan itu. Kita sadar, kita berbeda dengan teknologi dan tidak perlu menyatu dengannya. Kita cukup mengontrolnya sesuai kebutuhan saja. Jika sudah begitu, peristiwa mati listik dan baterai ponsel yang habis tidak akan membuat kita panik. Kita pun bisa menikmati gelap dengan pikiran dan perasaan yang tenang.

Sumber :

Ferrando, Francesca. (2013). The Posthuman: Philosophical Posthuman and Its Others. Universita di Roma Tree.

Hawking, Stephen. (1995). Riwayat Sang Kala: Dari Dentuman Besar hingga Lubang Hitam. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.

https://sains.kompas.com/read/2017/11/08/210600423/stephen-hawking--ai-bisa-menghancurkan-peradaban-manusia

Pepperell, Robert. (2003). The Posthuman Condition: Consciousness Beyond the Brain. Bristol, UK.

Van der Weij, Dr. P. A. (2017). Filsuf-filsuf Besar Tentang Manusia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (GPU).