Penulis
2 tahun lalu · 216 view · 4 min baca menit baca · Politik images_4.jpeg

Kesadaran Generasi Muda Menggunakan Hak Suara dalam Pemilu

Sebentar lagi banyak mahasiswa dan mahasiswi yang akan lulus dari pendidikannya baik D3, S1 dan jenjang pendidikan lainnya. Lulusan SD, SMP dan SMA sudah mengalami duluan dan pastinya sudah mendaftar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal itu merupakan suatu tradisi atau hal yang sudah lumrah yang akan terjadi pada anak-anak di negara kita dari usia 6 tahun ke atas.

Dari SD, SMP,SMA sampai perguruan tinggi bahkan sekarang ada TK dan PlayGroup. Semua jenjang pendidikan ini sangat baik dan sebenarnya wajib untuk dilalui oleh semua generasi muda saat ini dan di mana pun. Ketika seorang remaja berusia 17 atau 18 tahun ke atas. Maka dia sudah dianggap dewasa dan sudah mampu berpikir lebih aktif dan tingkat emosional semakin mantap.

Pada zaman saat ini pendidikan sangat penting guna menunjang pengetahuan dan keterampilan bagi setiap individu yang akan meneruskan kehidupannya pada saat dia harus mencari pekerjaan ataupun bagi yang mau berusaha sendiri. Lalu, bagaimana dengan yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ataupun yang putus sekolah yang rata-rata karena biaya pendidikan yang tinggi di negara kita.

Untuk Sekolah Dasar Swasta bahkan TK yang swasta biaya uang masuk saja untuk uang pembangunan hampir setengah juta belum uang baju, uang buku dan sebagainya. Dilema yang dialami keluarga ketika anak-anak sudah mulai dewasa adalah keuangan bagaimana dapat membiayai anak-anak agar dapat bersekolah menimbah ilmu sebanyak-banyaknya dan bila bisa melampaui yang mereka peroleh.

Bahkan orang tua yang tak pernah menikmati pendidikan SD, bahkan TK dan Playgroup siap membiayai anak-anaknya untuk dapat bersekolah mendapatkan pendidikan dengan harapan mereka dapat lebih baik dibandingkan apa yang mereka peroleh saat ini.

Negara kita saat ini sudah hampr 70 tahun merdeka melebihi negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan bahkan Singapura. Namun perkembangan di negara kita sangat lambat baik dari segi ekonomi, pelayanan di pemerintahan yang sangat lambat dan bertele-tele membuat semuanya seperti maju mundur.

Hal ini membuat banyak kegiatan yang seharusnya bisa dengan cepat dikerjakan menjadi lambat, pengurusan surat-surat maupun perizinan yang lama, payah bagaikan cap stempel yang sudah ada.

Generasi muda saat ini semakin jeli dan mudah dipengaruhi akan hal-hal yang rentan dengan sikap anarkis dan emosional terhadap hal-hal yang terjadi di negara kita sehingga perlu adanya saringan atau filter yang akrtif dan sehat untuk menyaring semua berita yang masuk dan diperoleh sehingga hal-hal bebal dan sikap anarkis tidak terjadi yang dapat merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara.

Sebentar lagi di daerah ibu kota Jakarta akan diadakan Pemilu Calon Gubernur yang baru. Hal ini banyak merespons partisipasi baik dari relawan, partai politik, kaum agama ataupun masyarakat luas dan bahkan artis-artis ibu kota.

Pak Ahok yang sudah menjabat sekitar beberapa tahun sudah menunjukkan kinerjanya dan dikenal tegas, emosional bila ada yang salah dan siap bekerja dengan keras demi memajukan daerah ibu kota apakah akan terpilih kembali sebagai Gubernur? Kita tunggu saja.

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Saya sebagai generasi muda memandang hal ini positif dan memang sudah menjadi hal yang wajar bahwa adanya pemilu sangat baik bagi masyarakat guna menggunakan hak suaranya untuk dapat menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin yang sesuai dengan kemampuan serta kinerja yang dimilikinya bukan karena dia berasal dari suku apa? Agama apa?

Pemikiran yang membeda-bedakan ras, agama, saya rasa ini adalah orang-orang yang memiliki pemikiran yang primitif pada zaman modern saat ini .Bukankah negara kita Indonesia terdiri dari berbagai suku, keanekaragaman adat istiadat yang memiliki kultur tersendiri dimana setiap individu dianugerahi Tuhan keistimewaan dan kelebihan tersendiri-tersendiri sehiingga mampu memegang amanat tugas yang besar.

Bagi remaja mengenai pemilu masih dianggap tidak terlalu penting karena memang mereka belum mendapat informasi yang cukup dan memadai apa manfaat dan fungsi dari pemilu dan bagaimana menentukan pemimpin yang ideal melalui pemilu yang jujur dan tepat.Ketika seorang remaja baik laki-laki maupun perempuan menginjak usia yang ke 17 atau 18 sudah memperoleh KTP.

Pada saat itu dia siap dan bisa memberikan hak suaranya secara bebas dan tepat sesuai dengan pilihannya sendiri. Walaupun kelurganya memilh A namun dia B oke-oke saja tidak ada yang mempersalahakan atau menggugat.

Nah,sekarang pemahaman pemilu bagi generasi muda yang masih kurang sudah mulai teratasi dengan adanya siaran televisi dengan iklan-iklan positif yang memberikan saran untuk tidak golput. Bahkan adanya organisasi yang baik di sekolah bagi remaja mulai SMA sudah terlihat banyaknya sosialisasi yang diberikan oleh pihak dinas-dinas pemerintah terkait.

Apalagi yang sudah mahasiswa pemikiran semakin tajam dan jeli dapat membedakan mana yang tepat dan baik namun emosional harus senantiasa dapat dikendalikan dan dijaga agar tidak mudah terhasut dengan orang-orang tertentu yang mau memecah belah atau membuat kekacauan.

Ketika pemilu dilaksanakan di daerah saya hampir tidak pernah saya pasif. Semuanya saya ikuti dan saya siap memberikan hak suara dengan sepenuh hati dan sesuai siapa yang saya anggap dapat memajukan daerah saya.

Satu suara saja sangat berperan ibarat uang seratus perak bila tidak ada maka uang yang seribu tidaklah seribu melainkan sembilan ratus apalagi bila dibawa di uang satu juta tentu kita tahu bahwa satu suara saja penting apalagi bila semua generasi muda di tanah air pertiwi yang dapat membuka hati, melebarkan pemikiran apa sebenarnya manfaat dari pemilu diadakan otomatis tidak akan ada yang golput karena sudah tahu manfaat dari pemilu.

Pemerintah sudah banyak memberikan pemaparan dan sosialisasi saatnya bagi generasi muda untuk meluaskan pemikiran, jeli dan dewasa akan setiap peristiwa yang terjadi di tanah air tidak mudah terpengaruh terhadap hal-hal atau berita-berita yang dapat memecah antar agama, antar sekolah/pendidikan maupun masyarakat.

Siap menjadi panutan dan pemimpin berikutnya, tekun dan giat belajar bekerja demi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan lebih baik lagi dapat menciptakan lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran yang merajalela. Gunakan hak pilih di pemilu berikutnya dengan pemikiran dan akal yang mantap bijaksana demi pemimpin yang ideal dan bertanggung jawab.

#LombaEsaiPolitik

Artikel Terkait