Akhir-akhir ini, isu rasisme yang dialami oleh George Floyd tengah menjadi perbincangan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Isu ini menjadi isu kontroversial yang mendapat perhatian masyarakat, khususnya masyarakat di Amerika Serikat.

George Floyd viral setelah ia menerima perlakuan rasisme dari polisi di Minneapolis, sang pelakunya bernama Derek Chauvin. Floyd meninggal setelah disekap dengan menggunakan lutut selama 9 menit oleh Chauvin, di mana ia mengalami sesak napas.

Floyd merupakan tersangka kasus pemalsuan uang dan hendak ditangkap oleh pihak kepolisian. Perilaku penangkapan terhadap Floyd yang tidak lazim ini terekam oleh video dan menjadi viral di media sosial. Alhasil, di Amerika Serikat terjadi demonstrasi dan kerusuhan.

Bahkan berlanjut ke aksi penjarahan, Masyarakat mengecam kasus Floyd sebagai kasus rasisme di mana orang kulit hitam menjadi sasaran diskriminasi oleh orang kulit putih. Permasalahan rasisme yang dialami oleh Floyd merupakan bentuk dari permasalahan etnisitas.

Permasalahan etnisitas merupakan salah satu isu yang sensitif dalam lingkungan masyarakat. Etnisitas, menurut Emile Durkheim, berhubungan dengan solidaritas kelompok sehingga memunculkan kesadaran kolektif.

Sedangkan menurut Max Weber, etnisitas merupakan bagian dari status kelompok dan merupakan sebuah kelompok sosial. Menurut Oliver Cox, salah satu tokoh Neo-Marxisme, eksploitasi tidak hanya berasal dari satu perbedaan distribusi modal antar-kelas, namun dapat dihasilkan dari relasi antar-ras.

Seperti yang pernah terjadi di Amerika, Cox menjelaskan bahwa perbedaan secara fisik dan kultur antara pekerja kulit hitam dan kulit putih dipertahankan bagi kepentingan kapitalis. Serta kepentingan bisnis besar yang menjaga kesenjangan antar-etnis.

Dalam Sosiologi, etnisitas tidak akan pernah menghilang dengan adanya modernisasi karena etnisitas memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat, salah satunya sebagai sebagai identitas dan alat pemersatu (integrasi sosial).

Melihat dari perspektif sejarah, di Minneapolis, sudah terdapat perjanjian-perjanjian rasial sejak 1910. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua tanah-tanah di sana tidak ditempati oleh orang kulit hitam.

Hal ini secara langsung memunculkan stratifikasi sosial berdasarkan etnik di mana orang kulit putih dianggap lebih istimewa dibanding orang kulit hitam. Atas dasar stratifikasi etnik dan hak istimewa kelompok etnik inilah kasus rasisme Floyd terjadi.

Konflik rasisme juga tidak hanya terjadi di negara lain seperti Amerika. Konflik rasisme tampaknya sering dialami oleh negara kita sendiri Indonesia. Beberapa kasus pernah terjadi pada saudara kita yang berada di Papua.

Banyak yang belum sadar bahwa kita pun masih melanggengkan budaya rasisme tersebut. Seperti yang pernah terjadi, yaitu pengepungan asrama mahasiswa Papua yang berada di Yogyakarta. Pengepungan tersebut dilakukan untuk mencegah rencana aksi para mahasiswa.

Pengepungan tersebut dilakukan oleh aparat kepolisian, sampai pada akhirnya salah satu mahasiswa bernasib sama seperti yang dialami Floyd. Salah satu mahasiswa bernama Obby menjadi korban kekerasan, karena dituduh membawa senjata tajam.

Pada akhirnya kasus Obby tersebut tidak mendapatkan penyelesaian hukum.

Beberapa waktu lalu juga mungkin kita masih sama-sama ingat kasus rasisme yang terjadi di Surabaya pada Agustus 2019 silam. Mahasiswa Papua mendapatkan diskriminasi dan disebut sebagai “Papua monyet”. Sampai pada akhirnya dari tindakan tersebut memicu adanya aksi solidaritas.

Aksi-aksi solidaritas tersebut muncul karena seperti yang dikatakan oleh Durkheim bahwa permasalahan etnisitas berhubungan dengan solidaritas kelompok sehingga memunculkan kesadaran kolektif.

Solidaritas kelompok ini muncul karena adanya kesamaan tujuan, ideologi, perjuangan, dan hal lainnya. Ketika dalam sebuah anggota kelompok tersebut mendapatkan perlakuan yang diskriminatif, maka kelompok tersebut akan menunjukan solidaritasnya.

Aksi solidaritas tersebut dapat muncul dari berbagai macam cara. Hal yang paling sering dilakukan adalah dengan mengadakan demonstrasi. Atau bahkan bisa berujung pada konflik kekerasan antar-kelompok.

Aksi solidaritas yang dilakukan merupakan perwujudan dari adanya gerakan sosial yang dilakukan masyarakat. Gerakan sosial yang muncul merupakan gerakan sosial yang sifatnya transformatif, di mana bertujuan mengubah kondisi yang ada di masyarakat (anti-rasisme).

Gerakan-gerakan sosial ini dapat tercermin dari adanya demonstrasi di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Australia. Demonstrasi-demonstrasi tersebut dilakukan di antaranya di pusat Kota London, di luar Kedutaan AS di Kopenhagen, dan di depan Gedung Putih, AS.

Dari kasus rasisme George Floyd, dapat diketahui bahwa isu rasisme (etnisitas) dapat mendatangkan gerakan-gerakan sosial, baik yang bersifat tradisional (mengubah perilaku individu), transformatif (mengubah kondisi yang ada di masyarakat).

Serta gerakan reformatif (mengubah sebagian sistem dan struktur), dan revolutif (mengubah keseluruhan sistem dan struktur). Hal ini dikarenakan etnisitas merupakan sebuah identitas kolektif yang tidak bisa diganggu-gugat oleh siapa pun. Maka dari itu, sudah sewajarnya jika masyarakat menjunjung tinggi rasa toleransi di tengah perbedaan-perbedaan yang ada.

Sebagai warga masyarakat Indonesia yang multikultural, multietnis, dan negara yang kompleks, rasanya kita perlu sama-sama belajar dari kasus yang terjadi pada Floyd, bahwa kasus serupa juga banyak terjadi di Indonesia. Media yang kurang menampilkan permasalahan rasisme juga dirasa berperan dalam ketidaksadaran masyarakat bahwa di Indonesia juga terjadi konflik rasisme.

Isu mengenai rasisme memang sangat sensitif untuk dibahas, sehingga tidak banyak yang berani membahasnya. Namun setidaknya mari kita sama-sama untuk tidak melakukan tindakan rasisme di lingkungan sekitar.

Mulai memberikan pemahaman kepada orang lain, bahwa permasalahan rasisme ini bisa menjadi konflik yang besar dan bisa memecah belah persatuan suatu bangsa.