1 bulan lalu · 31 view · 3 min baca menit baca · Lainnya

Kerusuhan Mei 2019, di Manakah Persatuan Negeriku ?

Kulihat ibu pertiwi 

Sedang bersusah hati 

Air matamu berlinang 

Mas intanmu terkenang

(Ibu Pertiwi - Ismail Marzuki)


Lagu di atas rasanya sangat pas dengan kasus yang baru-baru ini terjadi di Indonesia, yaitu kasus pasca pemilu, kerusuhan 21,22 Mei 2019. Sebelum membahas kerusuhan pasca pemilu, apa sih pemilu itu ? 

Pengertian pemilu sendiri menurut Pasal 1 angka 1 menjelaskan bahwa Pemilihan Umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945.

Pengumuman Pemilu 2019 secara resmi telah diumumkan oleh KPU pada Selasa, 21 Mei 2019 pukul 01.46 WIB melalui Keputusan KPU Nomor 987/PL.01.8-KPT/06/KPU/V/2019 tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Anggota Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota     secara     Nasional     dalam     Pemilihan     Umum     Tahun     2019.  Dari hasil rekapitulasi yang ditetapkan oleh KPU, pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin menang atas paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jumlah perolehan suara Jokowi-Ma'ruf 85.607.362 atau 55,50 persen suara, sedangkan perolehan suara Prabowo-Sandi 68.650.239 atau 44,50 persen suara. Selisih suara kedua pasangan mencapai 16.957.123 suara.

Pengumuman Pemilu 2019 ini disusul dengan aksi demo, karena adanya sikap tidak terima masa akan hasil perhitungan Pemilu 2019 oleh KPU, menurut masa KPU telah melakukan tindak kecurangan. Aksi ini dususul dengan bentrok dan kerusuhan di sejumlah titik wilayah Jakarta mulai 21 hingga 23 Mei 2019, banyak aksi anarkis yang dilakukan oleh demonstran mulai dari melempari batu, menyerang menggunakan petasan, penyerangan aparat dan pembakaran fasilitas di beberapa titik. Seluruh tindakan ini sangat mencerminkan jati diri warga negara yang tidak baik, dan sangat bertentangan dengan sila kedua pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.

Akibat kerusuhan yang terjadi, 8 orang meninggal dunia, kerugian atas kerusakan yang ditimbulkan juga sangat besar, selain itu apabila ditelisik dari segi ekonomi lebih dalam terjadi kerugian dalam jangka pendek yang cukup besar bagi pebisnis dan ritel di pasar tanah abang yang lokasinya dekat dengan kerusuhan, kerugian ini berupa turunnya omzetpedagang karena pasar menjadi sepi. Dalam jangka panjang menurut ilmu ekonomi setelah terjadinya konflik maka dikhawatirkan akan menimbulkan trauma bagi para investor, dimana jika nantinya investor menurun,akan berdampak fatal kepada perekonomian di beberapa titik kerusuhan, seperti lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat sekitar menurun.

Kasus kerusuhan ini bisa disebut sebagai ancaman dalam negeri, seharusnya apabila ada ketidakpercayaan kepada KPU maka diselesaikan secara baik melalui hukum, agar tidak menimbulkan kerusuhan atau kericuhan, apabila KPU terbukti melakukan kecurangan maka hukum dijalankan secara bijak, dan jika ternyata terbukti tidak ada kecurangan maka para demonstran harus ikhlas menerima, apabila masih memberontak maka perlu tindakan tegas agar tidak mengancam keamanan negara.

Di antara beberapa korban meninggal dan pelaku kerusuhan adalah remaja berumur 16-20 tahun, hal ini mencerminkan kurangnya wawasan mengenai pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan yang perlu ditanamkan adalah nilai gotong royong, toleransi, musyawarah dalam masyarakat, menjadi warga negara yang baik, menghargai HAM, dan lain lain, di mana nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan melalui teori yang ada di buku namun juga praktek dalam sehari-hari. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi kebutuhan utama saat ini, khususnya dalam rangka merawat persatuan dan keutuhan bangsa

"Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta", ungkap Bung Hatta. 


Ungkapan di atas berarti persatuan Indonesia akan tercipta apabila rakyatnya memiliki kepedulian dan kesadaran akan persatuan yang tinggi, dari hal ini maka ancaman dari dalam maupun luar negeri dapat teratasi.

Persatuan sebagai satu bangsa dan negara Indonesia merupakan elemen kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang paling penting. Tanpa adanya persatuan, kita tidak bisa dapat hidup sebagai suatu bangsa. Adapun tugas untuk menjaga persatuan sebagai suatu bangsa bukanlah hanya tugas pemerintah. Sebagai bangsa Indonesia, kita semua memiliki kewajiban yang sama yaitu untuk menjaga persatuan NKRI, salah satunya melalui menjaga persatuan.

Mari kita sebagai warga negara yang baik, sudah seharusnya kita menjaga kedamaian Negara Indonesia tercinta ini, hentikan  seluruh  pertikaian,  cacian  dan  hal  negatif  lainnya yang akan meruntuhkan bangsa ini. Tingkatkan kepekaan dengan sekitar, toleransi, saling menghargai. Semuanya dimulai dari diri sendiri kalau tidak dimulai dari diri sendiri dari mana lagi ? Ingatlah perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan negeri ini, jangan biarkan negeri tercinta ini hancur karena masyarakatnya sendiri, jika benar-benar cinta Indonesia maka jagalah persatuan Negeri ini.



Artikel Terkait