“Aku tidak lagi merasa bahwa aku sedang duduk di sini dan memikirkan diriku sendiri. Makin lama aku merasa bahwa saat ini aku sedang menulis atas nama seluruh alam semesta.” (Albert, dalam House of Tales karya Jostein Gaarder)

Jostein Gaarder memang garansi bagi bacaan yang bermutu. Entah bagaimana, di pertengahan syawal ini tiba-tiba saya ingin sekali membaca sebuah dongeng dari pendongeng yang pernah begitu kuat memengaruhi ruang imajinasi saya. Pertama kali saya bertemu dengannya pada 2012, di tahun-tahun awal saya memasuki dunia kampus. Pertemuan itu membuat saya langsung jatuh cinta kepada Gaarder.

Bayangkan saja jika Anda yang sejak kecil memang mencintai dunia dongeng—khususnya dongeng tentang asal muasal berbagai daerah di Indonesia yang sungguh imajinatif, seperti Surabaya (Hiu dan Buaya), kemudian Danau Toba (Kisah percintaan seorang pemuda dan siluman ikan), dan berbagai kisah lainnya—kemudian di suatu hari Anda berhadapan dengan Dunia Sophie yang adalah perpaduan antara dongeng, sejarah, dan kilasan pemikiran orang-orang besar dari masa lampau, bagaimana bisa Anda tidak mencintai Gaarder dengan cerita yang ditulisnya, yang tiap halamannya adalah kemegahan dari masa lampau, refleksi di hari ini bahkan terkaan tentang masa depan?

Kuliah di Fakultas yang aneh (Fakultas Ushuluddin. Anda pernah dengar?) membuat pikiran-pikiran saya dihidupkan oleh wacana-wacana aneh tapi memukau. Yang paling aneh dari wacana-wacana itu adalah sebuah kebijaksanaan kuno yang entah bagaimana masih digandrungi sampai saat ini—dan entah bagaimana pula ia masih sangat relevan untuk terus-menerus dibaca, ditulis, dan dibicarakan di berbagai universitas di dunia. Wacana itu kini juga merupakan sebuah disiplin ilmu yang kita sebut dengan filsafat.

Tentu tulisan ini tak ingin lebih jauh mengeksplorasi pengalaman personal saya tentang filsafat dan bangku kuliah. Kita akan mulai sangat fokus kepada Gaarder dengan House of Tales-nya yang membosankan (saya akan jelaskan ini di paragraf-paragraf berikutnya).

Gaarder adalah seorang penulis novel, intelektual, penulis cerita pendek dan buku anak-anak yang berasal dari Norwegia. Ia adalah seorang penulis yang memang menulis dari sudut pandang anak-anak.

Bagi mereka yang pernah membaca Dunia Sophie mungkin mengingat perkataan salah satu tokoh di novel itu yang mengatakan bahwa anak-anak dan filsuf punya kesamaan; yaitu kepekaan mereka dan rasa penasaran yang besar akan hal-hal baru yang jarang dimiliki orang dewasa pada umumnya. Mungkin sebab inilah Nietzsche sering kali mengasosiasikan Ubermensch dengan kekanak-kanakan yang sungguh memukau itu.

House of Tales ini diterbitkan oleh Mizan Pustaka pada 2019. Buku ini diterjemahkan dari versi Bahasa inggris-nya yang berjudul En Litten Fortelling Om Nesten Alt. diterjemahkan oleh Irwan Syahrir dengan tebal 168 halaman, lengkap dengan desain sampul buku yang sungguh keren (seperti biasa, Mizan memang begitu), buku ini sangat menarik perhatian saya sebagai seorang fans berat Gaarder (bukan endorse).

Di paragraf sebelumnya saya telah begitu banyak memuji-muji Dunia Sophie; bahwa ia adalah kemegahan, bla, bla, bla, dan seterusnya. Tidak seperti Dunia Sophie yang tiap halamannya bahkan sering kali tiap paragrafnya adalah ledakan-ledakan imajinatif, House of Tales malah lebih membosankan. Ia bercerita tentang Albert yang bertemu dengan seorang perempuan yang di kemudian hari menjadi istrinya di depan sebuah mesin kopi, tepat di hari pertama ia kuliah di Universitas Oslo.

Tidak seperti kebanyakan laki-laki Fakboy masa kini, Albert digambarkan sebagai seseorang yang pasif (meski di kedalaman perasaan dan pikiran-pikirannya ia sungguh aktif) dan perempuan itu, yakni Eirin, adalah yang aktif. Pertemuan ini digambarkan Albert dalam satu kalimat yang memuat kegelisahannya yang luar biasa pada sistem moral orang dewasa yang penuh dengan basa-basi;

Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang diberikan kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi. Hai, Kamu! Kita kenalan, yuk! (Halaman 15, Paragraf III)

Sayangnya kalimat itu hanya berada di dalam kepala Albert. Dan gemanya adalah gema yang tak menunjukkan ledakan di permukaan sikap Albert. Ia sendiri ternyata sedang menjadi orang dewasa yang terikat di dalam sistem moral yang rumit, sekaligus penuh basa-basi. Eirin sendiri tak berbeda.

(Barangkali) dengan perasaan yang juga penuh dengan rasa penasaran terhadap Albert, ia membuka pembicaraan dengan bertanya, “Jam berapa?” Dilanjutkanlah basa-basi itu dengan berjalan bersama ke dalam kelas, mungkin juga duduk bersama (Gaarder tidak begitu detail menceritakan situasi saat itu) dan saling berbagi pesona.

Dan hari pertama kuliah itu menjadi sangat indah bagi Albert, karena hari sesudah itu adalah tumpukan kesenangan, cinta, dan petualangan sepasang kekasih yang sungguh berbeda itu. Albert dan Eirin adalah sepasang kekasih yang sungguh berbeda?

Tepat pada kalimat tanya itulah inti dari cerita cinta mereka berdua. Albert kuliah di Astronomi dan Eirin mengambil bidang mikroorganisme. Yang satu berpikir tentang galaksi yang luas, dan yang lain berpikir tentang bakteri dan makhluk-makhluk kecil. Perbedaan ini digambarkan Albert secara puitis melalui kalimat ini; 

Di antara kami berdua, akulah yang memandangi semesta malam dengan lebih intens. Aku adalah humanis yang menyukai astronomi. Agak berbeda dengan Eirin. Dia lebih gampang mengarahkan perhatiannya pada planet kita ini. Pandangannya lebih tajam mengenai segala hal yang hidup dan bergerak di sini. (Halaman 98, Paragraf I)

Perbedaan semacam ini tentu sudah ada sejak pertemuan pertama mereka di depan sebuah mesin kopi itu (setidaknya mereka berbeda jenis kelamin). Apa yang mempersatukan mereka adalah ketertarikan yang memang ada pada masing-masing mereka.

Saya sendiri melihat House of Tales, yang merupakan judul dari novel ini, adalah sebuah rumah yang disinggahi mereka dalam suatu kesempatan. Maaf, bukan disinggahi, tapi disusupi. Saat mereka sedang berjalan-jalan di hutan, mereka menemukan sebuah rumah yang terkunci, dan kemudian mereka memaksa masuk ke rumah itu dengan membuka paksa pintunya, menggunakan sebuah linggis.

Rumah itu kemudian menjadi tempat mereka pertama kali menemukan titik koordinat antara keduanya. Keduanya dipersatukan dengan cinta yang malam itu, telah membentangkan banyak cerita dalam bentangan waktu yang tanpa mereka sangka, bertahan puluhan tahun.

Di kemudian hari, rumah yang pernah mereka susupi secara tidak sopan itu mereka beli. Tepatnya 10 tahun sejak kejadian itu. Albert juga punya kalimat yang sungguh bagus tentang titik koordinat di mana perbedaan antara keduanya dipertemukan;

Namun terkadang ada saat-saat koordinat kami bertemu, titik-titik persentuhan antara pelarianku di angkasa dan pengamatannya akan berbagai bentuk kehidupan yang membumi. (Halaman 98, Paragraf II)

Misalnya, saat Eirin harus memberi nama satu mikroorganisme, bakteri biru-hijau nostoc eirinae. Sangatlah pantas, menurutku. Suatu hari, Eirin dengan mata gletsernya menemukan satu spesies bakteri biru hijau baru, yang dulunya biasa disebut alga biru hijau. Meskipun dibilang baru, spesies ini termasuk organisme paling tua di planet kita, yang melalui mekanisme fotosintesis, secara bertahap menciptakan atmosfer beroksigen, yang memungkinkan berkembangnya bentuk kehidupan lain seperti kita. (Halaman 98, Paragraf III)

Menurut para astronom, kita hidup di sebuah planet batu yang berada dalam wilayah yang disebut “Zona rambut emas” yang mengelilingi matahari di luar angkasa. Zona ini tidak terlalu dingin sehingga kehidupan dapat tumbuh dan berkembang, dan tidak terlalu panas juga, tapi pas sekali. (Halaman 98, Paragraf  IV)

Seperti mereka yang dipersatukan melalui cinta di rumah dongeng (begitu Albert dan Eirin menyebutnya), perspektif mereka yang sungguh berbeda itu pun dipersatukan melalui kerumitan penjabaran tentang astronomi dan mikroorganisme, yang sebenarnya juga adalah kesederhanaan yang dirumuskan Albert dalam kalimat “pas sekali”.

Jostein Gaarder, melalui tokoh utamanya, yakni Albert, tampaknya mencoba mengeksplorasi cara berpikir seorang astronom dengan sangat bagus, detail tapi membosankan.

Apa yang saya maksud “membosankan” yang sejak awal tulisan ini saya lekatkan kepada House of Tales adalah karena saya merasakan nuansa repetisi/pengulangan, seakan-akan saya sedang membaca kembali sebuah novel Gaarder yang lain—yang memang bertema filsafat kosmos, yakni Dunia Anna. Demikian pun, di sana pula saya dapat menemukan Gaarder; yakni pada tiap-tiap detail yang sangat meledak-ledak. Membaca novel ini adalah seperti mendapatkan mutiara di dalam cangkang sebuah kerang, di tengah lautan yang luas.

Seperti judulnya, House of Tales; Kisah tentang Cinta dan Keabadian, novel ini juga mengeksplorasi setumpuk pikiran-pikiran juga perasaan Albert tentang keabadian. Tentu saja di dalam cinta mereka senantiasa abadi dan di dalam kenangan, mereka telah menemukan, juga memiliki rumah dongeng dengan danau yang indah di sekitarnya.

Tibalah pada suatu masa di mana Albert mendapat kabar dari mantan pacarnya yang juga dokter pribadinya, bahwa ia diserang satu penyakit saraf yang berpotensi melumpuhkannya dan pelan-pelan akan merenggut nyawanya. Penyakit ini menyerang sistem saraf sadar dari inangnya. Mantan pacar Albert juga memberitahukan jangka waktu hidup yang dimiliki Albert, jika mengacu pada kebanyakan kasus serupa.

Albert sungguh terkejut dengan vonis itu; justru keterkejutannya itu membawanya pada sebuah perenungan tentang pembentukan galaksi dan seluruh alam semesta, dan kebingungannya tentang eskatologi yang sejak awal tampaknya tidak begitu diyakininya. Beginilah bunyi perenungan Albert itu;

Meskipun planet batu di zona rambut emas di sekeliling bintang-bintang itu sangatlah jarang, seperti segenggam berlian yang disebarkan di padang pasir yang tak berbatas, mungkin begitulah yang sudah digariskan sejak “ledakan besar” 13,7 miliar tahun lalu bahwa suatu saat akan muncul kehidupan di sini. Dan mungkin juga bahwa suatu saat organisme seperti aku akan muncul. Aku adalah salah satu dari berlian itu, sangat jarang dan berharga, luar biasa mahal, dan dalam segala hal diukur dengan padang gurun kosmik yang mengelilingiku. (Halaman 103 paragraf I)

Seandainya alam semesta ini sejak detik pertama berselisih sedikit saja dari yang sebenarnya terjadi, kemungkinan besar semuanya sudah runtuh, hanya dalam sepersekian detik sejak ledakan itu, atau akan tercipta kesunyian dan kekosongan, dan tidak akan memunculkan sebutir atom pun. (Halaman 105, paragraf II)

Apa yang lebih unik dari perenungan kosmik dari Albert ini, bahwa ia beranggapan, bahkan perasaan-perasaannya yang paling subtil pun berakar pada kejadian kosmik yang rumit itu. Perhatikan paragraf ini;

Mungkin ada yang menduga bahwa alam semesta-alam semesta yang gagal semacam itu akan muncul sekaligus, suatu hal yang mungkin saja terjadi. Tapi mereka akan musnah sedetik berikutnya, atau mereka akan menjadi sangat steril. Mereka tak bisa terus ikut serta. Mereka tidak bisa terus memunculkan atom-atom, bintang-bintang, atau gajah-gajah, dan tentu saja tidak juga kepedihan hati yang sedang kucurahkan dalam buku tamu ini. (Halaman 105, paragraph III)

Seperti semua kejadian yang kompleks—yang dilalui Albert bersama Eirin, sejak pertemuannya hingga memiliki anak dan cucu, sampai saat vonis mengerikan tentang penyakit yang menyerang saraf sadarnya dan akan segera merenggut nyawanya—yang hanya menimbulkan suatu reaksi bagi tubuh Albert dan Eirin, yakni kebahagiaan (meski sama-sama “Kebahagiaan” setiap ia muncul ia bukanlah repetisi), alam semesta dengan seluruh kehidupannya yang kompleks itu pun ditulis pada sebuah buku tamu rumah dongeng itu (ini adalah sisi metafiksi dari Gaarder).

Rumah dongeng di dalam cerita Gaarder yang satu ini (selain judul) adalah sekaligus pusat di mana ia ditulis, diceritakan, dan diabadikan. Di sinilah letak cinta keabadian di dalam kepala Albert (yang juga Gaarder), di dalam kerumitan yang sekaligus sungguh sederhana;

Aku merasa, waktu yang masih tersisa tidaklah terlalu Panjang dan terlalu pendek. Mungkin boleh dibilang pas sekali.