1 tahun lalu · 22709 view · 18 menit baca · Cerpen 13637_22739.jpg
Koleksi Pribadi

Kerudung Itu Menjerumuskanku

Sexual Harassment

Pita dan Loka, dua anak perempuan kakak beradik yang tumbuh besar dari keluarga dengan dasar agama Islam yang cukup kental. ‘Pulau seribu masjid’ yang menjadi tempat tinggalnya para ‘Tuan Guru’ begitu mereka menyebutnya adalah tempat di mana dua kakak-beradik itu dibesarkan. 

Karena kedua orang tua mereka berpisah semenjak Pita berumur 8 tahun dan Loka berumur 3 tahun, keduanya ikut tinggal dengan ibunya yang merupakan putri seorang Tuan Guru besar di pulau itu. Sudah tentu ibu dari Pita dan Loka merupakan orang yang saklek dengan ajaran agamanya.

Hingga pada masanya, Pita yang saat itu menginjak kelas 4 SD, diminta ayahnya untuk tinggal bersamanya. Dengan berbagai masalah yang ada antara ibu dan ayah, terlebih lagi pada saat itu sang ibu tidak memiliki pekerjaan yang tetap. 

Dengan rasa bersalah pada ibu tetapi juga baginya akan menjadi kebaikan untuk semua, karena dia tidak ingin menjadi beban ibunya terus-menerus, akhirnya Pita memutuskan untuk ikut dengan sang ayah. Seorang anak 8 tahun yang dipaksa untuk berpikir dewasa sebelum waktunya, rela mengorbankan diri dan perasaannya demi kebaikan bersama.

Seiring berjalannya waktu, Pita dan Loka tumbuh dewasa. Ada perbedaan yang sangat terlihat antara dua bersaudara itu, di mana Pita yang dibesarkan ayahnya tumbuh menjadi anak yang tomboy, sedangkan Loka, dari didikan ibunya menjadi anak perempun yang feminin. 

Karena didikan ayah yang cuek, Pita menjadi anak yang cukup bebas dalam bergaul, meskipun dia disekolahkan pada sekolah yang berbasis agama, namun tidak mempengaruhinya menjadi anak yang sangat teguh akan aturan-aturan agama, seperti halnya mengenakan jilbab ke mana-mana, atau kemudian selalu mengikuti pengajian rutin dan lain sebagainya. 

Namun, dia mengerti dengan hukum-hukum Islam, salatpun masih ia jalankan, akan tetapi dia selalu merasa bahwa ada banyak cara lain untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan dia punya cara tersendiri untuk itu, dan karena rasa ingin tahunya yang begitu besar tentang segala hal, akhirnya dia memposisikan dirinya sebagai seorang anak perempuan yang mencari jati dirinya. 

Sehingga dia bergaul dengan semua orang, dari berbagai kalangan,  entah itu preman, pemabuk, pecandu narkoba, sampai orang-orang yang sangat ta’at dengan hukum agamapun dia temani, tanpa harus menjadi ataupun meniru mereka-mereka itu.

Berbeda dengan sang kakak, Loka yang menjadi anak kebanggaan ayah dan ibunya karena prestasi akademik selalu ia raih dari bangku SD hingga semasa SMA. Loka tumbuh menjadi perempuan dambaaan setiap orang, dengan wajah cantik dan anggun, ke mana-mana mengenakan pakaian rapi dan sopan beserta jilbab yang tidak pernah lepas darinya, kecuali di dalam rumah. 

Dia bagaikan cermin ibunya, yang begitu kental dengan ajaran agama Islam. Sekalipun ia disekolahkan pada sekolah umum atau bukan berbasis Islam seperti Pita, namun tingkah laku dan pembawaan Loka jauh berbeda dengan kakaknya. Loka lebih pendiam, namun keras kepala, ketika dia sudah mempunyai keinginan maka harus bisa ia capai, ia juga tidak mudah bergaul seperti Pita, dan ia cenderung tertutup. 

Akan tetapi, perbedaan keduanya tersebut bukan merupakan masalah bagi mereka, Loka sangat menghargai kakaknya seperti itu, berpakaian dan berpenampilan layaknya anak laki-laki. Begitupun dengan Pita yang sangat bangga pada adiknya, karena begitu berani mengambil langkah menjadi perempuan berjilbab, bahkan sering kali dalam diam, Pita memuji adiknya.

Seperti dua saudara perempuan pada umumnya, apalagi Pita dan Loka tidak tinggal bersama, setiap bertemu selalu ada saja yang mereka berdua ributkan. Mereka sangatlah tidak dekat, jangankan untuk sekedar mencurahkan perasaan mereka masing-masing, bermain bersama saja mereka enggan. Akan tetapi sebenarnya, dalam jarang dan sunyi mereka saling mengagumi satu sama lain. 

Pita mengagumi adiknya karena Loka sangatlah religius, salatnya selalu tepat waktu, mengajipun hampir setiap selesai salat magrib tak pernah luput dilakoni. Memiliki wajah cantik serta perawakan yang bagus, berjilbab dan berpakaian sopan pula, sangatlah berbeda jika dengan diri Pita. Itulah kenapa Pita selalu merasa risih sekaligus kagum dengan adiknya. 

Begitu pula dengan Loka, ia mengagumi kakaknya yang terlihat begitu kuat dengan berbagai masalah yang dihadapi, termasuk penampilan kakaknya yang tomboy karena baginya itu adalah penampilan yang keren dan mengasyikan. Mungkin karena menurut pandangan Loka, anak perempuan dengan penampilan begitu adalah anak yang tangguh.  

Namun berbeda lagi dengan ibu mereka. Ibu yang tadinya memaklumi penampilan serta tingkah dari Pita, karena menurutnya anaknya itu masih belum dewasa, mulai memberikan peringatan untuk Pita ketika ia sudah memasuki umur 22 tahun. Sudah mulai matang pikirnya. Pita yang tinggal di pulau Jawa, karena menempuh studi di sana, mulai memikirkan peringatan sang ibu. Dia berpikir, tidak ada salahnya menuruti kemauan ibunya tersebut. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Pita memutuskan untuk membalutkan jilbab.

Setelah itu, dia semakin berusaha mencari jati dirinya. Satu hal yang selalu mengganjal pada pikirannya, apakah benar wanita yang menggunakan jilbab akan menjaganya dari segala hal, terlebih lagi hal yang bersifat kejahatan seksual. Karena selalu ia mendengar orang-orang berkata demikian, bahwa jilbab itu akan menjagamu dari perbuatan dosa dan bahkan menghindarimu dari gangguan laki-laki

Sehingga dari pendapat orang-orang tersebut yang juga membuatnya mencari tahu kebenaran itu, karena pengalaman yang ia lalui selama tidak mengenakan jilbab, begitu sering ia mendapatkan street harassment seperti cat-calling dan beberapa bentuk gangguan lainnya, tetapi belum sampai pada tahap yang tidak wajar.

Hingga pada akhirnya setelah enam bulan lamanya, Pita dan jilbabnya, dengan berbagai kejadian yang tidak menyenangkan yang dialaminya, akhirnya Pita memutuskan untuk berpisah dengan jilbabnya, bahkan lebih berani lagi. Pita mengembali pada penampilannya yang tomboy. Dengan gunting di tangan tukang cukur, Pita memotong pendek rambutnya dan bahkan merokok. 

Dia merasa lebih nyaman dengan penampilannya yang seperti itu. Omongan orang tentang dirinya yang semakin berubah, dari yang tidak berjilbab kemudian berjilbab dan kembali tidak berjilbab lagi, sudah menjadi nyanyian di kupingnya.

Dia tidak pernah benar-benar peduli dengan pendapat orang tentang dirinya. Ketika ada beberapa temannya bertanya, "Pita, kamu kenapa buka tutup jilbab sih?", dengan santainya dia menjawab "saya pakai jilbab bosan, rambut panjang juga bosan, bagaimana dong?" 

Tentu orang-orang yang bertanya, hanya menggelengkan kepala dengan jawabannya yang seperti itu. Sebenarnya itu adalah trik dari Pita untuk tidak berbicara panjang lebar mengenai alasan kenapa dia melepas jilbabnya, dan baginya tidak semua orang harus tahu alasan itu. 

Libur semester panjang telah tiba, Pita memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, Lombok ‘Pulau Seribu Masjid’. Beberapa hari di rumah, hanya makan tidur saja yang dikerjakan, ia merasa bosan tidak tahu mau kemana dengan siapa, karena teman-teman dekat Pita sebagian masih belum libur kuliah dan sebagian lagi sudah bekerja, sehingga susah untuk diajak liburan. 

Akhirnya Pita memutuskan untuk pergi menginap di rumah kost adiknya di kota Mataram, 30 Km dari rumahnya, ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB), tempat di mana Loka kuliah. Suatu kebetulan, Loka baru saja selesai ujian akhir semester sehingga ia juga sudah mulai memasuki masa libur.

Pita yang di landa kebingungan ingin berlibur dengan siapa, akhirnya berinisiatif, kenapa dia tidak mengajak saja adiknya untuk liburan bersama, sepertinya akan menjadi sesuatu yang tidak biasa karena seumur-umur mereka tidak pernah pelesir berdua.

“Loka, besok kamu sudah mulai libur kan?”, tanya Pita ke adiknya, sambil tiduran di kasur dan membuka instagram mulai mencari tempat penginapan yang menarik dan murah di Gili Trawangan, pulau satelit di Pulau Lombok.

Sambil melipat jilbabnya, Loka menjawab “Iya, kenapa?”.

“Besok liburan ke Gili Trawangan, yuk?”

“Boleh, aku juga tidak pernah kesana” jawab Loka sambil tersenyum lebar menoleh ke arah kakaknya.

Oke, saya pesan penginapan dulu, besok pagi-pagi kita berangkat”.

Besok paginya, Pita dan Loka akhirnya berangkat menuju Gili Trawangan. Selama di perjalanan, Pita yang dibonceng adiknya melihat ke arah kaca spion. Sambil tersenyum, ia menyadari satu hal bahwa adiknya ternyata sudah tumbuh dewasa. Baru beberapa waktu yang lalu rasanya ia menjemput adiknya di sekolah SMP, sekarang ia sudah bisa dibonceng oleh adiknya sendiri. Begitu cepat rasanya waktu itu berlalu.

Setelah kurang lebih satu jam mereka menempuh perjalanan darat dan tiga puluh menit jalur laut, karena menuju Gili Trawangan harus melewati jalur laut dengan menggunakan boat, akhirnya sampailah mereka disana. 

Dengan disambut petugas hotel yang sudah dipesan Pita, diantarlah mereka berdua ketempat penginapan tersebut. Loka nampaknya begitu ceria, dengan senyum sumringah karena ini kali pertama ia berlibur ke Gili Trawangan, dengan kamera miliknya ia mengambil gambar di sepanjang jalan menuju hotel.

Sesampai di penginapan dengan pemandangan yang begitu memesona karena di depan kamar mereka ada kolam yang juga berbaur dengan pantai. Pita dan Loka segera masuk ke kamar hotel yang telah mereka pesan, kemudian mengganti baju dengan pakaian pantai, namun tetap Loka dengan pakaian santai yang sopan dan tentu dengan jilbabnya. 

Mereka yang biasanya setiap kali bertemu, selalu ada saja yang diributkan sehingga terjadi pertengkaran kecil, kali ini mereka menikmati liburan berdua, tanpa ribut-ribut kecil dan bermain di sekitar pantai menikmati suasana ramai serta pemandangan indah di Gili Trawangan.

Setelah menikmati indahnya sunset yang menjadi sajian penutup sore itu, tidak terasa malam telah tiba, suara musik menggema dimana-mana menjadi pertanda dunia para turis asing dimulai. Setelah mandi dan makan bersama, Pita mengajak adiknya duduk dipinggir kolam depan kamar hotel yang langsung berhadapan pula dengan pantai, angin dan deburan ombak menjadi nyanyian seolah mengiringi kebersamaan mereka malam itu. 

“Tidak usah keluar ya, kita di sini saja, di luar sana pasti ramai sekali dan kamu pasti kaget melihat dunia malam disini, melihat bule-bule minum Bir sambil joget-joget, kadang sampai telanjang”, kata Pita menakuti adiknya, sambil mengayunkan kakinya di kolam.

“Iyakah, sampai separah itu? Menyeramkan juga ya?”, Loka dengan wajah kaget namun penuh dengan perasaan heran bertanya demikian pada kakaknya.

“Loh, iya. Kakak sudah tau bagaimana dunia malam di sini, makanya kakak tidak mau mengajak kamu keluar malam”. Jawab Pita dengan nada suara tegas dan berusaha meyakinkan adiknya.

Dengan raut wajah penasaran, seperti ingin mendengar cerita-cerita tentang dunia malam di Gili, Loka duduk disebelah kakaknya. Pita pun mulai menceritakan banyak hal pada adiknya, sehingga dari situlah dimulainya obrolan panjang lebar antara sang adik dan kakak tersebut. Mungkin sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, karena hidup terpisah yang menciptakan jarak anatara mereka berdua dan setiap kali mereka bertemu selalu terjadi pertengkaran kecil, sehingga mereka tidak pernah ngobrol sepanjang dan sehangat itu. 

Setelah berbicara panjang lebar, dengan suasana malam yang semakin dingin, akhirnya Pita menanyakan satu hal pada adiknya, sesuatu yang selama ini membuat Pita juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah adiknya pernah merasakan perasaan yang ia alami.

Perasaan hancur ketika orang tua mereka bercerai, kemudian ayah mereka menikah kembali dan rasa takut mereka mempunyai ibu tiri. Hingga tiba waktunya, setelah lima belas tahun menjanda, ibu mereka memilih untuk merajut rumah dan tangga kembali, yang pada akhirnya membuat Loka terpaksa harus tinggal dengan Ayah mereka. 

Semuanya Pita pertanyakan kepada adiknya, karena selama ini ia selalu merasa bahwa hanya dirinyalah yang paling menderita atas semua hal yang telah terjadi. Pita dalam durja tak kuasa untuk tidak berprasangka bahwa adiknya lebih beruntung daripada dia, karena ayah maupun ibunya menaruh perhatian lebih kepada adiknya, terutama dalam bidang pendidikan dengan segala prestasinya. 

Semua sangat berbeda dengan dirinya, yang tidak pernah diperhatikan ayah ataupun ibunya. Bahkan sekalipun Pita seringkali mendapatkan prestasi non-akademik, ayahnya biasa saja.

Dengan suasana malam yang begitu membengkam, suara ombak saling bersautan dengan musik diskotik Gili Trawangan. Akhirnya, Loka mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan kakaknya itu, dengan panjang lebar, mata berkaca-kaca dan suara  tersendat-sendat. 

Tak disangka, ternyata Loka juga merasakan hal yang tidak jauh berbeda dengan kakaknya. Hancur, kecewa, menyedihkan, sangat sakit, itulah yang dirasakan Loka, terlebih lagi mengenai perceraian kedua orang tuanya.

Sambil sesekali melirik adiknya yang matanya semakin sembab, namun berusaha ingin terlihat santai dan baik-baik saja, lagi-lagi karena keduanya gengsi, tidak ingin terlihat lemah. Dalam hatinya Pita berkata “Tuhan, aku pikir selama ini aku hanya sendiri, tapi adikku juga ternyata merasakan hal yang sama denganku, bahkan mungkin dia jauh lebih tertekan”. 

Suasana malam itu terasa begitu menusuk, mengharukan, namun siapa sangka menjadi awal dimulainya hubungan kedekatan dua bersaudara yang hampir 15 tahun tidak pernah tinggal serumah. Bak waktu tak bedetak pada malam itu!

Tidak ingin berlarut-larut membicarakan masa kelam mereka. Loka akhirnya mengalihkan pembicaraan.

 “Sekarang, giliran saya ya... mau bertanya sama kakak”.

Sambil tersenyum, Pita menjawab “Iya, mau tanya apa kamu?”.

“Jangan tersinggung ya?”, kata Loka kemudian melanjutkan pertanyaannya “kenapa sih kakak berhenti berjilbab, terus potong rambut pendek seperti anak laki-laki begitu?

Sambil tertawa, kemudian menatap tajam adiknya, Pita berkata “ini nggak ada pertanyaan lain yang lebih penting ya, selain pertanyaan itu?”.

“Nggak ada, hanya itu yang ingin saya tanyakan, tadinya saya senang karena kakak sudah mau berjilbab, tapi saya heran juga kenapa tiba-tiba kakak melepas jilbab kakak kembali”.

Sambil menggaruk-garuk keningnya, Pita mulai bingung harus memulai jawaban dari mana, “Oke, tapi sebelum saya menjawab pertanyaanmu, saya akan bertanya lebih dulu”, jawab Pita pada adiknya, bermaksud mengulur-ulur jawaban dari pertanyaan sebelumnya.

“Pernah nggak, kamu mengalami suatu kejadian yang sangat tidak enak, anggap saja suatu bentuk pelecehan, sehingga kamu merasa sangat membenci keadaan, membenci dirimu sendiri dan membenci orang yang melakukan hal menjijikkan itu ke kamu, sehingga membuat kamu sangat terpukul sampai trauma berat dan kamu ingin keluar dari semua itu dengan cara merubah semua yang ada pada dirimu? Pernah?”

Dengan muka tercengang dan sedikit kaget, tiba-tiba Loka terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat pernah terjadi pada dirinya, sambil menatap mata kakaknya dan sesekali melihat ke arah pantai di depannya, dengan suara yang berat untuk menjawab pertanyaan Pita, akhirnya Loka mulai menjawab.

“Emmmmm....  jujur ya kak, sebenarnya saya pernah mengalami kejadian yang sangat membuat saya jijik, merasa sangat kotor, hingga sangat benci pada orang yang melakukan itu. Tapi tolong, jangan kasi tau siapa-siapa, hanya kakak yang tau tentang ini”. Pita sontak terkejut dengan pernyataan adiknya, sambil menganggukkan pelan kepalanya, dengan wajah penuh rasa heran, dalam hatinya dia tidak pernah menyangka adiknya akan menjawab demikian.

“Iya kak, jadi ini sebenarnya sudah cukup lama, waktu aku kelas tiga SMA, kakak ingat kan kita pernah menginap di rumah bude (kakak dari ibu mereka), waktu itu, dengan cahaya lampu remang-remang aku tidur didepan TV, tidurku masih setengah sadar, aku dengar ada suara pintu terbuka, suara kaki pelan-pelan menghampiriku, aku terbangun tapi tidak membuka mataku dan posisi masih tidur saja. 

Suara kaki yang datang ke arahku tiba-tiba aku merasa ada bibir yang menciumku. Semakin aku takut membuka mataku, aku tau itu siapa, ya dia sepupu kita yang selama ini suka sama aku dan kamu tau? aku merasa sangat takut kak. Setelah itu dia keluar dari ruang TV itu, kemudian aku berani membuka mata, lalu terbangun dan duduk tegap dengan perasaan campur aduk, jantungku rasanya berdetak begitu kencangnya dan aku menangis ketakutan. Kakak tau persis kan? 

Selama ini aku tidak pernah berpacaran apalagi berpegangan dengan laki-laki bahkan sampai melakukan hal yang tidak-tidak. Coba pikirkan saja bagaimana perasaan saya pada saat itu, bagaimana takut dan jijiknya saya. Bajingan”. Sambil menangis penuh emosi, tangan menggempal, napas tidak beraturan, Loka menceritakan pengalamannya itu.

Mendengar jawaban adiknya, Pita tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa bersumpah serapah dalam diam, sesak di dadanya. Dia tahu betul bagaimana adiknya, jangankan melakukan hal yang tidak wajar dengan laki-laki, berpacaran saja ia enggan. Dia merasa sangat terpukul mendengar adiknya, hanya rasa penuh benci yang ia layangkan pada sepupunya itu. Kenapa adiknya yang begitu polos, tega diperlakukan seperti itu.  Ingin rasanya Pita memberi pelajaran dengan menghajar mulut sepupunya.

Dengan nada suara pelan dan berusaha menahan emosi, Pita kembali  bertanya pada adiknya “Lalu, setelah kejadian itu, apa yang kamu lakukan untuk melawan rasa takut dan jijik pada dirimu itu?”.

Sambil menghapus air matanya, Loka menjawab,“Yaaah... mencoba menjadi lebih baik aja kak, aku semakin menutup diri, cara berpakaianku semakin aku koreksi dengan menggunakan pakaian-pakaian yang longgar, dan memakai jilbab yang lebih besar, biar tidak ada celah untuk mereka melakukan hal yang tidak-tidak terhadapku. Terus kalau kakak apa? Dari tadi aku terus yang ditanya”, Loka kembali mengembalikan pertanyaan awal.

Dengan menarik napas dalam-dalam, Pita akhirnya mencoba memberanikan diri menjawab pertanyaan adiknya itu. “Aku, ya sama saja sepertimu. Akupun pernah mengalami hal yang sangat menjijikkan bahkan jauh lebih parah darimu. Aku bahkan nyaris diperkosa. Hah... anjing memang. Kamu ingat mantanku yang bernama Nugra?” tanya Pita kembali yang mulai memperjelas arah pembicaraannya.

“Iya ingat, yang tiba-tiba hilang, terus ninggalin kakak nikah dengan wanita lain itu kan?”, jawab Loka, berusaha membenarkan maksudnya.

“Iya, kejadian ini waktu saya pulang liburan semester lalu. Kakak sendiri dirumah, tiba-tiba HP kakak berbunyi, ternyata ada Whatshapp masuk dari Nugra. Dia minta bertemu, tapi kakak tidak mau. Dia memaksakan untuk bertemu hari itu juga, alasannya ingin meminta maaf atas semua yang pernah dia lakukan ke kakak. Kakak bilang, kakak sudah maafkan, tapi dia tetap memaksa, sampai akhirnya kakak mengatakan ‘iya’. 

Kemudian kakak suruh saja dia kerumah, karena kakak pikir yasudah mungkin dia memang berniat baik dan benar-benar ingin meminta maaf.  Tidak lama kemudian, dia datang dan menelpon kakak, katanya dia sudah didepan. Kakak bilang tunggu sebentar! Kemudian, kakak turun dan membukakan pintu ruang tamu, kakak suruh dia masuk.

“Setelah itu kakak langsung bertanya, maksud dan tujuan dia ingin menemui kakak sebenarnya apa, sampai harus memaksakan seperti ini. Diapun menjawab, dia hanya ingin meminta maaf atas semuanya, sambil dia dekati kakak dan meraih kedua tangan kakak, dia berusaha meyakinkan kakak kalau sebenarnya dia masih cinta sama kakak dan menyesal telah menikah dengan istrinya itu. Kakak berusaha menarik tangan kakak, kemudian kakak bilang, sudahlah saya sudah memaafkanmu dan tidak perlu seperti ini, karena bagaimanapun kamu sudah beristri. 

“Dia tiba-tiba mendekati kakak dan memeluk kakak, tentu kakak kaget kemudian berusaha melepas diri, tapi dia semakin erat memeluk kakak, sampai akhirnya kakak berusaha sekeras mungkin untuk melepas tangannya dari kakak, dan akhirnya kakak bisa lepas tetapi dia menarik kerudung kakak. Kakak melihat persis kerudung itu jatuh di hadapan saya sendiri,entah kenapa saya merasa lemas melihat kerudung itu terjatuh, seketika, kakak lemas, tak bisa beronta, persis ketika kerudung itu membentur lantai. 

Mungkin karena merasa kakak tidak bisa melawan dengan keras, ia semakin erat dalam tubuh, si sialan itu, begitu kuat untuk saya sebagai manusia kasta kedua, hah, wanita! Cuih! , entah ada apa dengan saya waktu itu, asal kamu tau, senakal atau seliar apapun setelah itu saya bergaul, tak pernah satu laki-laki yang mereka stigmakan sebagai brandal itu menyentuh kakak, apalagi melecehkan saya!. 

“Saya diam, nakjis saya menikmatinya, tak sudi bahkan jika hanya sebagai bangkai saja, tapi itu semua terjadi begitu cepat dan tanpa tahu, kakak ingin melawan, tapi hanya mata yang bisa berbicara, saya tetap hanya berusaha menamparnya dengan tangan saya, tetapi semakin dia kasar dan menarik baju saya, hingga baju itu robek dan akupun dibuat setengah telanjang olehnya. 

Si bangsat itu semakin biadab, entah apa yang dia lakukan itu, saya tidak bisa merasakan apapun, hanya menangis yang bisa saya lakukan, entah darimana tenanga yang saya dapatkan, akhirnya aku tarik kepalanya yang sedang berusaha melakukan... haaah bangsat... bajingan...”. Belum sampai dia menjelaskan apa yang terjadi, Pita menangis dalam emosi yang begitu membara.

“Tetapi yang jelas, aku tidak sampai dia perkosa, karena akhirnya aku berhasil menarik rambutnya dan menampar wajahnya yang sudah seperti binatang buas itu.  Hingga akhirnya, mungkin ia tersadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah, dan tiba-tiba dia berhenti. Saya segera mengusirnya pergi, dan tanpa maaf dia hanya melihatku, lalu bergegas pergi”. 

Mendengar cerita kakaknya, yang sama sekali tidak pernah berpikir akan keluar dari mulut seorang kakak yang selama ini dia lihat begitu kuat. Dalam suasana malam yang begitu mencengkram, suara musik diskotik pinggir pantai semakin keras terdengar, Loka memeluk erat kakaknya dan berkata, “Sekarang aku mengerti alasan kenapa kakak melepas jilbab dan memotong pendek rambutmu itu. Iya, aku mengerti, harusnya akau tidak berburuk sangka padamu, padahal aku mengenalmu”. 

Di dalam hatinya, Loka merasa sangat marah dengan orang yang memperlakukan kakaknya sekeji itu, tetapi dia juga mengerti bahwa apa yang dilalui kakaknya begitu berat sehingga tidak ada celah bagi Loka untuk menyalahkan kakaknya melepas jilbab, karena baginya, mungkin dengan begitu kakaknya akan merasa lebih baik.

 Hingga suatu ketika, dalam tangis, sambil berbicara dengan cermin dihadapannya, Pita berkata pada dirinya,“Aku merantau ke pulau jawa, tinggal dan merasa nyaman di sana, aku berteman dengan para pemabuk, berpakaian biasa saja tanpa berjilbab bahkan mengenakan celana pendek, sobek pula, tetapi para pemabuk itu memperlakukanku dengan sangat sopan. 

Mereka menghargaiku yang tidak minum, dengan memberikan segelas kopi untuk menemani mereka yang merayakan kesenangan mereka dengan alkohol. Mereka menjagaku, mengantarku sampai depan gerbang kosku, karena tidak ingin aku diganggu ketika pulang larut malam. Lalu kemudian, aku pulang ke rumahku, kampung halamanku, yang mereka sebut Pulau Seribu Masjid, tempat orang-orang alim berkumpul. 

Layaknya wanita solehah pada umumnya, aku berpakaian rapi dan sopan, mengenakan jilbab syar’i mereka menyebutnya,namun disana pula aku mengenal orang berkedok alim, memperlakukan aku dengan keji, menarik jilbabku dan merobek bajuku, kemudian ia lecehkan aku dengan wajah penuh nafsu, ia seperti binatang yang memperlakukan aku seperti binatang pula. Di mana tempat yang mereka akatakan aman dan nyaman serta beradab itu?”.

Bahwasanya, kejahatan itu tidak pernah memilih atau melihat tempat, tidak juga melihat pakaian yang kita gunakan, berjilbab ataukah tidak berjilbab, namun jika seseorang ingin melakukan tindakan kejahatan itu, mereka tidak akan memilih objeknya seperti apa. Pita di sini merasa bahwa kerudung itu menjerumuskannya, bukannya dia diperlakukan dengan baik dan sopan, namun ternyata dia dilecehkan. 

Mungkin adalah hal yang wajar dirasakan oleh Pita, karena secara psikis dia merasa sangat terganggu dan tertekan dengan peristiwa yang terjadi padanya, sehingga mengekspresikan rasa terganggu dan tertekannya itu dengan cara yang mungkin dianggap orang lain tidak benar. Namun, tidak ada yang salah karena dia merasa dengan begitu dia lebih nyaman dan aman. Seharusnya orang lain tidak berhak menyalahkan dia seperti itu.

Begitupun dengan Loka adiknya, yang juga secara psikis dia pasti merasakan hal yang sama dengan kakaknya, akan tetapi Loka mengekspresikan semua itu dengan cara yang berbeda pula, bahwa dengan semakin dia memakai pakaian yang longgar dan jilbab yang besar, membuat dia merasa akan lebih aman dan nyaman. Tidak salah juga, karena setiap orang mengekspresikan dirinya dengan cara yang berbeda-beda.

Dari cerita dua kakak beradik ini, hal yang ingin disampaikan adalah isi hati dan keresahan seorang Pita yang merasa bahwa, pakaian sesopan apapun tidak dapat menjadi penjaga diri seorang wanita dari perbuatan jahat seperti pelecehan seksualBegitupun sebuah tempat,tidak juga menjadi suatu jaminan untuk tidak terjadinya perilaku kejahatan. 

Pulau Jawa yang mereka kenal sebagai sebuah tempat dengan peradaban yang bebas, ternyata lebih menawarkan kenyamanan, sementara Pulau Lombok yang dikenal dengan Pulau Seribu Masjid, dianggap sebagai tempat yang paling aman dan nyaman, ternyata tidak menjamin keamanan dan kenyamanan itu sendiri.