Lembaran kertas telah mengubah dunia. Itulah sepengal kalimat yang tertulis dalam sebuah jurnal karya Usiono (2009) yang berjudul “Industri Buku dalam Peradaban Islam Klasik”.

Bagi sebagian orang, masa lalu hanyalah sebuah masa lalu yang mungkin dengan mudah dilupakan. Namun apakah benar demikian? Apakah memang seharusnya kita hidup tanpa dibayang-bayangi masa lalu?

Dari kutipan tentang kertas di atas, maka dapat dipastikan bahwa sebenarnya kita selalu berdampingan dengan kehidupan masa lalu. Karena sejatinya masa lalu kita perlukan untuk pembelajaran di masa sekarang dan masa depan.

Kertas ibarat penghubung antara masa lalu dan masa sekarang serta masa depan. Coba perhatikan dan renungkan, bagaimana kita dapat tahu sejarah bumi tercipta, awal manusia, benua-benua, dan berbagai pengetahuan lainnya?

Guru di sekolah selalu mengajarkan tentang pengetahuan dan sejarah yang berasal dari masa lalu. Semuanya tersimpan rapi dalam lembaran kertas yang dengan mudahnya dapat dibaca dan dibawa ke mana-mana.

Dulu, orang tua kita sering membacakan dongeng sebelum tidur. Dongengan itu tersimpan dalam lembaran kertas, hasil sebuah ide dari orang-orang terdahulu.

Bahkan, dalam semua kitab suci umat beragama, terdapat berbagai cerita dan sejarah masa lalu tentang awal kehidupan yang akan menjadi pedoman hidup untuk masa sekarang dan masa depan.

Setiap ide yang terlintas dan kegelisahan hati yang ada pada manusia memerlukan sebuah wadah. Jika tidak, maka ide atau isi hati akan hilang lalu terlupakan begitu saja. Untuk itu, sebagai media untuk menyimpan ide-ide kreatif dan inovatif, maka manusia memerlukan sebuah kertas.

Tidak hanya ide yang harus disimpan, kegelisahan hati juga perlu dituliskan. Hal ini mungkin akan menjadi sebuah hikayat atau sebuah buku fiksi yang akan menyentuh jiwa pembacanya.

Tentu saja, saat ini media untuk menulis tidak langsung pada sebuah kertas, melainkan melalui sebuah laptop atau komputer. Namun, kertas selalu diperlukan sebagai alat untuk mencetak rangkaian ide dan isi hati penulis.

Membaca tulisan cetak dalam lembaran kertas akan lebih baik dibandingkan dengan membaca di layar laptop. Apalagi jika tulisan yang dibuat memiliki jumlah halaman yang lumayan tebal.

Hidup Kedua

Lembaran kertas yang telah bertuliskan ide-ide atau suara hati penulisnya akan menjadi alat untuk menciptakan kehidupan kedua bagi penulisnya. Coba kita lihat betapa banyak karya-karya penulis yang telah meninggal puluhan tahun atau ratusan tahun namun terus dibaca dan dipelajari.

Hasil karya penulis yang telah dibukukan akan tersimpan dan mungkin diperbanyak oleh orang-orang yang hidup zaman sekarang atau di masa depan.

Dengan demikian, secara tidak langsung, kertas telah menjadi media bagi manusia untuk memiliki kesempatan kehidupan kedua, meskipun hanya lewat tulisan. 

Orang mungkin tidak akan pernah bertemu langsung dengan penulisnya, namun ide-ide yang telah ditulis akan menjadikan si penulis tetap di kenang dan disebut namanya.

Sebut saja beberapa penulis yang terkenal di Indonesia, seperti Chairil Anwar, sang legenda dalam penulisan puisi. Buya Hamka yang telah banyak menulis buku-buku fiksi dan nonfiksi yang terkenal.

Chairil Anwar dan Buya Hamka merupakan beberapa contoh penulis yang telah memiliki kesempatan hidup kedua lewat tulisan yang tersimpan dalam lembaran kertas.

Transfer Pengetahuan

Makin banyak membaca, maka akan makin merasa bodoh. Ungkapan ini sering kali diungkapkan oleh para pembaca. 

Mengapa demikian? Ungkapan tersebut hanyalah ungkapan perasaan yang menunjukkan bahwa lembaran kertas yang berisi ilmu pengetahuan, yang ketika dibaca akan membuat haus pembacanya karena rasa ingin tahu yang terus meningkat.

Orang akan makin antusias untuk membaca lebih banyak ketika telah menemukan kenikmatan dalam membaca. Wajar saja jika orang yang sering membaca mengatakan bahwa dengan membaca mereka makin merasa banyak yang belum diketahui.

Lembaran kertas dapat menjadi media untuk transfer pengetahuan yang paling jitu. Berbeda dengan informasi digital yang menyajikan informasi secara singkat, lembaran kertas mampu memberikan pengetahuan yang mendalam pada setiap pembaca.

Bagi sebagian orang yang mungkin memiliki keterbasan untuk belajar di lembaga formal, maka lembaran kertas dalam bentuk buku akan menjadi wahana belajar yang baik. Orang dengan mudahnya dapat membaca buku serta melihat beberapa tayangan video atau informasi digital yang ada.

Ilmu pengetahuan yang telah tersimpan dalam bentuk buku akan memberikan cara cepat dalam belajar. Coba perhatikan, ketika di sekolah seorang anak yang sebelum belajar di sekolah malamnya telah belajar tentang materi yang akan dipelajari akan lebih mudah paham dan kritis.

Seorang siswa yang telah membaca terlebih dahulu sebelum belajar pengetahuannya akan lebih dibandingkan siswa lain yang belum membaca. Ini membuktikan bahwa kertas merupakan media yang baik untuk melakukan transfer pengetahuan.

Kertas Mengubah Dunia

Jika di bagian sebelumnya telah dituliskan bahwa kertas memberikan kesempatan hidup yang kedua dan media transfer pengetahuan, maka selanjutnya kertas juga dapat mengubah dunia. 

Pernah mendengar bahwa sejarah itu dibuat oleh pemenang? Maksudnya, sejarah yang kita baca adalah hasil karya dari orang-orang yang berhasil memenangkan pertarungan pada masa dahulu.

Merekalah yang menuliskan sejarah yang telah kita yakini kebenarananya. Namun demikian, sifat ilmu pengetahuan selalu dinamis. Jika dahulu pusat tata surya dikatakan adalah bumi, lalu kemudian direvisi bahwa pusat tata surya adalah matahari.

Maka demikian pula dengan pengetahuan, akan selalu dinamis. Orang-orang zaman sekarang dan yang akan datang akan mempelajari kejadian-kejadian dan cerita-cerita pada masa dahulu lalu kemudian dipelajari dan diperbarui.

Sama halnya seperti smartphone atau laptop yang kita pegang, akan selalu berubah dan diperbarui. Tentunya semua penemuan-penemuan atau ide orang-orang terdahulu akan selalu diabadikan dalam lembaran kertas dan arsip digital. Tujuannya hanya satu, untuk mengubah dunia di masa depan.