Seniman
4 bulan lalu · 76 view · 4 menit baca · Pendidikan 64198_18278.jpg
My artwork

Kertas untuk Peradaban Manusia

Cerita Kertas

Selain berkesenian, saya seorang wartawan. Kebiasaan saya, dan sampai saat ini masih dilakukan, adalah mencatat hasil wawancara, data dan sebagainya di kertas. Dulu ketika awal-awal jadi wartawan, pada 2011, catatan untuk wawancara ini harus keren, seukuran saku, dan kalau bisa ada merk medianya. Maklum wartawan baru, ingin dihargai, dan mulai sedikit arogan. Dan begitulah, sampai sekarang saya masih betah menggunakan kertas sebagai perlengkapan wawancara.

Namun gaya wartawan demikian mulai jarang. Sekarang kalau wawancara sudah langsung todong gawai. Lebih praktis, efisien dan penuh kemudahan serta data pun valid. Tapi menggunakan kertas, bukan tentang itu. Bukan tentang kemudahan dan segala alasan lain yang dianggap mempermudah pekerjaan. Menggunakan kertas adalah tentang seni dan keterampilan manusia.

Memang terdengar omong kosong saat saya bercerita tentang (masih) menulis di kertas saat wawancara, saat teknologi sudah sangat-sangat canggih. Pertanyaannya, kenapa masih manual saat ada yang otomatis? Kan begitu. Orang-orang modern.

Alasan pertama, kalau sedang wawancara langsung dengan narasumber, dengan menulis di kertas, mencatat poin-poin penting, lebih mudah saat menuliskannya. Tapi itu versi saya, mungkin juga karena terbiasa. Alasan kedua, dengan mencatat juga membantu mengingat. Seolah apa yang sedang ditulis juga sedang dihapal diri. Jadi ketika menuliskan berita juga lebih mudah, karena sudah faham dan (terasa) hapal.

Bicara menulis, tulisan tangan tentunya, tak lepas dari kertas. Setiap kali menulis, pasti butuh kertas, kecuali kalau ada yang punya kebiasaan menulis di dinding dan tembok-tembok jalanan. Ini bukan tentang menulis di beranda facebook, yang mustahil ditulis dengan tulisan tangan. Menulis dengan tangan adalah keterampilan yang hanya manusia yang bisa. Bukan soal ada jari atau tidak, kera pun punya jari yang persis sama dengan manusia namun tak mampu menulis.

Selain penulis, para seniman pun masih menggunakan kertas untuk menuangkan ide dan imajinasi yang tergambar di kepala. Apa alasannya? Karena teknologi belum benar-benar mampu menggambarkan imajinasi mereka. Sehingga kertas masih menjadi pilihan untuk menggambarkan imajinasi.

Menulis, dengan menggunakan pulpen dan kertas, adalah seni. Setiap orang punya gaya tulisan tersendiri. Ada yang bagus, ada yang cakar ayam (istilah yang bakal ditinggalkan). Menulis pun sebenarnya tak ubahnya menggambar. Bagaimana bentuk a, b, c hingga z yang memiliki pola tersendiri. Menulis huruf dalam seni pastilah bernilai tinggi. Hingga sekarang banyak lahir seniman-seniman kaligrafi. Bukti kalau menulis pun bernilai seni.

Kertas menjadi wadah. Tempat menuangkan isi kepala. Kertas menjadi wujud yang berbekas dan bisa bertahan lama. Berhenti dulu bicara soal berapa jumlah hutan yang habis gara-gara dibuat menjadi kertas, berapa banyak limbah yang tercipta karena produksinya dan segala persepsi lain yang ingin penggunaan kertas dibatasi semaksimal mungkin, sehingga opini ini banyak pula malah melahirkan ‘masyarakat pembenci kertas’, dan lebih memilih yang plastik.


Bagaimanapun kertas adalah tentang media untuk berkreatifitas dan mengasah keterampilan. Kertas adalah pilihan pertama untuk itu. Karena selain murah, kertas juga tidak mengancam keselamatan penggunanya. Terlalu naif jika bicara tentang penyelamatan pohon gara-gara kertas, karena tanpa kita sadari, urusan perumahan, pabrik dan penanaman sawit lebih hebat membunuh pepohonan.

Sebagai wadah, kertas telah menyelamatkan cerita sejarah. Mustahil kita saat ini bisa mengenal tokoh-tokoh hebat masa lalu tanpa ada kertas sebagai penyelamatnya. Cerita-cerita yang tertulis di kertas tersimpan, dibaca dan menjadi cerita turun temurun.

Makanya, ini bukan tentang berapa habis hutan gara-gara produksi kertas. Tapi tentang kreatifitas dan keterampilan manusia yang bisa dibantu dengan media kertas. Karena sekali lagi, teknologi tidak bisa menuliskan sepenuhnya tentang imajinasi. Bagaimanapun sebagai manusia memiliki keterampilan, manusiawinya seorang manusia.

Memang bukan hanya tulisan tangan, seiring teknologi jaman lampau dulu, kertas kemudian juga menjadi buku. Menuliskan tentang sejarah, ilmu, teori teknologi dan lain sebagainya. Walau dicetak dengan mesin, bukan tulisan tangan, kertas tetap menjadi medianya. Menjadi buku, yang bertahan lama, dan mampu merekam sejarah.


Sebagai manusia, memang hakikatnya untuk menjaga dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Jika membahas kembali berapa banyak pohon yang habis, mari bicara saja soal bagaimana menghematnya. Karena ini bukan lagi tentang menyukai atau membenci kertas, tapi tentang pelestariannya. Bukan hanya tentang kertasnya, tapi juga manusianya, yang menggunakan kertas sebagai wadah mewujudkan ekspresi dan imajinasi sebagai manusia.

Ada beberapa data yang saya dapat, dan semoga bukan hoax, bahwa Pemerintah Canada mencatat bahwa dengan mendaur ulang 54 kg kertas, bisa menyelamatkan satu pohon. Sama halnya Purdue Research Foundation and US Environmental Protection Agency, 1996 yang juga mencatat kalau 1 ton kertas bisa menyelamatkan 17 batang pohon. Hal ini pun bisa menjadi solusi, terutama untuk kertas yang informasi di dalamnya sudah basi. Lebih baik didaur ulang.

Jadi bukan hanya tentang menekan peredaran kertas dengan alasan penyelamatan hutan, tapi bagaimana memfungsikan kembali manfaat kertas. Dengan pemakaian yang produktif yang efektif. Jangan mentang-mentang kertas itu murah lalu ditulis sembarang hal, mubazir. 


Kesadaran tentang kreatifitas penting ada di diri manusia. Menulis, menggambar atau membentuk origami dengan kertas contohnya. Hal-hal yang dianggap manual, tapi penting untuk kesadaran diri dan jati diri. Karena tidak semua yang otomatis bisa memfungsikan diri sejatinya.

Untuk lebih jelasnya, memang harus dipraktekkan. Tidak hanya mengetahui, tapi juga mengaplikasikannya pada kehidupan. Bagaimana menggunakan kertas untuk menumpahkan kreasi dan keterampilan diri memang layak dilestarikan lagi. Karena sekali lagi, teknologi tidak mampu menuliskan sepenuhnya imajinasi dalam diri.

Artikel Terkait