Penulis
1 bulan lalu · 70 view · 7 min baca menit baca · Lingkungan 90410_35485.jpg
Foto: Yogasdesign

Kertas Tiada Tergantikan

Sulit membayangkan jika kertas tidak lagi menjadi medium dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai alat bertukar informasi maupun dalam fungsi lainnya seperti pembungkus makanan atau pembersih. Karena tidak semua medium lain bisa menggantikan peranan kertas dalam menopang kehidupan masyarakat.

Sungguh, saya termasuk orang yang beruntung pernah merasakan kejayaan kertas. Bagaimana tidak? Karena begitu banyak rekam jejak yang terhubung dengan kertas pada masa itu.

Sejak zaman sekolah di jenjang dasar hingga tingkat tinggi, kertas menjadi benda utama yang diburu. Menjadi kebahagiaan tersendiri ketika memasuki tahun ajaran baru adalah memilih-milih buku tulis dengan tekstur kertas yang halus, garis-garis kertas yang terang, dan tentu saja sampul gambar yang lucu.

Kala masih bersekolah, kertas menjadi alat vital bagi setiap murid. Terutama saat guru berdiri di depan kelas lalu bersuara lantang, “Keluarkan kertas selembar dan kita ulangan hari ini.”

Bisa mungkin di tingkat sekolah menengah kita alpa mencatat pelajaran yang ditulis di papan tulis atau yang didiktekan guru. Tetapi, tidak demikian dengan saat ulangan. Kertas wajib ada untuk menjawab soal-soal dari guru jika tidak ingin mendapatkan nilai nol besar.

Keberadaan kertas di zamannya membuat romantisme kertas tidak lekang oleh waktu. Lembar-lembar kertas menjadi ‘pemuas’ dahaga mereka yang senang ‘bermain’ kata, menuangkan segala imajinasi tentang segala rasa.

Aroma kertas menjadi salah satu alasan remaja mengoleksi lembaran-lembaran kertas surat. Wangi berbeda di setiap lembaran kertas surat merangsang indra penciuman menjadi tajam. Dan itu sungguh menyenangkan, mengendus-endus harum lembaran kertas surat sebelum memutuskan untuk membelinya. 

Koleksi lain yang sering diburu kala itu adalah kertas kado. Selalu menyenangkan memilih-milih kertas kado dengan motif dan gambar yang beragam. Lalu menyatukan semua koleksi kertas kado dalam sebuah keranjang dan meletakkannya di sisi meja belajar sebagai ‘penyegar’ mata kala dihadapkan pada setumpuk tugas sekolah.

Apa yang menghias kamar-kamar remaja kala itu? Poster sang idola! Siapapun idola mereka di zamannya, poster yang ditempel di dinding kamar dipastikan terbuat dari bahan kertas. Poster kertas berukuran besar itu menjadi inspirasi bagi mereka untuk mengapai cita-cita agar sejajar dengan sang idola bahkan lebih.

 Ada moment-moment tertentu di mana kertas menjadi hal yang sangat dinanti. Pos! Teriakan Pak Pos sering terdengar di depan rumah ketika ada keluarga yang berulang tahun, saat hari raya keagamaan bahkan saat honor tulisan ‘cair’. 


Sepucuk kartu ulang tahun atau kartu lebaran yang dikirim sanak saudara atau teman dari kota lain menjadi kebahagiaan tersendiri kala itu. Serta selembar wesel pos yang diketik memakai mesin tik manual bahkan tidak jarang ditulis tangan sebagai bukti untuk mencairkan honor tulisan di kantor pos sungguh bukan saja dinantikan, tetapi dirindukan kedatangannya.

Remaja di era kertas menjadi medium yang sangat populer, tentu mengenal postcard pariwisata yang kerap menjadi koleksi mengingat gambar-gambar indahnya yang menunjukkan keelokan pariwisata di Indonesia. Potret Tari Pendet, Danau Toba, Malioboro, Candi Borobudur, Bunga Rafflesia, dan potret panorama Indonesia lainnya kerap menghiasi setiap kartu pos wisata. 

Umumnya, jenis kartu pos ini biasa dijual di toko-toko buku besar, di stasiun kereta api, bandar udara, atau di tempat-tempat rekreasi. Secara tidak langsung keberadaan kartu pos wisata itu memiliki nilai edukatif dalam mengenalkan kekayaan Indonesia.   

Keberadaan kertas di zamannya memungkinkan orang-orang untuk sering mengunjungi kantor pos. Kala itu surat, kartu pos, wesel pos menjadi penghubung berkomunikasi satu sama lain. Surat, tentu saja menjadi media bertukar cerita yang menyenangkan bagi mereka yang senang menulis berlembar-lembar kertas. 

Kartu pos, menjadi ajang yang menarik untuk mengirimkan jawaban teka-teki silang atau aneka kuis yang diselenggarakan oleh sebuah majalah atau surat kabar. Nah, di zaman kemasyhuran kertas itu pula, sebuah kertas persegi bergambar berukuran kecil yang ditempel di sudut kanan atas kartu pos atau sampul surat memiliki nilai yang berharga. Itu adalah prangko yang digunakan sebagai tanda pembayaran biaya pos.

Tidak bisa dipungkiri kejayaan kertas membangun energi positif bagi remaja. Di sekolah, majalah dinding menjadi sarana bagi remaja untuk berkreativitas. Dengan berbahan aneka kertas macam kertas karton atau kertas HVS, remaja dapat menyalurkan bakat diri menjadi seorang penulis, ilustrator, komikus, fotografer, layouter, atau editor. Lebih dalamnya, dengan mengelola majalah dinding mereka pun belajar membangun sebuah team work yang solid.

Jejak rekam lainnya yang menarik dari kertas adalah saat menemukan lembaran kertas sebagai notes di pintu luar kulkas. Lembaran kertas kecil yang ditempel dengan menggunakan hiasan kulkas bermagnet itu sebagai ‘pemersatu’ keluarga. 

Pesan macam, “Mama, besok ade mau bekal sekolahnya nasi goreng plus ceplok telur ya.” Atau sebuah pesan seperti, “Kakak, jangan lupa makan siang ya.” Tentu saja itu sungguh membahagiakan bagi anggota keluarga untuk saling mengingatkan.

Namun, jika ditilik di era milineal ini media ‘pemersatu’ keluarga tentu saja mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dengan whatssap grup sebuah keluarga tidak hanya sekedar berkomunikasi berbagi kata-kata, tetapi juga foto-foto dengan kemampuan yang cepat diterima dan dibalas kembali. Tentu saja dengan kemajuan teknologi seperti itu patut untuk disyukuri.  

Lalu, apakah itu berarti era kertas sudah tergantikan? Sulit untuk mengatakan iya, karena sejatinya keberadaan teknologi tidak benar-benar ‘menenggelamkan’ kertas. Coba kita tengok saat anak memasuki jenjang pendidikan taman kanak-kanak. 

Bagaimanapun, kertas tetap menjadi medium yang vital dalam pembelajaran. Untuk belajar melipat dan membuat bentuk topi, bunga, pesawat, atau burung tetap kertas yang digunakan. Saat anak mulai belajar menggambar dan mewarnai tetap kertas yang dipakai.


Tengok pula setiap rumah yang kita kunjungi. Masih adakah foto keluarga di dinding-dinding rumah? Zaman dahulu, foto keluarga menghiasi hampir seisi rumah. Zaman kini, foto keluarga tetap menghiasi rumah karena itu menjadi sebuah prestise bagi seseorang akan keluarganya. 

Walau patut diacungi jempol teknologi masa kini mampu menyimpan foto-foto keluarga secara digital di galeri handphone, namun keberadaan kertas sebagai bahan pencetak foto keluarga tetap sangat dibutuhkan.

Kecanggihan sebuah teknologi tentu saja mampu memudahkan sebuah kehidupan. Sebut saja e-money, uang elektronik yang keberadaannya sebagai pengganti uang tunai. Untuk berbagai keperluan transaksi, e-money mampu menjawab segalanya sebagai alat untuk membayar transportasi, berbelanja, dan lain sebagainya. 

Lalu, selesaikah sampai di tahap itu? Ternyata, kertas tetap hadir di setiap transaksi penggunaan e-money. Karena secara otomatis akan tercetak dalam selembar kertas sebuah tanda bukti pembayaran.

Kemajuan lain di era teknologi adalah bentuk Kartu Tanda Penduduk yang kini disebut e-KTP atau KTP-el, KTP elektronik dalam artian baik dari segi fisik maupun penggunaannya berfungsi secara komputerisasi. Namun, tak urung pula keberadaan kertas tetap dibutuhkan manakala KTP elektronik harus difotokopi untuk sebuah keperluan.

Kini, di setiap instansi atau lembaga kerap ditemui mesin canggih untuk mengambil nomor antrian. Benar, layar mesin tersebut disentuh untuk mendapatkan nomor antrian. Akan tetapi, tetap saja nomor antrian tersebut tercetak di lembaran kertas.

Kehidupan metropolitan dan kecanggihan telepon pintar tidak serta merta pula menggeser kertas sebagai notes daftar belanjaan. Karena sering kali dijumpai di supermarket kaum hawa kerap menatap lembaran kertas sebagai catatan belanja tinimbang menatap layar handphone untuk melihat catatan belanjaannya.

Sebuah penerbitan pernah bertanya kepada pembacanya, mana yang lebih menarik membaca buku cetak atau buku elektronik? Pembaca yang umumnya Generasi Z, generasi internet dengan berbagai alasan memilih buku cetak. Membaca buku cetak itu memberi nuansa romantis karena tanpa sadar buku cetak kerap kali dipeluk-peluk saat bertemu kisah yang mengharu biru. 

Wangi kertas yang menenangkan macam aroma terapi menjadi daya tarik tersendiri untuk berlama-lama menghabiskan waktu bersama buku cetak. Dengan sering terlihat membaca buku cetak maka identik dengan sebutan si kutu buku yang tentu saja memberi kesan cerdas, bukan?

Lalu bagaimana jika kertas disandingkan dengan plastik? Karena umumnya plastik bisa menggeser kedudukan kertas sebagai bahan kemasan sebuah produk. Tetapi, patut diingat keberadaan plastik sebagai bahan kemasan sebuah produk tidak menguasai seratus persen lahan. Untuk kemasan produk makanan tentu saja kertas tetap menjadi pilihan utama untuk satu porsi kentang goreng di resto siap saja atau aneka gorengan penjual makanan pinggir jalan.


Boleh saja kemasan plastik menguasai produk sejenis benda cair karena memang tidak mungkin kemasan kertas mampu menampung jenis produk macam minyak goreng, kecap, atau sirup. Membandingkan kemasan kertas dengan kemasan plastik tentu saja kemasan kertas memiliki keunggulan lebih dibandingkan kemasan plastik yang identik dengan tidak ramah lingkungan dan sulit terurai sehingga dampaknya mencemari lingkungan.

Penggunan kertas yang berkesinambungan tentu saja berkaitan dengan tingkat penebangan hutan karena kertas dibuat dari bahan baku serat pohon. Tetapi, bagi sebuah perusahaan kertas yang bijak tentu sudah memperhitungkan segala aspek tersebut. Bak sebuah kehidupan, antara produsen----produk----konsumen merupakan sebuah mata rantai yang saling berkaitan satu sama lain.

Kertas walau sudah tidak lagi terpakai tetap masih memiliki nilai guna. Limbah kertas yang di daur ulang memang tidak diproduksi dalam bentuk yang sama, tetapi diolah menjadi karton bergelombang (kardus). Produk kemasan kertas dalam bentuk kardus ini dapat digunakan sebagai kemasan makanan atau minuman dalam skala besar.

Sebuah kreativitas tentu saja menjadi tantangan dalam mendaur ulang kertas. Tidak sedikit kerajinan tangan macam keranjang, tempat tissue, bingkai foto, kotak hantaran, tas, dan kotak pensil merupakan hasil dari limbah kertas yang di daur ulang.

Sedangkan kertas dalam bentuk tissue bisa jadi keberadaannya menggantikan sapu tangan pada masa lalu sebagi medium untuk membersihkan wajah atau tangan. Saat ini tidak terbayangkan ada medium lain yang dapat menggantikan peran tissue. Plastik? Ah, terlalu mengerikan membayangkannya.  

Nah, dunia boleh saja berputar cepat dengan kemajuan teknologi. Namun, ‘napas’ kertas tetap berperan di dalamnya.

Artikel Terkait