Mulailah membaca ini dengan mengimajinasikan hidup tanpa adanya kertas. Sudah?

Semua kepentingan manusia diadministrasikan dengan kertas. Entah apa yang terjadi jika tidak ditemukan uang kertas dan berbagai surat berharga tidak dibuat dengan bahan kertas. 

Betapa repotnya kita bertransaksi menggunakan sistem barter dan betapa rumitnya kita jika tak pernah memiliki fasilitas pencatatan dalam media kertas. Plus, dengan apa kita mengganti fungsi-fungsi sebagai pembersih dan pembungkus yang akhirnya juga menjadi fungsi lain dari kertas yang juga tak kalah penting.

Adakah orang dalam sejarah hari ini yang tidak membutuhkan kertas? Orang lahir yang diurus pertama kali adalah kertas. Anak kecil belajar dari kertas-kertas buku lalu diberi kertas ijazah. Sudah besar mencari kerja lalu diupah dengan uang kertas. Lalu menikah dengan bukti kertas surat nikah. 

Sampai tua kita menabung uang kertas dan dicatat dalam kertas buku tabungan juga, dan mati juga bersertifikat kematian berbentuk kertas. Di surat perjanjian yang ditulis dan ditandatangani di atas kertas, masih pula ditempeli materai yang juga berbahan kertas. Rokok berbungkus kertas juga bercukai kertas. Banyak orang yang masih berlangganan koran dan majalah berupa kertas.

Menurut saya, kertas tidak—atau minimal belum—tergantikan oleh media lain. Benar jika sebagian urusan kertas sudah diambil oleh media yang lebih murah dan cepat seperti surat yang digantikan oleh email. 

Kemudian, media perpesanan lebih mudah jika dilakukan lewat telepon dan turunannya yang lebih canggih. Namun, kertas tidak seremeh itu untuk segera diganti oleh media lain secara mutlak.

Pengukuh Zaman Sejarah

Zaman prasejarah adalah zaman nirleka alias belum ditemukan catatan. Kehidupan manusia masuk dalam sejarah ketika mulai adanya fasilitas berupa alat perekam peristiwa. 

Perekam peristiwa muncul pertama kali ketika mulai ditemukanlah simbol-simbol yang bisa bercerita, kita sebut sebagai huruf atau aksara, sejarawan menyebutnya leka. Tentu huruf yang pertama ditemukan tidak begitu mudah untuk kita baca karena bukan seperti konsensus kita hari ini.

Lalu, muncul alat perekam baru berupa lukisan, bukan lukisan yang sekadar berekspresi namun lukisan-lukisan yang bercerita. Alat perekam bahasa lisan dalam bentuk suara muncul setelahnya. Disusul kemudian oleh adanya perkembangan lagi perekam gambar berupa foto. 

Setelah itu berkembang lagi menjadi video tanpa suara. Lalu, yang sedang banyak digunakan secara lebar saat ini adalah audiovisual berbentuk video dengan kualitas grafis yang semakin baik sampai saat ini.

Media penyimpanan pun berkembang yang pada awalnya berbiaya besar pada zamannya menjadi semakin murah dan praktis. Dulu, manusia harus membangun prasasti yang hanya bisa untuk menuliskan beberapa kalimat. Kini ada sebuah alat kecil, sebut saja semacam microSD sebesar kuku manusia yang bisa menyimpan jutaan lembar buku dalam isinya.

Setelah bukti sejarah banyak yang rusak, misalnya monumen dan prasasti-prasasti, semua pesan bisa dikatakan kemudian dibukukan. Semua ilmu dalam sejarah dialihmediakan dalam media kertas. 

Banyak hal yang membuat kertas disepakati sebagai area untuk mencetak sejarah manusia selama ini. Kertas sempat seolah menjadi satu-satunya perekam sejarah manusia. Itulah fungsi kertas dari sejarah kita. Segala perkembangan kehidupan sejarah selalu direkam oleh kertas, minimal sampai saat ini.

Posisi Kertas Hari Ini

Kertas sedang diancam oleh digititalisasi media komunikasi. Faktanya memang seperti itu. Penulis pun menggunakan komputer jinjing untuk menulis esai ini.

Sudah entah berapa banyak artikel di dunia ini yang memprediksi bahwa kertas akan segera ditinggalkan dan ditanggalkan peradaban dunia berbasis wacana. Digitalisasi media wacana konon adalah peluit panjang akhir kejayaan kertas dalam kehidupan manusia. 

Namun, tentu itu baru prediksi saja. Nyatanya industri kertas tidak semudah itu mematikan mesin. Di saat kritik akan media cetak yang konon ketinggalan zaman, industri kertas makin beraneka gunanya. Daun-daun pembungkus kini digantikan dengan plastik dan kertas. Bahkan plastik kini tidak terkesan lebih baik ketimbang kertas dalam urusan itu.

Jika kita menelaah lebih teliti, kemungkinan kertas ditinggalkan secara total sangatlah sempit. Ada beberapa hal berkaitan dengan kertas yang mungkin tidak bisa digantikan. 

Sampai saat ini, kertas masih menjadi paling penting dalam hal administrasi di segala lini kehidupan. Juga, jangan lupa bahwa ilmu pengetahuan, sejarah, dan pemikiran masih dicetak dalam lembaran kertas. Memang ada media lain, namun kertas buku masih menjadi yang paling sahih dalam peradaban akademis.

Tentu sudah ada inisiasi untuk digitalisasi arsip maupun fail tulisan baru ke arah digital. Hal digital erat kaitannya dengan isu energi. Juga, kerusakan fail yang relatif lebih mudah karena sistem dari media digital sendiri yang rawan korup. 

Beda dengan kertas yang secara fisik memang mudah rusak, namun kertas file dalam kertas tidak mudah terhapus begitu saja. Lalu, mungkin ada dari kita berpikir bahwa plastik yang relatif lebih tahan kerusakan ketimbang kertas? Tidak juga.

Kata Bre Redana dalam Kompas 27 Desember 2015, media cetak telah sampai pada senjakala. Senja berarti sebentar lagi malam yang bermakna metafora maut. Boleh jadi memang benar media cetak kehilangan banyak ceruk dengan berebut dengan media dalam jaringan (daring—online). Tapi, apa itu dianggap bahwa kertas sebagai medium akan segera menjadi kapur yang digantikan spidol?

Media kertas yang semakin mahal justru terasa akibat format pesan yang tunggal, tidak seperti telepon genggam cerdas dan komputer yang bisa menampilkan banyak sekali format serta pilihan dari server layanan media. Buku adalah monomedia sedangkan komputer dan perangkat media telepon pintar dan turunannya adalah multimedia yang terhubung ke server-server perpustakaan awan.

Adagium Marshall McLuhan dalam Understanding Media: The Extensions of Man dikutip dalam artikel Bre Redana yang lain, bunyinya, “medium is the message”. Memang bahwasanya membaca buku yang dicetak seolah telah menjadi sebuah budaya yang sepi di tanah air. Sudah sepi dari yang tadinya memang juga sudah sepi. 

Namun, bentuk fisik buku masih begitu digandrungi oleh para penulis. Kini, dengan sudah mudahnya proses mencetak, setiap orang sudah bisa mencetak bukunya sendiri jika ingin. Menerbitkan tulisan sendiri bukanlah hal yang aneh hari ini.

Jika ada yang mengatakan bahwa media bukan pesan dan pesan bukan soal media, lalu kenapa banyak foto di ponsel yang dibawa ke tempat percetakan foto lalu dicetak dalam kertas? Jika memang masyarakat puas dengan media digital dan hal-hal berbasis multimedia, kenapa mereka masih ingin mencetak foto lalu dibuat album buku? 

Itu karena kertas dan buku masih belum bisa digantikan. Jika memang kertas sudah tidak relevan lagi maka sejatinya hal seperti itu sudah tak terjadi lagi, bukan? Foto tetap foto, namun medianya berbeda, maka kesannya akan berbeda. Atau, jika boleh saya sampaikan, nilainya berbeda.

Jadi, sepertinya Bre Redana terlalu berburu-buru. Mungkin koran bisa jadi digantikan oleh media internet. Tapi yakinlah, koran Anda akan terus langgeng selama informasi dan beritanya dijaga kualitasnya dan terus kembangkan. 

Seberapa juta pun klik di media daring, orang bisa jadi hanya akan percaya dengan koran Anda karena tahu bahwa pesan Anda adalah pesan yang berangkat melalui proses jurnalistik yang kuat dan berprinsip.

Kertas Berbanding Media Digital

Ada yang berdalih jika penggunaan media digital mengurangi penebangan pohon untuk industri kertas dan itu baik bagi dunia. Seberapa valid pendapat itu?

Melihat bahwa media digital membutuhkan daya berupa listrik, lebih adil kiranya jika kita melihat hulu, apakah ada yang dirusak oleh penggunaan listrik?

Tentu saja ada. Listrik kita kebanyakan berasal dari batubara dan banyaknya konflik dengan masyarakat dekat pembangkit listriknya. Soal kerusakan alam, bisa jadi penggunaan media digital tidak lebih baik ketimbang dengan penggunaan kertas. 

Tentu banyak yang mengatakan bahwa suatu saat akan ada pembersihan energi dengan menggunakan tenaga matahari atau tenaga alam lain yang lebih ramah lingkungan dan lebih sehat. Tentu kita menunggu itu. Jika memang hal itu bisa dijangkau dengan cepat, saya kira tidak akan masalah jika semua media menggunakan media elektronik.

Kemurahan publikasi kertas digital memang menggiurkan, namun kenyamanan kertas belum bisa diimbangi oleh kenyamanan membaca menggunakan kertas elektronik. Meski memang lebih praktis, karena memang simpel dan portabel, namun tidak lebih nyaman ketimbang membuka lembaran buku satu per satu.

Media yang Selalu Berubah dan Kertas

Sebelum kertas ditemukan, orang menulis di lempeng-lempeng logam, keramik, atau batu. Kemudian, manusia mencoba menulisnya di daun papirus, dan tentu daun lain misalnya lontar. Juga dicoba dengan kulit hewan dan kain. Lalu, seorang Tiongkok menemukan kertas yang lebih baik dari bahan bambu.

Abad 20, komputer mulai digunakan secara luas, terutama di akhir abad. Penemuan internet menyusul segera dengan diciptakannya web. Media pesan pun mulai beralih dari kertas ke layar monitor. 

Namun, sampai sekarang, kertas sebagai media masih eksis meski memang banyak yang mengatakan bahwa media berupa cetakan di permukaan kertas akan kiamat. Akan tetapi, ternyata belum benar-benar terjadi.

Kertas bertahan seperti media video film yang sampai sekarang masih eksis di bioskop meski sudah ada streaming daring. Nyatanya, film di bioskop masih saja jalan. Orang-orang rela membeli tiket menonton yang tidak murah demi sebuah film favorit. 

Mereka bisa saja menonton di rumah menggunakan komputer privat atau bahkan di telepon pintarnya. Tapi, apakah kepuasannya sama? Begitu juga kertas, akan terus bertahan meski media baca yang lain terus saja berkembang.

Sedangkan, jika kita melihat faktanya, kertas dari hari ke hari makin murah dan masif produksinya. Saking murahnya kertas, kertas bahkan bisa digunakan untuk pembersih, untuk pembungkus. Kertas tidak melulu untuk menyampaikan, mendokumentasikan pesan, dan peristiwa.

Kertas yang murah akan berharga karena pesan di dalamnya. Kertas hanya media dan bukan pesan itu sendiri. Namun, wacana yang dicetak dengan kertas mungkin masih harus diakui nilainya lebih karena memiliki bentuk fisik yang lebih kongkret.

Kertas boleh kita bilang sebagai penjaga ingatan karena keterbatasan memori manusia juga batas usia manusia yang mungkin tidak selama usia kertas jika benar-benar dipelihara dengan baik. Juga mungkin kertas memiliki umur yang lebih baik ketimbang gawai dan segala perangkat elektronik kita yang umurnya hanya beberapa tahun.

Biaya yang mahal atas publikasi kertas mungkin akan berdampak pada pesan-pesan jangka pendek. Namun sebaliknya, pesan-pesan jangka panjang akan menjadikan komputer sebagai media penyimpanan belaka sebagai proses pencetakan. Kertas yang otentik dan kopiannya akan menjadi sebuah pembawa pesan yang relative lebih abadi.

Perubahan format media lain mempunyai kendala perubahan yang sangat cepat sehingga informasi dari hari ke hari tetap namun medianya berubah sehingga harus diformat ulang begitu cepat.

Namun, memang harus diakui bahwa kertas kita mungkin tidak akan bisa memutar video seperti dalam film Harry Potter. Selama kita masih percaya dengan manfaat adanya tulisan dan simbol-simbol yang bisa dicetak ke permukaan kertas, maka kertas masih bisa digunakan. 

Bisa jadi, kertas akan lebih bisa diandalkan dan lebih panjang umur ketimbang media elektronik yang sedang kita gunakan untuk membaca tulisan ini. Industri kertas juga saya kira akan berumur panjang karena masih sulit rasanya hidup tanpa kertas dalam keseharian.

Namun, anehnya, meski kita sangat bergantung pada kertas, sang penemu penjaga ingatan bernama kertas itu tidak banyak kita ketahui dan kita ingat namanya. Nama penting itu adalah Ts’ai Lun.