1 bulan lalu · 43 view · 5 min baca menit baca · Ekonomi 83798_28269.jpg
Seorang tukang cetak yang sedang mengambil hasil cetak dari mesin.

Kertas sebagai Sumber Ekonomi Masyarakat Pinggir Jalan

Dalam pembangunan ekonomi nasional Indonesia, mungkin sudah sama – sama kita ketahui bahwa industri pulp dan kertas sangat berperan besar di dalamnya. Tetapi, jarang dari kita yang mengetahui bahwa keberadaan industri pulp dan kertas juga sangat mempengaruhi ekonomi sebagian masyarakat di Indonesia yang menjadikan kertas sebagai mata pencahariannya.

Berbicara mengenai industri pulp dan kertas di Indonesia, pastinya akan membuat kita sebagai warga negara akan membusung dada. Bagaimana tidak? Industri pulp dan kertas kita berhasil membawa nama Indonesia pada urutan ke- 9 sebagai produsen pulp terbesar di dunia. Sedangkan di industri kertas, Indonesia berada di urutan ke- 6 sebagai produsen kertas terbesar di dunia.

Dalam hal ini, tentu saja Indonesia menjadi negara yang unggul dalam hal ekspor pulp dan kertas di pasar dunia. Dilansir dari laman (kompas.com 2017), hasil ekspor yang dilakukan memberikan devisa pada negara sebesar 1,73 miliar dolas AS pada produksi pulp, dan devisa sebesar 3,57 miliar dolar AS pada produksi kertas.

Kebutuhan kertas di dunia yang semakin meningkat setiap tahunnya menjadikan peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan industri pulp dan kertasnya karena berbagai faktor. 

Faktor pertama, Indonesia sudah dikenal di pasar dunia sebagai pengekspor pulp dan kertas yang berkualitas. Faktor kedua adalah faktor komparatif, yaitu ketersediaan lahan dan bahan baku yang ada di Indonesia tidak terbatas. 

Hal ini didukung dengan wilayah Indonesia yang berada di kawasan tropis, serta tanahnya yang subur membuat semua pohon jenis apapun yang tertanam pasti akan tumbuh. Sehingga, membuat industri pulp dan kertas ini akan terus berproduksi dan berkontribusi sebagai penghasil bubur kertas dan juga kertas yang berkualitas bagi pasar dunia.


Bisa dibayangkan, betapa besar peran dan potensi yang diberikan oleh industri pulp dan kertas kepada Negara dalam pembangunan ekonomi nasional.

Jika terus berkutat dengan peran industri pulp dan kertas dalam  pembangunan ekonomi nasional Indonesia. Rasanya, sangat luas dan pelik bagi si penulis yang masih menyandang status pelajar. Mengingat bahwa kebutuhan kertas di dalam Negeri juga beragam. Penulis mencoba mengulik, peran industri pulp dan kertas dalam keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil di Ibukota.

Di zaman era serba digital ini, marak sekali pernyataan mengenai paperless society dimana masyarakat cenderung menggunakan teknologi dan mengurangi penggunaan kertas. Tetapi, hal ini tidak berlaku pada semua hal. Kertas tetaplah menjadi kebutuhan sebagian masyarakat.

Sebuah intansi, toko, atau perusahaan, bahkan juga seorang pedagang gorengan pastinya membutuhkan kertas sebagai kebutuhan mereka, bukan?. Hanya yang membedakan adalah fungsinya. Pasti dalam membedakan fungsi ini setiap instansi, toko, juga perusahaan mempunyai target sendiri untuk menentukan kebutuhan mereka pada kertas.

Banyak sekali jenis dan fungsi dari kertas dalam setiap kebutuhan. Contohnya : kwitansi, nota, bon, kartu nama, buku, buku pengeluaran, buku pemasukan, dan masih banyak yang lainnya. Untuk menjadikan kertas kertas putih kosong tersebut sesuai dengan fungsi dan kebutuhan, maka yang berperan adalah sebuah percetakan.

Saat melihat tumpukan – tumpukan kertas putih, berbagai amplop, dan sebuah mesin di sebuah toko kecil yang bertuliskan ‘Terima Cetak di spanduknya. Penulis tertarik untuk mendatangi toko tersebut. Ternyata di dalam toko ini, tersedia berbagai jenis kertas dengan berbagai warna. Semua kertas yang ada disini akan dicetak, sesuai permintaan dan kebutuhan konsumen.

Sebelum sampai ke tahap naik cetak. Tentunya, untuk menghasilkan sebuah kwitansi, nota, bon, buku, kartu nama, dan hasil cetak lainnya harus dirancang terlebih dahulu. Maka, yang dibutuhkan dalam hal ini adalah seorang tukang desaign dengan berbagai alat elektroniknya untuk membuat sebuah pola tulisan dan gambar pada kertas tersebut. 

Text, gambar, garis, tabel, dan objek lain harus dirancang sesuai dengan kebutuhan. Jika membuat rancangan kwitansi, maka dibutuhkan banyak tabel. Lain kebutuhan jika ingin membuat kartu nama yang hanya membutuhkan text dengan perpaduan warna.

Setelah memerlukan tukang desaign untuk membuat rancangan, kertas – kertas juga belum bisa naik ke mesin cetak. Desaign yang sudah jadi, harus disalin ke plate offset. Plate offset merupakan pola yang dibuat sebagai patokan pola kertas di mesin cetak, yang biasanya terbuat dari seng. 

Plate Offset ini yang akan menimbulkan hasil dari desaign tersebut ketika dicetak. Bagaimana hasil cetak tersebut juga ditentukan oleh plate offset dimana pemindahan huruf (tulisan) serta gambar ke blanket, jadi tinta tidak langsung menyentuh bahan cetaknya, tetapi melalui blanket tersebut.

Setelah memenuhi pembuatan pola di tukang desaign, lalu memindahkan desaign ke plate offset. Kertas – kertas tersebut baru bisa naik mesin cetak. Berapa banyak lembar atau rim kertas yang akan dicetak tergantung dengan pesanan si konsumen yang berasal dari pegawai instansi, atau orang lain yang bekerja sebagai penerima order. Layak dan tidaknya kertas yang akan di cetak harus betul – betul diperiksa oleh tukang cetak.

Si tukang cetak yang penulis ketahui sudah lama bersahabat dengan berbagai jenis kertas. Ia sudah 35 tahun bekerja dalam bidang cetak kertas. Menurutnya, latar belakang pendidikan yang hanya berijazah Sekolah Dasar tidak bisa membuat ia mendapat pekerjaan dengan gaji yang sesuai dengan kebutuhannya.  


Terlebih lagi, ia mempunyai 3 orang anak yang masih sekolah. Jadi, karena peluang permintaan cetak kertas sangat banyak menjadikan ia menyiplini pekerjaan ini.

Kertas – kertas yang sudah di cetak bisa langsung diambil oleh sang pemesan. Tidak sedikit juga pemesan meminta kertas untuk dipotong sesuai dengan polanya. Maka tak jauh dari toko cetak ini, terdapat toko yang menyediakan alat untuk memotong kertas. 

Lagi-lagi, kertas seperti rantai ekonomi yang menguntungkan bagi para masyarakat yang bekerja di sepanjang jalan ini.  Tak heran, jika di sepanjang jalan ini banyak toko cetak yang mempromosikan: menerima berbagai jenis cetak. Juga toko potong kertas, toko untuk desaign, dan juga toko offset.

Seorang pedagang gorengan di pinggir jalan juga mengalami hal demikian. Untuk membungkus barang dagangannya, mereka meminta beberapa kertas sisa yang tidak terpakai saat cetak. Memang, hal yang satu ini terlihat mengerikan bagi kesehatan. Melihat kertas sisa yang sudah ditumpuk – tumpuk dengan kertas sisa lainnya menjadi tempat untuk makanan. Namun, inilah realitasnya.

Dari sini bisa kita sama – sama ketahui bahwa industri pulp dan kertas tidak hanya berperan dalam pembangunan ekonomi nasional untuk Indonesia. Melainkan juga menjadi sumber ekonomi bagi segelintir masyarakat yang menjadikan kertas sebagai mata pencahariannya. 

Bukan hanya satu orang yang diuntungkan oleh satu pesanan kertas, tetapi juga melibatkan produsen lain untuk mencapai kertas pada kegunaan dan fungsinya. Rantai ekonomi mereka tidak akan mati, selama kertas masih dibutuhkan dan diproduksi di dunia ini.

Artikel Terkait