Mahasiswa
1 bulan lalu · 14 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 52424_47051.jpg
Photo by Dmitry Ratushny on Unsplash

Kertas sebagai Ruang

Menyelamatkan Keahlian yang Penting namun Langka

Kemampuan untuk fokus menjadi hal langka di era yang oleh para ahli disebut sebagai: the age of distraction.

Selama 24 jam, kita dibombardir oleh informasi yang lebih banyak daripada yang bisa diterima otak. Media sosial, laman berita, aplikasi streaming video, semuanya berlomba merebut perhatian kita. 

Kita pasti pernah menjadi "mayat hidup" saat berselancar di dunia maya. Menyeret layar ke bawah, terus ke bawah, menangkap banyak pembaruan status teman secara sekilas. Tanpa tahu untuk apa. Tanpa tahu apakah ada gunanya. 

Di lain waktu, kita pun berperilaku layaknya orang dengan gangguan konsentrasi. Setiap sekian detik sekali meraih gawai, membuka notifikasi. Seolah-olah ada sesuatu yang amat darurat terjadi. 

Kini, kebiasaan tersebut telah menjadi fenomena yang dirasakan hampir setiap orang. 

Disadari atau tidak, perilaku semacam itu lambat laun dapat menurunkan produktifitas. Kita akan mulai merasa kesulitan meluangkan waktu untuk berkonsentrasi pada pelajaran maupun pekerjaan. Karena kita terbiasa mencampur adukkan hal-hal penting dengan hal-hal remeh yang sering kali tidak relevan. 

Melakukan dua hal secara bersamaan dengan cara berpindah-pindah dapat menurunkan kinerja otak. Dalam psikologi, kerugian yang diakibatkannya disebut sebagai attention residue. 

Dalam kondisi kerja demikian, otak tidak akan mampu bekerja secara optimal pada salah satu tugas. Artinya, otak tidak mengerti bahwa tugas proposal bisnis yang sedang kita kerjakan sebetulnya membutuhkan lebih banyak energi ketimbang mengecek pembaruan status di beranda. 

Pengaruh buruk tersebut tentu menjadi momok bagi orang-orang yang mendambakan produktifitas namun terlanjur kecanduan teknologi. 

Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Dalam bukunya yang berjudul Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World, Cal Newport mengajak kita untuk mengeliminasi segala hal yang bisa mengalihkan perhatian dan berkomitmen untuk mengerjakan satu hal.


Tugas yang dikerjakan secara mendalam tanpa gangguan akan memberikan hasil yang lebih optimal. Bahkan, meskipun dikerjakan dalam waktu yang lebih sedikit. 

Satu jam bekerja secara mendalam lebih baik daripada seminggu bekerja tetapi terus diinterupsi oleh klik inbox, status beranda, atau streaming video terbaru. 

Lantas, apa hubungan semua itu dengan kertas

Masih di dalam buku Cal Newport, terdapat kisah keberhasilan.

Ia adalah Carl Jung, seorang psikolog yang mampu menentang teori sang ilmuwan kawakan Sigmund Freud. 

Untuk memuluskan niatnya, Carl Jung sengaja mengasingkan diri ke sebuah kabin di perdesaan yang jauh dari keramaian. Ia menjauh dari teknologi dan segala gangguan, untuk fokus membaca serta merumuskan teorinya selama beberapa waktu. 

Proses bekerja Carl Jung tersebut mencerminkan bahwa kita hanya akan dapat terlepas dari lingkaran kecanduan apabila kita memang bersungguh-sungguh menjauh dari sumber gangguan. 

Akan tetapi, bagaimana mungkin kita bisa menjauhi sumber gangguan apabila kita terbiasa bekerja dengan menggunakan gawai atau komputer yang umumnya telah tersambung dengan internet?

Nah, celah tersebutlah yang dapat diatasi oleh kehadiran kertas. 

Kertas dapat dimaknai sebagai sebuah ruang alternatif. Ia menyediakan privasi, intimasi, dan kreativitas. 

Pertama, privasi.

Apabila kita seorang akademisi, proses bekerja hanya melibatkan kita dan buku (baik buku cetak maupun buku catatan). Apabila kita seorang pengusaha, proses bekerja hanya melibatkan kita dan laporan bisnis. 

Apabila kita seorang musisi, proses bekerja hanya melibatkan kita dan kertas partitur. Apabila kita seorang seniman, proses bekerja hanya melibatkan kita dan buku sketsa. 

Tanpa ada embel-embel aplikasi ini-itu. Hanya ada kita, gagasan, dan media tempat menuangkan gagasan itu. 

Kertas sebagai media mampu menyediakan privasi atau keleluasaan bagi seseorang untuk menata situasi kerjanya sendiri. Dalam hal ini, kertas membuat pekerjaan berkonsentrasi menjadi lebih mudah. 

Kedua, intimasi. 


Kertas dapat meningkatkan keakraban antara kita dengan tugas yang sedang kita kerjakan. 

Sebuah penelitian neurosains menunjukkan bahwa kertas ternyata terbukti memiliki pengaruh emosional yang lebih tinggi ketimbang media digital. Kertas mampu membuat respon otak lebih terhubung dengan memori dan internalisasi. 

Dalam kata lain, pelajaran akan mudah terserap apabila berinteraksi secara fisik dengan buku. Dan gagasan akan lebih mudah tertuang apabila tubuh berinteraksi secara fisik membubuhkan tulisan ke atas kertas. 

Ketiga, kreativitas

Untuk menelurkan gagasan penting, kita seringkali butuh melihatnya dalam skema gambaran besar (big picture). Gambaran besar yang dimaksud di sini adalah secara harfiah: digambarkan dalam bentuk mind map atau pola-pola yang bisa dilihat di papan tulis maupun dinding. 

Kita tentu saja sudah tidak asing lagi dengan sticky note atau kertas flip chart. Jenis yang sangat membantu dalam merumuskan gagasan acak ke dalam bentuk yang lebih terorganisir sehingga mudah dipahami. 

Sebagai media pembantu, kertas mampu membuat pekerjaan mengorganisir gagasan tersebut menjadi lebih mudah. Kita hanya tinggal memindahkan satu kertas ke bagian lain dengan cepat. 


Pada akhirnya, kertas ternyata bisa lebih memanusiakan kita dalam bekerja dan menggali potensi yang belum sepenuhnya tergali. 

The age of distraction memang kompleks. Akan tetapi, peradaban ternyata telah memiliki solusinya sejak dulu. Yang klasik tetap yang bijaksana. Semoga kita dapat meraih banyak manfaat darinya.


Artikel Terkait