Akhir pekan pada sebuah pusat perbelanjaan ternama di Indonesia –Jakarta tepatnya, Kota Metropolitan yang tak pernah tidur itu– surga belanja bagi setiap kalangan dengan gemerlap outlet-outlet brand ternama bertuliskan sebuah kata ‘ajaib’ yang terdiri atas empat huruf “SALE” saling bersaing menawarkan koleksi terbarunya, dengan harga selembar pakaian yang dapat dikalkulasikan untuk memenuhi biaya hidup selama tiga minggu. 

Nampak seorang gadis remaja berkulit putih langsat berusia awal 20 tahunan dengan gaya fashion ala sosialita Jakarta, dengan rambut ikal panjang sebahu diwarnai coklat muda, dengan bangga menenteng paperbag dari salah satu fashion brand bergengsinya –mungkin berisikan pakaian dan sweater dengan harga jutaan, atau bahkan belasan juta– dengan tatapan angkuh dan penuh percaya diri, berjalan lurus pandangan kedepan, tentunya semakin pede apabila dipamerkan bersama teman-teman seumurannya, bertuliskan brand terkenal dunia, “ZARA”. 

Siapa yang tidak mengenal brand tersebut? Zara adalah satu mererk yang berasal dari Spanyol dan bermarkas di Arteixo, Gallicia dengan 73 outlet yang tersebar diberbagai belahan dunia. 

Beberlanja kemudian menenteng paperbag ZARA memiliki kepuasan tersendiri untuknya, menandakan bahwa ia memiliki kelas sosial yang cukup tinggi di kalangan pergaulannya, mengingat harga pakaian serta accesories yang ditawarkan brand tersebut tidaklah murah serta memiliki gaya berpakaian yang classy. Menurut pandangan gadis berambut ikal itu.

Ya. Saya, sebagai pendengar langsung atas pernyataan gadis berambut coklat muda itu bisa dibilang setuju. Tapi saya rasa gadis itu pasti tidak tahu bahwa paperbag yang ia tenteng mengelilingi pusat perbelanjaan, yang ia banggakan dan digunakan sebagai ‘senjata’ untuk unjuk sosialnya itu adalah hasil recycle alias daur ulang. 

Brand ZARA sendiri menggunakan sampah kertas yang didaur ulang untuk packaging-nya, hal ini diungkapkan dari pihak pengelola ZARA serta beberapa pernyataan di website resmi yang saya temui, bahwa mereka menggunakan kertas daur ulang untuk penggunaan paperbag serta box untuk pengemasan terakhir produk mereka. 

Menurut saya, “wow, sangat useful. Kertas yang selama ini hanya sekali pakai lalu terlupakan begitu saja dapat digunakan untuk industri pakaiannya dan untuk si gadis tadi unjuk sosial.”

Industri kertas di Indonesia sendiri sudah mampu menggunakan sampah kertas menjadi bahan dasar pembuatan barang-barang berbahan baku kertas lainnya. Sehingga tidak memerlukan pulp baru dengan cara memangkas pohon pohon baru lainnya. 

Yang perlu disesalkan adalah, tidak semua pihak tahu bagaimana mendaur ulang suatu barang menjadi sebuah barang yang sangat bernilai, bahkan memiliki nilai jual yang cukup mahal. 

Mungkin sebagian besar pernah mendengar daur ulang tas menggunakan plastik bekas detergen atau sabun cuci, sang pencetus ide mengumpulkan bungkus sabun cuci tersebut, membersihkannya, kemudian menjahitnya dengan kemasan lainnya yang memiliki corak sama, sehingga menghasilkan sebuah tas yang bisa difungsikan sebagai tas dengan tulisan “Rinso” sebagai coraknya, saya masih ingat yang berawarna merah muda bertuliskan “Molto”. 

Memang hal tersebut merupakan ide yang menarik dan kreatif, tapi usaha tersebut hanya bertahan beberapa saat saja. Setelah acara berita televisi mewawancarainya, tas daur ulang bertuliskan “Rinso”  dengan logo khasnya dimana-mana itu seolah hilang ditelan bumi. 

Alasanya klasik, “Malu menggunakannya” sehingga tidak ada pihak yang tertarik untuk menggunakan tas hasil daur ulang tersebut terlebih lagi menggunakan ‘sampah’ sebagai tas.

Hal ini mengingatkan saya kembali pada mental dasar serta paradigma dasar yang tumbuh kental dalam masyarakat Indonesia serta realitas yang terjadi saat ini bahwa kebutuhan hidup untuk memenuhi standart gengsi di Indonesia terbilang sangat tinggi, lebih tinggi dari biaya hidup pada umumnya. 

“Apa berbedaan pakaian seharga seratus ribu rupiah dengan pakaian seharga sepuluh juta rupiah?” baiklah, itu adalah kemampuan marketing setiap masing-masing industri serta bagaimana teknik mereka menawarkan produk mereka dipasaran. 

Tetapi yang perlu ditekankan adalah apabila hendak menerapkan daur ulang di Indonesia, haruslah menggunakan desain yang lebih baik serta pengolahan kembali, bukan desain alakadarnya serta diolah alakadarnya atau “yang penting bisa digunakan”. Kemasan sabun cuci tersebut dapat didaur ulang menjadi tas plastik dengan desain yang lebih menarik, seperti halnya paperbag yang digunakan oleh brand ZARA. 

Daur ulang bukan hanya merupakan proses mengumpulkan lalu mengolahnya dan jadi begitu saja. Melainkan sentuhan seni, teknologi, serta nilai jual sama seperti halnya proses pembuatan barang baru. 

Brand mewah yang tak kalah menggunakan daur ulang kertas untuk produknya adalah GUCCI. Produk yang memiliki harga sepatu dan tas sebanding dengan harga sepeda motor ini tanpa disadari oleh konsumen telah menggunakan produk daur ulang untuk packaging-nya, baik paperbag, dustbag, maupun box-nya. 

Box yang digunakan sebagai sentuhan akhir pembungkus kacamata GUCCI yang berharga jutaan merupakan hasil daur ulang dan memiliki kualitas yang sangat baik –seperti box sunglasses branded pada umumnya– kuat dan kokoh serta tidak mudah rusak, berfungsi sebagaimana mestinya dan tetap terlihat mewah. 

Beberapa berpendapat bahwa produk daur ulang memiliki kualitas yang tidak sebanding dengan produk baru atau produk fresh, tetapi menurut saya tidak untuk produk daur ulang yang digunakan oleh brand ini sebagai sentuhan penutupnya, bahkan saya rasa konsumen tidak ada yang menyadarinya bahwa brand ini menggunakan produk daur ulang. 

Perlu diketahui juga, paperbag, dustbag, serta box milik GUCCI masih dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi, dan tentu ada saja peminat bagi packaging milik GUCCI. Bukankah hebat sekali penggunaan daur ulang kertas oleh brand ini?

Lantas yang menjadi point pembahasan pada penulisan ini adalah, bagaimana teknologi, ide, serta teknik lainnya untuk mengemas produk daur ulang kertas ini, bagaimana menjadikan daur ulang kertas ini memiliki kualitas yang sangat baik –bahkan tidak berbeda dengan produk baru tanpa daur ulang atau fresh product.

Kemampuan industri kertas di Indonesia dalam pengolahan daur ulang kertas, saya rasa sangat mampu bersaing dengan proses daur ulang negara asing lainnya, hanya saja dibutuhkan bantuan masyarakat untuk memilah antara sampah organik dengan non-organik. 

Yang mana akan membantu pengepul sampah kertas dan plastik untuk mengumpulkannya dan menjual kembali kepada pabrik kertas dengan harga yang sangat murah, jauh lebih murah dari harga sebuah pohon. 

Desain khusus yang memiliki nilai jual juga diperlukan dalam industri kertas di Indonesia saat ini. Beberapa perusahaan yang telah mengganti penggunaan plastik dan kertas baru sebagai packaging-nya antara lain ZARA, GUCCI, H&M, Uniqlo, Addidas, Nike, dan masih banyak lagi. 

Hal tersebut tidak lepas akan kemampuan kolaborasi antara daur ulang kertas serta ide bagaimana cara menyajikan hasil akhirnya secara menarik dan memiliki nilai jual yang mahal. 

Dengan adanya suatu gagasan meminimalisir penggunaan kertas dan plastik dalam aksi penyelamatan bumi, tidak akan mengurangi atau menurunkan industri kertas dan plastik di Indonesia. Kiprah industri kertas dan plastik di Indonesia semakin cemerlang dengan sentuhan dan gagasan teknologi serta ide-ide setelah pengolahan daur ulang.