1 bulan lalu · 66 view · 5 min baca menit baca · Buku 39309_53912.jpg
Foto: hellosehat.com

Kertas sebagai Alat Relaksasi

Minggu lalu, saya bertemu dengan seorang ibu beranak tiga. Dengan saya dan seorang teman, ia mengeluhkan betapa susahnya mengendalikan anak untuk lepas dari gawainya. 

Segala cara telah ia tempuh. Mulai dari membatasi penggunaan gawai yang hanya boleh digunakan selama dua hari hingga membatasi akses aplikasi mana saja yang boleh digunakan.

Masalahnya, tidak semudah itu. Sebagai contoh, ketika anaknya diminta segera tidur malam, maka akan sulit. Mereka selalu memegang gawai ketika hendak tidur. Akibatnya, karena pengaruh gawai, sehingga tidur larut malam, anaknya sulit bangun pagi. 

Jikalau berhasil, anak tidak gampang dimintai tolong. Bahkan yang menghenyakkan bagi dirinya, emosi anaknya menjadi meledak-ledak. Ia menjadi khawatir. 

“Apakah benar bermain gawai hingga larut malam berdampak tidak baik bagi tubuh dan otak?”

Zaman sekarang, gawai telah menjadi candu. Tiap saat, tak hanya hitungan jam, menit bahkan detik, gawai selalu diakses. 

Yang menjadi masalah ketika anak "dikenalkan" gawai sejak dini. Saya bilang demikian karena ketika orang tua memegang gawai di hadapan anak, secara otomatis anak akan ikut mencoba gawai tersebut.

Kabar buruknya, anak ketergantungan terhadap gawai. Jika dilarang, kejadian seperti di atas bisa saja terjadi di keluarga kita. Dan lebih luar biasa lagi, anak lebih lihai berimprovisasi atas kenakalannya. 

Jika sudah melakukan cara-cara seperti di atas, ketika sang anak bermain dengan teman-teman sebayanya, dan melihat mereka bermain gawai, maka tebersit keinginan juga untuk menggunakan gawai. Dan akhirnya melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.

Seharusnya, jika orang tua menginginkan anaknya untuk tidak sering menggunakan gawai, orang tua harus menyiapkan benda atau menyibukkan diri dengannya. Masalahnya, sering kali, karena sudah sibuk dengan urusan pekerjaan, orang tua tak sempat menyiapkan pengganti gawai bagi anak-anak.


Lalu, teman saya berkata, “Mengapa tidak diminta membaca buku?”

Dahi ibu mengernyit. Kemudian bertanya, “Mengapa harus dengan buku?”

Dan teman saya menjawab dengan mantap, “Karena membaca buku adalah relaksasi, dan kertas adalah alat yang sempurna untuk mengantarkan tidur.”

***

Pernahkah kamu membaca buku kemudian menjadi mengantuk? Selalu atau sering? Jika jawabannya sering, kamu tak sendirian. Bahkan, hingga saat ini, saya selalu mengantuk saat membaca buku. Dan itu tidak tergantung waktu. Tak peduli siang atau malam.

Terkadang saya heran. Apakah karena isi buku tak menarik bagi saya? Atau karena saya yang tak terbiasa membaca buku? Atau karena buku kalah menarik daripada gawai?

Menurut hemat saya, pertanyaan ketiga lebih mewakili kenyataan saat ini. Iya, buku kalah dengan gawai. Kertas tak menarik dibandingkan dengan layar. Apalagi, buku tak menghadirkan visual bergerak seperti yang ada di gawai.

Lalu, apakah itu berarti buku sebaiknya dibuang saja? Atau bahkan dibakar hingga tak bersisa? Atau lebih baik tak usah saja memproduksi buku? Mana pilihan yang lebih bermanfaat?

Toh, kenyataannya memang, dalam sebuah penelitian, masyarakat Indonesia pun enggan membaca buku. Bahkan, Indonesia berada pada peringkat 61 dari 62 negara. Setingkat di atas dibandingkan dengan negara Bostwana. 

Jadi, apakah ketiga pertanyaan di atas sudah cukup terwakili dengan penelitian tersebut? Tunggu dulu.

Jika ingin melakukan respons dari pertanyaan pertama, kita perlu melihat fakta berikut ini. 


Dalam catatan Sustainable Waste Indonesia (SWI) pada tahun 2018, setidaknya Indonesia menghasilkan 65 juta ton sampah setiap hari. Lalu, sampah kertas menyumbang 9%. Artinya, ada 5,8 juta kertas yang terbuang dan bahkan tidak mampu untuk didaur ulang. Mengerikan, bukan?

Bagaimana jika kita memakai logika yang berbeda. Jika membaca buku dianggap membosankan, sudah saatnya membaca buku dianggap relaksasi. Lagi pula, membaca di layar dengan di kertas adalah sesuatu yang berbeda.

Para ahli bahkan menyebutkan “kelelahan mata digital” untuk proses penggunaan gawai yang berlebihan. Ada pancaran sinar yang berlebihan menusuk ke mata sehingga mata mudah lelah. Dan sering kali kita melakukannya menjelang tidur. 

Benar jika ada adagium membaca di layar membuat kita lebih nyaman dan menyenangkan. Tapi, apa jadinya jika malah membuat mata menjadi lelah bahkan hingga rusak?  

Berbeda dengan kertas. Tak ada sinar yang terpancar dari kertas. Yang ada, sinar lampu yang mengharuskan kita lebih mudah untuk membaca buku. 

Dan percayalah, banyak membaca buku (utamanya dari fisik) tidak menimbulkan kerusakan mata. Yang ada menambah informasi terus-menerus. Dan jelas, menstimulus otak untuk lebih baik.

Jika memang benar demikian bahwa membaca buku baik untuk relaksasi, maka mengapa tidak buat gerakan saja semisal “terapi relaksasi dengan membaca buku”? Toh, ini baik bagi masyarakat Indonesia. Mungkin juga bisa dianggap sebagai jalan alternatif dalam membaca buku.

Dan juga, baik untuk mengurangi limbah kertas. Bukankah itu yang menjadi problem permasalahan sampah di Indonesia? 

Sejak mula, kita sudah terbiasa dengan membaca dari bahan yang tidak menimbulkan sinar bagi mata. Dulu, kita mengenal bacaan dari dinding, batu, atau daun. Sekarang, kita beralih di kertas dan itu telah awet hingga saat ini.

Dengan demikian, fenomena membeli buku tapi tak sempat dibaca karena tak ada waktu, bisa beralih slogan, “mau mudah tidur, bacalah buku.” Saya kok cukup yakin apabila gerakan itu digaungkan akan banyak manfaatnya.


Pertama, kelelahan akibat menatap layar, apalagi menjelang tidur bisa tergantikan dengan membaca buku. Kedua, produksi buku tak lagi macet, begitu pula dengan kertas. Ketiga, buku sebagai alat alternatif bagi manusia yang terjangkit insomnia.

Jika itu berhasil, ekonomi meningkat, industri kertas makin menemukan jalan terangnya, apalagi bagi produsen buku. Justru ini akan menjadi makin menarik di tengah gempuran buku digital. Dan ini bisa diterapkan ke anak-anak sejak dini.

Kita tak akan lagi hanya menemukan orang berbondong-bondong ke toko buku saat anak masuk sekolah. Kita tak akan lagi mengalami ketertinggalan pengetahuan. Dan yang paling penting, penggunaan kertas yang selama ini dianggap sarana negatif justru menjadi sarana alternatif.

Jikalau kemudian berhasil, Indonesia menjadi pionir bagi negara lain. Catatan bahwa stres atau depresi yang tinggi bisa dikurangi bahkan dihilangkan dengan membaca buku. Selembar kertas bisa menyegarkan pikiran dan jiwa. Yang paling penting, kertas dapat menjadi alat paling baik untuk menyehatkan mata.

Kita memang tak bisa menangkal gempuran layar, baik dari gawai hingga laptop. Zaman penerimaan informasi makin berkembang. Inovasi makin beraneka ragam. Jika tidak bisa menangkal, maka seperti yang telah saya sebutkan di atas, mengubah pola pikir.

Ini memang tak mudah. Setiap elemen, baik dari pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat, saling berkelindan untuk menciptakan kerja sama dalam rangka inovasi tentang kertas sebagai alat relaksasi. 

Jadi, saya, kamu, dan kita semua wajib mendukung gerakan ini. Bukankah menyenangkan apabila gagasan menjadi tindakan kemudian berakhir dengan kebijakan? Maka dari itu, mari bersama dan bergandengan tangan, dengungkan dan berbuat nyata. Kertas adalah alat relaksasi yang nyata dan bermanfaat bagi manusia.

Artikel Terkait