Bagi sebagian besar orang yang mengenyam pendidikan tinggi, kehadiran fotokopi bukan hal baru, karena tiap sudut di balik kampus keberadaannya menjamur. Ia menjadi tempat bersahabat bagi mahasiswa yang di kos atau rumahnya tak memiliki mesin cetak. Tinggal mengeluarkan kocek yang bersahabat bagi kantong pelajar, beberapa halaman pun yang hendak dicetak atau digandakan beres dalam beberapa menit.

Saya pernah mengenyam pendidikan tingkat universitas dan menjadi pelanggan paling setia fotokopi. Sudah mafhum bagi khalayak kampus kalau tiap hari tanpa ke sana bagaikan kuliah tanpa tugas. Itu yang saya alami, sejujurnya, bahwa ketika tiap dosen memberikan tugas harian atau mingguan, sudah pasti saya memanfaatkan fasilitas fotokopi.

Walaupun di fakultas tempat saya belajar menyediakan mesin cetak, banyak mahasiswa tak memanfaatkannya karena pertimbangan personal. Sebagaimana penjaga perpustakaan yang terkenal cuek dan galak, penjaga fotokopian kampus pun juga demikian ekspresinya. Keadaan inilah yang membuat mahasiswa cenderung memilih fotokopi di luar universitas ketimbang di dalam kampus.

Yang menarik dari kisah saya adalah bagaimana mekanisme cetak-mencetak yang melibatkan kertas, fotokopi, dan tugas kuliah membentuk pola sebab-akibat yang menguntungkan. Kenapa demikian? Tulisan kali ini akan berbagi pengalaman mengenai hal tersebut dengan mendasarkan pengalaman pribadi sebagai pijakan empiris.

Menghabiskan masa studi di sebuah universitas negeri di Yogyakarta membuat saya familier dengan dinamika perkampusan. Ada hal unik yang selalu terulang tiap tahun dan ini menjadi penanda kalau mahasiswa selalu diasosiasikan dengan tugas akhir. Pada tiap kampus, tugas akhir berupa skripsi bukan sekadar tugas untuk menggugurkan kewajiban. Ia juga sebuah laku untuk melawan “kemalasan” diri sendiri.

Mahasiswa yang sedang atau telah skripsi kerap kali mengeluh kocek finansialnya tersedot habis untuk ke fotokopi. Ratusan kertas berisi coret-coretan komentar atau nyinyiran dari dosen selalu didapatkan. 

Kertas yang semula bersih dan rapi, saat pulang dari meja dosen, skripsi tersebut kumal dan kusam. Di sinilah para mahasiswa bimbingan ini terkadang stres melihatnya. Namun, ketika usaha perbaikan dilakukan, menuju ke fotokopi pun diperjuangkan, kertas-kertas baru berisi revisian siap untuk kemudian diajukan kembali.

Repetisi pola semacam ini berjalan sampai dosen mengatakan pantas untuk diujikan ke hadapan penguji pendadaran. Saya pernah merenungi, baik sebagai pelaku maupun pengamat, kalau selama proses skripsi, siapa yang sesungguhnya diuntungkan secara finansial? Tentu kita dengan mudah mengatakan: fotokopi! Saya sepakat dengan jawaban ini, tetapi atas argumentasi sebagai berikut.

Rata-rata fotokopi didatangi lebih dari lima puluh pelanggan. Fotokopi yang saya maksudkan di sini adalah yang berada di radius 100 meter sekitar universitas. Bayangkan bila para mahasiswa yang ke sana itu membawa dokumen masing-masing, entah itu tugas kuliah ataupun skripsi, yang tiap file berisi lebih dari lima halaman, berapa rim kertas yang digunakan di sana? Tak terhingga!

Saya melihat juga kalau masing-masing fotokopi di sekitar kampus tersebut cenderung menyetok berkardus-kardus kertas A4 (210 x 297 mm) dengan perhelai berbobot 70 g/ dan aneka variasi lain. Ketika saya tanya hendak dikemanakan kertas-kertas bekas karena salah cetak atau berupa potongan-potongan tak berguna itu, petugas fotokopi itu sontak menjawab: sebagian besar dikilokan, namun ada yang dicetak kembali, tergantung kebutuhan masing-masing.

Saya membayangkan jumlah distribusi kertas yang dipakai untuk kepentingan pelanggan dan yang hendak dikilokan itu apakah ekuivalen. Kalau tidak, pada titik mana gapnya? 

Mungkin itu jenis pertanyaan komparatif untuk melihat pemasukan dan pengeluaran apakah seimbang. Nilai kesimbangan inilah yang saya pertanyakan, sebagaimana menanyakan produksi kertas yang berbahan kayu itu, apakah juga dibarengi dengan penanaman pohon secara massal.

Tanpa etika keseimbangan yang dimaksudkan di sini, alih-alih kertas yang secara aksiologis menguntungkan bagi manusia itu, malah justru bisa menjadi bumerang bagi lingkungan. Praktis, penguraian kertas oleh tanah bisa cepat, bukan seperti barang berbahan plastik lain. Tetapi bukankah ini tak lantas merupakan problem penguraian semata? 

Etika kesimbangan dapat berarti: kertas yang disimpan mahasiswa, apakah juga memenuhi kamar pribadinya, sehingga menumpuk tak terpakai. Bukankah kalau ia memanfaatkan (barang bekas) kertas tersebut akan lebih etis?

Etika penggunaan kertas oleh pihak yang digadang-gadang menjadi cendekiawan muda itu, saya kira, jauh dari ideal karena ketaksadarannya maupun keacuhannya. Ini problem besar yang dapat ditelisik lebih lanjut dalam rangka penelitian fenomenologis. 

Masalah kertas di lingkup perguruan tinggi, karenanya, bukan semata bagaimana mendaur ulang, melainkan juga bagaimana etika mahasiswa terhadap benda paling “bermanfaat tapi acap tak dianggap eksistensinya” itu.

Saya pikir, dunia pendidikan mesti menjawab masalah ini di dalam kajian ilmiahnya di kelas. Penelitian-penelitian yang bersifat tindakan (praksis) mesti dilakukan dalam upaya mengajarkan generasi muda cerdas memanfaatkan kertas sebagaimana mestinya. Kalau tidak dunia pendidikan, ke siapa lagi kita akan bergantung?