Tahun 2045 atau revolusi industri 4.0 digadang-gadang akan menjadi era baru dimana keanekaragaman kemajuan dan teknologi ilmu pengetahuan akan menghiasi cakrawala kehidupan manusia.

 Untuk menyambut era itu, pelbagai persiapan sudah mulai terlihat marak dilakukan. Sebagaimana yang terjadi di lembaga perguruan tinggi negeri maupun swasta. 

Dalam rangka memeriahkan penyambutan era itu, civitas akademika tidak mau ketinggalan. Mulailah kemudian bermunculan inovasi-inovasi wacana, ide, dan aplikasi yang menunjang jalannya era tersebut.

Namun, dibalik romantisme masa depan itu, posisi kertas sebagai organ vital dalam dunia keakademikan mulai tergantikan dengan sosok baru anak kandung revolusi industri 4.0, yaitu digitalisasi.

 Digitalisasi merupakan proses pemberian atau pemakaian sistem digital dimana benda tiga dimensi dipreteli menjadi benda dua dimensi. 

Imbasnya, terutama dalam bidang keakademikan: data-data, informasi-informasi, dan tulisan-tulisan yang awalnya terdapat dalam kertas-kertas beralih rupa menjadi himpunan tanda-tanda aksara yang memiliki makna dalam penjara media.

Pertanyaannya, bisakah kertas bertahan dari gempuran digitalisasi tersebut?.

Baiklah, untuk menjawabnya, mari kita kembali ke masa lalu dimana kertas menjadi primadona manusia.

Jauh sebelum masehi, kira-kira 40.000 tahun yang lalu, kebudayaan menulis sudah  mulai digandrungi, terutama untuk menuliskan hasil capaian peradaban manusia.

Mula-mula, tulisan-tulisan tersebut tersebar di dinding-dinding gua dimana manusia menetap pada zaman berhuma dan bercocok tanam. Setelah beberapa abad berlalu, sekitar 3150 SM, di Mesir kuno telah dikenal media-media menulis. Salah satunya adalah papirus, tanaman pandan-air yang tumbuh subur di Mesir kala itu. 

Dari kata inilah kemudian dikenal istilah paper dalam bahasa Inggris, Papier dalam bahasa jerman, dan papel dalam bahasa spanyol.

Kemudian, beralih dari dataran Mesir, di bagian timur dunia: China, telah ditemukan sebuah media menulis berupa kertas yang dicetuskan oleh Cai Lun, seorang pejabat pengadilan pada masa kekuasaan dinasti Han. 

Kertas ala Cai lun ini terbuat dari campuran bahan-bahan berupa rami, kepompong sutra tua, kain, jaring ikan dan kulit kayu. Bahan-bahan tersebut kemudian dilebur dan dimasak. 

Kemudian hasilnya di tumbuk dan dicampur dengan kolaborasi air dan tepung sebagai alat perekat. Setelah dikeringkan, Cai Lun mendapati bahwa eksperimennya itu menghasilkan lembaran kertas yang ringan dan efisien untuk dibawa kemana-mana.

Sejak saat itu, kertas sebagai media menulis menyebar keseluruh dataran China, bahkan seantero dunia.

Pada abad pertengahan, terjadi persebaran yang signifikan dimana teknik pembuatan kertas menyentuh peradaban Islam, terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang oleh pasukan Abbasiyah pada peperangan Talas tahun 751 M. 

Para tawanan perang yang lihai dalam pembuatan kertas kemudian mengajarkan teknik tersebut kepada orang-orang Arab. 

Sehingga dapat dikatakan, akibat dialektika dan komunikasi budaya inilah yang menghantarkan dinasti Abbasiyah menuju pucak kejayaannya dalam bidang intelektual. 

Keahlian ini kemudian berkembang ke Barat melalui Spanyol, terutama setelah jatuhnya Granada ke tangan Ratu Issabella dan Raja Julian.

Di Eropa, sejak revolusi industri pertama akibat ditemukannya mesin uap, penemuan-penemuan alat produksi mulai marak dilakukan.  

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan kertas dalam bidang tulis-menulis maupun bidang-bidang lain seperti institusionalisasi keagamaan, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, seni, terutama perdagangan,  merespon peluang yang menggiurkan tersebut, para penemu berlomba-lomba menciptakan alat-alat yang efisien untuk membuat produksi kertas menjadi lebih mudah.

Pada tahun 1799, ditemukanlah mesin pencetak kertas oleh seorang berkebangsaan Prancis bernama Nicholas Louis Robert. Mesin ciptaannya ini kemudian diperbaharui oleh Henry dan Sealy Fourdrinier dengan menambahkan beberapa bagian mesin untuk mendapatkan hasil kertas yang tipis dan kuat. 

Mesin modifikasi fourdrinier inipun kemudian berkembang dan mendapat pembaharuan-pembaharuan oleh ilmuan setelahnya. 

Seperti ditemukannya mesin silinder oleh John Dickson, pembuatan pulp dari kayu oleh Friederich Gotlob keller, penambahan soda oleh Charles Watt dan Hugh Burges, penyampuran sulfit oleh Benjamin Chew Thligman, dan penemuan metode Kraft oleh Carl Dahl yang menambahkan unsur sulfat dalam pembuatan kertas.

Dengan ditemukannya mesin-mesin industri dan pembaharuan-pembaharuan yang menyongsongnya, industrialisasi kertas semakin memudahkan manusia dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Lain halnya dengan awal abad modern, Industri kertas berkembang dengan pesat. Karena permintaan akan kertas semakin meningkat, pabrik-pabrik kertaspun mulai banyak didirikan. 

Para ilmuanpun semakin digenjot untuk menemukan alat-alat canggih guna menjalankan roda produksi pabrik. Modul perkuliahan lembaga pendidikan perguruan tinggi mulai dikonstruk untuk memenuhi kebutuhan akan alat-alat tersebut. 

Alhasil, penemuan demi penemuan berhasil diciptakan. Mesin produksi sedikit demi sedikit mulai mempercepat proses produksi kertas.

Akan tetapi, karena bahan baku kertas adalah serat kayu, timbullah problem lingkungan yang menjadi sorotan para aktivis. Kertas dinilai tidak efisien dan mengeksploitasi alam. 

Seiring meningkatnya kebutuhan bahan dasar serat kayu oleh pabrik menyebabkan penebangan terhadap pohon semakin bertambah. 

Masalah ini semakin meruyak dikarenakan ketidakseimbangan antara penebangan pohon dengan pertumbuhan pohon itu sendiri. Sebagaimana dibayangkan, pohon membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk siap dipanen. 

Sedangkan, ini berbanding terbalik dengan kebutuhan pabrik yang kompleks karena didesak tuntutan pasar dunia.

Merespon problem rumit demikian, muncullah sebuah inovasi baru sebagai implikasi dari kemajuan teknologi, yaitu digitalisasi. 

Digitalisasi meniscayakan perubahan paradigma segala bidang, termasuk tulis-menulis, penelitian, dan pendidikan.

 Berpindahnya paradigma manual menuju paradigma digital menyebabkan eksistensi kertas mulai redup. Contohnya adalah banyaknya aplikasi tulis-menulis digital seperti Microsoft Words, Note-Pad, G-Mail dan lain-lain. 

Juga dalam ranah akademik, mulai marak sumber pengetahuan digital seperti e-book, e-journal, dan e-library yang dengan mudah diakses oleh seseorang melalui internet.

Namun ditengah gempuran eksistensi tersebut, Penulis kira kertas akan tetap eksis walaupun dilanda badai digitalisasi. 

Karena, ada beberapa aspek khas kertas yang tidak bisa dicuri oleh digitalisasi, yaitu hal-hal penting seperti kenangan, pengalaman, penjiwaan, keseruan, kerahasiaan, cinta, rasa, sakralitas, singkatnya adalah cita rasa alamiah manusia yang mempunyai intuisi dan nalar esoterik.

 Contohnya adalah surat cinta, ia merupakan saksi bisu kisah cinta yang tak akan pernah ditelan masa dan akan selalu terjaga di dalam lubuk hati si pecinta. Ia berisi kenangan manis dimana hati si pecinta dibuat berguncang olehnya.

 Contoh lain adalah surat nikah, rasa bahagia bersatu bersama yang dicinta menyebabkan surat nikah menjadi saksi atas cuplikan kebahagiaan mereka. 

Dokumen-dokumen resmi pun tak mau ketinggalan  dalam merayakan festival keberadaan kertas. Ia menjadi “orang ketiga” dari secercah peristiwa yang meliputinya. 

Bahkan, dalam agama sendiri, kertas turut andil dalam membangun cita rasa umat. 

Contohnya adalah kitab suci, unsur-unsur seni yang terkandung didalamnya, unsur-unsur sakralitas yang menyelimutinya memetaforakan sebuah alunan irama yang merdu dan indah  berhiaskan adab yang luhur dan penjiwaan yang menggetarkan qolbu. Indahnyaaaaa.....

Setelah puas penulis mencurahkan sekelumit dinamika tentang kertas, penulis berkesimpulan bahwa bagaimanapun dan sampai kapanpun, kertas akan tetap eksis sepanjang masa. Karena ada aku, kamu, kita dan mereka terselimuti anugerah cita rasa oleh Tuhan Yang Maha Esa.