Kertas sebagai lembar dan juga satuan, merengsek masuk ke dalam setiap peradaban manusia, dan menyentuh pohon sosial dari akar hingga pangkalnya. Kertas, yang juga terbuat dari kayu, bambu, pohon papirus, dan kulit binatang ini, menjadi hal yang tak bisa dipisahkan dari cara hidup, atau cara bertahan hidup beberapa orang. Walaupun kertas kadang menjadi membentuk hubungan yang ekslusif antara individu, maupun kelompok.

Ekslusitifitas kertas dalam satuan, buku misalnya—buku bacaan dalam hal ini, seringkali dipandang sebagai sesuatu yang paling berguna untuk alasan diciptakannya kertas. Ini biasa dibarengi dengan kesan ‘intelektualitas’ yang mengekor di belakangnya.

Saya sepakat akan kegunaan itu, jika buku-buku yang dihasilkan pun berguna untuk kehidupan sosial, atau yang paling paripurna, menjadi arsip dan dokumentasi yang merekam kompleksitas ruang dan waktu dalam tiap lembarannya.

Ada sebuah dikotomi yang aneh, di mana buku dan warga dipisahkan oleh kata ‘asing’. Saya percaya, keterasingan mereka yang dimaksud, adalah soal kegunaan buku untuk kehidupan mereka. Terutama menyangkut masalah ekonomi. Ini berimbas pada masalah kesempatan.

Mereka yang katanya terasing itu, tidak punya waktu, kesempatan, bahkan akses untuk berkelindan mencari guna dalam lembaran-lembaran buku. Perut dan buku akan akur jika masalah ekonomi secara individual, dan secara sosial dapat teratasi, bahkan akan saling menunjang. Dari buku, menuju ekomoni, atau sebaliknya.

Dikotomi ini akhirnya berimbas pada kesan. Dikotomi yang tidak akan menjadi adil, jika kita dapat melihat, bagaimana kertas oleh mereka, dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Koran, buku bacaan maupun buku tulis, atau kertas yang memang dibuat untuk kegunaan lainnya, dimanfaatkan oleh mereka secara baik. Sampah adalah urusan lain.

Saya pribadi, menggunakan dan mengalami manfaat kertas dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pagi, saya akan beranjak mencari sarapan. Nasi kuning berisi mie putih, dengan lauk ayam atau telur, dibungkus oleh seorang ibu dengan cekatan. Setelah makan, segelas kopi sudah tersedia. Tinggal menyulut api untuk membakar sebatang rokok yang membuat diri ini lebih bergairah.

Kertas-kertas yang membungkus tembakau dan cengkeh itu, walaupun telah jadi abu, mengepulkan asap yang bagi saya, asupan bagi otak yang linglung sehabis tidur beberapa jam. Sembari membaca sebuah buku, pagi seperti lipatan kertas dengan nomor halaman yang sama.

Tentu saja ini bukan hanya terjadi ketika pagi. Siang hari, saya beranjak menuju sebuah café. Saat ini saya sedang tinggal di Nabire, Papua. Jaringan internet yang tidak mendukung, dan aktifitas saya yang sering menggunakan jaringan itu, harus mencari café yang menyediakan jasa penggunaan jaringan. Walaupun harus merogoh kocek sebanyak sepuluh ribu selama satu jam, dua puluh lima ribu selama tiga jam, atau lima puluh ribu sebanyak tujuh jam, café itu selalu ramai—internet belakangan seperti narkoba yang mahal tapi terus dikonsumsi karena telah menjadi candu.

Dengan kertas berbentuk segi empat, ID password dan user yang masih tertutup, digosok terlebih dahulu agar terbuka. Seperti undian. Sebuah kertas yang kecil, namun mengantarkan penggunanya berkeliling dunia, melihat postingan terakhir mantan, atau sekadar menghabiskan waktu dalam sebuah dunia lain bernama internet.

Kertas sudah seperti kebutuhan primer dalam kehidupan manusia. Awalnya, kertas difungsikan sebagai media, walaupun masih berlaku sampai sekarang: membungkus nasi, tembakau dan cengkeh, baca-tulis, hingga hal-hal yang politis. Kertas sebagai alat politis, biasa kita jumpai dalam bentuk jargon dan tanda larangan.

“Dilarang buang ludah pinang di sini!!!” Dengan tiga tanda seru, kertas menjadi media untuk melarang aktifitas yang dapat mengganggu kenyamanan sosial yang menyangkut kebersihan. Kertas mengganti mulut manusia. Kertas mengganti nada yang tentunya dengan tiga tanda seru, akan terdengar seperti membentak. Kertas mengurangi energi yang sia-sia hanya untuk marah.

Kertas menjadi sebuah media yang tidak hanya menggiring, namun bisa menyampaikan maksud dengan cara yang sopan. Orang yang membaca pun, tidak akan bisa memarahi kertas itu dengan mengatakan, “Ini mulut saya, kok. Mau buang di mana, terserah saya.” Yang akan memicu perdebatan panjang lagi, dan bisa berakhir pada perkelahian.

Selain itu, kertas juga dalam ranah yang lebih luas lagi, menjadi cara hidup yang tak terelakkan. Kertas menjadi bukti kepemilikan, menjadi bukti identitas, menjadi simbol intelektualitas, menjadi penanda, dan yang paling romantis, menjadi bukti rasa cinta kita kepada seseorang. Kertas pada masanya, menjadi media yang populer untuk menyampaikan rasa cinta. Bahkan kita mengenal burung merpati sebagai penyampai pesan, karena menjadi pengantar surat-surat itu.

Sekarang tidak lagi dengan burung merpati. Bermodalkan kertas hourvrij schrijpapier—dalam bahasa Belanda berarti kertas bebas serat kayu (biasa kita kenal dengan nama kertas HVS), spidol , peralatan mendaki, ransum selama beberapa hari, seorang pria atau wanita nekat mendaki gunung setinggi seribu meter di atas permukaan laut (MDPL) bahkan lebih lagi, hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada kekasih atau orang yang ia sukai.

Senior saya di kampus, seorang lelaki berusia 26 tahun—namanya dirahasiakan untuk menghormati privasi beliau, dan terlebih lagi perempuan itu sudah menikah—pernah mendaki Gunung Latimojong, gunung setinggi 3.478 MDPL, untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada perempuan yang ia sukai. Dengan cuaca yang buruk, badai, ia nekat untuk pergi mendaki bersama beberapa temannya.

Sampai di pos enam, mereka beristirahat, kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak pada subuh hari. Namun sial, ketika sudah sampai di puncak, kertas yang sudah ia tuliskan tertinggal. Sehingga ia harus turun kembali untuk mengambilnya. Kertas yang ditulis dengan ucapan dan disematkan harapan si penulis agar perempuan yang ia sukai kemudian takluk, telah difoto. Tanpa baju, rambut gondrong, ia memegang kertas itu di atas sebuah tiang yang dibuat terbuat dari semen, setinggi kurang lebih satu meter.

“Badai yang sesungguhnya datang bukan saat di puncak, justru di bawah,” kata senior saya, ketika kami berdua mengobrol di depan sekretariat tepat di bulan desember dan hujannya yang khas, dua tahun yang lalu. Perempuan yang ia sukai, ternyata telah menerima cinta seorang lelaki yang pun adalah teman dekat senior saya.

Bukan hanya kertas bertuliskan ucapan itu, bahkan ia telah menyiapkan buku Madilog karya Tan Malaka untuk dihadiahkan kepada perempuan itu. Ia menghadiahkan buku itu karena si perempuan sangat suka dengan Tan Malaka, dan setengah mati mencari buku itu. Walaupun senior saya tidak terlalu suka dengan Tan Malaka.

Kertas dalam cerita di atas, begitu berperan dalam sebuah peradaban, termasuk gaya dan cara menyampai-buktikan cinta di era ini. Walaupun senior saya harus ditolak secara tidak langsung sebelum kertas dan buku Madilog itu dibaca oleh perempuan yang ia sukai. Saya pun pernah melakukan hal yang sama. Tapi tidak sesakit senior saya.

Pengalaman saya dalam hal ini, mungkin lebih kepada kertas sebagai pengganti identitas. Kartu tanda penduduk (KTP) saya sudah mati pada tahun 2014. Saya banyak melewatkan undangan untuk keluar daerah, karena saya tidak memiliki KTP. Kartu identitas saya, sama sekali tidak ada. Saya tidak membuat kartu mahasiswa sejak saya masuk kuliah, saya tidak membuat kartu perpustakaan, dan penunjang lainnya.

Kartu keluarga saya berada di Nabire, sedangkan saya menetap di Makassar. Ijazah, akta kelahiran, dan lainnya, tidak saya ingat, sampai ketika saya mengemas barang untuk kembali ke Nabire. Ternyata ia tertumpuk dalam sebuah kopor yang selama ini saya kira kosong, dan kertas-kertas itu saya kira tertinggal di Nabire.

Kertas menjadi begitu penting dalam kehidupan dari tingkat rumah tangga, hingga negara. Ia menjadi media yang kompleks. Dari sarapan, kesan, harapan, hingga hal-hal yang menyangkut kenegaraan. Bahkan kertas menjadi sebuah bukti dari keberadaan dan identitas kita secara pribadi. Kertas merengsek masuk dari yang paling kecil hingga yang paling besar.

Saya ingin meminjam dan merubah sedikit kutipan dari puisi Sapardi Djoko Damono: “Yang fana adalah waktu, kertas abadi.”[]