Kertas merupakan produk peradaban manusia yang sangat berperan dalam kemajuan teknologi di muka Bumi. Gagasan, teori, sastra, dan seni dituangkan dalam media kertas. Kertas bukan hanya sekedar wadah komunikasi dan kreativitas tetapi juga berperan dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia lainnya. Sebut saja, tissue, kardus, bahkan peralatan makan terbuat dari kertas.

Awalnya, manusia berkomunikasi dan melakukan kreativitas menggunakan media seperti batu, tulang, logam, dinding gua, dan hingga akhirnya menggunakan serat tanaman seperti Cyperus papyrus. Serat tanaman ini yang digunakan bangsa Mesir Kuno untuk membuat bahan serupa kertas.

Penemuan kertas dimulai pada kekaisaran Dinasti Han (202 SM-220 SM), sebuah dinasti yang berasal dari negeri Tiongkok (Cina).  Produksi kertas ini menggeser lempengan bambu dan lembaran sutera, bahkan digunakan sebagai alat pembayaran. Selanjutnya, kertas mulai tersebar ke bangsa Arab, Mesir, hingga akhirnya masuk ke daratan Eropa [1].

Penemuan teknologi komputer mulai menggeser keberadaan kertas meskipun tidak sepenuhnya. Teknologi memungkinkan kita untuk mengurangi kertas terutama dalam kegiatan administrasi atau komunikasi. Namun, pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat tetap membutuhkan kertas dalam kehidupan sehari-hari.

Konsumsi kertas di dunia sebanyak 394 juta ton dan diperkirakan akan terjadi peningkatan pada tahun 2020 sekitar 490 juta ton. Teknologi terutama media daring tidak menghambat perkembangan industri pulp dan kertas. Hal ini diprediksi dari 9 miliar penduduk tahun 2050, hampir 60-70% berada di Asia dan masih menggunakan kertas untuk berbagai kebutuhan. Saat ini Indonesia, menduduki peringkat 9 untuk produsen pulp dan peringkat 6 untuk produsen terbesar di dunia [2].

Penggunaan kertas yang semakin bertambah membuat geram beberapa aktivis. Topik mengenai kertas menjadi hal yang panas untuk diperdebatkan. Banyak aksi kampanye dan penyampaian pendapat mengenai kerusakan lingkungan selalu membawa isu kertas. Peserta  aksi selalu menyalahkan kertas yang diproduksi dari penebangan pohon di hutan. Sebegitu haram kah kertas sehingga kerusakan lingkungan selalu dikaitkan dengan kertas?

Apakah kertas merupakan barang ilegal? Bisa iya, juga bisa tidak. Dikatakan ilegal jika pulp dan kertas itu dibuat dari pohon yang diambil dari hutan alami. Namun, kertas bukanlah produk yang bisa dibuat dari pohon sembarangan melainkan dari pohon tertentu. Pohon-pohon ini biasanya ditanam di Hutan Tanaman Industri (HTI).

Hutan Tanaman Industri merupakan hutan yang ditanami tanaman industri seperti kayu dengan tujuan tertentu tanpa membebani hutan alami. Keberadaan Hutan Tanaman Industri ini sudah diatur dalam perundang-undangan. Dalam pembuatan pulp dan kertas, kayu yang biasa digunakan antara lain akasia, gerunggang, binuang, dan jelutung [3]. Selanjutnya, pinus dan kayu jati juga sering digunakan dalam pembuatan pulp dan kertas.

Sinar Mas Forestry sebagai pemasok bahan baku kertas Asia Pulp & Paper (APP) telah mengembangkan 3 (tiga) jenis tanaman lokal antara lain meranti kuning, geronggang, dan belangeran sebagai alternatif bahan baku pulp dan kertas. Hal ini sebagai antisipasi moratorium penanaman pohon akasia di lahan gambut [4].

Hutan Tanaman Industri (HTI) tetap menjadi kontroversi baik yang pro maupun kontra. Berdasarkan hasil penelitian Pirard et al. (2016)5, mengatakan bahwa terdapat persepsi positif dan negatif masyarakat sekitar terhadap keberadaan tanaman pinus dan jati serta tanaman akasia. Selanjutnya, perlu dilakukan perbaikan tata kelola hutan tanaman, peran negara juga perlu dipertegas dan diperjelas. Selain itu, perlu kontribusi masyarakat dalam perencanaan seperti klaim lahan, organisasi buruh, termasuk kontrak kerja dan distribusi tata ruang hutan tanaman. Hal ini digunakan untuk menghindari terjadinya konflik dengan nilai lokal masyarakat.

Produksi kertas yang terus meningkat tanpa diimbangi dengan peremajaan tanaman dan pohon sebagai bahan baku kertas, memang akan merusak lingkungan. Hal ini karena, perusahaan kurang bisa melakukan inovasi. Perusahaan yang kurang berinovasi pasti akan menggunakan pohon dari hutan alam di sekitarnya. Seharusnya, perusahaan perlu melakukan inovasi dengan menggunakan bahan lain sebagai komposisi campuran pembuatan kertas.

Permasalahan kertas bukan sebatas produksinya dengan menebang pohon di hutan. Jangan kambing hitamkan kertas sebagai perusak lingkungan. Namun, refleksikan diri kita apakah sudah menggunakan kertas dengan bijak? Penggunaan kertas secara tidak bijak juga akan membuat menumpuknya kertas sebagai sampah.

Solusi lingkungan yang selalu diangkat adalah dengan gerakan paperless di kantor, sekolah, atau instansi lainnya. Dengan paperless maka seakan-akan dunia akan selamat dari pemanasan global. Gerakan paperless memang baik tetapi bukan satu-satunya cara mengatasi pemanasan global. 

Terkadang kita paperless untuk mencetak tulisan atau sekadar mengumpulkan tugas di sekolah. Namun, kita lupa bahwa seringkali menggunakan tissue tidak efektif, atau kertas-kertas lain yang sebenarnya bisa digunakan dengan bijaksana.

Perusakan hutan dengan menebang pohon sembarangan akan menyebabkan hutan tidak bisa melaksanakan fungsinya sebagai paru-paru dunia. Penebangan hutan tidak sesuai aturan atau illegal logging merupakan musuh kita bersama. Selain itu, perusakan hutan juga terjadi akibat pembukaan lahan baik untuk pertanian, perkebunan, dan perumahan. Pembukaan lahan dengan cara dibakar akan berakibat menjalarnya api dan membakar hutan lainnya yang bukan target sasaran.

Sinar Mas sebagai perusahaan yang peduli terhadap lingkungan hidup membuat salah satu program dengan nama Desa Makmur Peduli Api (DPMA). Program ini akan dijalankan di 5 (lima) provinsi yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. 

Dengan adanya program ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa, mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, serta potensi gangguan hutan sehingga terwujud desa yang bebas api dari kebakaran hutan [6]. Hilangnya pohon di hutan dan kebakaran hutan juga dapat menyebabkan pemanasan global.

Pemanasan global bukan sebatas hilangnya pohon yang ditebang di Hutan Tanaman Industri untuk dibuat pulp dan kertas. Pemanasan global sebagian besar diakibatkan oleh penggunaan mesin atau kendaraan yang menghasilkan gas buangan karbon. Penggunaan bahan bakar fosil dalam industri atau pabrik juga turut menyumbang emisi gas karbon di atmosfer. Gas karbon yang banyak di atmosfer inilah yang akan menyebabkan pemanasan global.

Kebakaran hutan menjadi salah satu pemasok gas karbon di atmosfer. Selain itu, aktivitas pemborosan seperti tidak menghabiskan makanan dan membuang sampah makanan juga menjadi faktor terjadinya pemanasan global. Pemanasan global merupakan masalah kompleks yang bukan hanya berasal dari satu masalah yaitu penebangan pohon untuk pembuatan kertas.

Hidup hemat dan berhati-hati itu penting agar sumber daya alam terutama hutan yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita bisa dimanfaatkan dengan bijaksana. Pemanfaatan alam harus mengutamakan kesejahteraan bagi makhluk lain. Seperti filosofi orang Jawa yang berbunyi, 

“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”. 

Artinya, sebagai manusia yang hidup di dunia ini harus mengusahakan dan mengutamakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Selanjutnya, bisa memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

Kertas memang bukan satu satunya agen perusak lingkungan. Penggunaan kertas secara bijak justru akan menyelamatkan Bumi dari kerusakan. Melalui kertas, kita bisa menuangkan ide-ide untuk menyelamatkan Bumi. Solusi-solusi seperti pemanfaatan kembali kertas menjadi barang-barang yang berguna dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

Melalui kertas, kita bisa melakukan kreativitas. Kertas yang tidak terpakai baik itu dalam bentuk lembaran atau kardus dapat dibuat menjadi barang bernilai seni dan ekonomi yang tinggi. Kertas dari koran dapat dibuat menjadi hiasan dengan teknik quilling art. Selain itu, kardus bekas bungkus air mineral atau barang elektronik juga bisa dimanfaatkan menjadi rak buku.

Jika bicara kertas, hati selalu was-was karena kertas dianggap penyebab Bumi panas. Tanpa kertas jiwa menjadi cemas. Cemas karena kurangnya kreativitas. Kreativitas yang tanpa batas.

Referensi:

[1] Kontenesia. 2015. Sejarah Kertas – Perjalanan Panjang Menembus Peradaban yang Berakhir secara Digital. Online at https://kontenesia.com [diakses 02 April 2019, pukul 08.30].

[2] Pikiran Rakyat. 2016. 2017, RI produsen kertas nomor 6 terbesar dunia. Online at http://www.kemenperin.go.id [diakses 02 April 2019, pukul 08.55 WIB].

[3] Ramadhani M & Ilham Ilham. 2015. Ini tujuh kayu untuk industri kertas temuan Indonesia. Online at https://www.republika.co.id [diakses 02 April 2019, pukl 09.47 WIB].

[4] Ariyanti F. 2016. Sinar Mas kembangkan 3 tanaman lokal untuk bahan baku pulp. Online at https://www.liputan6.com [diakses 02 April 2019, pukul 09.53 WIB].

[5] Pirard R, Henri Petit, Himlal Baral, & Ramadhani Achdiawan. 2016. Dampak Hutan Tanaman Industri di Indonesia. Analisis persepsi masyarakat desa di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. CIFOR Occasional Paper, 1-34. DOI: 10.17528/cifor/006137.

[6] Sanusi S. 2016. Grup Sinar Mas promosikan Desa Makmur Peduli Api. Online at http://www.tribunnews.com [diakses 02 April 2019, pukul 10.47 WIB].