"Ma.. Aku disuruh beli buku paket sama bu guru!" 

"Pa.. Aku mau beli buku tulis untuk les privat nanti!"

"Mbak.. Aku mau beli buku novel untuk baca-baca nanti!"

Diatas merupakan contoh permintaan seorang anak yang memohon pada orang tua dan kakaknya akan kebutuhan akademisnya kelak. Kebanyakan dari anak sekolahan disuruh untuk memiliki banyak buku guna mencatat penjelasan ibu bapak guru dalam kelas, mengerjakan tugas dari sekolah, dan semoga dapat dibaca-baca di kemudian hari. Berharap anak didiknya ini menjadi anak yang berilmu lagi berprestasi di segala bidang studi, dan para orang tua bangga pada anaknya yang sukses dunia akhirat. Namun, untuk mencapai demikian, dibutuhkan pula niat dan usaha. Terutama dalam dialog diatas, sang anak meminta dibelikan buku, buku, dan buku karena sang anak mengerti buku adalah jendela dunia. Orang tua dan kakaknya pun mengangguk sepakat.

Ternyata, buku yang dominan ada di tempat-tempat akademis terbuat dari beberapa helai kertas yang berisikan tulisan. Tulisan dari para pakar ilmuwan yang ditumpahkan di atas hamparnya kertas. Siapa sangka hanya tumpukan buku bisa membuat orang cerdas. Seperti layaknya tokoh B.J.Habibie, presiden republik Indonesia ke-3 yang dikenal "kutu buku"  ini sukses meraih penghargaan agung dari gagasan desain awal pesawat prototipe DO-31 yang kemudian dibeli NASA. Seorang yang dianugerahi Edward Warner Award oleh Civil Aviation Organization sebab kontribusinya pada penerbangan sipil. Itulah harapan bangsa Indonesia bila anak didiknya selalu terus rajin belajar demi mengejar impian terbesarnya, terlebih lagi turut andil dalam kemajuan negara ini. Pastinya sangatlah bermanfaat ilmunya karena tidaklah mudah untuk diwujudkan hanya jentikan jari saja.

 Ilmu merupakan suatu hal yang berharga dari apapun. Bahkan, ilmu dikiaskan sebagai "perhiasan"  oleh Syekh Az-Zarnuji dalam kitabnya, Talimul Mutaallim sebagai berikut : "Belajarlah, sesungguhnya ilmu itu menjadi perhiasan, keutamaan, tanda-tanda setiap akhlaq terpuji bagi pemilik ilmu."   Maka, siapakah yang tak ingin memperoleh mahkotanya ilmu? Di Indonesia, sebagaimana telah tertuang dalam Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 tentang pendidikan : "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan"  terlebih lagi pemerintah sudah memberlakukan wajib belajar 12 tahun dari jenjang SD sampai jenjang SMA sejak Juni 2015 silam. Inilah saking pedulinya pemerintah akan tuntutan ilmu yang telah mendorong peradaban bangsa menuju generasi terdepan. Dari ilmu pula, lahirlah tokoh-tokoh pendobrak zaman yang telah memunculkan penemuan demi penemuan tersohor guna memudahkan aktivitas sehari-hari. Itulah yang menyebabkan suatu bangsa dikatakan maju dan dijadikan sebagai kiblat ilmu pengetahuan. Lantas, apakah Indonesia hanya tinggal diam dan tertinggal? Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah berupaya serta bergerak di bidang pendidikan yaitu, berdirinya taman kanak-kanak dan sekolah.

Sekolah, suatu tempat yang dikenal para siswa untuk menuntut ilmu. Sedangkan segala ilmu banyak tertulis dalam buku-buku, kamus, dan ensiklopedia lainnya. Maka, tak heran lagi sekolah membutuhkan bertumpuk-tumpuk buku demi melancarkan kegiatan belajar mengajar. Perlu diperhatikan, buku-buku terbuat dari berhelai-helai kertas. Lalu, darimana asalnya kertas tersebut?

Timbulnya kesadaran tinggi akan pentingnya menuntut ilmu, pabrik-pabrik kertas sudah menjalar di berbagai sudut-sudut hutan karena bahan baku kertas ialah dari batang-batang pohon. Permintaan kertas yang berlebih dari pemerintah untuk menyalurkan buku kepada sekolah dan institusi akademik lainnya, dikhawatirkan akan mengalami kegundulan hutan. Lebih parah lagi, bila adanya demikian justru mengundang gejala-gejala alamiah seperti, longsor dan banjir besar. Seharusnya, pemerintah bisa mematok batas kuota penebangan pohon agar di lain sisi dapat menjaga kelestarian alam khususnya, hutan sebagai habitat satwa yang hampir punah. Jikalau sudah terlanjur terjadi, mau jadi apakah Indonesia? Sumber daya alam dihancurkan mendadak oleh ganasnya banjir atau longsoran tanah. Bukankah itu suatu kerugian terbesar di esok hari kemudian?

Pemerintah bisa saja sewenang-wenang menebang pohon mana saja demi buku sekolah asalkan anak didik bangsa ikut turut serta memajukan peradaban bangsa dan membangun Indonesia lebih baik lagi dari hasil penebangan hutan tersebut yaitu, buku. Namun sangat disayangkan sekali, di zaman serba elit ini, anak-anak bangsa yang dituntut negara untuk bersaing di mata mancanegara justru berbalik mundur dari panggung aksi dan duduk manis sambil menyaksikan bangsa lain memainkan peran istimewa dalam pengaruh globalisasi. Sebagaimana kata pepatah "Dikasih hati minta jantung"  berarti orang yang tidak tahu berterima kasih. Coba saja perhatikan keadaan sekitar, banyak sekolah tapi kelas pada kosong, kelasnya penuh tapi muridnya banyak yang tidur dan bercanda-canda tidak memperhatikan guru, perpustakaan penuh buku tapi tak penuh para pembaca. Apakah ini ciri-ciri manusia tak tahu diri? Bagaimana Indonesia ingin maju sedangkan muridnya membuat bobroknya masa depan bangsa?

Sekolah sudah sekian kalinya menuntut para muridnya membeli buku berjubel-jubel tapi hanya sebatas dipajang di lemari kamar. Jangankan dibaca, disentuh saja tidak. Bukankah buku hanya sebuah formalitas belaka agar sekolah disebut "benar-benar sekolah" ? Beli saja buku banyak! tapi hanya dibuka lalu membiarkan helai-helai kertas tertutup sendiri sekaligus tertutupnya impian besar para murid yang katanya cikal bakal pendobrak dari gemboknya kebodohan. Mana hasilnya? Zaman sudah berhilir lebih canggih dan segalanya hanya dalam satu genggaman. Mereka sudah terlanjur keracunan akibat gaya hidup kekinian! Internet dan kawan-kawanya lah penyebab utama akan kosongnya kelas dan terciptanya rasa malas untuk belajar. Internet yang dilahirkan guna kenyamanan aktivitas malah dibuat berhura-hura akan kesenangan duniawi. Bahkan, dampak buruknya berakhir tragis dengan kebodohan dan matinya akal.

"Ma..Aku mau beli hape yang mahal itu,lhoo"

"Pa..Aku minta dibeliin kuota internet donk!"

"Mbak... beliin laptop gaming donk buat refreshing!"

Pertanyaan seorang anak pun berubah drastis dan seakan tak butuh lagi kertas dan alat-alat sekolah lainnya. Si anak justru memaksa kedua orang tuanya dan kakaknya agar dibelikan. Jikalau tidak terpenuhi, bisa jadi anaknya melakukan tindak kekerasan bahkan kriminal sekalipun. Inilah racun internet yang berani melanggar hukum HAM. Sekolah tak pernah mengajarkan demikian dan buku-buku pun tutup mulut akan redupnya pendidikan bangsa. Sungguh menyedihkan!

Lihatlah mereka yang terbaring lemas di bawah kolong jembatan, mengemis dari  tangan-tangan peduli manusia lain, mengamen dari pagi sampai malam. Jangankan dapat hak pendidikan, untuk sesuap nasi pun jarang menyentuh lidah mereka. Lalu, sampai kapankah pendidikan menyebar merata ke seluruh warga? Faktor ekonomi di bawah rata-rata membuat mereka berpikiran pendidikan bukanlah suatu yang terpenting.

"Ngapain kamu sekolah? Ntar juga kamu jadi kuli bangunan, ngemis-ngemis lagi, dagang keliling sana-sini. Kan percuma!"

Benar sekali, prinsip mereka lebih memilih kenyang perut daripada kenyang akal. Sama saja layaknya meminta bodoh dan menolak kecerdasan. Di sisi lain, banyak anak yang terlantar yang butuh kehangatan akademis seperti kata orang tua mereka dulu "kamu harus jadi dokter, guru, direktur, dan pokoknya buat hidup kamu baik."  Sehingga rasa percaya diri untuk meraih cita-cita terbangun dari hidupnya yang kelam. Karena kebutuhan ilmu, mereka berusaha mengobrak-abrik tempat sampah demi menemukan buku-buku rongsokan dan lahirlah dengan inisiatif yang patut diacungi jempol. Dari sinilah, peran kertas yang mampu memberantas kebodohan dan mencerahkan masa depannya.

Bagi mereka yang bersantai-santai dan lebih memilih malas padahal sudah diberi buku-buku, perlukah kertas mengungkapkan identitas sejarahnya yang memukau? Dulu, dari zaman Tsai Lun, seorang yang menciptakan gagasan kertas  sampai akhirnya kertas menjadi bahan rebutan bangsa lain. Zaman Gutenberg, tulisan kertas sudah mulai rapih dengan hadirnya mesin ketik. Zaman tokoh-tokoh besar lainnya yang telah berjasa besar menemukan hal-hal baru yang bermula dari coretan-coretan kertas. Beberapa seni klasik hasil karya Da Vinci hanya sekedar coretan di atas kanvas namun membuat manusia terkesima akan keagungan karyanya. Lantas, zaman sekarang justru kertas dibuang percuma dan teronggok tak berguna. Bahkan, buku-buku akademis beraninya dijual harga murah atau "di-kiloin"  sungguh aneh tapi nyata! Adakah rasa peduli akan hadirnya kertas? Kertas bukanlah "habis manis, sepah dibuang."  Sekalinya ada malah dibuang. Lantas, bagaimana tingkat kesadaran sumber daya manusia di negeri ini? Apakah pola pikir mereka harus diatur ulang? Dimulai dari tulisan ini, semoga dapat menghipnotis mereka kembali ke jalan yang lurus, kembali bercita-cita, kembali melakukan metamorfosis pada negeri, dan kembali-lah pada buku yang karenanya mereka berilmu. Terima kasih.