Roel Meijer, dalam Global Salafism, menjelaskan bahwa tahun 1970-an, Jama’at al-Islami hanya dapat dibaca dalam keberagamaannya sebagai Jama’at, atau masyarakat religious (al-jama’at al-diniyah), mereka dipusatkan di universitas-universitas, bergerak secara independen, dan tidak mengikatkan diri pada organisasi lain seperti Ikhwan al-Muslimin.

Seperti halnya Ikhwan al-Muslimin, mereka tertarik sebagai posisi penyeimbang dalam suatu negara. Disamping mereka mengkaji fiqh dan tafsir, mereka juga melakukan latihan fisik dan pertahanan diri, sebagaimana yang pernah dilakukan Ikhwan al-Muslimin pada tahun 1940-an sampai 1950-an.

Penyebarannya di antara tahun 1974-1978 telah mencapai ribuan pengikut yang mendukungnya dengan memberikan donatur, seperti Abdallah al-Samawi yang telah berkonflik dengan pemerintah sejak tahun 1960-an.

Di paruh pertama tahun 1970-an, secara ideologis sebenarnya mereka belum matang. Pergerakannya tidak murni menyangkut kebijakan politik atau penegakkan suatu program tertentu. Kebanyakan anggotanya merupakan orang yang alim dan mencoba mengikuti paham “salafisme tradisional”, yang didirikan pada 1920-an.

Pergerakannya secara konservatif, ritualistis, berbasis pada konsep hisba (amar ma’ruf nahi mungkar) dan khususnya reaksi agitasi terhadap sufisme. Mereka hanya mencoba mengevaluasi persoalan-persoalan di sekitar mereka, yang mereka pahami sebagai kemunkaran. Apalagi di masa-masa awal, para anggotanya “tidak memiliki panduan” dan mereka membaca sendiri karya Salafi klasik Ibn Taimiyah, Ibn Qayim, dan Ibn Katsir.

Pembelajaran ini tidak dirangkul dalam satu kurukulum tertentu, atau setidaknya dalam panduan pembelarajan kader. Baru pada pertengahan tahun 1970-an, Jama’at al-Islami telah mengadopsi beberapa konsep revolusi potensial yaitu jahiliyah dan hakimiyah dari Sayid Qutub. Karya sejarahnya (Milestones) menjadi teks kunci dalam mengkader pada tahun 1980 dan banyak anggotanya yang telah memahami keseluruhan isinya secara mendalam.

Titik balik Jama’ah al-Islami dimulai sejak tahun 1977 ketika mereka sudah membentuk organisasi terstruktur dan terpusat, mereka menambah kekuatan mereka dengan jumlah kader yang semakin banyak dan meyebar. Di periode ini, kompetisi dengan Ikhwan al-Muslimin juga berkembang, sebagimana mereka juga berupaya merekrut generasi-generasi mudanya.

Secara mendasar, Jama’at al-Islami mengikuti metode deduktif dalam usahanya untuk membasmi kemunkaran. Tulisan-tulisannya dihubungkan kepada aksi dan Al-Qur’an dihormati sebagai sebuah program “metode aktivis” (manhajan harakiyyan) yang mengajarkan bagaimana membagun negara Islam. Politik dan agama merupakan satu kesatuan.

Pasca banyaknya problem sosial kemanusiaa yang diakibatkan oleh Jama’at al-Islami, yang menyeretnya pada term terorisme, pada tahun 2002 mereka mencoba memunculkan suatu bentuk revisi dari pemahaman mereka seputar takfir, jihad, dan hisbah. Revisi ini dimulai dari karya pimpinan keenam Jama’at al-Islami, kembali kepada corak pemikiran Ghazalian dan juga pemikir modern seperti Yusuf al-Qaradawi, bukan lagi bercorak Salafi.

Mengenai konsep hisbah yang diambil oleh Jama’at al-Islami dari Sayid Qutb sebenarnya hanya sedikit, dan itu adalah dari Ibn Taimiyah. Namun dari pemahaman tersebut mereka memperoleh susunan karakteristik dari “changing the forbidden/reprehensible” (taghyir al-munkar).

Ibn Taimiyah mengatakan, dalam kasus ekstrem hal itu menjadi kebenaran setiap subjek untuk melaksanakan hisba dan menggunakan kekuatan (force) tanpa ada sanksi dari negara.

Dengan menghubungkan hisba dengan tauhid ar-rububiyyah, hal itu kemudian menjadi kebutuhan untuk menyampaikan secara sempurna akan kedaulatan Tuhan, yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah program aktivis “programme of changing evil by force” (manhaj taghyir al-munkar bi al-quwwah).

Abdurrahman bin Abdul Khaliq, seorang pembela Ibnu Taimiyah, mengatakan dalam Harakah Jihad Ibnu Taimiyah:

“mari kita saksikan dunia Islam hari ini, tidaklah media umum yang resmi memberitakan pada kebanyakan negeri Islam, kecuali untuk merusak generasi dan melalikan din ini. Lihat dan awasilah di lingkungan sekitar kalian, tidaklah engkau dapatkan seorang pemuda yang berpegang teguh dengan din-nya dan mengikuti sunnah Nabi-Nya, serta berlepas dari semua kebatilan, kecuali karena peran jamaan dan harokah Islam.”

Ia mengakui bahwa Ibnu Taimiyah bukan hanya seorang ulama yang memiliki keilmuan tinggi, tetapi juga ia adalah seorang pembela Islam, dalam hidupnya seakan-akan tidak ada lain selain dihabiskan untuk memperjuangkan Islam dari tangan-tangan kezaliman.

Abdurrahman bin Abdul Khaliq menambahi, “sejauh pengetahuanku, para ulama sepakat tidak ada amalan sunnah yang lebih utama dibandingkan jihad fi sabilillah. Ia lebih utama dari haji, shaum sunnah, maupun shalat sunnah.”

Pernyataan ini mengikuti Ibnu Taimiyah yang menyatakan dalam Risalah Bai'at, bahwa jihad termasuk amalan sunnah yang paling mulia. Bahkan lebih mulia daripada amalan sunnah haji atau yang lainnya.

Memang karya Ibnu Taimiyah, Risalah Bai’at, jelas terlihat sebagai suatu buku panduan dalam membentuk kelompok atau jama’atul Islam. Ia menjelaskan secara detail layaknya sebuah peperangan. Ia mengatakan, orang yang sudah bekerja sama itu harus saling mengingatkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.

Abdul Khaliq mengatakan, siapa saja yang banyak melakukan dosa, maka sebaik-baiknya obat baginya adalah jihad, karena Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Meskipun praktik hisba berlangsung lama dan telah eksis sejak masa dinasti Abbasiyah dan dinyatakan oleh Ibnu Taimiyah sebagai bentuk puncak jihad. Pada tahun 1920-an praktek hisba dilembagakan oleh polisi agama (mutawwa’/mutawwi’a) untuk memaksa moralitas masyarakat dan pelaksanaan shalat tepat waktu.

Pada tahun 1950-an Komite Amar Ma’ruf Nahi Munkar juga digunakan sebagai alat politis untuk menolak oposisi sekuler. Selain itu dari Qutub diadopsi semangat jihad yang di dalamnya terdapat orientasi menegakkan hukum Allah (hukumiyah / hakimiyah) sebab Tuhan satu-satunya pembuat hukum.

Realitas masyarakat modern kekinian yang tidak sejalan dengan ide ini diasumsikan sebagai Jahiliyah. Kesatuan Din Dunya wa daulah yang berarti umat Islam wajib mencurahkan setiap upayanya untuk mendirikan negara Islam sejati (teokrasi), konsep Nidzam Al-Islamiyah sebagai lawan dari tatanan dunia sekuler.

Prinsip hisba semacam inilah yang dijunjung tinggi oleh kelompok salafisme, yang berdampak pada terbentuknya karakter superioritas (sense of superiority), yang justru karena menekankan ketegasan, maka salafisme kurang toleran terhadap penafsiran lain.

Menurut Roel Meijer, hisba adalah konsep konservatif yang tradisional.  Menurut doktrin ulama muslim klasik, menjunjung keberanan (taghyir) dengan tangan adalah otoritas politik (penguasa), dengan suara pada cendekiawan dan dengan hati adalah bagi umat muslim secara umum. Penafsiran elitis ini kemudian membenarkan monopoli kekuasaan negara dan struktur hirarki “alami” dari masyarakat.

Sebenarnya, Jama’at al-Islami merubah konsep konservatif tersebut kepada sebuah program atau manhaj (metode) aktivis. Bonnefoy menujukkan di Mesir, Jama’at al-Islami mampu secara gemilang memasang prinsip salafi sebagai hisba terhadap program revolusioner sosial aktivis.

Sehingga, secara tidak langsung, alih-alih dengan tetap meyakini bahwa otoritas taghyir ada di tangan penguasa politik, Jama’at al-Islami sebenarnya ingin membentuk kekuatan politik tersebut, sehingga dapat memudahkan program-programnya dalam menjunjung kebenaran dan menghancurkan kemunkaran.

Akan tetapi upaya membangun kekuatan politik tersebut masih memiliki kendala pada level internalnya. Roel Meijer mengungkapkan, ada perbedaan mendasar antara anggota-anggota elit Jama’at al-Islami dengan anggota-anggota di kalangan. Perbedaan utama itu terletak pada penafsiran mereka tentang hisba, di mana di tataran elit Jama’at al-Islami Mesir menerima kekerasan.

Mereka mengutuk Ikhwan al-Muslimin atas kelemahan programnya dan penolakannya terhadap “penghapusan kemunkaran dengan kekerasan”. Sedangkan di kalangan bawah, Jama’at al-Islami mengklaim bahwa mereka berbeda dalam keyakinan (‘aqidah al-sunnah wa al-jama’ah), mereka mengutuk Ikhwan al-Muslimin atas penolakannya terhadap konsep Qutbian tentang hakimiyyah, yang telah ditafsirkan menjadi pemberontakan terhadap penguasa yang tidak sesuai dengan pewahyuan.

Oleh sebab itu, Ikhwan al-Muslimin mulai melepaskan diri dari kelompok masyarakat terdidik dari elit Mesir setelah mendeklarasikan bahwa Sadat adalah seorang kafir. Hubungan mereka menjadi poin ketika Jama’at al-Islami menetapkan terma Salafisme sebagai paham mereka, as living “according to the Salafi understanding” (nahwu fahm salafi).