Researcher
2 bulan lalu · 72 view · 3 min baca menit baca · Pendidikan 32261_93472.jpg
Release Insider

Kertas Kalender dan Ketergantungan PowerPoint

Dosen itu tampak serius mencatat. Duduk di barisan nomor pertama, selain mengamati jalannya presentasi mahasiswa, ia sesekali mengomentari sekaligus menulis beberapa poin kritik.

Saya mengamati model pengajarannya sejak tiga bulan manakala perkuliahan semester genap dimulai. Pikir saya, dosen ini unik, seperti melawan model pengajaran arus utama. Sungguh manifestasi pengajaran tradisional tapi kritis terhadap ketergantungan pada PowerPoint.

Namanya Pak Wisma, seorang dosen favorit di salah satu universitas negeri tertua di Yogyakarta. Ia mengajar Analisis Wacana Kritis. Tak hanya menyampaikan teori, Wisma juga mewacanakan pengajaran “anti-mainstream” pada tataran praksis.

Kuliah wacana memang mengajak mahasiswa untuk selalu kritis terhadap realitas sosial. Ia kerap mengatakan kalau realitas sosial selalu merupakan wujud dan produk dari konstruksi sosial.

Keunikan pengajaran Wisma, menurut saya, adalah menjaga jarak terhadap “teknologisasi” ruang kelas. Tatkala proses pengajaran di perguruan tinggi kini didominasi oleh kehadiran teknologi canggih, ia sengaja resisten terhadap model itu, dengan radikal memanfaatkan kertas bekas, khususnya kalender.


Wacana pemanfaatan kembali sesuatu yang terbuang menjadi kredo proses pembelajaran yang ia tawarkan; tanpa takut dibilang mahasiswa sebagai dosen arkais, gagap teknologi, atau stereotip-stereotip lain yang dilekatkan pada “generasi prainternet”.

Ketika ditanya kenapa menggunakan kalender sebagai media catat, Wisma menjawab dengan tegas dan sederhana: supaya kalender atau kertas bekas di rumahnya bisa dimanfaatkan.

Sesederhana itu motivasinya untuk mengikuti tren etika lingkungan dengan kertas sebagai objek manfaat. Praktik yang Wisma lakukan ternyata telah dimulai sejak pertama kali mengajar di perguruan tinggi pada akhir tahun 80-an.

Saya pernah bertanya dari mana kertas kalender itu didapatkan. Ia menjawab dari kampus yang tiap tahun (masih saja) memproduksi kalender dengan model desain banyak foto prestasi atau ketercapaian kampus.

Ketimbang kalender itu bertengger di dinding rumah, sementara kecenderungan kita masih menengok tanggal dari telepon pintar, Wisma tak ingin terjebak pada kemudaratan yang repetitif dan jamak dilakukan banyak orang.

Saya tak tahu benar apakah kala masih mahasiswa strata satu ia sudah memulai terobosan itu. Yang jelas, pemanfaatan kertas kalender sebagai media pengajaran itu relatif unik dan sering kali luput dari mata mahasiswa.

Dari sisi keunikan inilah ternyata pola diskusi di kelas praktis berubah. Yang semula kuliah dengan model konvensional memosisikan mahasiswa sebagai pendengar pasif, namun adanya pemanfaatan kertas bekas sebagai media catat, ternyata justru membuat peserta diskusi lebih dialogis.

Apa Manfaatnya?


Kita coba telisik bagaimana kertas kalender ini mengubah pola pembelajaran di kelas. Pertama, Wisma menghendaki pola diskusi di kelas harus didominasi oleh dialektika dari mahasiswa untuk mahasiswa.

Dosen sekadar sebagai fasilitator atas jalannya diskusi. Ia selalu mengatakan dosen bukan sumber ilmu. Dosen itu tempat konfirmasi dan pemberi referensi tekstual sebagai rekomendasi utama. Pendeknya, ia adalah navigator akan dibawa ke sumber mana mahasiswa seharusnya membaca.

Pertama kali kelas dimulai, Wisma meminta mahasiswa membagi kelompok. Masing-masing kelompok akan mendiskusikan buku atau jurnal ilmiah pada tiap pertemuan secara bergantian. Model ini gayung bersambut bagi mahasiswa karena ia memiliki tanggung jawab kolektif untuk menyiapkan konten materi presentasi.

Pada pertemuan berikutnya, saat mahasiswa ketiban kesempatan presentasi, Wisma menyimak betul penyampaian itu. Seraya menulis catatan khusus atas narasi presentasi sekaligus kritik konstruktif terhadapnya, ia kemudian akan mengomentari satu per satu saat presentasi berakhir.

Kedua, hasil catatan itu akan menjadi bukti autentik atas ketercapaian pembelajaran di kelas. Secara pribadi, itu akan berguna bagi dosen untuk mengevaluasi progres belajar mahasiswa dan catatan ini bisa dikembangkan Wisma sebagai bahan penelitian lanjut. 

Ia tak menyinggung apakah model penelitian yang hendak dilakukan itu berbasiskan pada metode penelitian tindakan kelas atau konten catatan hanya sebagai refleksi tertulis.

Yang jelas, pemanfaatan kalender yang sering diabaikan banyak orang ternyata di tangan dosen kreatif bisa sedemikian berguna. Laku Wisma ini, di sisi lain, adalah contoh konkret literasi kritis.

Konsep literasi yang semula hanya soal kemampuan membaca dan menulis atau kecakapan melek huruf, bagi Wisma, dimensi literasi termanifestasikan secara kreatif. Kecenderungan tersebut juga menjadi autokritik terhadap wacana pengajaran literasi yang selalu berpusar pada bagaimana membaca atau mengkritisi teks, tetapi abai dengan posisi kertas itu sendiri sebagai media arkais “pengikat” ilmu pengetahuan.


Wisma secara implisit seperti mengajak mahasiswa untuk menanfaatkan sekaligus meneliti perkelindanan antara kertas bekas, pola belajar, model diskusi, dan pengembangan literasi kritis. Hanya dari kertas inilah kita terperanjat: ternyata di balik pemakaiannya yang serampangan, tercitra lanskap akademis dan etis yang kurang diperhatikan banyak orang. 

Sudahkan kita kreatif memanfaatkan kertas sebagaimana Pak Wisma?

Artikel Terkait