Benda tipis yang sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan

Berbicara tentang kertas, tentu tidak sah rasanya jika tidak mengetahui sejarah kertas, dari awal ditemukan hingga sekarang ini.

Kertas adalah benda yang berdimensi tipis dan terbuat dari serat pohon. Cikal bakal benda yang dikenal dengan sebutan kertas ini bermula di daerah Mesir pada masa Fir’aun dengan sebutan papirus. Lalu pada tahun 101 Masehi di Negeri China, Tsai Lun sebagai salah seorang pegawai negeri di pengadilan kerajaan pada masa Kekaisaran Ho Ti menemukan kertas yang terbuat dari belahan bambu yang tentunya mudah didapatkan di “Negeri Tirai Bambu” ini.

Selanjutnya, kertas mulai berkembang ke Timur Tengah, dan Eropa secara berturut-turut. Lalu, perkembangannya semakin pesat sejak ditemukannya mesin foundrinier oleh Nicholas Louis Robert.

Di era modern yang penuh dengan penggunaan media elektronik nan canggih ini , kertas masih memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Benda tipis ini hadir sebagai pelengkap kehidupan manusia. Hampir disetiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia, kertas hadir dan menempatkan dirinya sebagai benda yang sangat berperan.

Kertas memiliki bentuk yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dari manusia. Dalam kegiatan belajar mengajar, kertas dijadikan sebagai media untuk menulis. Dalam kegiatan perekonomian, kertas dirasa sangat berharga, karena fungsinya sebagai penyimpan nilai yaitu berupa uang.

Selanjutnya dalam kegiatan perindustrian dan usaha, kertas digunakan sebagai kemasan dari produk yang dihasilkan. Selain itu masih banyak bentuk yang dihasilkan oleh kertas yang mudah untuk ditemui seperti tisu, kalender, tas belanja, kardus dan masih banyak lagi bentuk yang lainnya.

Berdasarkan data Kementrian Perindustrian, kebutuhan kertas dunia adalah sekitar 394 juta ton. Kebutuhan ini tentu akan terus bertambah seiring berputarnya waktu, mengingat pertumbuhan rata-rata kertas adalah sebesar 2,1 persen pertahunnya.

Dari data tersebut, Kementrian Perindustrian memperkirakan kebutuhan kertas di dunia pada tahun 2020 adalah tak kurang dari 490 juta ton. Tidak menutup kemungkinan nilai ini akan terus bertambah setiap waktunya, mengingat semakin pesatnya perkembangan dari industri dan instansi di dunia yang bergantung kepada peggunaan kertas.

Luas Hutan Kian Mengkhawatirkan

Tingginya jumlah konsumsi kertas di dunia, menuntut produsen kertas  untuk terus memproduksi benda tipis ini secara berkelanjutan. Tentu saja hal ini akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di negara produsen kertas tersebut karena meningkatnya pendapatan akibat dari produksi kertas.

Tetapi, lain halnya bila dilihat dari sisi lingkungan khususnya hutan yang menyimpan sumber bahan baku kertas tersebut. Pohon-pohon sebagai bahan baku akan terus diambil dari kawasan hutan.

Selanjutnya, apabila pepohonan dalam hutan tersebut telah habis, maka sudah barang tentu akan banyak permasalahanalam yang akan terjadi. Seperti banjir, tanah longsor dan yang paling parah adalah isu global warming  yang sedang melanda karena berkurangnya jumlah pepohonan sebagai paru-paru dunia akibat dari tingginya nilai deforestasi hutan di dunia. Beberapa masalah tersebut telah dirasakan oleh manusia beberapa waktu belakangan ini.

Indonesia adalah salah satu contoh negara yang memproduksi kertas dengan jumlah yang besar. Indonesia menempati posisi keenam dunia dalam bidang produksi  kertas. Pada tahun 2013 saja, Indonesia telah memiliki 82 industri pulp dan kertas. Hasil produksi dari industri tersebut adalah sebesar 4,55 juta ton untuk produksi pulp dan 7,98 juta ton untuk produksi kertas.

Dengan angka yang besar tersebut, Indonesia mampu mengekspor produk pulp dan kertas sebesar 3,75 ton dan 4,26 ton. Banyaknya industri pulp dan kertas tersebut didukung dengan luasnya jumlah hutan di Indonesia yang menyimpan sumber daya pepohonan yang melimpah.

Sebagai negara yang memiliki 10% luas hutan tropis dunia, Indonesia telah memanfaatkan kurang lebih 10 juta hektare kawasan hutan untuk dijadikan sebagai Hutan Tanaman Industri (HTI) hingga 2013 lalu. Tujuan dari HTI sendiri adalah sebagai izin untuk memenuhi kebutuhan kayu sebagai bahan baku utama kertas untuk menggantikan pasokan kayu dari hutan alam.

Tetapi, kebutuhan bahan baku produksi kertas lebih besar daripada hasil penanaman pohon dalam kawasan HTI tersebut. Kondisi ini diperparah lagi dengan tidak maksimalnya pemanfaatan HTI tersebut. Forest Watch Indonesia (FWI) menganalisis bahwa hanya sekitar 5,7 juta hektare saja luas wilayah HTI yang dimanfaatkan. Dan rata-rata produksi bahan baku dari wilayah HTI tersebut adalah 22 juta meter kubik pertahun dalam rentang waktu 2008-2013.

Kondisi inilah yang membuat para produsen kertas masih tergantung pada produksi dengan mengambil pohon-pohon dari hutan alam. Fakta tersebut mengungkapkan bahwa Industri-industri kertas dan pulp belum memiliki rasa tanggung jawab penuh terhadap lingkungan dan keberlangsungan hidup.

 Data statistik Kementrian Kehutanan tahun 2011, menunjukkan bahwa laju deforestasi di Indonesia pada periode 2000-2010 mencapai angka 1,2 juta hektare. Dengan luas hutan sekitar 130 juta hektare, maka kemungkinan hutan Indonesia akan hilang dalam kurun beberapa dekade kedepan apabila pola.

Bahaya deforestasi hutan di Indonesia terus saja menjadi momok dan ancaman yang serius bagi kelangsungan hidup apabila pola produksi dan konsumsi yang tidak bertanggung jawab tersebut terus terjadi. Bukan tidak mungkin, anak cucu kita akan terus mengalami masa-masa sulit akibat bencana yang timbul karena hilangnya wujud hutan sebagai penyeimbang ekosistem lingkungan.

Saatnya Berfikir dan Bertindak

Deforestasi merupakan masalah yang cukup mengkhawatirkan dalam beberapa waktu belakangan ini, sebabnya alam kehilangan kestabilannya dan menyebabkan banyak dampak negatif bagi alam dan makhluk hidupnya. Untuk itu diperlukan berbagai tindakan untuk bisa mengurangi permasalahan deforestasi hutan ini. Setiap kalangan tentu harus turut andil terhadap masalah keberlangsungan kehidupan mahluk di alam.

Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi disuatu negara, harus membuat kebijakan untuk mengikis angka deforestasi yang telah terjadi. Di indonesia sendiri, sejak tahun 2001 pemerintah telah mengeluarkan larangan untuk mengekspor kayu bulat dan bahan baku serpih.

Selanjutnya, pemerintah juga telah membentuk Badan Revitalisasi Industri Kehutanan (BRIK), dimana tugasnya adalah untuk melakukan penyesuaian produksi industri kehutanan dengan ketersediaan bahan baku di hutan. Kebijakan-kebijakan tersebut merupakan pembuktian dari pemerintah yang telah berkomitmen  untuk memberantas illegal loging dan merehabilitasi hutan yang rusak agar dapat kembali seperti fungsi awalnya.

Produsen sebagai pemeran utama produksi kertas, harus pro aktif dengan kebijakan dan program-program dari pemerintah dan menjalankan dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya melakukan reboisasi terhadap hutan yang gundul akibat penebangan pohon yang dilakukan juga merupakan langkah untuk mengembalikan fungsi awal hutan.

Selain itu, produsen juga harus memikirkan alternatif bahan baku lain yang dapat menggantikan pohon sebagai bahan baku utama pembuatan kertas. Seperti penggunaan serat tanaman lain seperti jerami padi, pelepah kelapa sawit, bambu dan sebagainya.

 Masyarakat umum juga harus berperan aktif dalam mengurangi penggunaan kertas. Beberapa cara diantaranya adalah memanfaatkan penggunaan kertas semaksimal mungkin dan harus berfikir kreatif agar sampah kertas menjadi produk lain yang lebih bernilai.

Sebagai mahluk yang berakal manusia harus mampu berfikir secara bijak dalam menggunakan kertas. Mendaur ulang kertas merupakan salah satu cara yang paling sederhana untuk menghemat penggunaan kertas. Dengan bijak dalam menggunakan kertas, maka manusia telah menyelamtkan hutan, menyelamatkan lingkungan dan menyelamatkan kehidupan.