Peneliti
1 bulan lalu · 563 view · 7 min baca menit baca · Ekonomi 64593_62823.jpg
paper.org.uk

Kertas dan Strategi Kebudayaan

Belum lama berselang, pada tanggal 9 Mei 2019, The Economist mengabarkan, bahwa di Inggris, media sosial sedang membentuk kembali hubungan antara bangsawan, pers, dan publik.

Internet telah membuat surat kabar Inggris kurang penting bagi monarki. Alih-alih siaran pers, kelahiran seorang putra kerajaan justru diumumkan melalui Instagram. Demikian disampaikan oleh The Economist.

Informasi itu seperti menggambarkan suatu keadaan, bahwa hari ini, dibandingkan surat kabar cetak, internet telah mengambil peran penting sebagai saluran berita.

Era teknologi digital memang sedang mengetengahkan diri. Kehadirannya berdampak luas pada keruntuhan bangunan lama yang telah lama menjadi status quo, baik di ranah ekonomi, politik, sosial, dan lainnya. Salah satu sasarannya mengarah pada industri kertas.

Pemilihan pengumuman putra kerajaan Inggris melalui Instagram, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah salah satu kasus bagaimana eksistensi surat kabar cetak—yang berbahan kertas—diperkirakan akan mengalami senjakala.

Faktanya, dunia hari ini menyaksikan bahwa teknologi pengurangan kertas—tanpa dapat dicegah—telah merambah ke pasar-pasar, rumah-rumah dan tempat-tempat perkantoran. Jika pertanyaan dilemparkan, mungkin hanya sedikit orang yang akan membantah kenyamanan pembayaran tiket secara online.

Kehadiran teknologi digital telah menawarkan efisiensi dalam segala bidang. Kita juga secara cepat dapat menemukan apa yang kita butuhkan ketika sesuatu tiba-tiba kita butuhkan. Berbagai jenis produk, buku digital, informasi berita, dan lain sebagainya, semua tersedia.

Hanya dengan menggerakkan jari di atas keyboard, perangkat menampilkan apa yang kita cari. Dalam konteks ini, kertas tertinggal.

Kertas juga bukan lagi merupakan tempat salinan utama. Ibarat pertandingan tinju, keberadaan kertas saat ini seperti sedang dipukul lawan dengan serangan mematikan. Kapan terakhir kali anda melihat Buku Telepon?

Pertanyaan tersebut mungkin membutuhkan jawaban yang sulit diingat. Sebagian besar Generasi Z bahkan kemungkinan belum pernah mendengar barang yang namanya Buku Telepon itu.

Kertas dan Peradaban

Namun, sekalipun peranan kertas terlihat semakin berkurang dengan hadirnya teknologi digitalisasi, tidak dapat ditepis, kertas sendiri telah menjadi bagian dari cara manusia berada.

Kertas dapat dijadikan sebagai istrumen pembungkus kacang rebus bagi rakyat kecil yang mencari nafkah di pinggir jalan, hingga penggunaannya pada undangan pernikahan Hamish Daud dan Raisa yang diselenggarakan di Plenilunio Villa, Bali.


Jika kita refleksikan lebih jauh—dan jika kita mau jujur—banyak revolusi-revolusi besar dalam sejarah memiliki hutang budi terhadap kertas. Pidato-pidato yang membakar massa, propaganda-propaganda untuk mobilisasi rakyat, banyak juga yang disusun di atas kertas.

Salah satu dampak yang dirasakan adalah merdekanya bangsa-bangsa terjajah dan dibangunnya “susunan pergaulan hidup baru” ketika sebuah negara didirikan.

Sedangkan sukses terbesar dari kertas yang dirasakan saat ini adalah telah mengantarkan dunia memasuki era revolusi industri 4.0, di mana kehadirannya justru menggoyang keberadaan industri kertas itu sendiri.

Lebih dari itu, selain fungsinya sebagai penjaga firman Tuhan dalam Kitab Suci, kertas adalah instrumen utama dari Renaissance. Sarana penyebaran akal budi bagi pembebasan umat manusia. Roda bagi peradaban modern.

Sejarah mencatat, bagaimana ide-ide yang disebar melalui kertas diterima oleh setiap kepala. Bahkan mampu menggeser pandangan teosentris menjadi antrophosentris. Mendorong Zaman Kegelapan masuk ke dalam Zaman Pencerahan.

Karya-karya besar yang lahir dari pemikiran-pemikiran besar telah membentuk sistem pemikiran masyarakat dunia.

Dari satu lembar kertas ke lembaran kertas yang lain, orang akhirnya mengenal buah karya rasionalisme Descartes. Dari satu lembar kertas ke lembaran kertas yang lain, orang juga akhirnya mengenal empirisme David Hume.

Kertas di tangan Soekarno berbuah Indonesië Klaagt Aan (Indonesia Menggugat). Kertas di tangan Mohammad Hatta berbuah Indonesië Vrij (Indonesia Merdeka). Di tangan Karl Marx, kertas menjadi media inspirasi bagi perjuangan kelas tertindas. Sedangkan di tangan Marthin Luther King, Jr. kertas melahirkan sebuah pidato anti rasial terkenal, “I Have a Dream”.

Sebagai wadah bagi kata-kata yang dirangkai, kertas mampu menceritakan suatu peristiwa, menjelaskan teori dan konsep, menyuguhkan data, bahkan menawarkan nilai, hingga pada detail penerapan praksisnya.

Dengan pena yang dipegang oleh seorang pemikir, kertas mampu menciptakan masyarakat yang bertindak barbar sampai yang paling adiluhung. Dari kertas, ide-ide sekian abad masa lampau dapat diterapkan hari ini, termasuk bagaimana masa depan didesain.

Dari kertas, dunia hari ini mengenal konsep demokrasi era Yunani Kuno. Sedangkan dari demokrasi yang diketahuinya itu, demokrasi dikembangkan. Akhirnya, melalui mekanisme demokratis, dengan mencoblos kertas suara, Pemilu tahun 2019 di Indonesia berhasil diselenggarakan.

Mekanisme demokrasi dengan mencoblos kandidat yang tertera pada kertas suara dianggap sebagai cara-cara yang mewakili peradaban tertentu, yang tidak dimiliki peradaban tertentu lainnya.

Ini berarti, dilihat dari wataknya, kertas dapat menjadi pembeda antara suatu peradaban manusia dengan peradaban manusia lain di dalam lintasan zaman. Sedangkan dari hakikatnya, kertas merupakan suatu peradaban itu sendiri.

Kreativitas Sebagai Strategi Kebudayaan 

Salah satu tantangan bagi industri kertas adalah isu lingkungan. Isu ini bahkan menempatkan keberadaan kertas pada posisi antagonis. Isu ini memandang kehadiran kertas sebagai bagian dari masalah lingkungan.

Padahal, dunia tanpa kertas tidak secara otomatis menguntungkan lingkungan. Teknologi digital mungkin mengurangi ketergantungan pada satu sumber daya, namun sekaligus meningkatkannya pada sumber daya yang lain: sektor energi.

Teknologi digital selalu terkait dengan listrik. Beberapa perangkat selalu dicolokkan, dan ini memakan daya sekalipun ada perangkat yang tidak digunakan. Setidaknya, sampai suatu saat problem ini terpecahkan.

Namun, masa depan tidak hanya ditentukan oleh digitalisasi, tetapi juga oleh para visioner dan para inovator.


Berbeda dengan pandangan banyak kalangan yang pesimis, industri kertas tidak akan menghilang. Kemungkinan ia berubah wajah dan berkembang. Dapat dikatakan, industri ini sedang mengalami tahap transformasi substansial.

Lanskap industri telah berubah. Cara berada manusia akan dipengaruhi oleh perubahan itu. Yang bertahan adalah yang mampu beradaptasi. Sedangkan jalan melakukan adaptasi yakni dengan membangun strategi kebudayaan.

Yang dimaksud dengan strategi kebudayaan adalah manusia membuat upaya-upaya agar rintangan-rintangan yang melingkupinya dapat dipecahkan. Caranya dengan membangun hubungan fungsional terhadap lanskap industri yang baru.

Karena cara-cara konvensional dianggap tidak lagi memiliki kesesuaian dengan susunan dunia baru, industri harus didorong untuk mengambil tempat dalam membuat perbedaan.

Salah satu tawaran yang dapat diberikan adalah industri kertas dapat bertahan jika memiliki pilihan fokus. Mereka harus mampu mengambil segmen yang lebih sedikit, bukan pada yang umum.

Persaingan industri ke depan akan menghadapkan antara yang cepat versus yang lambat. Yang inovatif-kreatif versus yang konvensional. Bukan lagi industri besar versus industri kecil. Kemungkinan, ini akan berlaku pada hampir semua segmen.

Sejarah telah menunjukkan, kemajuan teknologi akan melahirkan peluang baru. Industri kertas dapat mempertimbangkan model bisnis baru yang menggunakan teknologi dengan cara baru. Ini berarti, industri harus berani mendisrupsi dirinya sendiri.

Sebagai gambaran, dapat disuguhkan kasus di sini. Sebuah pabrik di Franklin, sebelumnya memproduksi kertas putih kebutuhan kantor, ditutup pada tahun 2009. Namun, pada tahun 2012, pabrik ini dibuka kembali dan mengubah proses pembuatan kertasnya.

Produk diputuskan melayani industri jasa makanan secara lebih baik dengan membuat cangkir, tutup, dan piring kertas.

Ketika industri mengalami pembenahan untuk berubah menjadi industri masa depan, ekosistem baru dan pekerjaan baru akan muncul. Keterampilan yang dibutuhkan oleh industri juga akan berubah.

Dalam dunia yang semakin digital, mereka yang merangkul pergeseran ke arah digital akan menemukan jalan bersaing dan berkembang.

Dunia digital membuat segalanya serba terhubung. Konsumen berharap dapat terlibat langsung dengan produk atau perusahaan. Karena kecenderungan pelanggan menuntut “personalisasi”, pemahaman informasi pelanggan tentu penting bagi peningkatan pelayanan.

Ketepatan waktu tidak dapat diabaikan jika suatu bisnis ingin sukses. Tidak terkecuali bisnis di industri kertas. Mendapatkan informasi yang tepat pada waktu yang tepat tentu memiliki kontribusi besar.

Internet of Things saat ini merevolusi bagaimana industri mengumpulkan dan memahami informasi. Sensor yang tertanam dalam berbagai obyek sehari-hari memungkinkan untuk mengalirkan data dari berbagai sumber.

Kondisi itu memungkinkan bisnis belajar lebih banyak tentang produk dan pelanggan secara real-time. Konsekwensinya, industri dapat melayani pelanggan dengan baik.


Informasi yang akurat dapat membuka kemungkinan baru. Sedangkan bagi manajer perusahaan, akses ke informasi mendorong ketepatan keputusan. Analisa data dapat menempa prediksi lebih baik.

Dunia pekerjaan hari ini juga akan membutuhkan banyak ahli di bidang Information Technology. Ini berarti mendorong kebutuhan untuk melatih tenaga yang sudah ada, atau justru merekrut tenaga jenis baru sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan.

Alfred Becker, dalam salah satu tulisannya di kolom Digitalist Magazine, menyuguhkan hasil survei untuk para CEO industri mengenai suksesnya industri masa depan. Selain CEO, survei juga dilakukan kepada para pemimpin. Mereka diminta mengidentifikasi di mana perubahan diperlukan bagi harapan-harapan baru.

Sekitar 80 persen CEO menyampaikan, perubahan diperlukan dalam penggunaan teknologi. Di bidang lain, sekitar 94 persen berbicara tentang bagaimana dan dengan siapa akan bermitra.

Sedangkan sekitar 93 persen eksekutif puncak memandang pelanggan dan klien, dan 64 persen terdapat pada mitra rantai pasokan. Semua itu memiliki dampak besar terhadap strategi perusahaan.

Dengan merangkul teknologi digital, industri kertas dapat muncul dengan wajah baru. Dengan melihat transformasi digital sebagai peluang, industri dapat masuk pada pasar baru.

Perusahaan yang responsif terhadap kebutuhan pelanggan, memperoleh pendapatan dari aliran yang baru. Dengan demikian, industri diharapkan dapat hidup di dalam habitat baru dari perubahan wajah revolusi industri.

Setiap industri memang akan mengalami penurunan pasar pada beberapa titik waktu, dan saran terbaik untuk ini adalah: bangun fondasi yang memungkinkan adanya reaksi cepat terhadap perubahan kondisi pasar.

Sedangkan kemampuan merasakan masalah, menilai situasi, dan mengantisipasi maupun mengatasi masalah adalah cara sebuah industri dapat bertahan.

Artikel Terkait