Mahasiswa
1 bulan lalu · 35 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 40855_26138.jpg
plastics.com

Kertas dan Plastik: Kekeliruan yang Bernilai

Fenomena gerakan lingkungan hijau sedang memanas di seantero jagad. Ini sebagai dampak dari kebiasaan manusia yang tidak bisa berlaku adil terhadap bumi yang ditempatinya. Lucunya, bukan manusia yang disalahkan melainkan plastik dan kertas. Apa salahnya kedua benda mati itu terhadap bumi yang mulai rapuh ini. Ini sudah pasti keliru.

Di sisi lain, manusia sibuk membandingkan, mana yang paling merusak. Apakah plastik atau kertas. Kubu satu menganggap plastik, karena dari plastik inilah lautan yang harusnya berwarna biru berubah menjadi warna-warni plastik bak pelangi. Kubu satunya menyalahkan kertas karena dari kertaslah pohon-pohon ditebang sembarangan.

Kubu pertama menganggap bahwa kertas yang kita pakai untuk menulis jutaan kata merupakan dalang banjir di pinggir kota. Alasannya sangat klasik, kertas dibuat dari pohon lalu ditebang sehingga menyebabkan hutan gundul. 

Hutan gundul mengakibatkan banjir. Hutan gundul membuat harimau berkeliaran di permukiman warga. Proses panjang seperti ini terus berputar layaknya roda rantai makanan.

Anggapan di atas tidak seratus persen benar adanya. Ini tentu saja menimbulkan kekeliruan di masyarakat. Yang ada dalam pikiran mereka adalah bahwa kertas sebagai penyebab utama sebuah bencana. Barangkali kekeliruan ini membuat kita lebih hemat terhadap penggunaan kertas.

Kita yang keliru akhirnya lebih menyederhanakan penggunaan kertas. Yang tadinya suka merobek-robek kertas ketika sedang putus cinta akhirnya tersadarkan. Yang tadinya suka mencoret-coret kertas lantaran mendapatkan nilai D akhirnya tercerahkan. 


Kertas yang mereka lampiaskan tidak akan menyelesaikan masalah malah akan menyebabkan masalah baru, bencana alam. Meskipun lagi-lagi ini adalah sebuah kekeliruan, tapi tidak ada salahnya keliru kalau ini membuat kita semakin hemat kertas.

Di bawah alam sadarnya, manusia selalu was-was terhadap bencana yang mengintai di sekitar mereka. Kalau rasa was-was ini tidak ada, manusia tidak bakal membangun rumah sebagai tempat berlindung dari bahaya luar. Begitu pula kekeliruan bahwa kertas adalah penyebab sebuah bencana alam.

Baik was-was maupun kekeliruan selalu dianggap negatif. Kenyataannya, ada hal positif di balik keduanya. Mari kita lihat perumpamaan dari kubu kedua untuk lebih jelasnya.

Kubu kedua menganggap bahwa plastik adalah dalang bencana alam di perairan. Kekeliruan kembali muncul. Kali ini sebagian masyarakat menganggap kalau plastik yang berakhir di sungai atau laut menyebabkan air yang kita gunakan sehari-hari jadi berbahaya. Kandungan kimia, racun, atau apapun itu dinyatakan hidup dari plastik lalu berkembang biak lebih cepat ketika berada di air.

Jumlah volume plastik di laut dianggap sebagai nestapa bagi ikan yang nantinya akan kita makan. Ikan itu diklaim berbahaya bagi kesehatan tubuh. Agak berlebihan ketika buru-buru mengklaim karena kekeliruan itu tidak seratus persen benar adanya.

Setidaknya kekeliruan itu memiliki nilai di dalamnya. Bayangkan saja, dari kekeliruan itu lahir sebuah rasa takut untuk membuang plastik di sungai atau laut.

Kekeliruan juga bisa diciptakan untuk sebuah tujuan kebaikan. Jika perumpamaan dari kedua kubu di atas adalah kekeliruan yang sudah terkonstruksi dan disepakati banyak orang maka kekeliruan yang satu ini merupakan kekeliruan yang dianggap aneh.

Apa sebutan kertas dan plastik yang sudah tidak terpakai lagi? Kalian pasti sepakat dengan jawaban “sampah.” Jangan terburu-buru dahulu untuk memberi julukan itu. Kertas dan plastik yang sudah tidak digunakan lagi adalah sebuah anugerah. Ini kekeliruan bukan? Kekeliruan di sini justru bernilai besar karena membuat kita lebih menghemat penggunaan kertas dan plastik.  

Kalian tidak akan menghambur-hamburkan kertas hanya untuk menimpuk teman di kelas karena kalian merasa kertas itu adalah sebuah anugerah. Anugerah sama artinya dengan berharga. Sama seperti kitab suci, meski sudah usang pasti tidak akan pernah berakhir di tong sampah.

Baca Juga: Puasa Plastik

Ini sama halnya dengan plastik. Plastik hasil belanja akan disimpan untuk keperluan lain di kemudian hari misalnya untuk membawa baju basah ketika berlibur ke pantai atau kembali digunakan untuk belanja lagi. Kalian tidak akan membuang begitu saja plastik itu karena berharga. Itu anugerah.

Lalu sampai kapan kedua benda itu bernilai bukan sampah. Bukankah pada akhirnya (entah kapan) mereka akan bermuara di tong sampah? Dan tentu akan dianggap sampah pada suatu saat. 

Inilah problematikanya, tong sampah hanya sebuah tempat. Belum tentu sesuatu yang berakhir di tong sampah adalah sampah. Pernah mendengar berita, pemulung di Bantargebang Bekasi menemukan cincin berlian di tong sampah. Atau berita hebohnya tunawisma di Amerika Serikat yang menemukan hadiah lotre senilai puluhan ribu dolar di tong sampah.

Kertas dan plastik yang berakhir di tong sampah pun sama. Kita akan memanfaatkan kedua benda itu sebaik mungkin karena sekali lagi itu bukan sampah melainkan anugerah. Apa itu terlalu rumit? Baiklah, saya akan kembali memberi perumpamaan. 

Apa yang ada di benak kalian jika mendengar tas yang dibuat dari daur ulang sampah? Pasti agak kurang enak didengar di telinga. Lain halnya jika kita mengatakannya sebagai tas yang dibuat dari plastik rumah tangga.

Perumpamaan ini juga berlaku pada kertas. Coba bandingkan, mana yang enak didengar di telinga, hiasan dinding yang terbuat dari sampah kertas atau hiasan dinding dari kertas (tanpa ada embel-embel sampah). Pasti kita akan pilih yang kedua.

Mungkin saja, pola pikir semacam inilah yang membuat kosa kata baru dalam mengungkapkan kekesalan atau kemarahan, apalagi kalau bukan kata “dasar sampah.” Kalau begini terus, saya menolak kosa kata “sampah” yang sudah ada sejak manusia pertama kali diciptakan dong? Bukan seperti itu Ferguso.

Kertas dan plastik akan bernilai sampah jika nilai gunanya sudah nol persen alias sudah tidak bisa digunakan kembali. Tapi ingat, kertas atau plastik benar-benar dikatakan tidak bisa digunakan lagi jika semua nilai gunanya sudah habis tak tersisa. Namanya juga nol persen. Ini tidak berlaku dengan kertas dan plastik yang berakhir di tong sampah karena bisa jadi masih bisa digunakan kembali dengan cara daur ulang.

Kekeliruan merupakan suatu hal yang dikaitkan kepada hidup kita selama 24 jam sehari. Manusia merupakan tempatnya keliru dan salah. Hanya saja, kita menganggap kekeliruan itu dari sudut mana. Kalau dari sudut negatif terus, maka kita tidak akan bisa berkembang. Sebaliknya, kalau kita melihatnya dari sisi positif maka kita akan tumbuh pesat.

Baca Juga: Monster Plastik

Misalnya saja, kertas tidak akan ditemukan jika tidak ada kekeliruan bangsa China yang menganggap bahwa serat kayu tidak mungkin bisa dibuat menjadi media menulis a.k.a kertas. Hanya sutra yang mahal dan bambu yang berat yang bisa dijadikan media menulis.

Di balik kekeliruan bangsa China, ada sosok yang bertahan dan melawan kekeliruan itu. Sosok yang bernama Tsai Lun ini sebelumnya juga pernah merasakan di posisi kekeliruan itu.

Kekeliruan satu menciptakan kekeliruan berikutnya. Bedanya, kekeliruan itu disikapi dengan cara apa- marah-marahkah, saling ejekkah, saling menyalahkankah atau justru dengan cara lain yang bernilai positif semisal hemat penggunaan atau membuat inovasi pro lingkungan terbaru.

Catatan kekeliruan ini berlaku pada kondisi bumi saat ini. Kalau tidak ada kekeliruan maka tulisan-tulisan tentang lingkungan hijau tidak akan pernah eksis. Kalau tidak ada kekeliruan maka tulisan ini tidak akan pernah muncul di laman ini.

Artikel Terkait