Kertas adalah media penyambung ilmu. Media penampung kalam yang sudah sejak lama digandrungi peradaban karena kegunaanya.  Dimulai ketika Bangsa Mesir menemukan papirus untuk bahan pembuat kertas.  Tanaman papirus menjadi sangat berharga.  

Bahkan di Era modern ini penyebutan kertas dalam bahasa Internasional juga terinfluen terhadap penemuan Bangsa Mesir ini. Paper berasal dari etimologi penyebutan tanaman papirus.  Di era yang lebih modern bangsa China menemukan teknik pembuatan kertas.  

Menjadikan bangsa ini menjadi kaum terpandang di hadapan bangsa bangsa lain di dunia. Dunia Arab bahkan mengagumi penemuan ini dan ingin mempelajari teknologi pembuatan kertas ini.  Gayung bersambut,  kertas mulai digandrungi untuk membuat manusia berkembang secara pemikiran 

Kebutuhan kertas di era modern sangat besar. Kebutuhan akan kertas seolah menjadi kebutuhan primer. Sama halnya sembako yang kita perlukan sehari-hari. Pembuatannya yang melibatkan bahan baku dari alam membuat tarik ulur akan keduanya. Alam terkena dampak sangat besar karena bahan bakunya mengurangi alam. 

Industri kertas harus menyesuaikan dampak kelestarian alam.  Jika dunia membutuhkan kertas sebanyak - banyaknya,  maka konsekuensinya adalah kelestarian alam pasti akan dikorbankan.  Munculnya gerakan ECO Friendly membuat kebijakan dunia dalam memproduksi kertas mulai banyak dipertimbangkan.  

Perlu kebijaksanaan yang tinggi sebelum memutuskan penggunaan kertas yang semakin besar.  Berapa pohon yang tumbang untuk memenuhi kebutuhan ini?  Semua harus dihitung untuk menjaga kelestarian hutan dan segala kehidupan yang ada di dalamnya.  Kehidupan ini mempunyai korelasi dengan banyak kehidupan makhluk lainnya yang ada di bumi.  Manusia tak bisa lagi berbuat seenaknya.  

Era teknologi berkemajuan telah tiba.  Para akademisi dan pegiat Eco Friendly berusaha menyadarkan tentang dampak penggunaan kertas yang tak terkontrol.  Namun dengan diketemukan solusi untuk mengubah kebiasaan manusia dalam penggunaan kertas selaras dengan visi kampanye hemat kertas.  

Era komputerisasi mulai menjamur.  Kebutuhan akan kertas sudah menurun dikarenakan era digitalisasi telah tiba.  Bahkan kita bisa berkampanye penghematan kertas tanpa menggunakan kertas.  Efisiensi.  Penggunaan kertas mulai beralih fungsi.  Perusahaan komputer dan bisnis tambang silikon mulai membuat produk - produk yang bisa digunakan untuk penghematan kertas.  

Buku-buku yang sebelumnya dicetak dengan kertas mulai dialihfungsikan sedikit demi sedikit.  Penggunaan alat digital memfasilitasi perubahan revolusioner itu.  Banyak catatan dibuat dalam sebuah PC atau Tablet. Buku mulai ditinggalkan.  Gayung bersambut. Jutaan pohon terselamatkan karena teknologi.  Jutaan makhluk yang berada didalamnya juga terselamatkan.  

Penggunaan kertas menurun drastis dalam era teknologi.  Penggunaan kertas tetap diperlukan pada tahap seremonial. Namun tidak terlalu besar.  Kebijakan kebijakan akan mengikuti dalam mengurangi penggunaan kertas. Dalam tahap mereduksi kertas,  ada problem lain yang muncul saat teknologi berkembang.  Yaitu penggunaan plastik semakin meningkat. Tak bisa dikendalikan semudah mengendalikan kertas. 

Plastik merupakan bahan yang paling banyak berserakan di muka bumi. Bahan sintetis plastik pertama buatan manusia ditemukan pada tahun 1900-an, oleh Leo Baekeland.  Leo berhasil mengembangkan resin cair yang ia beri nama bakelite. Material baru ini tidak terbakar, tidak meleleh dan tidak mencair di dalam larutan asam cuka. 

Dengan demikian, sekali bahan ini terbentuk, tidak akan bisa berubah. Setelah itu plastik diproduksi besar-besaran. Namun mereka lupa akan dampak dari bahan yang mereka ciptakan. Sisa dari plastik yang tidak digunakan sangatlah mencemari Lingkungan. Bahkan beberapa tahun lalu tumpukan sampah dari plastik mencapai luas kota Texas. 

Padahal kita tahu,  plastik adalah bahan kimia yang tidak bisa mengurai dalam waktu sebentar. Bahkan bisa mencapai puluhan tahun.  Dampak terhadap lingkungan tetap saja buruk.  Kebutuhan kertas mulai menipis,  namun kebutuhan plastik meningkat. Harus dilakukan tepat sasaran untuk menjaga keberlangsungan Alam. 

Pengelolaan Lingkungan memiliki tantangan baru dalam mengatasi bahan sisa dari keduanya. Zerowaste dari kedua bahan harus bisa dimaksimalkan untuk menyelamatkan Lingkungan. Diperlukan solusi yang tepat sasaran dan bersifat cepat.  Kajian yang tepat memudahkan mengatasi persoalan. 

Sampah dari keduanya akan memberikan permasalahan baru bagi lingkungan di bumi. Bayangkan setiap hari, rata-rata manusia menghasilkan sampah sebanyak 600 gram. Sampah itu terdiri dari sampah organik, kertas, plastik, dan benda-benda tak terpakai lainnya. Sampah organik atau sampah yang berasal dari bahan alami seperti sayur, kulit buah, dan lain-lain akan hancur dalam hitungan hari atau minggu. 

Atau paling tidak kurang dari satu bulan. Sementara sampah kertas akan terurai dalam waktu dua sampai enam bulan. Yang paling mengkuatirkan adalah kantong plastik biasa membutuhkan waktu sepuluh sampai 12 tahun untuk terurai. Botol plastik lebih lama lagi. 

Karena polimernya lebih kompleks dan lebih tebal, botol plastik memiliki waktu 20 tahun untuk hancur. Sedangkan sterofoam biasa yang sering digunakan di Indonesia, membutuhkan waktu 500 tahun untuk bisa hancur sempurna. Penggunaan bahan bahan diatas tentu akan merusak lingkungan kita.  

Beberapa kantung plastik bisa diganti penggunaannya dengan bahan yang mudah terurai. Sterefoam juga sangat tidak dianjurkan.  Penggunaan kertas untuk mengganti plastik juga tidak dianjurkan.  Karena keduanya mempunyai dampak bagi Lingkungan. 

Namun seiring berjalannya waktu diharapkan peran serta kertas ikut membantu menyelamatkan lingkungan dari bahaya plastik. Menyuarakan kampanye untuk penggunaan bahan yang ramah terhadap lingkungan. Kertas akan menjalankan fungsinya untuk menyelamatkan lingkungan.  Plastik dan Kertas sudah seharusnya menjadi perhatian pegiat lingkungan untuk secepatnya dikendalikan. 

Para ahli sudah mengeluarkan untuk biaya riset sedemikian rupa untuk mencari solusi pengganti kedua bahan tersebut.  Ditemukanlah bahan alami sisa sisa di alam yang mampu menggantikan keduanya. Pohon pisang dan sisa pati pengolahan kentang adalah contoh bahan pengganti kantung plastik.  

Kedua bahan ini digunakan dalam pencampuran pembuatan kantong plastik.  Dengan digunakannya bahan bahan tersebut membuat kantong plastik yang digunakan menjadi cepat terurai.  Meski ada bahan plastiknya namun setidaknya mengurangi waktu yg signifikan dalam mengurai kantong plastik yang terbuat dari campuran alam.  

Perlu digalakkan kampanye yang masif ke penjuru dunia dalam penggunaan kedua bahan tersebut.  Tentu saja era digitalisasi memudahkan kampanye ini.  Atau setidaknya penggunaan kertas berkontribusi untuk penulisan kampanye dalam daerah - daerah terpencil yang tidak memungkinkan pemanfaatan teknologi.  Kertas akan membantu sepenuhnya kampanye lingkungan terhadap kendali penggunaan plastik dan kertas itu sendiri.  

Bumi dan Alam sudah lama menantikan kebebasan dari kedua item ini.  Plastik dan Kertas selama ini sudah menjalankan fungsinya.  Sudah saatnya Alam menuntut haknya untuk bisa bebas dari keduanya.  Manusia harus menyadari itu. Manusia telah berkembang karena bantuan Alam. 

Manusia lainnya harus saling mengingatkan soal itu.  Sebagai manusia yang hanya menjadi tamu di bumi,  maka sudah seyogyanya kita bisa mengerti keinginan Alam. Menjaga keseimbangan Alam.  Kertas akan dikendalikan penggunaannya,  plastik akan berkolaborasi dengan Alam.  Menciptakan suasana lingkungan yang ramah terhadap kedua bahan.  

Manusia tak akan pernah lupa jasa keduanya,  namun manusia harus selalu mengingat akan berbahayanya kedua bahan itu jika tak dikendalikan.  Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi.  Alam sudah memanggil manusia untuk memperingatkan.  Manusia harus sadar sepenuhnya akan tugas mereka di bumi.  Menjaga Alam agar tetap lestari dan bersih dari bahan bahan yang bisa mencemari Alam.  Salam Lestari.