Wiraswasta
4 minggu lalu · 39 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 46029_88804.jpg
Foto: Tribun Travel

Kertas dan Permainan; Sebuah Nostalgia

Masih segar dalam ingatan di saat kita masih kecil, di mana permainan adalah keberadaan kita yang paling autentik. Di masa kecil, kertas menghiasi hari-hari kita dalam bermain. 

Memang tidak setiap tempat kita bermain dengan kertas. Sekolah merupakan salah satu tempat di mana kita sering bermain kertas. Barangkali karena kertas di saat kita sedang sekolah lebih dekat dengan kita daripada bahan permainan yang lain.

Betapa kertas ini sungguh membangkitkan imajinasi kita. Bermula dari kertas, kita bisa punya imajinasi untuk membuat sesuatu hal. Salah satu hal yang paling sering kita buat adalah perahu kertas dan pesawat kertas. Sungguh indah kenangan kita dengan kertas. 

Selain itu, sebenarnya kita tidak hanya bermain kertas di sekolah, tapi juga di sawah-sawah, karena kita membuat layang-layangan dari kertas ini.

Selain permainan yang bersifat teknis tersebut, tentang cinta di masa kecil tentu masih membekas sekali dalam hati kita masing-masing. Ketika kita sudah mulai mengenal cinta terhadap lawan jenis, kertas menjadi medium terpenting dalam mengungkapkan kerinduan yang lugu. Melalui ini, kita mulai belajar menulis isi hati tersebut kepada orang yang kita senangi.

Dari kertas inilah kita belajar menulis di luar pelajaran-pelajaran sekolah. Kita tekuni bagaimana merangkai kata seindah mungkin untuk kekasih. 

Dengan menulis surat cinta, tanpa disadari, kita sebenarnya telah belajar menulis sastra dan pertama kalinya benar-benar terlibat dengan sepenuh hati dalam dunia sastra. Kita tidak bisa meremehkan hal-hal semacam ini. Karena dari cara seperti itulah banyak sastrawan dan ilmuan lahir ke dunia.

Mulai sejak itu juga, kita senang untuk membaca buku-buku sejak pertama kalinya, selain buku paket yang membosankan yang diberikan sekolah. Kita mulai suka membaca karya sastra seperti Laila Majnun, Romeo and Juliet, dan juga buah pena sastrawan kita seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. 

Sungguh, pada waktu itu, kertas demi kertas menjadi bahan utama untuk membaca dan menuangkan imajinasi yang paling penting dalam dunia kehidupan kita, mulai dari imajinasi-imajinasi teknis hingga sastra.

Itulah dahulu sebelum zaman telepon genggam yang sekarang ini makin sanggih menyapa. Kita asyik bermain dengan tanah, kerikil-kerikil dan tidak ketinggalan kertas juga menjadi bahan yang menyenangkan. Tidak ada kecanggihan apa pun dari permainan kita waktu itu. Kita bermain dengan apa-apa yang telah disediakan oleh budaya masih-masing.

Berbeda dengan sekarang, anak-anak bermain dengan apa yang disediakan oleh pasar global. Dulu, di hamparan budaya itulah mereka bermain, dan dunia permainan waktu itu menjadi pintu awal mereka belajar berinteraksi dengan yang lain. 

Sungguh berbeda dengan permainan hari ini yang justru menjadi sebab keterasingan mereka dengan yang lain. Ketika sedang asyik bermain, seakan-akan yang lain adalah neraka.

Kertas adalah salah satu bahan anak-anak bermain. Dari kertas, anak-anak berimajinasi bagaimna membuat suatu perahu, pesawat, dan sebagainya. Selain permainan yang lain, kertaslah salah satunya yang mampu membangkitkan imajinasi anak-anak untuk kreatif. 

Melalui kertas juga, anak-anak memaknai keberadaannya. Karena bermain adalah cara mereka bereksistensi. Atau, bagi anak-anak, permainan mengandung makna eksistensialnya tersendiri.

Permainan bagi anak-anak memuat makna eksistensial sangat nyata. Karena bermain merupakan satu-satunya cara mereka berada. 

Permainan dan belajar, bagi mereka, sama. Dalam bermain, mereka dengan sendirinya belajar; dan dalam belajar, mereka baru akan senang kalau dikemas dalam bentuk permainan. Hal ini terjadi karena hidup bagi mereka bermain. Mereka belum bisa memaknai hidup selain permainan.

Dunia sungguh benar-benar berubah. Sekarang kertas sudah tersingkir dari dunia permainan anak-anak. Kertas dan permainan hanya tinggal kenangannya. Kita hanya bisa mengenangnya sambil tersenyum dan betapa kontrasnya ketika dibandingkan dengan permainan anak-anak hari ini.

Lalu, Apakah bisa kertas masuk sekali lagi menjadi pembangkit imajinasi mereka dalam bermain dengan cara-cara yang seirama dengan zaman? Bisakah kertas ikut terlibat dalam dunia permainan yang bisa membangkitkan imajinasi anak-anak seperti dulu? 

Bisakah imajinasi teknis maupun sastra ini dibangkitkan kembali oleh kertas dengan cara-cara yang sesuai dengan zaman?

Artikel Terkait