Penulis
1 tahun lalu · 488 view · 5 menit baca · Budaya 44007_24277.jpg
paperthoughtime

Kertas dan Peradaban Teks

Apa sesungguhnya hubungan dialektis antara kertas dan teks, apa arti kertas tanpa teks dan bagaimana peradaban dimaknai dari coretan hitam di atas kertas putih yang tampak lugu, kosong, dan tanpa makna. Dari mana datangnya makna ketika teks itu diurai dari selembar kertas kosong yang membentuk peradaban kita, suatu peradaban yang tidak akan pernah lahir tanpa kehadiran sebuah kertas.

Secara ontologis, kertas adalah selebaran benda mati yang berasal dari entitas hidup yang tumbuh dan berkembang di alam dunia di mana manusia hidup dan manusialah yang memberikan status paten terhadap nilai pragmatis dari kertas menjadi teks, lalu lahirlah peradaban di mana kebenaran ditemukan, diproduksi, dan manusia pada akhirnya menciptakan hak paten atas nama pengetahuan tentang kebenaran.

Peradaban kita adalah peradaban teks, begitulah kira-kira gambaran utuh dan linier dalam melihat sejarah umat manusia. Apa yang disebut sebagai peradaban agama, tidak lain adalah akumulasi dari sebuah teks yang secara material dibentuk melalui mediasi kertas kosong, dalam konteks inilah agama sebagai ‘pandangan hidup’ ditegaskan dan dilestarikan secara terus-menerus oleh satu generasi ke generasi berikutnya dengan suatu ketetapan ideologi paripurna yang disebut ‘kepercayaan’.

Kepercayaan sebagai manifestasi yang niscaya dari dialektika hidup umat manusia, tidak hanya terstruktur dalam mekanisme beragama yang lalu melahirkan suatu peradaban besar, tetapi nilai dari sebuah kepercayaan menjadi arti penting bagi segala bentuk peradaban yang diciptakan manusia melalui teks-teks, kata-kata, tulisan-tulisan, dan dari situlah entitas-entitas makna menemukan arti otentiknya yang mutlak dihadapan kertas.

Tidak ada bentuk dokumentasi yang paling berharga dihadapan manusia kecuali torehan-torehan tinta hitam di atas kertas. Kitab suci, pengetahuan, dan teknologi, yang telah membentuk peradaban kita, sesungguhnya menemukan nilai tertingginya ketika dimediasi oleh kertas, disimpan melalui kertas, dan itu artinya kertaslah yang sebenarnya telah membentuk peradaban kita, bukan sesuatu yang berputar-putar di dalam kepala yang secara imajiner datang dan pergi dalam ruang ontologis.

Kertas menandakan arti primordial dari mana manusia berasal dan akan kemana kehidupan pada saat nanti, saat di mana waktu tak bisa ditentukan secara pasti melalui kesadaraan kekinian manusia. Waktu yang telah menjelma menjadi misteri kehidupan, waktu yang tak dapat diukur oleh kerangka matematis, dan waktu yang menutup seluruh ‘area kepastian’ yang manusia ciptakan sendiri.

Selama kita berbicara tentang teks, yang di dalamnya ada kebenaran-kebenaran (yang kita ciptakan selama priode tertentu dalam sejarah), selama itulah kertas menjadi superior dihadapan kita. Oposisi binernya bukan terletak pada ‘teks dan konteks’ (karena konteks adalah bagian dari teks yang hidup), tetapi pada ‘kertas dan teks’ yang dalam teori linguis-struktural, kata yang pertama menjadi dominan, istimewa, dan secara hirarkis bersifat superior.

Tetapi, arti superior di atas tidaklah buruk atau bahkan kejam, hanya suatu penegasan bahwa sebuah ‘teks’ akan tampak cacat dan lemah tanpa pada saat yang sama melekat pada ‘kertas’. Kita dapat menyaksikan dari seluruh peradaban umat manusia sepanjang sejarah, bahwa hanya teks tertulislah yang tetap hidup dan membentuk suatu cara pandang tentang ‘kemajuan’ dan kebenaran menjadi melimpah. Dan yang lebih penting, hanya media kertas sajalah yang dapat merangkum seluruh peradaban itu, karena sesuatu selain kertas menandakan ketidakstrukturan dan berserak-serakan.

Betapapun arbitrernya kita dalam menetapkan sebuah kosa kata dan makna dalam segala entitas, pada akhirnya semua bentuk penamaan dalam kekuatan ideologis di dalam struktur oposisi biner dalam bahasa kita, akan tunduk dan patuh terhadap kertas. Kertas menandakan kestabilan bahasa yang kemudian membentuk cita rasa intertekstualitas yang beragam. Jika Derrida menyatakan “tidak ada sesuatu di luar teks”, maka harus dinyatakan lagi “tidak ada sesuatu di luar kertas”. Ini tampaknya membentuk sebuah struktur dialogis pada wilayah mana teks diderivasikan.

Lalu, layakkah sesuatu disebut peradaban tanpa kertas, yang di dalamnya teks-teks dapat hidup subur. Kesesuaian dialektis antara kertas dan peradaban, terletak pada suatu konklusi bahwa hari ini, ketika teks telah digeser dari wilayah ‘kertas yang material’ ke ‘visualisasi-visualisasi teks ke dalam wadah media elektronik’, yang kemudian memunculkan oposisi biner baru antara kertas dan media elektronik, pada akhirnya kita akan tetap terikat oleh kertas sebagai wilayah ‘kebenaran pertama’ di mana sudut pandang ini merupakan dampak dari kekuatan superior dari struktur biner di atas.

Betapapun dekonstruksi mengajarkan arti penting “Liyan” dengan mematahkan seluruh superstruktur dari kekuatan ideologis yang tertanam dalam konsep oposisi biner, dan menunjukkan ketidakstabilan bahasa sekaligus menggugurkan sifat hirarkisnya, lalu menetapkan sifat biner itu secara berhadap-hadapan tanpa tendensi, tetap saja bahwa ‘kertas’ (betapapun sudah disilang) akan tetap terlihat dan bermanfaat.

Kebermanfaatan ini bekerja dalam status ontologis kertas yang secara primordial membentuk peradaban kita secara otentik dalam sejarah dan kita tak sanggup meninggalkannya, bahkan ketika kecanggihan media sudah mencapai titik kulminasinya pada aporia, pada batas dan jalan buntunya yang tak dapat dilewati lagi. Kiranya, kertas tidak akan pernah bisa digantikan atau ditinggalkan oleh manusia, karena melalui kertas, manusia tau asal usulnya dan akan kemana kehidupan ini dalam suatu ketidakpasian di masa depan.

Dalam memproduksi sebuah wacana, teks-teks mengalami perkembangan dan perluasan tentang wacana apa saja yang dibicarakan. Kertas sebagai instrumen yang paling identik dengan pergolakan pemikiran di mana teks itu ditulis, menjadi sebuah wadah yang tidak pernah bisa digantikan oleh apapun. Meski kenyatannya saat ini banyak orang (generasi Y di era milenial) membaca teks-teks melalui media elektronik, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa media elektronik hanyalah instrumen alternatif atau barangkali cara instan yang ditempuh dalam peristiwa pembacaan ditengah rasa malas membuka lembaran-lembaran buku.

Kertas, sebagai istrumen dari pembentukan peradaban melalui teks-teks pengetahuan dan kebenaran, tidak pernah bisa digantikan atau bahkan dilenyapkan oleh apa yang disebut sebagai kemajuan gemilang dibidang teknologi komunikasi melalui arus ‘media elektronik’. Sebagai contoh kecil, sebuah media cetak seperti koran, adalah pembendung sekaligus penangkal berita-berita hoax yang jauh dari nilai kebenaran.

Orang dapat berkata bahwa ‘media elektronik’ sudah melampaui kode etik jurnalistik, sehingga batas-batas fungsional terhadapnya banyak diisi atau direkayasa oleh segelincir orang yang memiliki kecenderungan-kecenderungan merusak (berita hoax) ditengah kebutuhan yang sangat mendesak akan fakta-fakta kebenaran. Orang pada akhirnya mencari sumber pertama yang otentik, yakni melalui koran, buku-buku, majalah, jurnal, dan di atas semua itu kertaslah yang menjadi instrumen paling penting dan inti.

Dialektika antara kertas, teks dan peradaban adalah sebuah dialektika struktural yang membentuk ide-ide besar dalam sejarah. Peradaban tidak akan pernah lahir tanpa teks, sementara kertas memberikan satu-satunya alternatif fundamental dalam menyimpan atau mendokumentasi tekt-teks tersebut. Sehingga peradaban betapapun banyak mengalami diskontinuitas-diskontinuitas dalam periode sejarah, tetap memelihara kertas sebagai alat untuk menyimpan dan memperjuangkan kebenaran. Di sinilah signifikansi kertas, sebuah benda material yang membentuk peradaban kita.