Mahasiswa
1 bulan lalu · 70 view · 7 min baca menit baca · Lingkungan 48434_81822.jpg
keepo.me

Kertas dan Pemanasan Global

Kita semua pasti pernah bahkan sering menggunakan kertas. Kertas memang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas sehari-hari, mulai keperluan sekolah, adminisrasi perkantoran, sampai bungkus makananpun menggunakan kertas. Fenomena tersebut berdampak terhadap perubahan iklim bumi yaitu pemanasan global.

Seiring perkembangan zaman kebutuhan hidup manusia semakin meningkat sehingga eksploitasi alam juga meningkat. Pembabatan hutan (deforestasi), perubahan alih fungsi lahan pertanian dan industrialisasi merupakan beberapa contoh aktivitas manusia yang saat ini marak dilakukan dalam pemenuhan kebutuhan hidup.

Bumi kita dilindungi oleh lapisan atmosfer yang tersusun dari berbagai macam gas rumah kaca (GRK) antara lain: uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), metana (CH4), dan gas lainnya. GRK tersebut menyerap dan memantulkan kembali radiasi matahari sehingga berperan sebagai stabilitator suhu bumi agar tetap nyaman dihuni oleh makhluk hidup. 

Namun, seiring perkembangan zaman dan meningkatnya industrialisasi menyebabkan kondisi atmosfer bumi semakin menghangat atau yang kita kenal dengan pemanasan global (global warming).

Pemanasan global sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim bumi.  Perubahan iklim merupakan perubahan unsur-unsur iklim dalam jangka waktu panjang (50-100 tahun) yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia (antropogenik) yang menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) (Handoko 1993). Perubahan iklim menjadi masalah yang saat ini diperhatikan oleh setiap negara karena dampak yang ditimbulkan di berbagai sektor kehidupan.

Pemanasan global dipicu oleh aktivitas manusia seperti mengemisi gas rumah kaca (GRK), pembabatan hutan (deforestasi), degradasi lahan, polusi tanah, udara, dan air yang semakin meningkat. 

Menurut NOAA (2018), rata-rata peningkatan suhu bumi mencapai 1,1 derajat celcius. Sedangkan menurut NASA suhu bumi mengalami peningkatan sebesar 0,9 derajat celsius setelah revolusi industri. Meskipun berbeda, kedua lembaga tersebut menyatakan bahwa suhu bumi mengalami peningkatan.

Suhu bumi mengalami peningkatan yang berdampak terhadap mencairnya es di kutub, naiknya muka air laut, pergeseran pola curah hujan, serta anomali cuaca atau cuaca ekstrem. Dampak tersebut merugikan di segala aspek kehidupan, mulai dari ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya.

Kertas dalam pembuatannya menggunakan bahan baku yang berasal dari kayu. Setiap perusahaan kertas akan menebang pohon untuk memenuhi kebutuhan produksi kertas. Semakin banyak permintaan kertas maka produksi kertas juga akan meningkat yang tentunya berimplikasi terhadap meningkatnya jumlah pohon yang ditebang. Penebangan pohon ini apabila tidak diimbangi dengan reforestasi yang tepat akan ikut berperan dalam pemanasan global.

Menurut Suprijatna (2008), Industri kertas atau bubur kayu menimbulkan berbagai masalah  di wilayah Riau dan Jambi. Contohnya Indah Kiat, sebuah perusahaan kertas dan bubur kayu terbesar di Sumatera yang  menggunakan 6,9 juta kubik bubur kayu pada tahun 1999, dimana sekitar 87 persen bahan baku berasal dari campuran kayu keras hutan tropis yang diperoleh dari hutan asli yang bukan hutan industri. 

CIFOR melaporkan bahwa perusahaan tersebut telah menyebabkan hilangnya hutan seluas 278.000 hektar selama 12 tahun.


Persediaan kayu untuk industri akan menurun dan diperkirakan habis pada tahun 2005. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan bergantung pada hutan industri seluas 210.000 hektar. Volume kayu yang dihasilkan dari hutan industri sekitar 1,3 juta kubik pada tahun 1999 dan meningkat menjadi 4,4 juta kubik di tahun 2005. 

Jumlah tersebut hanya mampu memenuhi separuh dari kebutuhan industri, sedangkan sisanya diperoleh dari hutan asli. Kondisi serupa terjadi pada perusahaan-perusahaan lain. Kebutuhan mereka delapan kali dari kayu yang tersedia di hutan industri.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (HPPI) Haris Munandar, tahun 2013 Indonesia memiliki 82 industri pulp dan kertas yang terdiri atas 4 industri pulp, 73 industri kertas, serta 5 industri pulp dan kertas yang terintegrasi dengan kapasitas sebesar 18,96 ton. Tahun 2017, Indonesia memproduksi 4,55 juta ton pulp dan 7,98 juta ton kertas yang menjadikan Indonesia menempati peringkat ke-9 untuk pulp dan peringkat ke-6 untuk produsen kertas terbesar di dunia.

Peningkatan penggunaan media sosial tidak menghambat perkembangan industri kertas di tanah air. Permintaan kertas domestik maupun dunia justru semakin meningkat. Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Arya, menyatakan bahwa tahun 2019 industri pulp dan kertas akan tumbuh sekitar 5 persen. Peningkatan tersebut disebabkan kapasitas produksi pulp dan kertas yang meningkat dan adanya permintaan kertas untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Industri kertas berpotensi terus berkembang seiring dengan meningkatnya penggunaan berbagai produk kertas yang belum bisa tergantikan. Industri kertas sangat terkait dengan industri lainnya seperti percetakan, pengemasan dan pengepakan, makanan dan minuman, serta penggunaannya sebagai penunjang administrasi pendidikan, perkantoran, dan sebagainya.

Kebutuhan kertas yang tinggi menjadi potensi peningkatan nilai ekonomi, namun dapat juga menimbulkan masalah pemanasan global. Permasalahan tersebut dapat kita antisipasi dengan pola hidup dan kebijakan “perkertasan”  yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Permasalahan penggunaan kertas

Penggunaan kertas yang berlebihan dilakukan oleh semua kalangan, misalnya anak-anak, pelajar, pegawai kantor, pedagang makanan dan sebagainya. Harga kertas yang tidak terlalu mahal menjadi alasan bagi orang-orang menggunakan kertas. Sehingga menghabiskan banyak kertas dalam berbagai bentuk tidak menjadi permasalahan yang berarti. 

Misalnya anak kecil membeli buku tulis hanya sekadar untuk dibuat mainan, mencorat-coret, dan menyobek-nyobeknya yang pada akhirnya menjadi sampah yang terbuang sia-sia.

Malam pergantian tahun atau acara-acara besar, sudah menjadi kebiasan sebagian masyarakat menyalakan petasan atau kembang api yang biasanya dibungkus dengan kertas. Setelah petasan atau kembang api dinyalakan, akan menyisakan serpihan-serpihan kertas yang berserakan menjadi sampah dan mengotori lingkungan.

Penggunaan kertas tissue sebagai “pembersih” telah menjadi salah satu kebutuhan bagi sebagian orang. Harganya yang murah dan penggunaan yang praktis membuat orang tidak merasa rugi meskipun hanya sekali pakai yang kemudian dibuang.

Kertas juga digunakan dalam kegiatan pendidikan. Meskipun saat ini Ujian Nasional sudah berbasis komputer (UNBK), namun soal-soal ujian lainnya masih menggunakan kertas sebagai medianya. Setelah lembaran ujian dikoreksi, pengajar hanya membutuhkan nilai hasil ujian sedangkan kertas ujiannya menjadi tumpukan yang umumnya tidak berguna lagi.

Beberapa contoh penggunaan kertas tersebut merupakan aktivitas yang tidak bisa secara cepat diubah. Sehingga diperlukan solusi yang tepat mengenai permasalahan penggunaan kertas terhadap pemanasan global.

Upaya mengurangi dampak penggunaan kertas terhadap pemanasan global

Pemanasan global semakin kita rasakan dampaknya di berbagai sektor kehidupan. Penggunaan kertas yang tinggi secara tidak langsung meningkatkan jumlah penebangan pohon yang dilakukan oleh industri kertas dan pulp. Sehingga perlu adanya upaya dan aksi nyata untuk menjaga kondisi bumi kita dari pemanasan global. Upaya-upaya yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut :


Menghemat penggunaan kertas

Menghemat penggunaan kertas dapat kita lakukan dengan membatasi penggunaan kertas yang akan kita gunakan. Dengan kita membatasi kebutuhan kertas, maka kita akan mengurangi penggunaannya. Peran orangtua dalam mengawasi dan mendidik anak dalam menggunakan kertas sebagai media belajar juga diperlukan agar dapat meminimalisir  kertas yang terbuang.

Perayaan malam pergantian tahun atau hari besar lainnya yang biasanya menyalakan petasan atau kembang api dapat diganti dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan tidak mengotori lingkungan seperti berdoa bersama, lomba memasak, atau kegiatan lainnya.

Ketergantungan menggunakan kertas tissue yang sekali pakai dapat kita kurangi dengan menggunakan sapu tangan yang bisa digunakan berulang-ulang.

Pengembangan sistem ujian berbasis digital atau komputer perlu ditingkatkan. Tidak hanya Ujian Nasional saja yang berbasis komputer, tetapi ujian-ujian lainnya dapat dikembangkan menjadi berbasis komputer meskipun belum semua sekolah mempunyai komputer yang memadai. Sehingga secara bertahap dapat menghemat anggaran untuk membeli kertas dan dapat dialihkan ke hal lain, misalnya untuk peningkatan sarana prasarana laboratorium komputer.

Inovasi kertas bekas

Sampah kertas yang terdapat di sekitar kita biasanya sebatas dijual kiloan kepada pengepul kertas sehingga hanya memiliki nilai ekonomi yang rendah. Perlu adanya inovasi pengelolaan kertas bekas menjadi barang yang bernilai ekonomi lebih tinggi. 

Kertas bekas dapat kita manfaatkan menjadi kerajinan tangan seperti hiasan dinding, vas bunga, dan kerajinan lainnya. Kerajinan dari kertas bekas ini dapat membantu membersihkan lingkungan serta membantu peningkatan perekonomian masyarakat.

Lahan gambut untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) pulp dan kertas 

Hutan lahan gambut menjadi tempat simpanan karbon yang penting dalam siklus karbon global. Sebagian besar karbon dunia terdapat dalam lahan gambut dan 20 persen terdapat di lahan gambut tropika (Anshari dan Armiyarsih 2005). Lahan gambut tropis luasnya 40 juta hektar, dan 50 persen terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua (Murdiyarso et al. 2004).

Peningkatan pembukaan lahan gambut untuk keperluan perkebunan atau industri dengan cara dibakar dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. Sehingga karbon yang tersimpan di lahan gambut terlepas ke atmosfer dan berdampak pada meningkatnya suhu bumi dan terjadi pemanasan global.

Lahan gambut tersebut dapat kita konversi menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk industri pulp dan kertas. Mengingat tingginya kebutuhan kertas global, perluasan HTI pulp dan kertas juga perlu ditingkatkan namun harus tetap memperhatikan keberlanjutan biodiversitas dan lingkungan. 

Dengan memanfaatkan lahan gambut yang terdegradasi menjadi HTI pulp dan kertas  dapat mengurangi penebangan kayu asli dari hutan alam. HTI pulp dan kertas pada lahan gambut terdegradasi mampu meningkatkan kandungan karbon vegetasi sehingga dapat menekan laju peningkatan suhu global (Rusolono et al. 2010).

Kertas memang telah menjadi kebutuhan kita sehari-hari dalam berbagai sektor kehidupan. Namun, salah satu penyebab pemanasan global yang kita alami saat ini merupakan dampak dari penggunaan kertas. Sehingga kita harus bijak dalam menggunakan kertas dan seluruh lapisan masyarakat mempunyai peran penting dalam menjaga bumi agar tetap nyaman ditempati untuk generasi mendatang.  

Daftar Pustaka


Anshari GZ, and Armiyarsih. 2005. Carbon Decline from Peatlands and Its Implications on Livelihood Security of Local Communities. On Daniel Mudiyaryo and Hety Herawati, Editor. Carbon Forestry : Who Will Benefits. Center of International Forestry Research. Bogor, Indonesia.

Handoko. 1993. Klimatologi Dasar Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan Unsur-unsur Iklim. Bogor (ID): IPB Press.

Kemenperin RI. 2017. 2017, RI Produsen Kertas Nomor 6 Terbesar Dunia. http://www.kemenperin.go.id/artikel/16596/2017,-RI-Produsen-Kertas-Nomor-6-Terbesar-Dunia. (12 Juni 2019).

Murdiyarso D, Rosalina U, Hairiah K, Muslihat L, Suryadiputra INN, Jaya A. 2004. Petunjuk Lapangan : Pendugaan Cadangan Lahan Gambut. Proyect Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia. Wetland International-Indonesia Programme and Wildlife Habitat Canada. Bogor, Indonesia.

Suprijatna J. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta(ID): Pustaka Obor Indonesia.

Utomo HFS. 2018. Pemanasan Global : Suhu Bumi Meningkat dalam 3 Tahun Terakhir. https://www.liputan6.com/global/read/3232301/pemanasan-global-suhu-bumi-meningkat-dalam-3-tahun-terakhir. (11 Juni 2019).

Artikel Terkait