98043_54666.jpg
https://teraa.net/membaca-tracking/
Lainnya · 6 menit baca

Kertas dan Nalar Kita Hari Ini

Semenjak ditemukan, kertas telah menjadi inovasi yang penting bagi sejarah peradaban manusia. Tanpa penemuan kertas, banyak peristiwa sejarah yang mungkin bisa saja tidak jadi menyejarah. Kita dapat membayangkan bagaimana jadinya abad pencerahan yang kita kenal sebagai abad mekar-kembangnya ilmu pengetahuan dan filsafat itu? Tanpa kehadiran kertas, mungkinkah zaman itu ternamai?

Rupanya, kertas sangat banyak membantu kerja-kerja kebudayaan ala abad pencerahan. Tanpa kertas, kita dapat membayangkan betapa sulitnya seorang Sir Isaac Newton memberitahukan kepada seluruh umat manusia ihwal gerak benda di Bumi dan benda-benda luar angkasa yang ternyata diatur oleh sekumpulan hukum-hukum alam yang sama. Tetapi, dengan adanya kertas, kita bayangkan sebuah senyuman tersungging di bibir sang maestro, ia turut berbahagia, ia dapat menuliskan gagasannya itu dalam sebuah buku, dan setelah ia melakukannya, sontak seluruh umat manusia di zamannya terkesima dan menasbihkan bukunya yang berjudul Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica itu sebagai buku paling berpengaruh sepanjang sejarah sains kita hari ini.

Itulah secuil riwayat kertas yang semenjak ditemukan di Cina hingga diboyong ke Arab dan Eropa, turut serta mendongkrak zaman. Di tangan Newton dan rekan-rekan sejawatnya yang berpikir dan menulis, kertas menjadi benda yang berpengaruh, tangguh, dan tak ternyana nilainya.

Di Indonesia, kertas juga hadir dan menunjukkan pamornya. Jauh hari sebelum era digital memasuki belantara tanah air, kertas disebut-sebut telah melahirkan mental baru bangsa Indonesia yang terakhir disebut sebagai nasionalisme. Riset seorang Indonesianis, Ben Anderson, telah membidik Print Capitalism (kapitalisme catak) yang memproduksi surat kabar dan buku-buku di masa-masa penjajahan sebagai penyokong timbulnya kesadaran nasional, yaitu kesadaran yang membentuk sebuah bangsa atau dalam istilah Ben disebut sebagai Imagine Communities.

Dari kacamata Ben, melalui surat kabar dan buku-bukulah orang-orang Indonesia semakin banyak berpikir tentang dirinya dan mengaitkan dengan sesamanya. Kemudian lahirlah perlawanan-perlawanan vital terhadap kolonialisme.

Dalam bukunya (Imagined Communities,1980), Ben mencontohkan betapa dahsyatnya sebuah tulisan seorang Ki Hajar Dewantara di halaman kertas koran De Expres pada pertengahan tahun 1913, yang menyindir perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Perancis. Ben mengungkapkan bahwa tulisan Ki Hajar itu ternyata cukup ampuh menyulut api anti kolonial di benak orang-orang Indonesia kala itu. Cukup menggelitik, sisi lain riset Ben Anderson ini ternyata juga menunjukkan betapa mengerikannya perangai helai demi helai kertas yang bertuliskan nama-nama orang-orang sekelas Ki Hajar di mata pemimpin-pemimpin kolonial Belanda waktu itu.

Lantas hari ini, kita mencoba menyimak kembali ihwal kertas dan perannya. Memang tak terbantah atau bahkan tak perlu dibantah bahwa kertas, separuh riwayatnya telah memberikan andil besar bagi kehidupan. Setidaknya  dari era pencerahan hingga era munculnya bangsa yang bernama Indonesia, kita menyaksikan kertas telah menjadi medium utama untuk tangan orang-orang yang cerdik cendekia menaruh isi kepala.

Namun, menerawang ihwal kertas di hari ini hingga jauh kedepan, tentu ada nalar yang berbeda. Hari ini, eksistensi terbesar kertas sebagai medium utama penyambung produksi dan konsumsi gagasan (informasi) mulai terbantahkan. Perjalanan panjang teknologi informasi yang sangat berhasrat dan menggebu-gebu, kini telah melahirkan era digitalisasi, yaitu era dimana layar kaca perlahan-lahan menggeser peran kertas, dan tak lain, dunia menyambutnya dengan tangan terbuka.

Kemenduaan Teknologi Informasi

Begitulah, seperti yang kita pahami, perjalanan panjang modernisasi tak pelak telah melahirkan suatu era digital, sebuah era dimana teknologi dan ilmu pengetahuan telah menunjukkan sisi praktisnya. Maka tak heran jika hari ini kita menyaksikan bagaimana sentuhan teknologi layar kaca dan segala penyokongnya begitu setia memenuhi kebutuhan kita akan hal informasi-yaitu suatu hal yang dengan mudah kita akses berkat kepiawaian seorang anak zaman, Leonard Kleinrock, yang memperkenalkan dunia pada buah tangannya, internet.

Sebegitu mutakhirnya, internet dan digital, setali tiga uang telah menemukan ruang kendalinya. Tak heran jika We Are Social di pertengahan tahun 2017 lalu dengan elegan melaporkan isi catatannya yang menuliskan bahwa lebih dari separuh penduduk dunia (51%) adalah pengguna internet untuk mengakses informasi baik berbasis web maupun mobile. Tak heran pula jika sebelumnya, seperti rilis oleh Dailiysocial.id (28/12/2012) yang melaporkan hasil riset Lembaga Pew, dimana jumlah warga Amerika Serikat berusia 16 tahun keatas yang membaca buku elektronik pada tahun 2012 meningkat sebesar 7% dari tahun sebelumnya. Sementara di tahun yang sama, jumlah warga dengan usia  serupa yang membaca buku cetak turun 5% dari tahun sebelumnya.

Tidak sulit dimengerti, baik laporan We Are Social maupun lembaga Pew, terlihat begitu identik dengan fakta sosial yang ada disekitar kita hari ini. Fenomena tumbuh-suburnya berbagai macam media sosial dan dibarengi dengan semakin mutakhirnya jaringan cyber di tanah air adalah bukti bahwa digital sebentar lagi akan menjadi medium produksi dan konsumsi informasi yang primadona, dan barangkali tepat jika mengatakan bahwa akses informasi,  meminjam ramalan Lancester, akan lebih dikenal tanpa kertas, tak seperti Newton dan Ki Hajar dahulu mengenalnya.

Namun, inikah pertanda bahwa kertas, ibarat uang lama, akan ditarik dari peredarannya? Dan akankah kemenduaan teknologi informasi di zaman modern menjadi genderang penentu berakhirnya peran penting kertas?

Reposisi Peran Kertas

Era digital dan kemenduaan teknologi informasi yang kian menggeser peran kertas sebagai medium produksi dan konsumsi informasi tak lain adalah sebuah pilihan. Kegandrungan manusia (khususnya generasi milenial) akan segala sesuatu yang cepat, efisien, mudah, dan rasional telah menuntun manusia berjalan seiringan dengan derap era digitalisasi dan modernisasi yang utilitarian.

Barangkali kegandrungan itulah yang menjadi dasar ramalan sang pakar, Frederick Wilfrid Lancester, yang membayangkan embrio zaman nir-kertas  bakal segera bertumbuh-kembang. Mungkin ada benarnya, namun dengan nalar kita hari ini, sah-sah saja jika ada yang meragukan ramalan sang pakar.

Nalar zaman modern yang tak lain adalah modernitas itu, baik berupa efisiensi dan produktivitas, kini telah masuk kesemua lini kehidupan. Di satu sisi, kita memahami bahwa gelombang modernisasi ternyata turut serta membawa dunia pada eksistensi industrialisasi yang terus mendongkrak efisiensi dan produktivitas.

Rupanya, pilihan terhadap efisiensi dunia digital tak dapat dipungkiri telah berpeluang menggeser popularitas teks diatas kertas. Namun nalar kita hari ini, mengingatkan kita bahwa dunia produksi dan konsumsi informasi (media cetak) bukanlah satu-satunya ruang kendali dimana kertas dapat berperan. Masih terdapat ruang-ruang baru yang tercipta semakin luas melalui industrialisasi, dimana kertas dapat menunjukkan pamornya.

Tak pelak lagi, di tengah kemajuan zaman, tampaknya kertas adalah kemajuan itu sendiri. Tak disangka, di era digital seperti sekarang ini, tingkat konsumsi kertas ternyata berbanding lurus dengan modernitas sebuah negara. Indonesia misalnya, ternyata konsumsi kertasnya masih lebih rendah dibandingkan Malaysia. Catatan Kementerian Perindustrian (2014) menuliskan konsumsi kertas per kapita Indonesia masih sebesar 30 Kg per tahun, sementara Malaysia telah 100 kg per tahun. Jumlah konsumsi kedua negara ini juga ternyata masih jauh lebih rendah daripada Jepang yang sudah lebih banyak merampungkan agenda industrinya. Konsumsi kertas per kapita Jepang telah mencapai angka 255 Kg per tahun.

Inilah reposisi peran kertas. Meskipun perannya mulai tergantikan dalam ihwal medium informasi, namun seiring modernisasi, ia turut hadir menopang kenyamanan industrialisasi. Jarak antara produsen ke konsumen kini tidak menjadi masalah yang berarti ketika teknologi pengemasan telah dikembangkan, dan disitu,  kita menyaksikan tak jarang kertas menjadi pilihan utama. Kertas, baik yang bersifat fleksibel maupun kaku, sangat banyak digunakan sebagai kemasan. Tak pelak, sebagai kemasan, kertas diakui dapat bersaing dengan jenis lain seperti plastik dan logam karena lebih mudah diperoleh dan harganya juga lebih murah.

Karenanya, produksi teknologi tersubur di era ini, smartphone, mayoritas terlihat memilih kotak kertas sebagai kemasannya. Bahkan produsen sekelas Samsung, yang menurut laporan IDC (2017), adalah produsen smartphone terlaris selama tahun 2017 dengan sebesar 79,2 juta unit yang terjual di pasar, juga kita ketahui menggunakan kotak berbahan dasar kertas untuk mengemas produknya. Inilah popularitas baru kertas, perkembangannya kini telah menjadi sarana bertemunya antara inovasi produksi dengan selera konsumen, dan itu tidak terbatas hanya pada produk smartphone saja. Semua produk yang berjarak dengan konsumennya, dengan pertimbangan kenyamanan konsumen dan efisiensi produksi di satu sisi, tentu membutuhkan peran kertas sebagai pilihan utama untuk kemasannya.

Dari ihwal kemasan, kita mengerti bahwa kertas, di satu sisi, telah memenuhi kebutuhan industri akan efisiensi dan kenyamanan, baik kenyamanan bertendensi konsumen maupun lingkungan. Disisi lain, kita tidak dapat menyangkal bahwa kebutuhan kita akan industri adalah suatu hal yang pasti.

Karenanya, dari kacamata industri, kita mengerti bahwa kertas hari ini tak lantas mengakhiri zamannya. Kertas tak lantas, ibarat uang lama, nyaris ditarik dari peredaran. Akan tetapi, ditangan industri, tak ubahnya kertas tetaplah sebuah inovasi untuk alasan efisiensi yang kita cari-cari. Ia menjadi jalan keluar alternatif atas hubungan antara industri yang selalu kontradiktif dengan lingkungan, terlebih ketika hari ini, kita sama-sama takut akan suatu jenis limbah yang tak akrab dengan tanah, yaitu limbah-limbah yang sulit diurai- komplotan plastik dan logam.