Jaman dahulu kertas menjadi penemuan yang brilian karena membuka jalan dalam dunia pendidikan dan informasi. Dinasti Han dari Cina menggunakan bambu sebagai bahan utama dalam pembuatan kertas. 

Lalu beranjak abad ke-19, kayu menjadi bahan utama seiring dengan perkembangan mesin. Pada abad ke-21 pembuatan kertas berevolusi pada bahannya yang menggunakan serat kertas daur ulang.                                                

Tidak hanya dalam dunia pendidikan dan informasi, kertas berkembang fungsinya dan sama-sama berguna dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti tisu, kardus, dan tempat telur. 

Namun dalam proses praproduksi dan pascaproduksi, kertas menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Beberapa solusi seperti mengurangi konsumsi kertas dan mendaur ulang kertas sudah banyak dilakukan. Mulai dari perusahaan yang memproduksi, pemerintah, dan organisasi non pemerintah turut fokus untuk masalah ini.  

Kertas tidak akan luput dari kehidupan manusia sejak pertama kali dibuat. Banyak perusahaan yang sudah menghasilkan ratusan rim kertas. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan konsumsi kertas yang juga meningkat. 

Penemuan seperti buku elektronik (e-Book) dan sejenisnya mulai muncul untuk membantu mengurangi masalah. Namun penemuan-penemuan tersebut tidak terlalu efektif karena faktor biaya, kesehatan, dan keefektifannya.

Bahan utama kertas yaitu kayu. Ketika kita mendapatkan gelondong-gelondong kayu, penggundulan hutan akan terjadi. Maka apabila proses ini berkelanjutan, hewan-hewan akan kehilangan habitat asli dan oksigen berkurang mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Selanjutnya gelondong kayu diproses dalam pabrik. Agar kayu bisa menjadi bubur kertas memerlukan bahan kimia. Setiap perusahaan memiliki komposisi bahan kimianya masing-masing untuk pengolahan. 

Namun bahan kimia yang sering digunakan seperti klorin, merkuri, fosfor, dan soda api memiliki dampak berbahaya yang berbeda-beda pada lingkungan. Bahan kimia tersebut nantinya akan menimbulkan polusi udara, tanah, dan air.

Sisa hasil produksi dari pembuatan kertas berupa metana. Dalam banyak penelitian, metana memberikan dampak buruk terhadap pemanasan global. Metana merupakan salah satu dari enam gas rumah kaca yang menimbulkan emisi. Gas rumah kaca menyebabkan suhu menjadi panas dan gas metana kuat untuk menangkap panas. 

Oleh karena itu, permukaan laut menjadi naik dan sekarang Jakarta sering banjir ketika hujan. Selain itu, jika seseorang menghirup terlalu banyak gas metana maka akan berpotensi menderita kanker.

Setelah pada proses pembuatannya, konsumsi kertas juga sepertinya sudah melewati batas. Alih-alih untuk mengurangi penggunaan kertas, kita sering melihat tukang gorengan menggunakan kertas bekas sebagai wadah makanan. Selain alasan harga kertas bekas yang murah, kertas bekas juga mudah ditemukan. Namun wadah itu berbahaya bagi konsumen.

Gorengan merupakan makanan yang penuh minyak setelah di goreng. Sedangkan kertas sangat mudah terdisintegrasi apabila terkena air atau minyak. Kertas yang dijadikan wadah terdapat banyak tinta yang apabila gorengan dimasukkan maka secara otomatis tinta akan berpindah ke dalam makanan dan konsumen akan makan gorengan beserta dengan tinta kertas. 

Hal tersebut sangat membahayakan bagi kesehatan. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), timbal biasa digunakan di berbagai industri seperti industri baterai, paduan logam, sarung kabel, dan tinta cetak. Apabila timbal yang berasal dari kertas dikonsumsi maka akan menimbulkan gangguan sistem saraf pusat, saluran cerna, dan anemia.

Sebuah kampanye untuk mengurangi penggunaan kertas telah dilakukan pada tahun 1970-an dan diperkirakan pada tahun 1990-an peran teknologi akan mengganti peran kertas. Seiring dengan majunya era globalisasi, sudah banyak berkembang buku-buku dalam bentuk elektronik dan banyak dokumen-dokumen yang bisa ditampilkan di gadget/smartphone kita. 

Menurut penelitian yang dilakukan The Climate Group pada tahun 2008, sebanyak 25% dari banyaknya kertas telah digantikan oleh e-paper (electronic paper) yang akan menghasilkan penghemetan yang setara pada tahun 2020.

Daur ulang kertas tidak hanya terjadi pada konsumennya saja, perusahan produksi kertas juga sudah mencari cara bagaimana memproduksi kertas dari kertas tidak terpakai. Dengan menggunakan kembali serat kertas bekas dapat mengurangi jumlah polusi udara dan air. 

Menurut The State of the Paper Industry (TSOTPI) dalam penelitian yang dilakukan oleh Richard Smith, mengatakan bahwa menggunakan serat kertas daur ulang lebih menguntungkan daripada menggunakan serat kertas asli.

Keuntungannya dapat mengurangi konsumsi energi sebanyak 44%, air limbah sebanyak 51%, dan emisi gas rumah kaca sebanyak 38%. Walaupun energi yang dibutuhkan untuk membuat kertas dari serat kertas bekas lebih besar, namun sangat berperan untuk mengurangi emisi karbon.  

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, pengurangan jumlah kertas sudah dilakukan ketika ujian nasional dan tes masuk perguruan tinggi. Ujian yang biasa disebut UTBK (Ujian Tes Berbasis Komputer) dan UNBK (Ujian Nasional berbasis computer) dilakukan secara online. 

Aksi nyata yang dilakukan pemerintah merupakan aksi yang efektif dan efisien. Namun efek samping dari melihat layar komputer terlalu lama menyebabkan mata cepat lelah dan pancaran sinar layar yang terlalu terang menyebabkan kepala menjadi cepat pusing.

Gerakan dari organisasi non-pemerintah (NGO) juga ikut andil dalam mengatasi konsumsi kertas yang berlebihan. Organisasi seperti The Environmental Defense Fund, Natural Resources Defense Council, Forest Ethics, dan The Recycled Products Purchase Initiatives bersatu untuk menyampaikan solusi mereka. 

Mereka memberikan empat aksi yaitu memaksimalkan konten-konten tentang daur ulang, meminimalisir konsumsi kertas, clean production process, dan menggunakan sumber serat secara bertanggung jawab.

Kenyataannya sekarang peran teknologi sudah menggeser koran dan majalah sebagai media untuk menyampaikan informasi. Segala informasi sudah bisa diakses melalui layar ponsel dan tidak heran ketika naik kendaraan umum yang kita lihat adalah orang-orang yang terpaku menatap layar mereka. 

Ternyata perkiraan soal teknologi akan menggantikan kertas tidak benar-benar terjadi sampai tahun ini. Sekarang penggunaan kertas masih marak. Hal itu terjadi karena soal biaya. Untuk menyimpan banyak dokumen secara online memerlukan penyimpanan yang besar. 

Pengguna harus membuat satu akun jika ingin menyimpan dokumen tersebut secara online agar bisa dibuka dimana dan kapan saja. Namun ketika penyimpanan tersebut sudah mencapai batas, pengguna diminta untuk membayar mahal agar penyimpanan itu diperbesar lagi.

Sisi positifnya adalah ketika kita membaca melalui layar, kita jadi tahu bagian mana yang harus kita cetak. Dengan begitu kita dapat mengurangi penggunaan kertas dan menghemat pengeluaran. 

Walaupun begitu, masih butuh penyesuaian selama beberapa tahun untuk berpindah dari p-book (printed book) ke e-book (electronic books). Ketika kita menggunakan e-book, kita tidak perlu membawa buku berat dan mudah dibawa kemana-mana karena sudah ada di dalam smartphone atau tablet kita.

Di masa depan, produksi kertas mungkin sudah semakin berkurang dan digantikan oleh teknologi karena banyak keuntungan yang di dapat contohnya sebuah informasi dapat diakses 24 jam. Namun masalahnya, membaca melalui layar dapat menyebabkan kelelahan mata karena ketika menatap lebih lama pada layar, kita lebih jarang untuk berkedip sehingga mata kekurangan kelembapannya.

Kertas mungkin akan tergeser posisinya oleh teknologi karena masalah lingkungan yang dibawanya. Namun butuh waktu yang lama untuk benar-benar bisa berpindah dari p-book ke e-book sepenuhnya karena tergantung dari kebiasaan masyarakat. 

Ketika masyarakat sudah terbiasa menggunakan kertas, maka kertas akan masih banyak dibutuhkan. Ketika masyarakat sudah terbiasa dengan membaca melalui layar, maka permintaan kertas akan berkurang.

Walaupun kertas dalam proses pembuatannya menimbulkan polusi udara, air, dan tanah, masalah lingkungan yang diakibatkan kertas menjadi pemicu kita untuk terus berinovasi. 

Sebuah cara dengan mengurangi penggunaan kertas sudah bagus untuk dilakukan. Tapi yang jadi tantangan untuk kita sekarang adalah bagaimana kita mengimplementasikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi

  • Aithal, Sreeramana. 2016. “A Study on History of Paper and Possible Paper Free World,” no. January.
  • Aksyutin, O E, A G Ishkov, K V Romanov, V A Grachev, Public Joint, Stock Company, and Corresponding Author. 2019. “The Influence of Methane on Climate Change” 16 (55): 153–59.
  • G, Arango Juan. 2016. “Environmental Impacts of Paper Handouts vs . Online Handouts-from a Life Cycle Assessment Prospective.”
  • Gorengan, Makanan, Iis Siti Suwaidah, Nana Sutisna Achyadi, and Wisnu Cahyadi. 2014. “Kajian Cemaran Logam Berat Timbal Dari Kemasan Kertas Bekas… (Suwaidah IS; Dkk)” 37 (2): 145–54.
  • Iveta, Č, František Ka, Anton Geffert, and Danica Ka. 2009. “The Effects of Paper Recycling and Its Environmental Impact.”
  • Jeong, Hanho. 2012. “A Comparison of the Influence of Electronic Books and Paper Books on Reading Comprehension , Eye Fatigue , and Perception.”
  • Service, Library. 2011. “Comparison of Environmental Impact of Plastic , Paper and Cloth Bags,” no. February: 1–8.
  • Smith, Richard. 2011. “The Environmental Sustainability of Paper The Environmental Sustainability of Paper” 1 (1).