Seniman
4 bulan lalu · 54 view · 4 min baca · Gaya Hidup 74727_44511.jpg

Kertas dan Kreasi Berwujud

Langit sore teramat biru. Tak hanya hiasan keping-keping awan yang berarak entah menuju ke mana, tetapi juga ada lenggak-lenggok benda berwarna-warni yang melayang di angkasa. Bukan UFO, bukan juga bendera partai, itu adalah layang-layang.

Di zaman modern, dengan segala macam permainan online yang tinggal unduh, permainan tradisional satu ini ternyata masih ada peminatnya. Tidak saja anak-anak, orang dewasa pun masih suka menerbangkannya.

Layang-layang tak hanya tentang keahlian memainkan ataupun menerbangkan, tetapi juga dalam pembuatannya juga membutuhkan keterampilan. Keterampilan meraut bambu, membuat bingkainya, lalu memasangkan kertas minyak pada badannya. Bukan hanya tentang keindahan bentuk, tetapi keseimbangan layang-layang juga perlu diperhatikan.

Permainan tradisional memang bukan hanya tentang permainan, namun juga tentang keahlian dan keterampilan dalam pembuatannya. Bahannya pun tidak menguras kantong, tak juga perlu paket data internet. Layang-layang, misalnya, hanya butuh bambu, kertas, dan lem untuk membuatnya, serta keahlian dan keterampilan.

Layang-layang pun sudah menjadi permainan turun-temurun yang sampai saat ini masih diminati. Pada umumnya, layang-layang dibuat dari bahan kertas minyak yang harganya sangat terjangkau. Salah satu fungsi kertas yang tidak saja berguna untuk pekerjaan, tetapi juga untuk permainan.

Bicara tentang keterampilan dari kertas, memang bukan hanya layang-layang saja. Dari hiasan berbentuk bunga hingga pesawat-pesawatan juga menjadi sebuah keterampilan yang bisa dibuat dari kertas. Sebuah keterampilan lipat-melipat, gunting-menggunting, rekat-merekat yang membentuk selembar kertas menjadi sesuatu.


Tak perlu baru, kertas bekas pun bisa digunakan untuk membuat sebuah kerajinan yang membutuhkan keterampilan untuk membentuknya.

Pertanyaannya, apakah permainan dari kertas masih diminati saat ini untuk mengasah keterampilan? Apalagi dengan bermacam permainan yang bisa dan mudah didapat dengan cara unggah melalui gawai. Apakah keterampilan menjadi sangat membosankan saat ada permainan yang mengasyikkan dengan misi yang telah ditentukan produsen game-nya?

Keterampilan dengan membentuk kertas menyerupai suatu benda, atau seperti halnya membuat layang-layang, jelas menjadi salah satu pekerjaan yang mengasah otak, ketangkasan, dan kerapian. Setidaknya ada proses yang dilakukan untuk mendapatkan hasil. Bisa jadi sebuah permainan, bisa jadi sebuah hiasan, atau apa pun yang menjadikan kertas sebagai sesuatu yang menarik dan indah.

Keterampilan dengan menggunakan kertas juga merupakan media untuk berkreasi. Kreasi pun penting karena dengan kreasi berarti diri terlatih untuk menciptakan dan berproduksi. Tak hanya sibuk dan larut sebagai konsumen, namun juga berupaya untuk bisa menjadi produsen. Dan, begitu pun hakikat manusia, yang diberikan kemampuan untuk berkarya agar bisa menjadi rahmat bagi semesta.

Kemudahan kadang bisa menjadi ancaman tersendiri untuk diri. Dengan terbiasa mendapat kemudahan tanpa melewati proses, diri pun terbiasa manja dan hilang kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Misalnya saja permainan. Di zaman sekarang, permainan tersedia dan tinggal dimainkan sepuasnya. 

Beda sekali dengan dulu, ketika untuk bisa memainkan sesuatu, si anak mesti memiliki keterampilan dan punya daya kreasi, yang kemudian baru bisa dimainkan dengan penuh kebanggaan. Seperti halnya layang-layang, origami, bunga kertas, dan barang-barang lain yang terbuat dari kertas, semua butuh waktu dan usaha untuk mendapatkan bentuk dari hasil keterampilan dan kreasi.

Dunia saat ini berjalan dengan cepat, seiring juga dengan teknologi yang kian pesat. Semua menginginkan kecepatan. Berkreasi dalam keterampilan pun dirasa menghabiskan waktu. Padahal berkreasi memiliki faedah yang baik untuk diri. Tak perlu harus mahal, dengan kertas bekas pun bisa menjadi hiasan, bisa menjadi mainan.


Setiap kreasi butuh dukungan, yakni peminat dari hasil kreasi tersebut. Seperti halnya layang-layang, jika tidak ada peminat dan tidak ada yang mau menerbangkannya ke angkasa, permainan tradisional ini pun akan lenyap. Anak-anak yang tidak mengenal dan tidak pernah melihat layang-layang, atau malah tidak pernah memainkannya, akan mudah beralih dan mengikuti zamannya untuk menggandrungi permainan online dan tanpa pernah tahu tentang permainan yang nyata.

Semua hanya soal tren, dan bagaimana kreasi dan keterampilan bisa dibangkitkan lagi di diri generasi negeri dengan menjadikannya sebuah tren yang tidak ketinggalan dengan permainan online yang menjamur saat ini. 

Memperkenalkan memang harus dengan memperlihatkan. Jika hanya teori, tanpa ada layang-layang yang melenggok di angkasa, atau hanya memperlihatkan foto tanpa pernah si anak memainkannya, layang-layang bisa saja nanti dikira hoaks.

Beberapa tahun lagi mungkin akan ada layang-layang online, yang tak harus repot-repot meraut bambu, merekatkan kertasnya, dan berlari-lari untuk menerbangkannya ke udara. 

Tetapi permainan ataupun kreasi kertas bukanlah tentang itu saja. Dengan kreasi dalam keterampilan secara langsung, tentu akan menghasilkan energi yang baik juga untuk jiwa. Karena dalam kehidupan ini, bukan saja perut yang harus diisi, jiwa pun juga.

Dalam hal keterampilan, khususnya untuk sesuatu yang berbahan kertas, tak perlu pula menghilangkannya karena telah banyak hal-hal menarik lainnya yang disediakan secara online. Keterampilan butuh pengembangan, bukan malah menghilangkan. 

Kertas, sebagai medianya, pun mampu untuk menghasilkan kreasi dan keterampilan yang lebih dari biasanya. Tergantung kita, apakah mau mencoba atau malah menghilangkannya begitu saja.


Kertas memang memiliki fungsi yang beragam. Sampai saat ini, kertas masih ada dan masih tetap digunakan. Namun, walau begitu, kertas sebagai bahan untuk berkreasi untuk mengasah keterampilan pun jangan sampai dihilangkan; mentang-mentang yang online-online lebih menggoda. 

Pun, tak perlu banyak modal; dengan kertas, maka akan banyak tercipta kreasi. Membuat sesuatu yang berwujud. Membuat sesuatu yang bisa disentuh, bukan maya, bukan pula mengada-ada.

Artikel Terkait